
Malam hari di Paris, Jihan berubah bete, langsung mengiyakan Prita yang dianggapnya rewel. Berjalan di kota mati bersama agen BIN membuatnya terpaksa diam, mulai paham, sebab Jihan melihatnya langsung menembakkan bius ke paradok tanpa buang waktu. Maka dia mengalah sebelum Prita balik jadi marah.
Aktivitas mereka menapaki kawasan jadi menambah kelam kota tersebut. Ketiganya sibuk dengan pikiran masing-masing.
Prita pegang senapan dituntun radar Arc, menyorotkan laser ke depannya.
Bandana alias Batgirl Citymall sibuk kedap-kedip mata memeriksa arsip lab lewat layar, dua kakinya mengambang.
Di dekat paradoknya, Jihan jalan sambil nendang kerikil, mendekap badan.
Belum ada yang butuh informasi waktu. Berdasarkan posisi bulan, mereka sedang hiking dini hari pukul dua (waktu setempat), perkiraan saja. Sudah setengah jam tak ada yang bicara.
Dua jam kemudian, pukul empat, Bandana merapatkan badannya ke dinding bangunan, Jihan dan Prita mengikuti, turut sembunyi mendapati lampu sebuah toko menyala.
"Hey..! Dah sampe? Laper nih.. Keul."
"Kuharap Qeni terbangun karena hal yang sama denganmu," jawab Paradok, mengintip Jihan lainnya dari balik dinding.
"Qeni. Bawahan lo?"
Bandana meninggalkan Jihan, abai karena tampaknya itu sudah tidak penting lagi.
Jihan bergerak menempati posisi Batgirl, melihat gedung di seberang jalan dari balik dinding. Mereka sedang di perempatan jalan kota, Jihan dapati paradoknya sudah masuk toko dengan cara 'menyihir' handle pintu. "Power curian."
"Sstt!! Biar dia yang urus.. Jim."
"Tapi nih jam-jam sahur, Mbak. Siapa gak cacingan ngeringin dengkul dua jam?"
Prita menengok ke sebelah mereka, matanya kembali fokus mengawasi sekitar, tetap sembunyi menyandari dinding berjendela.
Plukh..!
"..?!"
Prita jongkok, memungut benda yang barusan jatuh ke dekat sepatu Jihan. Dia berdiri lagi sambil mengamati sekeliling.
"Nih, buat ganjel," asong Prita ke bahu Jihan. "Geret aja dulu, biar gak laper."
Jihan mengernyit dahi. "Apaan nih..? Ceker?"
"Antena rusak. Dilelehin pemasangnya."
Plukh! Detektor pengunjung Jihan buang.
"Gue serius," kata Jihan, tapi diabaikan.
Prita biarkan Jihan membuang barang yang diberinya, pura-pura mengawas.
"Hhh-hhh! Hhh..!" guncang Prita sambil memunggungi Jihan, menyembunyikan ekspresi tak tertahannya.
Di ruang toko, Bandana sedang jongkok dekat meja makan, dia berhasil menyelinap dan kini sedang menunggu.
Krauukh! Krauukh..
Jihan duduk mengunyah kerupuk, ternyata benar, gadis piyama ini bangun tidur dan kelaparan, disuapnya lagi nasi-instan dalam cup itu, tanpa peduli rambutnya semrawut dan kepala sedang digelangi laser. Wajah si gadis tampak chubby, mungkin emang Jihan yang hobi makan.
Tlikkh..! Lampu mendadak padam, Bandana mulai beraksi.
"Hey, yang benar saja. Hoaamm.."
Gliitt! Layar tipis muncul di depan Jihan yang sedang santai dan itu membuatnya kaget karena bercahaya.
"Ehh, Qin??" tanya Paradok mendapati wajah yang dikenalnya pada layar tersebut.
"Maaf, kawan. Plan kita selama ini sia-sia."
Tegh!! Sentakan tangan mendarat di tengkuk Jihan, korban langsung lemas dalam duduknya, ditidurkan.
Tliikh!
Bandana sudah mengambang, dia yang me-manual saklar, lalu melayang membukakan pintu.
Batgirl gerakkan kepalanya, berisyarat pada Jihan dan Prita yang masih mengintip di kejauhan. Tak lama dirinya segera mereka hampiri.
"Ngapain di dalem Keul? Masak?"
__ADS_1
Bandana balik badan sambil menimpali kepo origin-nya. "Tidak. Aku harus kembalikan rampasan kami. Follow me."
Jihan biarkan Bandana pergi melayang meninggalkannya.
"Kita balikin dulu, beres itu kita makan," kata Prita mengikuti Bandana dan memijak tangga.
Jihan tidak menanggapi, melainkan diam. Sejak masuk fokusnya tak teralihkan, kini dia sudah di depan meja tersebut, membiarkan Qeni duduk terpejam pingsan.
"Udah jam imsyak.." tatap Jihan pada cup di meja.
Set! Srluup!
Sat-sit-set!! Sat-sit-set!!
Tanpa permisi, Jihan habiskan makanan tersisa gaya bedug magrib, buka puasa.
"Euu!!"
Jihan sudah memegang gelas, membersihkan bibirnya yang berminyak. Dia tak melamun, menatap tangga.
Set! Ckiiit!
Jarak dekat pun Jihan kebut. Dia mendapati Qinetik sedang memainkan layar-kedip di dekat pack-pack makanan. Jihan lihat telekinetiknya bisa membuat layar jadi portal dimensi.
"Chiffon curian."
"Dia banyak membunuh anak buahku," sanggah Bandana tetap men-dirigen-kan tangan supaya layar terus berputar.
Gwriii.. iitt!! Sebuah lingkaran muncul di tembok ruang penampungan bawah apartemen, namun tengah ditodong senapan dan ditunggui Spesialis Gen.
"Turunkan itu, ini kami," kata Bandana, wajah yang hadir di seberang portal.
Spesialis segera menyuruh si penjaga dengan bahasa Prancis. Orang yang disuruh langsung sigap mendorong meja ke pintu portal.
Sreetth!
Bandana segera taruh kardus yang diangkatnya ke meja panjang tersebut, Jihan dan Prita melakukan hal yang sama; pindahan. Tak lama beberapa petugas refuge datang ikut berkerja di acara bongkaran gudang.
Aktivitas yang ada tak ubahnya seperti jam sibuk sukarelawan pasca bencana alam. Ada kardus mie instan, karung beras, obat-obatan, dan masih banyak lagi barang plus makanan yang Bandana kembalikan.
"Kami mengumpulkannya di sini, mendapatkan semua, dari beberapa market kota, mendahului para searcher-stock," kisah Batgirl atas keserakahannya.
"Dah lah, gue malu sendiri jadinya Keul. Niat doang, udah kejadian, kayak ngelakuin betulan," tutur Jihan sudah duduk mengaduk-aduk isi mangkuk.
Tuit! Tuwiit! Sarung tangan Prita bekedipan lampu indikatornya, selesai mengemaskan paradok, dirinya langsung sibuk memindai lokasi dengan teknik (aneh) melambai-lambaikan tangan secara perlahan.
Prita mematikan bunyi alatnya. "Masih aja rawan. Gue gak sabaran bedah sampel RPM. Radar Gzn kepasang di semua tempat."
Jihan dan Batgirl tak bekomentar, keduanya sudah sibuk makan, tinggal Prita, yang baru menggeser kursi dan duduk untuk turut serta mengisi perut.
Tiga soldier UNO akhirnya satu meja, tidak se-survive para penjaga pos, mereka punya nasib paling beruntung.
Sepuluh menit kemudian, mereka berada di depan toko berlogo cangkir tersebut.
"LHC jauh di sana. Gue cuma bisa pake petasan asep ke alamat tujuan." Prita.
"Layarku masih charging. Aku akan mencelakai kita jika membukanya lagi." Paradok.
"Gue bisa gendong kalian, kok. Jadi angkot organik." Jihan. Seperti biasa, bicara seadanya.
Ternyata lab Bandana ada di lokasi perbatasan dua negara. Tapi.. Mereka sedang bingung cara ke Large Hadron Colider.
"Gue takut lo jail di jalan. Tawaran ditolak."
"Jail gimana? Gue diprotokol si Nik Nik merimeterin lo, Mbak."
"Radar Gzn masalahnya, Jim. Magis lo tuh kemuat frekuensi jins. Aktif dua menit lewat, kena marker paradok lo. Gak usah ngasih umpan lebih buat buronan."
"Ck! Gue pengen cepet beres berurusan dengan hal berbau almarhum," keluh Jihan atas kerisihan Prita yang menolak digendong.
"Pustaka ini ilegal. Seharusnya kalian berada di daratan putih maha datar," netral Bandana, membahas rahasia di balik tempat terpijak. "Jika aktif.. base time kalian segera terinfeksi akar-waktunya Lectrin ini."
"Jujur, Oma gue nitipin dia, Qin. Drivernya protokol gue."
"Trus kita lanjut ribut-ribut, manjangin drama gak jelas Jihan eks Prita, Mbak? Kalo nolak digendong, gue jawing (jinjing) terbang deh kalian berdua selama semenit. Gimana?" usul Jihan, rada kesal.
__ADS_1
"Ditolak. Menit berikutnya gue males jalan kaki lagi. Kita lagi ditungguin musuh."
Prita menancapkan 'paku' di retakan aspal depan toko, mirip paku-nya bola golf.
"Lo masih curiga kali sama paradok yang lo percayai ini Mbak."
"Bawa nih Stamp-address ke lab lo, Qin. Beres pasang, pancarin laser arc ke atas," pinta Agen sesampainya di depan Bandana, melepas Arc yang terkalung di badan.
"Apa yang akan kau lakukan sebenarnya?" tanya Batgirl mengamati paku yang diterimanya, tangan satunya memegang bedil berpunggung teropong.
"Perhatikan, angkot versi ninja," pinta Prita pada Jihan.
Prita membanting petasan ke trotoar toko.
Bwuush!! Asap putih muncul di jalan menampakkan tubuh Prita, sementara kepulan satunya terhembus kosong di hadapan mereka.
"Iya. Gue ngerti, Mbak. Alat-alat Snail emang ajaib semua. Bilang kek, lo pengen liburan."
"Gak usah ngasih umpan lebih. Gue pernah dijinjing terbang sama lo ke LHC. Ya ini bekasnya."
Prita balik badan, menunjukkan tengkuknya yang tadi diusap-usap. Ada lima garis di kulit leher sang agen BIN.
"Jadi tuh lecet alesannya..? Ya udah sori kalo gue pernah nyekik lo, Mbak."
"Gak tau lagi, gue musti jelasin apa. Dah banyak plot, yang gue coba, Jim. Kaum gue nyebut, gue astraler yang hilang. The Losted. Artinya, gue lebih senior dari Oma (Marcel)."
"Aku berangkat," kata Bandana yang mengambang setinggi lutut. "Jika lama, mungkin sesuatu terjadi padaku."
"Tetaplah idup Qin."
Wuuuts!!
Qinetik melesat tembus ke gedung apartemen, mereka memang masih berada di tenggara Eiffel, Paradok tinggal lurus menuju laboratoriumnya di LHC.
"Di sini gue dan Ghost nungguin lo, Han. Di waktu lainnya, gue sama buyut. Sekarang pun sama. Gue terus-terusan sepanggung dengan muka Guan Xiao Tong."
"Gue dikondisiin frustasi, psikosis, sebelum jadi lusid. Mungkin nih emang alesannya napa harus stress. Biar terbiasa Mbak."
Zwiiitt!! Bayang Nik Nik terpancar di glove Prita.
"Gue pengen aksi bareng Oma. Tapi.. "
"Gue lagi, gue lagi."
"Cari acara lo sendiri, Jim."
Prita sudah duduk di tepian trotoar melepas sarung tangan.
"Ya Mbak, ada apa?"
Yang ditanya masih memposisikan alatnya, Prita juga membiarkan Jihan masuk toko.
"Gue nguping, debat kalian kayak bawang merah, bawang putih. Siapa giliran ngepel rumah."
"Hhh. Arsip survey. Tolong tampung dulu di Paltina. Udah gue kirim."
"Boleh dong gue baca?"
"Anggep aja laporan, Ndan. Ada foto RPM. Kayaknya udah deket final, Nik."
"Thanks." Dalam duduknya di kapal, Nik Nik melihat ke samping kanan. "Iya udah nih, lagi jalan persennya."
Sementara Jihan ada di gudang yang sudah dikosongkan, mengorek-ngorek tumpukan makanan atau sampah yang basi di pojokan.
"Di mana sih, iih.. udah gue pisahin juga."
Tididit! Tidit!
Pergelangan tangan Jihan kembali menampakkan jarum merah. Ada paradok.
"Ehh."
Saat bingung mencari-cari makanan tilep, Jihan mendapati deathflat-nya menampilkan beberapa jarum, muncul dalam layar.
"Tujuh orang.. Ngapain?"
__ADS_1