Jihan

Jihan
chapter up 66


__ADS_3

"Ya Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, permudahkanlah urusan kami, serta lapangkanlah dada kami agar senantiasa berada di jalan lurusMu, dalam perlindungan dan bimbinganMu.


Ya Allah, Yang Maha Tahu, jadikanlah kami orang-orang yang selalu mengingatMu, karena hanya dengan mengingatMu-lah hati kami menjadi tentram."


"Amin.." ucap Reinita, menatap Jihan yang mengusapkan dua tangannya ke wajah. "Jika doamu sudah selesai, mari, aku akan membantumu menggunakan Speaker."


"Wah. Ada menu-nya Ratu," kata Jihan, begitu mengusap muka, dia mendapati layar transparan terpancar dari gelangnya.


"Itu surat ijinmu."


"Ehh?" Jihan diam terpaku.


"Tandai saja bratlemu dengan mata, sidik jari, atau tanda tangan juga bisa."


"Aduhai. Kirain menu, Ratu. Udah gaya, malah apotek. Malu-maluin gini."


"Benarkah? Kamu menyenangkan dalam berkata, Jihan."


"Ih, sumpah. Tambah malu.. hihi, ratu gue asli, cantik-cantik," kata Jihan yang kemudian mengedip-ngedipkan dua matanya. Ting-ting..! Ting-ting! Tiiing!


"Hhh-hhh!" Pundak Reinita bergetar. "Eh, kamu! Hentikan itu. Dah, cepetan. Gada komentar..! Fix!"


"Ya udah, iya-iya, Baginda Sayang. Nih gimana gunainnya, kok ada nyala-nyala gini di patahan jari Jihan?"


"Hmph! Cari tahu saja."


"I-iya. Sentuh, glow ngepoin ini. Si.. siap, Ratu."


Tap!


In five minutes there will be a conversation at this location


"Haduh, kok malah pindah. Khan udah Jihan tep. Napa masih ada?"


Jihan kebingungan mendapati ruas jarinya menyala merah, dari kiri pindah ke kanan.


"Aduhai, malang sekali. Aku rasa itu darurat militer! Saklar bewara-nya!"


"Iya, iya. Damkar! Damkar..!"


Taph!


Dengan sedikit panik, Jihan pun mengulang kegiatannya tadi, menyentuh ruas jarinya yang merah menyala.


"Salam, Sri Ratu. Hamba telah selesai."


"Lho kok ada suara Qorin sih? Tadi mbak Google."


"Prediksi. Dengarkan saja."

__ADS_1


"Jadi bagaimana dengan semua catatan di dapurmu, Gizi?"


"Alhamdulillah, data masih terjaga. Kiranya kekhawatiran Sri Ratu benar pada kalanya.


Terima kasih atas saran dan peringatan Sri Ratu.


Dapur dalam renovasi Sri Ratu. Ada beberapa alat yang memerlukan penanganan Seeder."


"Ouh, ada petapa kedua mengunjungi Ladang kita Gizi. Kiranya ada perihal penting demi kemudahan suatu urusan."


"Eung.., sori Rei. Kelamaan. Hehe. Nama dia Pritadona. Ceunah. Tau deh. Apa kerjaannya. Dia bilang intel."


"Kau menggodanya?"


"Gaklah. Cuma ngobrol. Ngng, itu loh, ngejelasin AI ke dia, Rei. Bukan gak jelas-jelas.


Oh ya. Prit, kenalin ini ratuku. Baiknya audzubillah. Santai. Dia bukan si Oyon."


"Assalamualaikum, Ratu."


"Walaikumsalam."


"Dengan segala hormat, saya.. ngng.. "


"Katakan saja, Prita. Tak apa dengan tuturmu yang biasanya."


"Ouh. Ngng.. tapi.. "


"Ada apa Prita?"


"Ngng, sungguh.. saya masih itu.. takut."


"Tak apa. Dia menyukaimu."


"Beruntunglah kamu, ada pacarnya datangnya. Hhh-hhh! Biasanya Oyon selalu murung, hari ini dia mendadak tiktokers."


"Iya, ya? Gak bakal ke sini khan?"


"Hu-um. Kami tak pernah mengganggu kesenangannya. Insyaallah, begitu pun Oyon."


Tak sengaja Jihan mendapati Reinita sedang gigit sedotan, beradu pandang dengan ratuny. Jihan juga melihat ke bagian dada sang Ratu, menggigit bibir.


Jihan abai Reinit memandanginya gaya slengan. Dia bersandar, hanya merasa lemas saja, tampak tak peduli lagi dengan laporan Speaker. Sambil memerah pipi, Jihan menunduk tanpa lepas menggigit bibir, lalu menyelipkan rambut.


Di langit, warna senja masih tampak menghias. Taman berkolam besar tersebut, lampunya pun tetap terang.


Tanpa jemu, Reinita sedikit menyedot sisa coffe-nya sambil menatap si rakus. Pipi Jihan makin merona saat mendengar suara sedotan.


Clpah! Seberkas cahaya mendadak pecah di hadapan mereka.

__ADS_1


"Salam, Sri Ratu. Hamba telah selesai," kata Zihan sambil agak membungkuk di depan dua majikannya.


"Jadi bagaimana dengan semua catatan di dapurmu, Gizi?"


"Alhamdulillah, data masih terjaga. Kiranya kekhawatiran Sri Ratu benar pada kalanya.


Terima kasih atas saran dan peringatan Sri Ratu.


Dapur dalam renovasi Sri Ratu. Ada beberapa alat yang memerlukan penanganan Seeder."


"Ouh, ada petapa kedua mengunjungi Ladang kita Gizi. Kiranya ada perihal penting demi kemudahan suatu urusan."


Saat sedang fokus mendengar laporan anak buah, Reinita mendapati Gream dan Prita berhenti di sebelah Zihan, mereka sampai di taman Ladang.


"Eung.., sori Rei. Kelamaan. Hehe. Nama dia Pritadona. Ceunah. Tau deh. Apa kerjaannya. Dia bilang intel."


"Kau menggodanya?"


"Gaklah. Cuma ngobrol. Ngng, itu loh, ngejelasin AI ke dia, Rei. Bukan gak jelas-jelas.


Oh ya. Prit, kenalin ini ratuku. Baiknya audzubillah. Santai. Dia bukan si Oyon."


"Assalamualaikum, Ratu."


"Walaikumsalam."


"Dengan segala hormat, saya.. ngng.. "


"Katakan saja, Prita. Tak apa dengan tuturmu yang biasanya."


"Ouh. Ngng.. tapi.. "


"Ada apa Prita?"


"Ngng, sungguh.. saya masih itu.. takut."


"Tak apa. Dia menyukaimu."


"Beruntunglah kamu, ada pacarnya datangnya. Hhh-hhh! Biasanya Oyon selalu murung, hari ini dia mendadak tiktokers."


"Iya, ya? Gak bakal ke sini khan?"


"Hu-um. Kami tak pernah mengganggu kesenangannya. Insyaallah, begitu pun Oyon."


"Ya udah, kalo gitu. Hhh.. Makasih ya Gream, nganter gue ke sini dengan aman. Ngng, makasih ya," ungkap Prita sambil terus memegang tangan Gream sejak mereka datang, seperti enggan melepaskannya.


"Ngng. Oke. Gue di lab. Kalo mau nanya-nanya lagi."


"Ya udah. Oke. Hu-um!" jawab Prita, mendadak mantap.

__ADS_1


Set! Claph!


Gream langsung melesat begitu tangannya dilepas, Prita menoleh ke arah perginya, namun Gream keburu hilang.


__ADS_2