
Note: lewati bab ini karena sama persis dengan sebelumnya, aku gak tau kenapa tiba-tiba muncul lagi di sini, setelah nge-klik "lanjut" beres mengedit bab sebelumnya.
*langsung ke chapter 49
###########
"Repot juga kerjaan si Ray. Barang macem apa dia pake sibuk nadah atap rumah? Oke, bocor sana-sini. Apa nih robot juga sibuk ngepel, Mar?"
"Dia jins, Han. Jins umumnya ngedrive soulator, ada juga yang lokal kerja di ladang sarangnya. Ray ditugasin nginap di nisan ratunya. Dia maut queen Reinita, tapi ratu kalian ini hanya kehapus dari memori lo jika dibunuh, sementara gue ma Deti masih bisa liat Reinita."
"Siapa yang nempa nih kaleng, Sel?"
"Mbak Enik sama Olive. Udah lama banget. Jaman jins wars. Ray bantu gue narsis war, trus juga Perang Dunia Lima. Beres di kekacauan itu, kambuh lagi di era multselium ini. Hadeeh para mutant tetap jadi piaraan parasas, Han."
"Dlang brengsek itu kuncinya kali. Dia bisa masuk space-time khan? Makanya gue panas."
"Dia salah satu parasas intel yang ada di kelompok Finalhunt. Komplit alatnya. Kalo Epsi ada di tangan dia, Inetri, Fanam, komunitas kita kiamat Kak."
"Udahlah itu gak bakal keulang."
"Emang pernah kejadian?" tanya Jihan, antusias.
"Fanam ancur banget, lumpuh sama isinya. Top Qarrat yang nyusun plan. Nih clone masih idup, tapi udah disegel. Jhid yang nyimpen Black Soul ini. Gue gak tau lagi, dia simpen di mana."
"Temen lo itu katanya author, jins-nya Bang Scope."
"Valid. Emang dia yang nyiptain, pake Liner Mbak Asma."
"Ehh.. Si Epsi ngapain?" tatap Jihan pada perut Marcel.
"Hah," raba Marcel, dia mendapati perutnya dilingkari laser. "Noh. Elo juga, Han."
"Ehh.."
"Iya nih. Deti juga Kak."
Deti mengangkat dua tangan, melihat pinggangnya.
"Duh Luna diem gini. Tanda.. Dia udah pergi sejak tadi," sidik Marcel.
Perut para gadis digelangi benang merah, pusaka Al Hood. Pemiliknya tengah duduk diam menggigit Apel.
Tubuh bocah tudung tersebut sudah sedikit transparan mereka lihat. Baru saja Jihan mendekat, badan Marcel dan Deti dibawa pergi.
Set! Set!
Wuutts! Jihan turut ditarik dari tempatnya berdiri.
"Pergi ke ma.. naaa!!" teriak Jihan bersamaan dengan lajunya yang persis peluru. "Berhen..tiii!!"
"Aaaa...aa!!!" Marcel.
"Kyaaa!!!" Deti.
Sat! Sit! Set!
Epsi membawa sanderanya turun dan menembus hutan. Tubuh ketiga gadis dibuatnya transparan, halus persis hantu sehingga mereka ringan dan anti tumbuk dengan kayu-kayu yang dimasuki. Lajunya nyaris dekat dengan kecepatan suara, 340 meter per detik.
Wuutts! Set! Set!!
Mereka tampak seperti sedang balapan, Jihan memimpin. Sementara Marcel sedikit di depan Deti. Mereka melesat setinggi kulkas atau lemari di atas tanah belantara.
Set! Jihan menembus rumah beratap rumput.
Wuutts! Marcel menyusul masuk bangunan tersebut.
Wuutts..! Deti baru datang sedetik kemudian.
SAT! SIT! SET!
Ketiga 'hantu' berhenti, mengambang di udara setelah dua menit melesat.
Tepatnya, mereka dibawa ke kamp konsentrasi, yaitu lapangan utama Minion, tempat heli dan mobil purwarupa diparkir.
Krrtth! Grrrth! Drrrth!
Badan mereka berdimensi kembali, nampak nyata alias jadi padat.
Perlahan-lahan mereka diturunkan, Jihan melihat-lihat sekelilingnya, meniru Marcel dan dicontek oleh Deti. Ketiganya masih digelangi Epsi.
Mata mereka berkeliling menyapu sekitarnya.
"Markas siapa nih? Mantan nelayan, pasus yang di hutan tadi?" buka Jihan, entah bertanya pada siapa.
"Nih kamp Minion 41, sub-sentral yang di Jawa Barat. Luna mulai berburu kayaknya," tanggap Marcel memposisikan Arc Electric ke depan, seketika lampu scope di senapannya berkedipan.
"Akh! Hiiy..!"
Dziing! Dziing..!
Marcel sigap menembak tangan mutant dekat kaki Deti.
Bwuush..! Daging yang dilaser terbakar.
"Ihh, apaan itu Kak? Sisikan gitu kulitnya," komen Deti di belakang Jihan, mayat yang dilihatnya masih bergerak, punggung mutan bersirip Stegosaurus, meliak-liuk.
Clekh-glikh..! Tarik Marcel ganti peluru.
Dzaang!!
__ADS_1
Blesshh...!
"Stigman. Medan perangnya di laut ato balong. Aquarium sono rumahnya," tunjuk Marcel pada kontainer kaca.
"Berantakan gini, kemah habis diserang kayaknya ya?"
Jihan mendapati beberapa kendaraan mirip tank berasap dan masih dilalap api.
"Ada tawanan. Ada orang!"
Marcel tak sengaja melihat kain tenda bergerak-gerak seperti kena angin, digebuk-gebuk dari dalam oleh penghuni. Marcel lari ke alamat, beberapa mutant yang berlimpang di tanah diloncatinya.
"Dia hapal kayaknya De. Apa astraler perangnya sama mereka ini?"
"Kak Marcel bilang perang sama alien juga Kak."
"Tapi.. Luna sadis juga kalo ngambek," komen Jihan, menengok kira dan kanan, tak ada yang pura mati. "Perasaan di batu tadi, kita bentar kok ngobrolnya. Lima menitan, tapi tempat udah sekarat gini."
"Gak tau sih, pas tadi makan juga dia dingin terus mukanya."
"Hhh, apa Luna masih di sini ya?" tanya Jihan sambil menatap perut, laser merah terlihat tembus saat Jihan kacak pinggang. "Kalo dia nih muterin pala, enak, bikin kita awesome pas gerak, De."
"Yaa. Tapi dia milih pusar, bersihin cacing perut kita Kak."
"Masa sih?"
"Pas Luna makan apel, Deti pengen. Sekarang gak laper lagi Kak."
"Apa perut gue didiemin Kobra gitu? Dia betah di sini kayaknya."
"Yaa bisa jadi lagi ngeramin Anakonda Kak."
"Gue suka bicaramu, De."
Suwii..wiiit!! Panggil Marcel, menggerakkan kepalanya sekali dilirik, berisyarat pada Jihan dan Deti.
"Ayo. Kak Marcel butuh tenaga sepertinya Kak."
"Iya. Tuh kontainer bekas, banyak juga orang yang dipenjarain pasus."
Wuutts!
Set!
Deti menyusul, turut berkelebat.
Ckitt..!!
Ckiiit!
Jihan langsung mencengkram rantai pintu penjara, setibanya di sebelah Marcel.
Jeruji di situ masih panas akibat tembakan Marcel, Jihan sigap membantu sang prajurit world-war 5
Greleekh..!! Jihan menarik rantai yang bergembok jadul tersebut setelah berhasil diputusnya.
"Paman Rojak, ada Paman Rojak di sini?"
Marcel agak menjungkitkan kaki, penghuni penjara masih jaga jarak, Jihan sia-sia ajak mereka keluar.
"Puebi kita dah robah kali Sel. Mereka masih ketakutan gini. Tata kalimat dah robah abad ini."
"Nih generasi imun. Mungkin ada anak cicit gue di dalem, komunikasi radio pake bahasa lestari."
"Tapi mereka kayak lihat kunti."
"Liat elo kali! Paman, saudarimu butuh transfusi darah. Segeralah bantu Bi Astria, Paman."
Datang, berjalan seorang laki-laki dari belakang kerumunannya, dan dia diberi ruang untuk jalan.
"Sa.. saya. Sa-ya.. Rojak," ucap orang tua berkemeja lusuh, sesampainya di depan Jihan dan Marcel.
"Maaf, saya harus scan dulu suhu dan darah bening Paman."
"Si.. si-silahkan."
Klikh! Copot Marcel, melepas teropong senapannya.
"Kak Sela cepetan. Dia nunggu banget Kak."
"Iya, Kudet. Sabar," kata Marcel, menyinari kening dan wajah bapak tersebut dengan laser teropong.
Deti mengawasi sekitar dan juga satu tenda yang terdekat, tempat seorang Astria dipisahkan dari kelompoknya, turut diamati.
"Ikut saya Paman."
Marcel meninggalkan Jihan. Bapak Rojak segera membuntuti, tak peduli mutan-mutan berlimpangan di sekeliling.
"Maaf, gadis tudung itu teman kami. Apakah dia memang di sini tadinya?" tanya Jihan.
Beberapa orang mengangguk. Satu orang lagi menghela nafas, pandangannya masih mengarah pada Jihan.
"Dia bersenjata kawat merah itu."
"Oh ini?" tanya Jihan menunjuk perut, matanya masih menatap si penanya tersebut.
"Betul," kata perempuan berbaju perawat ini. "Iya. Kabel hidup itu."
"Tenang Mbak. Ini pengaman. Saya Jihan dan ini Deti. Kami datang buat bebasin, bukan mau mindahin."
__ADS_1
Deti senyum dan membungkuk ala warga Jepang. "Saya Deti Rinjani. Luna teman kami. Salam kenal dari saya semuanya."
"Ayo semua. Doa kita di dengarNya. Semua keluar. Prita, elo ambil semua biolet yang ada. Mereka nyimpen di storage ujung. Sudut timur. Gue harus cari carry buat angkutan. Kita akan segera pergi dari sini."
Jihan memberi jalan pada gadis yang datang menghampiri. "Hai.."
"Iya. Thanks yaa."
"Jihan, saya harus ke alun-alun bawa mereka. Di sana kamp kami berjarak satu jam. Saya Clara. Unit tugas mencari data A2, juga menyidik DNA yang kebal terhadap mutasi selnya sendiri."
"Ehh, umm. I-iya. Ya udah Ra. Gue bantu cari mobil ato carry."
"Saya ke utara, tolong kamu cari di barat saja, ada hanggar heli dekat kandang C3. Saya tak pernah ke sana lagi."
"Si-siap. Iya Ra."
"Ayo. Harap semua kumpul di luar. Sampai angkutan tiba."
Tempat telah dibisukan, tak ada serangan yang harus mereka saksikan lagi.
Akhirnya mereka mau keluar satu per satu setelah sang suster meninggal kontainer lebih dulu.
"Ati-ati Kak Jihan. C3 tuh kayaknya kandang sesuatu yang ditakutin si Mbak ini."
"Gue penasaran, De," kata Jihan pada Deti, badannya agak terangkat, mengambang. "Bangunin rasa nyaman mereka, balikin semangat para pendoa."
Beberapa pasang mata memandangi kaki Jihan, tatapan yang ada begitu lamanya dipanteng. Takjub dengan aksi tersebut dan baru melihat manusia jadi-jadian.
Wuuts! Jihan melesat ke barat, menembus bangunan yang ada.
Ckitt..!
Taph! Jihan menapaki lantai gedung yang baru dia tembus dindingnya, padahal baru saja tranparan, sudah hiking lagi.
"Ada apa emang Rin?"
Anak Langit baru saja selesai di ruangan itu. Sebaik kita periksa, layarku mendeteksi soulator yang dikenali
Sudah kukirim pesan, terkait heli angkutan pada Deti, supaya Clara mengetahui bahwa hangar aman dia kunjungi
"Apa Mbak Clara emang takut sama C3? Ato emang ada jins-nya soloter di sini?"
Aku akan ekstrasi jika hasil pindai terhadap will ini valid. Radius prediksiku belum menjangkau tentang Clara
Sllpph!! Daun pintu menguak terbelah dua, tercetak nama C3 di atasnya.
Jihan yang menghampiri pintu tersebut segera melangkah masuk ke dalam. Di balik pintu ada pemandangan yang serupa Endfield pasca dipakai.
"Ya Allah Luna. Elo tiada maaf begini.."
Lorong yang Jihan tapaki sudah banyak potongan badan dan mayat pasus. Ada ciprat merah, juga darah hijau mutant di dinding. Jihan melangkah perlahan-lahan, mengangkangi halangan yang ada, agak besar mayat tersebut. Dinding tak hanya kotor oleh basahnya darah, tembok dekat mutant Belalai telah jebol.
Sllpph! Pintu ruang utama terbuka.
Jreeng..!!
"Astaghfirullah.." ucap Jihan pegang dada mendapati kepala Kingkong telah putus, telah terpisah dari tubuhnya yang tergolek di tengah ruangan.
Jihan lihat kira-kanan, lab sudah berantakan semua fasilitasnya.
Perlahan kaki Jihan terangkat, menapak di lantai dianggapnya salah, dapat merusak posisi barang-barang. "Bunyi senggolan bisa bangunin C3."
Dia sudah tiada
"Hah? Nih King kong, C3-nya?"
Demikian
"Mungkin status kamp ini yang pernah parasas ributin tuh. Nih kamp yang jadi pemicu kerusuhan di Field Glas. Pada berantem gara-gara pembantaian ini, Rin."
Hhh.. tak ada komentar
Jihan melayang di antara serakan monitor LCD dan meja-kursi, mata mengarah ke lampu lingkaran yang masih menggantung di langit-langit lab. Ada kabel putus, di mana listriknya tengah menjentik-jentik.
Griicikh...! Ctiikh..!
Cahaya lampu menyala kemudian padam lagi. Hal ini tidak mengganggu Jihan.
Si Gadis sedang terpaku, terayun-ayun di ketinggian lemari, menatap seorang pria tengah sibuk membebaskan diri dari tali merah yang mengikat lehernya tersebut, digantung ke langit-langit, dan masih bergerak atas cekikan yang ada.
Jihan lihat butiran cahaya yang melayang-layang di sana, tak bisa berbuat banyak, Epsi menggelangi sang tica.
Lecturi. Main leader Minion. Dia keturunan komando yang terdahulu. Perintah yang dipegangnya masih berasal dari Dlang. Mereka di sini sebagai pemagar bukit. Lokasi dipagari dengan drone supaya Luna tetap terpantau
"Apa dia soloter? Napa Epsi menyegelnya Rin?"
Ini cara lain Anak Langit berkomunikasi. Luna mencari validitas data. Dia meretas, jika dia sengaja membiarkannya hidup, ada hal penting bagimu
"Umm.."
Aku harus lakukan ekstrasi, memisahkan driver legal yang masih berada di dalam
"Jadi bukan dia bukan soloter ya?"
Tiket inilah yang pernah Paradok ambil di Citymall, hanya saja drivernya sudah tiada
"Ehh, maksud?" ulang Jihan, kalimat yang didengarnya minta diulangi. "Apa nih tica, soulator dari will-nya Riko Rin?"
Demikian. Jangkauan pindaiku mengindikasi pustaka yang dikenali server
__ADS_1
Aku akan lakukan ekstrasi selagi FinalCutter cegah kontaminasi dari Lecturi
"Ya udah. Lakukan Rin. Buat barang bukti. Aku setuju nih tiket tak bertuan sebaiknya kesimpan aman di server. Gentayangan gini jadi kayak spion, musuh dalam selimut. Yang berhak pake khan almarhum."