
Keesokan paginya, Andre yang berjalan menuju dapur karena semalam Elisa demam tinggi karena harus pakai baju agak terbuka di musim masih dingin, berniat ingin membuatkan bubur untuk sang istri yang semalam ia telah marahi habis-habisan. Merasa bersalah juga, karena telah memarahinya.
"Assalamualaikum, bu! Lagi ngapain?" Tanya Andre kaget melihat ibu mertua sudah aktif di dapur, sedangkan para pelayan saja belum pada bangun.
"Ini, ibu lagi bikin teh buat ayah" Jawab lembut, karena ibu memang sangat santun dalam tutur bahasanya.
"Kenapa gak suruh orang aja sih Bu, ini masih subuh. Kok ayah minta teh?" Tanya Andre yang mengambil beras dalam panci kecil.
"Iya, mungkin ayah belum terbiasa tinggal di sini, jadi ayah sakit. Ya walaupun ayah sejak awal sudah sakit sih, tapi ini di tambah demam juga. Ouh yah teteh gimana? Apakah awal dia datang juga demam, karena darah teteh sama ayah itu sama" Ucap ibu bertanya pada menantu yah.
"Hmm, nggak Bu. Walau darah ayah dan Elisa sama belum tentu akan sama juga Bu, karena tergantung kekebalan dalam tubuh, apa lagi Elisa masih muda" Penjelasan Andre, sambil membersihkan beras.
"Iya juga sih yah, ibu yang terlalu khawatir akan merepotkan nak Andre nantinya" Ucap Bu Siti yang merasa tidak enak.
"Kok ngomong ya gitu sih Bu, kan itu sudah jadi tanggung jawab Andre, lagian ayah dan ibu sudah berikan Elisa pada Andre, sudah jadi tugas Andre untuk menggantikan posisi peran ibu dan ayah" Ucap Andre yang menekan tombol cook di kompor canggih.
"Nak Andre sudah baik sama ibu dan ayah, Azril juga di biaya sekolah. Ibu dan Ayah juga di kasih tempat tinggal yang bagus, Ibu terima kasih. Karena nak Andre sudah menyayangi kami, ibu merasa beruntung bisa punya menantu seperti nak Andre"
"Justru Andre yang beruntung banget, bisa memiliki ibu sebaik ini. Makasih ya Bu, karena ibu rela memberikan Elisa pada Andre. Yah! Walau tidak ada apa-apa seperti ayah dan ibu. Maaf jika masih ada kekurangan dalam diri Andre, yang belum bisa jaga Elisa lebih baik" Ucap andre yang lagi mencurahkan isi hatinya pada mertua.
"Nggk nak, kamu sudah lebih dari cukup. Entah ibu mau berkata apa lagi. Kamu sudah melengkapi semua dunia kami, walau kecil tapi ibu selalu berdoa agar anak-anaknya ibu hidupnya bahagia, tidak merasakan seperti ibu rasakan saat menikah dulu. Ibu juga terus berdoa, agar kalian juga cepat berikan ibu Cucu. Jangan lama-lama yah, ibu takut gak ada umur gak bisa lihat cucu secara nyata"
"Insyaallah Bu, jika Allah menghendaki agar Andre dan Elisa di berikan cepat ya Alhamdulillah kalo agak lama, ya mohon bersabar ya Bu" Ucap Andre sambil terus saja mengaduk-aduk isi dalam panci.
Beberapa detik ini mereka hanya diam, tak ada yang bicara. "Bu, Andre boleh periksa ayah dulu. Biar nanti Andre suruh orang beli obat, sekalian keperluan lainnya" Ucap Andre yang membuat ibunya sedikit sentak.
"Eh, ayah masih tidur. Semalam ayah gak bisa tidur, jadi baru tidur jam 5 subuh habis sholat tadi" Jawab siti yang menjelaskan.
"Ouh gitu, yaudah nanti kalau ada apa-apa ibu bilang yah!" Ucap Andre yang khawatir tapi mau gimana lagi ibu melarang.
"Iya, nak. Elisa belum bangun yah!" Tanya ibu Siti yang belum melihat putrinya.
"Hmm- sebenarnya Elisa juga demam Bu, maaf ya Bu, tadi malam Andre marahi Elisa" Andre merasa bersalah.
"Eh- kan karena teteh emang yang salah, jadi wajar jika nak Andre marah, ibu juga kalau teteh salah ya ibu marahi, tapi waktu itukan bukan hak ya ibu lagi, untuk marahi Elisa. Ya walau ibu masih ibu kandungnya, tanggung jawab ibu sudah ibu berikan pada nak Andre"
"Bukan saat di ruang tengah saja Bu, tadi di kamar juga Andre—" Belum sempat melanjutkan ucapan, Monika datang.
"Aduh-aduh, pagi-pagi mertua dan menantu sudah nongkrongin dapur saja nih, Bu Siti ada apa? putraku bikin masalah yah" Tebak Monika melirik tajam pada putranya.
"Nggak Bu Monika, saya sedang bikin teh buat suami saya" Jawab siti yang mengalihkan pembicaraan.
"Oualah, aku belum pernah bikin suami teh. Boleh deh aku juga mencoba yah, biar papahmu tambah sayang" Ucap Monika dengan mata genitnya ia kedipkan pada putranya.
"Hemm, terserah mamah aja deh!" Jawab Andre pasrah dengan tingkah mamahnya.
Yah- seumur hidup Andre, emang belum pernah melihat mamahnya itu, menginjakkan kaki ke dapur walau sekedar membuat Teh atau Kopi untuk Papahnya, jangan untuk memasak. Bahkan hal yang ringan pun seperti menyodorkan minuman tidak peran di lakukan.
Monika yang saat ini heran karena belum melihat menantu keluyuran, biasanya pagi-pagi Elisa sudah di meja makan.
"Dre, mana elisa? Mamah kok belum lihat dia, biasanya sudah ada di ruang makan" Tanya Monika yang penasaran.
"Ada kok mah, hanya lagi rebahan saja di kamar tuh. Katanya badan berat buat jalan" Ucapan Andre ini di salah artikan oleh kedua wanita di belakangnya.
"Sebenarnya kamu apain Elisa semalam, jangan terlalu kasar saat kamu melakukan yah!" Ucap Monika menyarankan.
"Hah! Maksudnya, semalam Andre nggak tek apa-apain, hanya kasih penjelasan dan pengertian saja untuk Elisa" Ucap Andre masih sibuk ngaduk-ngaduk nasi dalam panci.
"Terus kamu sekarang lagi buat apa?" Tanya Monika kembali.
"Lagi buat bubur mah, untuk Elisa" Jawab Andre yang masih santai menanggapi mamah yang sudah penuh dengan pertanyaan dan penasaran.
"Elisa sakit? dimana!" Sambung Bu Siti yang juga ikutan penasaran.
__ADS_1
"Kepala pusing, kata yah. Terus badannya kayak di pukul-pukul sama batu, jadi pada sakit. Meriang juga, gak tahu deh. Apa yang sebenarnya di rasakan Elisa, Andre juga binggung" Ucap Andre yang melunturkan apa yang di katakan Elisa.
Monika dan Siti saling bertukar pikiran dan pandangan, seperti ada sinyal yang sama di antara mereka.
"Mungkin Elisa seperti itu, gara-gara kamu marahi semalam. Iyakan Dre, jadi elisa sakit" Ucap Monika.
"Mah, itu gara-gara mamah. Kenapa coba ngasih baju terbuka dan tipis buat Elisa, saat acara malam kemarin, kan jadi Elisa masuk angin. Mamah kok malah nyalahin anaknya, Elisa gak bisa nolak permintaan Mamah" Protes Andre yang tidak mau di salahkan atas perbuatannya mamahnya.
"Ouh, maaf deh! Kalau mamah salah, tapi Dre kayaknya Elisa itu, bukan sakit karena masuk angin deh!" Ucap Monika hanya tebakan dan dugaan insting seorang wanita.
"Emang kenapa mah, mamah tahu?" Tanya Andre tidak melihat pembicaraan di belakang.
"Dre, apakah kamu sudah benar-benar mengecek kondisi Elisa dengan baik" Ucap Monika yang menyakinkan Andre tentang keadaan Elisa.
"Sudah mah, Elisa sudah Andre cek. 10x malah" Ujar andre dengan masih fokus dengan pancinya.
"Dre apa mungkin, Elisa jangan-jangan. Elisa sedang—"
Monika dan Siti, saling memandang satu sama lain, emak-emak itu seperti punya pemikiran yang sama, dengan tatapan yang sama penuh harapan pada anak-anaknya. Mereka menatap pria yang sedang memunggungi, kedua wanita separuh baya itu dengan kompak meneriakkan kata ucapan yang sama.
"HAMIL"
Dengan cepat Andre menatap kedua wanita separuh baya, penuh harapan mata berbinar-binar seakan bisa mendengar hal baik yang mereka inginkan.
Menarik nafas dalam-dalam, membalik badan. Karena tak mau jika kedua ibu itu terlalu menaruh berharapan, jadi Andre memutus semua angan-angan kedua wanita.
Membalikkan tubuhnya dengan menatap kedua wanita di depannya. "Ibu, Mamah. Kalian kalau bahas soal itu, semangat dan sangat kompak banget. Bagaimana Elisa bisa hamil!, sudah kalian nganterin teh saja sana buat para suami, ayah dan papah pasti sudah nungguin tuh"
"Tapi itu beneran kan nak andre?" Tanya Bu situ yang membulat matanya dengan penuh harapan.
"Bagaimana Elisa belum hamil, kalian kan sudah lama menikah, lewat satu bulan lamanya. Masa belum juga ada kabar baiknya, buat kita" Ujar Monika yang makin gak menerima soal itu.
Andre menarik nafas pasrah sulit untuk menjelaskan keadaannya, tentang hubungan ibadah mereka di bawah selimut itu kepada kedua wanita ini, ibu dan mamah. Karena kedua wanita yang sama-sama memiliki harapan, mereka tidak tahu saja hubungan seperti apa yang di jalankan Andre selama ini.
"Bagaimana mungkin masih gadis?" Monika tidak faham dengan apa yang di katakan putranya.
Terdiam sejenak memikirkan apa yang dikatakan Andre, Monika kaget dengan penuturan hal itu, jadi Elisa itu masih di segel. Belum di bobol tembok cintanya.
"Andre! Kamu, ja-ja-jangan bilang? kamu, kamu belum--- ngapa-ngapain El-lisa" Ucapan mamah yang terbata-bata.
Andre berbaik badan, dengan cepat melengos pergi meninggalkan kedua wanita, yang masih kaget dengan apa yang dikatakannya itu.
"Iya, belum. Sudah yah, Andre mau nganter bubur ini dulu, sama Elisa. Pasti sudah menunggu, kalian juga langsung anterin teh yah itu keburu dingin" Ujar Andre tanpa dosa malah pergi begitu saja.
"Anak itu, astaga- dia-bikin aku jantungan saja, bagaimana bisa dia lakukan ini" Ucap Monika yang seperti terkana serangan jantung, memegang dadanya.
"Bu Monika, kamu baik-baik saja, aduh-- Bu istighfar bu" Ucap bu Siti panik.
"Bu Siti kayak kita akan gagal deh, punya cucu tahun ini" Monika menormalkan diri kembali.
"Sabar bu monika, mungkin nak Andre tidak mau buru-buru dulu. Karena masih proses tahap pengenalan, nak Andre dan Elisa kan belum lama kenal, jadi biarkan saja mereka menikmati waktu berduaan, kalo udah punya anak pasti waktu mereka untuk berdua sangat sedikit dan akan berkurang" Penuturan bu siti yang bisa memaklumi kondisi Andre.
Agak siang, matahari sudah terbit di ujung langit, setelah sarapan pagi hanya Andre dan Elisa yang tidak turun ke bawa untuk makan sarapan. Waktu makan siang, semua sedang asik ngobrol di rumah ini melakukan aktivitas lainya sambil menunggu jam makan siang.
Ibu yang khawatir jika terjadi sesuatu pada putrinya, makanya ingin sekali melihat kondisi elisa yang tidak terlihat seharian, siti menyusuri lorong-lorong yang di hiasi bebatuan seperti berlian itu, disetiap langkahnya yang di temani dengan indahnya hiasan bunga-bunga cantik di setiap gantungan tembok.
TOK TOK TOK
Suara ketukan pintu, yang membuat andre harus beranjak dari kasur untuk membuka pintu, ingin tahu siapa yang ada di balik sana.
CKLIKKK-
"Ibu, silakan masuk"
__ADS_1
"Nak Andre, bagaimana keadaan Elisa"
"Sudah agak baik bu, ibu mau jenguk Elisa. Sini masuk bu, jangan di pintu"
"Iya, apakah boleh masuk, ibu sangat khawatir sama teteh, karena seharian tidak lihat teteh"
"Iya, nggak apa-apa bu. Itu elisa lagi di sofa, lagi makan buah" ujar andre yang menutup pintunya.
"Ibu tidak usah khawatir sama teteh, kan sudah ada dokter yang jagain teteh, bu" ucap elisa yang menoleh ke sumber suara yang sedang jalan mendekat kearahnya.
"Ibu, apakah Ayah sudah bangun?" tanya andre yang masih khawatir dengan kondisi ayah mertuanya.
"Iya, sudah bangun kok! itu lagi di bawa, sama keluarga besarnya nak andre, lagi ngobrol-ngobrol"
"Emang kondisi ayah sudah membaik bu" tanya andre yang sangat penasaran.
"Alhamdulillah, sudah tadi nak kevin yang bantu ngecek kondisi ayah, di bantu pak arafif juga. sudah kamu tidak usah khawatir, kamu fokus jagain tuan putri ibu saja yang paling manja ini" seraya mencubit hidung elisa lembut.
"yaudah syukurlah"
"Emang ayah kenapa bu? ayah nggak apa-apa kan bu?"
"iya gak apa-apa hanya kaget saja, dengan iklim disini, jadi ayah semalam deman tinggi, tapi sekarang sudah membaik, buktinya sudah ketawa-ketawa di bawa"
"Ouhlah, ayah mah semangat tinggi. Nggak kayak putrinya, sakitnya terlalu di manja" Sindiran keras andre pada elisa. Langsung mode cemberut yang khas yang di tunjukan elisa untuk andre.
"HEHEHE, jangan gitu dong teh. Kasihan nak andre, pasti juga capek jagain teteh"
"Bu, andre mau keluar agak lama. Boleh nggak andre minta tolong"
"Iya nak, kamu mau minta tolong apa? sekiranya ibu bisa bantu"
"Itu, hanya mau menitipkan elisa bentar bu. Nggak ada satu hari kok, cuman beberapa jam. Andre mau keluar beli obat, ibu mau sekalian nggak, nitip sesuatu apa? gitu"
"Nitip apa yah?, udahlah ibu gak tahu, mau nitip apa. Ibu cuman berpesan agar nak andre hati-hati saja, yah mengemudi di jalan"
"Terima kasih bu doanya, iya itu sudah pasti bu. Yasudah bu, andre mau jalan sekarang yah bu" ucap andre yang menyalami punggung tangan ibu mertuanya.
"Ouh! Mas, ibukan nggak mau nitip. Boleh di wakil saja ngga biar elisa yang nitip" ujar elisa yang menahan tangan andre.
"Mau nitip apa? jangan yang aneh-aneh" ujar andre yang agak sewot.
"Itu, elisa boleh memesan sesuatu gak. Elisa lagi pengen banget makan itu, boleh yah"
"Ya udah buruan apa yang kamu mau? aku gak jalan-jalan nih, keburu siang. Apoteknya tutup, karena jam istirahat"
"Cuman pengen kamu beliin elisa donat keju moza yah, di deket asrama tempat pelatihan itu, elisa mau makan itu"
"Ya aampun, kamu ini. Lagi sakit saja banyak masih banyak maunya, udah itu aja" ucap andre yang agak kesal tapi mau bagaimana lagi permintaan elisa.
"Iyah, biar kan mas andre belajar dulu"
"Belajar buat apa?"
"Buat jadi ayah, dan suami siaga keluarga kecil kita"
Andre malah menarik nafasnya. "Itu gak nyambung, udahlah makin ngaco, aku berangkat sekarang"
BERSAMBUNG ...
Terimakasih atas kunjungan Anda ke cerita saya jangan lupa untuk like, share dan masukan komentarnya...
Jangan lupa follow athour dan masuk ke grup saya ditunggu kedatangannya.
__ADS_1
Rabu 19 Januari 2022.