Jihan

Jihan
chapter up 78


__ADS_3

Akhirnya Jihan menurut. Dia mendongak, membuka lipat tangannya demi pemandangan yang ada. Atap lokasi ternyata cermin, terus bayangan di situ hanya pakaian Jihan, tubuh dia tidak ada!


Gejala serupa menimpa Reinit. Langit-langit hanya memantulkan bayangan benda non organik. Reinit didapati hanya suite-nya saja, badan sang ratu seperti udara yang memadati bajunya, tak kasat mata.


Lantai yang mereka pijak adalah sumber cahaya lokasi. Tapi tempat kediaman Reinit ini sedang mengalami bug Croco. Biang keladinya sekarang berkeliaran di muka Server, di kebon, dan masih buron.


"Gue kayak kamu dulu. Pengen ngaca musti digambar, dilukis dulu sama orang. Biar gue udah digital, seunit chip pake biner, gue tetep cewek. Hiks.. Sedih gak sih, kehilangan bayangan gini Han?"


Perlahan Jihan berdiri, cuek tak menimpali maupun komen. Dia melambaikan dua tangan, digerak-gerak layaknya orang sedang melihat heli lewat.


"Kamu ngapain juga? Kagak efek, Han. Lagi ditest ato apaan?" tanya Reinit, wajahnya terlihat sudah sendu, kemudian diam tak butuh jawaban.


Jihan menatap Reinit, berhenti dari kegiatannya. Dia mendapati ratunya sudah berwajah murung, mengabaikan acara santainya nonton drakor. Pandangan si karyawati bukan tengah melihat baju, benda mati, tapi mirip Ling Ling menatap anaknya. Jihan sedang mendalami keluhan kaumnya.


"Pas kamu kepleset.. kamar gue nyirine, bunyi gak jelas.. Han," beritahu Reinit, pelan dan nanar mata, menceritakan kronologinya.


Jihan bergerak duduk tanpa melepaskan arah matanya. "Terus? Emang kehubung ya, sama Endfield? Maksudnya, gara-gara omongan Jihan gitu ya, Ratu? Katanya gak efek. Gimana sih, ini.."


Reinit diam tak menjawab. Ghos in the Machine hanya duduk melamun.


"Terus gimana dong?"


"Kalo bug-nya gak ketemu, ya lempeng gini.. Han. Ngaca pake aer juga gak bakal mantul. Keliat gak sih sama kamu?"


"Gak.." jawab Jihan, singkat lagi pelan, dia belum tahu air yang Reinit bicarakan.


"Makanya opsi gue.. sedih sekarang. Minta tolong sama Analog, dia sibuk.. Han. Bisnisan serum," gumam Reinit sambil melamun, tampak atmosfer sedihnya.


"Tapi Jihan emang gak tau kalo by one ngaruhin ruangan Ratu. Kalo gitu, Jihan minta alat tulis sama kertas."


"Jadi kamu bisa ngelukis, Han?" tanya Reinit, melirik sang lusid.


"Hu um! Siapin aja," jawab Jihan meniru nada Reinit menit yang lalu ketika ditatap kepo lawan bicaranya, mengangguk tegas.


Salah satu bintik yang menyertai Reinit bergerak membuat lingkaran, empunya kemudian hanya meraih benda yang diadakan sang butir. Se-pack pensil berselotip serutan. Sedangkan titik sinar yang lainnya menghadirkan kertas dan paper board. Reinit mengambil media gambar tersebut karena Jihan akan membuatkan sketsa wajahnya.


"Gambarin ya, Han," kata Reinit sambil mengasongkan barang kedua.


Setelah peralatan sudah ada di tangan, Jihan pun minta ratunya memposisikan duduknya supaya menghadap. Reinit segera menurut, dia naikkan kedua kaki dan bersila di sofa itu, menghadap si pelukis. Jihan yang sedang menyerut pensil tak sengaja melihat Reinit sudah pasang wajah nyengir, mematung.


"Heuu.."


"Kok gitu, Ratu?"


"Mau kamu gimana? Gini..?" tanya Reinit menopang dagunya sambil senyum, pasang pose happy.


"Iya. Diem. Udah itu aja.." kata Jihan, setuju dengan gaya sang ratu.


Jihan turut menaikkan kaki ke atas sofa. Dia bersila, Reinit telah menurut, tetap smile menatap sang lusid. Jihan yang sudah pegang pensil pun mulai bekerja, menatap Reinit. Tiga detik kemudian tangannya menggoreskan jejak, mulai menggambar bayangan yang sudah dia simpan.


Srrtt..!! Srratth!


Srrtt!! Set! Set..!


Jihan memandang objeknya lagi. Dia mulai serius. Dua mata mereka beradu pandang. Keduanya diam. Lalu setelahnya..


Srrth! Set! Set..!


Jihan mencoret-coret kertas lagi dengan pensil. Dia tidak membalas senyuman yang ada, langsung sibuk membuat gurat-gurat. Dia sengaja menatap Reinit agak lama, mengingat kegiatannya adalah menyalin objek.


Yang digambar, diam mematung. Tapi Reinit tampak sedang memperhatikan. Walau dia tiada pegal bersila, menaruh dagu di telapak tangan, senyumnya.. sedikit bertambah saat Jihan menatapnya kembali.


Srrtth!! Set!


Jihan menggerakkan tangannya satu arah. Dia ulangi goresannya. Bunyi coretan cukup terdengar karena nampan kayu tersebut kering. Sekian menit menggambar, akhirnya Jihan serahkan Paper board tersebut pada Reinit.


"Nih."


Reinit ambil benda yang diasongkan padanya. Sekarang dia yang serius pada kertas gambar, sementara Jihan dibiarkannya tersenyum.


Setelah lama mengamati objek, Reinit makin bingung campur heran.


"..???"


Yang tergambar di HVS kira-kira seperti ini: 😜


"Kamu.." gantung Reinit menatap sketsa. "Bikin muka gue??"


"Hhh-hhh!!"


"Oke, bagus banget, nih," Reinit melepas jepitan papan dengan mata masih takjub dan memuji. Kertas yang diambilnya itu kemudian Reinit tempatkan pada wajah Jihan.


"Ahahaaa!!" gelak Jihan, terbahak membiarkan Reinit menyerangnya. "Auuw!Sakit. Hahaa..!"


"Akting nih, akting."


"Ahahaa! Ampun! Hahaa...! Am.. puun!!"


"Sini, pake topeng kamu. Sini!"


"Gak! Ahahaaa! Aaarhh..! Ampun! Hahaah!"


Gebrugh..!


Jihan jatuh karena Reinit terus memaksanya walau sudah dihalang-halangi dengan tangan.


Reinit belum puas, sehingga dia segera melanjutkan serangannya pada Jihan.


"Pake gak!"


"Gak mau! Hahaah! Gak mauuu! Ahahaa!"


"Ayo pake..!"


Jihan gerakkan kepalanya ke samping, tangan Reinit mengikutinya. Begitu pun ketika Jihan hindar lagi, tangga ratunya ikut bergerak juga ke sisi kanan. Sambil begitu, Jihan tetap gunakan kedua tangan demi terjaga dari balasan Reinit yang usil dengan selembar kertas.


Reinit yang sudah mengawang kaki di atas tubuh Jihan, berganti aksi. Dia mainkan kedua jemarinya yang mulus di pinggiran perut, mengelitik Jihan.


"Aaarrgh... Hahhaa!!" jerit Jihan makin tinggi tawanya. "Ahahaaa!! Aa.. arrggghh! Ampun! Aaa.. aarrgh, hahaaa!!"


Keduanya bermain dalam canda mereka layaknya puteri bersama dayang istana di kamar. Layar di situ mereka biarkan, di mana tengah menayangkan pagar sebuah jembatan dan pemuda yang sedang melamun.


Si opa dihampiri gadis sebaya, menyadari itu si tampan menghela nafasnya.


"Sudah kukatakan kau jangan ke mari."


"Mengapa tak menjawab teleponku? Aku sudah harus putuskan, tak ingin sia-siakan tujuh harimu di sini. Ini hari terakhirmu melihatku. Aku pergi demi pekerjaanmu."


Si opa tetap memandangi air bawah jembatan. Di pagar itu juga dia masih melihat bayangan si gadis. Namun, ada bayangan lain yang datang, turut bicara.


"Kim Hyun, kamu dengar dia tidak? Kau jangan seperti anak kecil. Bicaralah."


"Sudah ada orang baru di kantorku. Aku tak ingin ibuku terus-terus memaksa."


"Jadi kau juga tidak mau membuka kedaimu lagi Kim Hyun?" tanya si pemuda kedua.


"Itu juga aset ibuku. Aku telah memilih kota ini untuk hidupku.."


Kim Hyun melangkah pergi meninggalkan tempat. Si gadis tadi tak bisa mencegahnya, bahkan bibir dia diam, hanya mampu menatap punggung si tampan.


"Kim Hyun! Jadi kau tinggal di apartemen mana?!" pemuda kedua agak berteriak.


Si mbak artis pergi ke arah berlawanan sambil mengumpat. "Perset*n.."

__ADS_1


"Hye-ko! Kau mau ke mana? Kita sudah menemukan dia!" kata pemuda kedua, tapi orang yang diajak bicara sudah masuk ke dalam mobil, bahkan..


Brrmmm!!


Hye-ko langsung menyalakan sedan. Tak lama mobil segera melaju.


"Anjay! Hye-ko!! Tungguin g*blok!"


Dua puluh menit berlalu, Jihan sudah duduk ngemil keripik di sebelah Reinit. Mereka sudah santai, menikmati tontonan yang ada, tak peduli dengan ukuran layar yang telah dilebarkan itu dalam redupnya ruangan.


Krauukh..! Krauukh!


"Kalo besok masih lembur, jaga stamina kamu. Kalo gue sih, gak masalah lembur seumur hidup, dah bukan nutrition system lagi."


Jihan fokus mata pada layar, tangannya menyuapkan makanan, tak mau dengar omongan Reinit.


Krauukh! Krauukh!


"Jaman gue di Ladang, ngantuk tuh hal ribet, sampe gue harus doping aer sleeper. Kepaksa si Chaty bius gue, yang ngambil kerjaan."


"Terus?"


"Nih juga pesen gue ke Analog."


"Masalahnya?"


"Makanya gue komplitin deh Ladang pake surgeon unit, tukang ngebedah biar sumber luar tuh cepet murninya pas diproses. Disterilisasi. Jadi tukang nyaring cukup operator aja, gak usah ngumpul semuanya di dapur alam."


"Kalo di sini?"


Krauukh! Krauukh..!


"Di Server, gue cuma ngajarin krusid, ngupload tutor-tutor yang gampang dipahami usia 35 tahun ke atas. Isinya sekalian soal Inetri. Trus skala waktunya gue atur satu detik Server sama dengan setahun di tutor room."


"Iya dah tau. Krusid tuh lusid baru yang udah anakan (berkeluarga). Tapi yang termuda siapa, Ratu?"


"Ada tujuh orang. Tiga cewek, sisanya mereka samaan umur 25 tahun. Mudah-mudahan di flat 2022 nih ada krusid baru umur 40-an."


"Napa ngarep bates tuh?"


"Gue jadiin dia leader flat."


"Fisik menakin khan emang segitu penampakan umurnya. Bisa jadi tuh udah seorang kakek, Ratu."


"Asma pengennya segitu. Kalo si kakek duda, biar gak 'serem' katanya. Dewan lain belum mau bahas."


"Itu ya alesan physics age dimanipulasi?"


"Muka gue sendiri dah peot banget. Kamu gak bakal betah liat gue, Han."


"Iya ilmu-nya dah amat peot. Perpus instan."


Reinit mengambil botol minuman, lalu meneguk isinya setelah mengulir tutup kemasan.


"Jihan ikut nyisir deh, Ratu. Gizi juga harus istirahat."


"Tentu aja boleh. Kalo flat 2022 aman sih kalian dah dapet laporan gue soal dia (Sorrow), tinggal baca. Dan dikarenakan.."


"Croco masih liar, servis kesehatan di FosSeed kesendat?"


"Pinter."


"Tuh info dapet pas Jihan bingung soal valdisk, Ratu."


"Enfield juga ngedadak basic ground ya? Tuh kejadiannya pas Croco lagi kedetek, lagi ditangani Paman Trisno, sama team warning dia. Healty tetep gak mau fungsi."


"Kecuali Healthy Seed taon lalu ke belakangnya khan? Servicenya masih lan-jay. Hadeeh. Jihan mendingan cepet jalan. Soalnya Mamah kayak dikit protokol, suruh nyari Croco. Itu little clue. Baris kata yang gak langsung."


"Ck! Dia udah gak lulus jadi koki. Jihan ke atas ya, Ratu. Assalamualaikum."


Baru saja Reinit angkat bahu, Jihan sudah pergi mengucap salam. Sang ratu menyimpan botol minumannya, membiarkan Jihan misuh-misuh masuk water wall. Reinit lanjut menonton drakor sambil ngemil.


Selain membuka akses ke nomand, serta menyediakan data, juga mengatur dan menyimpan semua jejak aneka kegiatan maupun log aktivitas dalam Internal, ternyata Server pun ikut bertanggungjawab pada produk FosSeed.


Teknik secermat apapun bukan berarti sudah bebas dari problem. Reinit sendiri sedih, karena dia tergantung pada unit yang masih liar, yang imbas ke ruangannya juga.


Healty Seed salah satu layanan Server, penanganannya di tangan lusid yang ada di FosSeed.


Tapi untuk lusid yang dilantik tahun ini, layanan HS tengah dalam kendala Croco. Mungkin Reinit sedih karena sel-nya di flat 2022 kena bug.


Benih algoritma atau seeder punya puskesmas. Ruangan bisa saja mirip bengkel di stasiun sana. Entahlah bengkel di dunia jadi-jadian seperti apa, Jihan tidak pergi ke sana. Mungkin Endfield dirumus di situ juga.


Di elevator si karyawati menyentuh monitor sambil mengunyah camilannya, Jihan hanya perlu mengetap satu kali, sebab alamatnya memang lapis atas. Tapi jarak permukaan dengan flat 2022 tersebut setinggi langit-langit rumah. Jika ada tangga, Jihan pasti tinggal naik saja.


Drrtth!!!


Lift bergerak naik.


Ge.. jligh!


Usai lift merapat dengan tanah Permukaan, Jihan bergerak menuju great wall Server, ke arah tembok yang sangat panjang membentang.


Jree.. eeng!!


Banyak mesin, kapal, robot yang ukuran cukup besar terparkir di situ. Tampak seperti alat untuk perang tapi belum ada goresan ataupun ringsek seunit pun. Gizi mengatakan semua wahana tersebut adalah kendaraan tempur dari masing-masing ladang, milik banyak ratu yang merupakan sekutu Reinit. Mereka aktif semasa perang melawan Luna usia dewasa, tapi niat pamungkas itu dibatalkan, Reinit minta mereka sembunyi di alam manusia, sementara dia pilih (bunuh diri) menutup terowongan-portal agar tak ada pengejaran lanjut.


Sesampainya di dinding pembatas, tampaklah tinggi Great Wall, sekitar lima kali tinggi badan, Jihan berdiri di depan selempeng monitor dekat sebuah blizt. Dia tidak masuk lawang yang begitu dirinya datang, tembok langsung tranparan, lawang tangganya mengganga dekat situ. Lantai yang Jihan pijak mengendalikan visual tersebut, ada bungkus makanan pula.


Layar menu, Jihan pakai untuk registrasi-nya menggunakan jasa blizt Server. Dia tak peduli seorang lusid lain yang lokasinya berdekatan, melangkah keluar sehabis menuruni tangga, namun bukan dari lawang kunjungan Jihan.


Claph!


Jihan menyusut jadi cahaya potret. Selesai menginput titik blizt, atau koordinat tujuan, dia ternyata memilih muncul di depan terowongan kereta.


Jika Jihan masuk ke dalam, dia akan tahu lokasi Scope menemukan mayat Reinit. Namun Jihan tidak sedang meng-investigasi TKP paling bersejarah itu, dia harus ke kebon alias hutan, jika masuk lewat terowongan..


SLLPPH!!! SLLPPH!


DRRRRRTTH!!


Tanah di situ bergetar dilalui serangkai kereta cepat!


Saat touring, Gizi menceritakan panjang terowongan tidak selebar tembok Great Wall, melainkan tak berujung. Jadi harus menunggu kereta lewat.


Kereta melaju keluar dari selapis wormhole, berkelebat di rel ke wormhole seberang-nya, yang saat ini sepanjang bus. Namun bukan langsung keluar dari terowongan. Selesai lewat nanti, keberadaan wormhole persegi tersebut akan berdurasi sama dengan lama penampakan kereta, dan dapat digunakan sebagai pintu masuk ke tempat seberang.


Kenapa Jihan tidak lewat tangga saja? Itu sudah dicoba. Saat loncat, dia mendarat di tanah parkir, langitnya tetap siang hari. Jihan ulang acaranya berkali-kali, tapi sia-sia. Karena ternyata lantai Great Wall hanya sarana untuk mengudarakan tubuh, levitasi. Bukan untuk maling.


Jihan juga diberitahu Gizi bahwa kereta yang ada bukan satelit Snail melainkan Kencana. Dia adalah kendaraan atau portal tertua di Internal dengan daya tahan tak terbatas.


Kencana terus berjalan, beroperasi tanpa masinis di kecepatan F1, membuat penumpangnya cepat mengantuk.


Selama di terowongan penumpang tidak dapat melihat apapun di luar jendela selain gelap, selayak lubang tanpa dinding. Kondisi mistik tersebut adalah ranah di bawah alam kuantum.


Juga berdasarkan beberapa ratu yang sudah kembali dari alam manusia, saksi mengatakan tubuh mereka membesar saat baru tertidur. Pindah jasad dalam waktu singkat, sekejap tapi "gelap" (mirip orang yang bangun karena tersengat). Tapi anehnya mereka ingat apa yang dilihat dalam sepertriliun detik.


Awalnya tidur, kemudian ruang gerbong berubah jadi dunia "kelereng". Ada milyaran butir kelereng yang kian kemari sejauh pandangan mata, serta "warna" ruangnya berubah-ubah. Menurut beberapa lusid, itu alam kuantum.


Butir-butir yang "kesurupan" tersebut berprilaku berdasarkan tiga kelompok, yaitu gerakan lepton, status kuark, dan juga interaksi boson. Boleh dikatakan siskon atau detik-detik big bang.


Berikut nama para penghuni alam kuantum yang sudah ditetapkan manusia.


__ADS_1


Setelah alam kuantum, barulah masuk ke dunia atom. Puncak dari kelabilan atau kesurupan mereka itu boleh disebut Blar! Sreeekkhh!


Terserah, pakai nama Jdar! pun boleh.


Atau dengan istilah yang sudah populer, Big Bang.


Maka atmosfer-nya pun terfase sebagai radiasi.


Bayangkan saja, di ruang sekecil 1/10^∞, atau ketiadaan, para "blueprint" bergerak tak karuan harus ke mana.


Jika semuanya diam, mereka hilang, jadi tica lagi, artinya hanya sebuah mimpi. Partikel penyusun, gaya, dan kawannya tidak ada.


Bila ruang mereka 1×10^∞, kemungkinan bersatu padu adalah nol.


Entah pada digit berapa ruangan mengecil, tiba-tiba saja mereka berganti alam.


Saking cepatnya aktivitas di dalam kuantum terjadi, to the point: berpadu, akhirnya penghuni yang terdaftar di Model Standar mencar ke segala arah.


Kini di alam stabilitas atau keseimbangan, mereka sudah bisa berinteraksi, tidak lagi kian kemari mencari pasangannya.


Tapi, jika sudah bertemu jodoh, para "blueprint" akan hilang tanpa bekas. Sebab dunia keseimbangan punya aturan (tugas) mengembalikan mereka pada ketiadaan.


Tadinya Pencipta menyegel, sekarang Dia mengijinkan "pertemuan".


Jadi, mengapa "blueprint" harus dikembalikan pada ketiadaan? Perulangan adalah syarat untuk eksistensi.


Perulangan seperti apa? Elektron mungkin jawabannya, sebab dia kerjanya tawaf terus.


Bukankah elektron seimbang dengan pasitronnya? Elemen satu ini setelah disaring pasitronnya, ternyata tersisa alias lebih banyak.


Sehingga saat terpancar dari dentuman, elektron berkelebat ditarik pasitron. Ada juga yang keduluan ditarik proton dan jadi hidrogen. Kemudian hidrogen ditarik kembarannya, jadi senyawa. Senyawa ditarik atom berbeda, jadi molekul. Dan seterusnya, random membentuk materi selama suhu masih sangat amat tinggi, tapi tidak sepanas puncak dentum. Pembentukan terus terjadi hingga ada di segala arah, atom-atom lainnya sama sibuk berinteraksi dengan "pecahan" yang ada.


Sampailah tahapannya di Laniakea, ruangan dengan triliun-triliun cluster (galaksi grup). Saat itu juga Bimasakti sudah ada, tata surya eksis, Bumi dihuni mahluk multisel. Sangat singkat 15 milyar tahun yang lalu itu bagi beberapa penumpang.



Semua atom terjaga typenya oleh elektron yang menghuni atmosfer nekleus.


Itu juga berkat interaksi para "blueprint" yang disebut gaya fundamental.


Dasar dari keseimbangan ini ada empat nama; nuklir kuat, elektromagnetik, nuklir lemah, dan gravitasi. Dengan gaya-gaya tersebut xmatter membungkus "blueprint" jadi atom, molekul, materi, DNA, sel, dan benda terfase lainnya sebagai fisik jadi-jadian (imitasi, sekaligus memanipulasi pustaka).


Lalu kenapa Internal dibuka lagi setelah para ratu aman dari kejaran musuh? Internal menyisakan tanda-tandanya (sembilan puluh ratu itu) di alam manusia. Orang yang diinangi will ratu, tahu ada "mahluk" asing dalam dirinya, tapi mereka diam. Sampai ada sebuah mimpi datang, will Scope membuka pandora box tersebut. Bang!! Internal pun open world.


Kenapa Scope mimpi membuka panel listrik? Ini karena mimpi pengarangnya memang demikian, yang memang sekolah di teknik listrik usia putih-abu.


Scope mimpi membuat rangkai terminal, menyusun kabel 3 phase (R-S-T) bersama saklar-saklar motor listrik. Jam praktek selesai. Saat hasil kerjanya hendak dia periksa kembali, Scope terbangun begitu dia membuka kotak panel. Saat itu juga ada yang menendang keningnya. Ditambah punya pengalaman tersengat, muka Scope hancur. Maka dia mulai percaya pada Jhid, saksinya. Terlebih alam bawah sadar Scope bagian dari kesadarannya sendiri.


Scope lusid dengan mimpi paling mustahil. Mencari tahu jati dirinya tapi dengan banyak peran tersebut, dia tidak ingat selain yang terakhir ini, si penjaga kolam!


WWSHH!!


Lokasi kembali sepi usai ekor Kencana turut masuk ke wormhole B. Jihan yang agak jauh dari rel menatap wormhole A di pinggiran. Dia hanya melihat garis tipis warna merah, bukan lapisan dua dimensi. Jihan bergerak menghampiri sang objek karena wormhole satunya hilang begitu dimasuki gerbong terakhir.


"Belum lima menit."


Sampai di tujuan, sambil mengibas-ngibaskan tangan pada garis wormhole, Jihan lihat dua 'pemukaan' lubang bergantian. Garis tersebut tidak hilang. Hanya saja saat tangan dia masuk lawang, garis portal putus begitu kulitnya menyentuh. Tapi saat di kibas dari arah belakang, garis tidak padam dan tangan Jihan terbekas aura tranparan.


Jihan amati kulit hastanya yang tampak putus, lalu dia usap-usap. Efek portal tidak juga hilang. Tangannya masih putus.


"Bodo amatlah. Gue harus cepet. Kapan-kapan aja," kata Jihan sambil bergerak masuk wormhole.


Seperti iklannya, ternyata benar, lubang cacing pintu masuk ke seberang. Jihan berhasil masuk area hutan untuk pertama kali. Sepanjang rel Kencana itu kiri-kanannya pepohonan tinggi yang rimbun, mungkin perkebunan karet.


Zwwtth!


Jihan berhenti melangkah, menengok ke belakangnya karena portal persegi menyusut.


"Thanks.."


Jihan lanjut berjalan ke seberang rel, ada jalan setapak di sisi kebun sepanjang rel membentang. Dia bertanya pada Gizi soal Scope. Sang Jins hanya menjawab bahwa dia sudah sampai.


"Hhh.. Sampe bingung maksudnya?"


Demikian. Hhh-hhh!!


Sehabis menyeberang rel, Jihan diam menunggu di situ. Lokasi ternyata tidak gelap atau redup seperti saat dilihat dari Great Wall. Jihan beranikan diri melangkah lagi, menjauhi pembatas tinggi itu, jalan kaki melihat-lihat.


"Mungkin Oyon di dalem sono, Giz. Lagi nge-bug gini gue gak mau nyelonong. Nyeker gini, ntar kena duri."


Hhh-hhh..!! Tak ada komentar


Jihan menoleh ke rel, di situ juga sisi kebon seberang terlihat sepi dan asri. Dia tak mendengar bunyi satwa atau cuitan burung seekor pun. Padahal tempat yang dia tapaki sekarang, lapangannya Scope menembak. Tapi entah mencari apa, belum ada suara letusan bedil.


"Kalo duduk di rel gak apa-apa khan, Giz?"


Tak masalah. Hamba akan temani


"Iya," ucap Jihan. "Yuk, nunggu di rel aja."


Set!


Zwiiitt..!


Begitu Bintang kecil melesat, Gizi muncul di rel Kencana, sudah duduk menunggu majikannya datang, karena masih di jalan. Wajah sang kru F1 terlihat berseri.


"Curang ih.." kata Jihan, langsung duduk di samping Gizi, abai kepalanya digelangi laser merah.


"Hhh-hhh! Demikian. Croco masih dalam sisiran. Sekira setengah jam, mereka akan menemukannya."


"Sorrow gimana?"


"Seeder stabil terbaring, Tuan. Sebelumnya infus itu tidak bekerja padanya. Romi mengkodekan ulang alatnya supaya approved dengan algorit base tahun ini, itu milik lusid tahun 2009."


"Jadi emang ada robot type dia juga ya? Mirip-mirip aku dong lusidnya?"


"Demikian."


"Cewek apa cowok Giz?"


"Wanita."


"Kita harus berterimakasih ke dia dah mau minjemin alat yang cocok buat kode HS Sorrow. Sembuh nanti aku harus ajak Sorrow ketemu homo-nya."


"Hhh-hhh!! Apa kiranya dia akan suka?" tanya Gizi dengan pundak masih bergetar, PUEBI jihan tak biasa baginya.


"Algoritma dia khan kompleks, lengkap juga kayak rumitnya ati orang. Jadi kalo dia ketemu unit seniornya tuh gak ngerasa sendirian lagi. Ada yang lebih gabut dari dia. Si Oyon aja piknik ke sini."


"Demikian," kata Gizi, berubah murung, memandangi batuan rel.


"Hhh, aku juga." Jihan turut muram, dia auto sense ketika jins-nya mendadak sedih. "Gak nyangka udah jadi si Mamah umur segini."


"Kapan kita ke nomand, Tuan?" tanya Gizi, menatap lawan bicara.


"Umm.. rabu?"


Gizi senyum, kemudian dia merangkul tubuh Jihan, menambah seri makin tampak di wajahnya. Jihan sendiri membuat senyum yang serupa jins tersebut, balas merangkul.


Bawah sadar mungkin memang berlangsung begitu adanya, menguatkan ekpresi.


Sederhananya sih, jika ada seseorang persis Jihan, namun dia laki-laki, kira-kira gadis seperti apa yang diinginkannya. Maka kebanyakan orang ingin bersama 'dirinya' itu. Jadi tak perlu heran seseorang hobi selfie, mempercantik dirinya.


Reinit misalnya, dia gabut kehilangan bayangannya di cermin. Dia pernah bicara pada Jihan, tak perlu kecil hati tidak dapat reward. Sang Digital pun auto santai saat sel-nya turut ketimpa bug, mungkin memang bicara untuk dirinya sendiri. Dan Server baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2