
"Dian sudah memikirkannya. Bahkan sudah ada tanda xamus dari teman petapamu yang di pos itu. Tapi apa kamu pernah ke panti?"
"Belum. Jihan sibuk nyari duit, Baginda. Emang napa, hayo?"
"Panti belum serumit basetime. Bila kamu memang ingin hal-hal sederhana, lahan kosong mereka patut kita dipikirkan."
Jihan diam. Dia pernah dengar bahwa Marcel astraler nomor wahid, super sibuk, sampai akhirnya si teman kelelahan dan tak bisa berjuang lebih jauh lagi, harus diistirahatkan, bekalnya tak mendukung misi.
Secara tak langsung, astraler garis depan yang mengantisipasi kebocoran aset dan volume Internal. Pencium kegiatan ilegal. Polisi-nya Server.
Tapi lusid kebingungan membantu petapa oleh sebab astraler tak memiliki jejak Indri, terkendala "tiket" diri mereka sendiri, will petapa masih asing bagi Server.
"Apa dulu itu, panti ikut hancur Ratu?"
"Panti belum ada saat Delapan Malapetaka terjadi, Jihan. Beberapa waktu kemudian, pasca DM, Marcel mengunjungiku perihal Ray. Ada urusan dengan tubuh yang dia tinggalkan di alam sadar.
Dia ingin meminjam pusaka, Jhid yang menyuruhnya ke mari.
Tapi aneh sekali melihatnya, tiada RPM ataupun penyerta. Will yang aku lihat sulit diprediksi. Marcel tak dikenali oleh Reinit, dia sangat rahasia.
Bahkan Marcel menyebutkan bahwa Jhid adalah piaraannya. Ray pun malah ikut, jadi piaraannya.
Sementara kamu, mengunjungiku perihal apa?"
"Jadi dayang Ratu," putus Jihan, tanpa peduli lagi.
"Hhh-hhh! Maksa banget."
"Dih..? Apa tadi, Baginda?"
"Itu tata bicara-ku yang dahulu. Jadi pernah tersesat sepertimu, mencari bekal ke sana-sini demi suatu urusan, banyak mengenal karakter yang gaya bicaranya seperti ini.
Baik. Ketahuilah kunjungan kamu ke sini sebenarnya tentang Citruz Jihan.
Tak masalah dengan nilai frame yang sekarang, karena hal ini akan berkembang dengan sendirinya kelak.
Berbekal hati, seperti yang pernah kamu katakan, sebenarnya itu sudah cukup dan telah kamu lakukan.
Namun berbekal nilai kemanusiaan pun berisiko, akan ada tangisan dan rasa pilu terdalammu."
"Hhh.. " lamun Jihan. " Kira-kira apa ya, Ratu?"
Reinita hanya tersenyum, sementara tangannya merapikan poni Jihan, menatap si gadis dengan urai air matanya. "Kamulah sendiri.. yang mengetahuinya, Jihan. Sedangkan.. traumaku.. ialah Rey. Saudari ultahku."
"Jadi, Queen nyiptain kalian berdua, Ratu?"
"Benar. Reinit dapat bertahan.. dari patah hatinya. Tapi saat Larasati tiada.. putus asanya berlanjut di terowongan itu.
__ADS_1
Saat dibangkitkan.. Kreator-ku.. bukan lagi mahhal (mahluk halus).. dia telah berubah.. sebagai Binary Digital, hantu dalam mesin..
Indri itu sendiri.. Hikks..! dibangkitkan dari memory Reinit.. dengan wajah Larasati.
Hikk..!
Sebagaimana kamu.. saat ketakutan di gurun.. tiba-tiba.. rasa sakitmu terjadi.. seakan dirimu Saint Libra.. yang menghantam Gizi-ku.. berkali-kali.."
"Jihan gak inget semua.. Giga, Luna.. juga Qorin.. keliatan serem semua. Yang ada.. rasa jijik."
"Semua terlihat.. seperti monster, bukan? Hikks..! Memori kita pun.. pengalamannya.."
"I.. iya.." jawab Jihan dengan mata buram, sudah mendung.
"Apa yang kau ingat.. dalam diri Al Hood.. Jihan? Hikks!"
"Kekejian bawahannya pada manusia. Invasi terpimpin. Alien kepiting.. alien terbang.."
"Padu ketenangan.. Hiks, hiks.. Ingatan Luna akan selalu begitu.. sepanjang perjalanan Indri. Wallahu alam.."
"Napa banyak muka Queen.. Ratu? Back Soul itu sendiri.. gadis dua puluh empat tahun.. wajah Baginda."
"Duplikat melindungi dirinya.. menolak tugas.. tak ingin ditumbalkan.. Dibuatlah kami berdua.. sebagai alternatifnya, Jihan.."
"Siapa yang nyari Duplikat masa peperangan itu?"
"Padahal dah gak ada perang ya? Napa Duplikat masih sembunyi?"
"Ingin closing, tutup buku.. Hikk! Rey sudah bersedia ditumbalkan.. Tapi tak juga ada parasas.. yang membunuhnya.."
"Napa Jhid gak kalian hukum? Dia jins paling tak terlihat, ketimbang Duplikat."
"Protokolnya valid.. Jihan... Dia menyampaikan satu ayat.. tentang pengetahuan malaikat.. Tapi Asma mengusirnya.. dipinta membawa serta Black Soul.
Di pengasingan itulah dia menemukan Marcel.."
"Di mana pengasingannya? Panti?"
"Di panti."
"Apa kira-kira yang akan diperbuat jins tergabut ini Ratu?"
"Entahlah.. Alur paradokmu.. tak jauh berbeda.. dengan yang sudah ada..
Siapa lagi yang memintamu ke panti Jihan?"
"Marcel.. Kak Ririn.."
__ADS_1
"Dewanmu Enik, sering ada di sana. Mengarahkan.. mengawasi Jhid.. berinteraksi dengan astraler."
"Iya. Harus sering diawasi. Asma aja berhasil dia butain. Bisa jadi sekarang, suatu saat, nilep keistimewaan Enik."
"Ada intermate dari abad luar Jihan.."
"Kayaknya Jilect udah gak sabar."
Reinita menyentuh antena di kupingnya. Bunyi alat terdengar persis nada aktif tersambung.
Diddit..!
"Bicaralah pada Jilect jika kau mendengarnya," beritahu Reinita sambil tetap memegangi konektor.
"Hei. Apa-apaan..?"
"Ehh.. Jilect??" jengah Jihan, duduknya agak tegak demi telepati barusan.
"Siapa kamu hah?"
"Lo ngintip masa lalu gue di situ?"
"Anj*ng..! Tutup ini! Kusuruh kau enkrip.."
Diddit..!
"Aduh.. malah diputus," keluh Jihan saat fokus menyimak suara-tak-bersumber tersebut, dia bingung sambil memeriksa sekitarnya.
"Hhh, ada banyak wave-time.. di sini. Kamu mau coba Speaker-ku, Jihan?" tanya Reinita, sudah mencopot Speaker dan menyodorkannya pada Jihan. "Akan ada denging sementara."
"Umm," canggung Jihan. "Denging ya?"
"Biar kupasangkan saja padamu."
"I-iya.."
Jihan segera diam begitu ratunya memasangkan Speaker. Jihan lalu membantu Reinita, pegang rambut, tampak Reinita sulit memakaikan alat karena Jihan tidak mengikat rambutnya.
Ngii..iiing!!
"Auu..uw!"
Perimeter detected! Please wait..
"Tadahkan dua tanganmu Jihan," pinta Reinita, membalikkan tangannya, memperagakan.
"Berdoa dulu ya?"
__ADS_1
"Hhh-hhh! Sudahlah.."