
Terlihat Elisa yang saat ini tertutup kain hitam, di sebuah gedung yang menjulang tinggi, Andre yang masih fokus pada Junno dan lainya itu. Kesal, emosi Andre sudah memuncak tapi iya tak berdaya, ia tak bisa berbuat apa-apa saat ini karena Elisa masih dalam genggaman mereka, Andre hanya menunggu waktu yang tepat untuk membuat Junno lumpuh selamanya.
"Jika kau ingin istrimu kembali, maka ada dua pilihan. Serahkan stempel ANDRILOS, dan penyerahan hak mu sebagai pemimpin di kandidat atau kamu memilih untuk menyerahkan istrimu padaku dengan suka rela" pilihan pertama bukanlah masalah bagi andre, tapi pilihan kedua itu yang membuat andre naik darah.
"KURANG AJAR KAU JUNNO. Soal ANDRILOS, mungkin aku akan berikan dengan percuma, tapi kamu jangan tidak tahu diri yah! sembarangan saja mengatakan hal itu kau pikir istriku barang yang bisa kau tukar-tukar begitu, jika stempel? sungguh aku tidak tahu menahu soal apa yang kamu maksud kan, aku tak memahami yah" penjelasan andre pada junno.
"Cukup kau untuk berpura-pura membodohi kami Andre, aku yakin kamu tahu apa yang aku maksudnya. Lalu bagaimana kamu akan naik tahta jika kamu tidak memiliki stempel itu" ujar junno yang juga mempertegas apa yang ingin dia katakan.
"Stempel apa yang kau minta, aku tak memiliki ya. Bahkan bentuknya pun aku tak tahu seperti apa? Soal ANDRILOS, jika kau menginginkan agar naik tahta aku bisa membicarakan ini dengan dewan, jika kau mau Juno. Jadi bisakah kita bicarakan ini dengan baik-baik, sekarang dimana istriku" ujar andre yang kembali mendinginkan pikirannya agar tidak terbawa emosi dan tidak terpancing dengan ucapan dari junno.
"Istrimu? kau ingin melihat ya? baiklah akan ku perlihatkan dia di depan matamu, coba kau tengok ke belakang. Di atas gedung itu, coba kau lihat siapa disana" ujar juno yang menujukan elisa di atas gedung.
Terllihat Elisa yang ada di ujung sebuah menara, dengan tubuhnya di lapisi rompi bom yang akan aktif jika tombolnya di tekan. Andre cukup syok saat ini, apa lagi tangan elisa di ikat dan bibir terlakban di keliling oleh orang-orang yang siap, agar elisa tidak bisa kabur dari sana.
"Juno apa-apa kau, kenapa kau melakukan hal sekejam ini, jika kau hanya ingin ANDRILOS. Maka ambil saja, kenapa kamu harus melibatkan dengan orang yang tidak berdosa dan tidak tahu apapun. Jangan libatkan orang yang tidak ada hubungan atau sangkut paut dalam masalah ini, jadi ku mohon padamu. Tolong lepaskan elisa, jangan kau melakukan hal gila dan konyol seperti ini" ujar andre yang sudah memuncak emosinya.
"Andre kau pikir aku bodoh, jika kau berfikir dengan otak dan logika mu. Kamu tak akan berkata begitu, ANDRILOS itu hanya dapat di miliki oleh garis keturunan bangsawan saja yang dapat naik ke tahta, atau orang-orang yang dipilih yang menjadi ketua atau yang memiliki stempel ANDRILOS" penjelasan dari junno dengan sangat jelas.
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, stempel apa maksudnya, aku memang tidak memikirkan soal ANDRILOS apa lagi soal stempel yang kamu katakan itu" Andre memperjelas bahwa diri ya memang tidak tahu apapun soal stempel tersebut.
Elisa udah di ujung batas akan di lepaskan dari ketinggian, Elisa melihat dari atas ketinggian ada suaminya di bawa, tapi Elisa berusaha tenang agar Andre tidak khawatir dan bisa berfikir jernih dan masih bisa mengendalikan diri yah.
Mas Andre, jangan terpengaruh kamu pasti kuat, aku baik-baik saja di sini sayang, walau aku takut pada rompi bom ini, tapi aku percaya kepada mu. Jika ucapan mu tertata dengan baik maka bisa menyelesaikan dan menyelematkan kita semuanya, tolong kamu jangan terpancing untuk mencari emosi. Dalam hati Elisa yang memohon.
"Tolong hentikan aku tahu kamu kesal denganku. Tapi, ku mohon jangan lakukan hal ini, Elisa tidak tahu apapun. Jadi ku mohon jangan bawa-bawa Elisa dalam masalah kita junno" ucap Andre yang memohon.
Juno malah ketawa ke girangnya saat melihat Andre memohon seperti itu, Andre yang sudah tidak berdaya sekarang hanya bisa di rendahkan.
Tak lama terdengar suara yang tidak asing. Yap! Tembakan itu tepat menengahi kepala Junno, membuat Andre kaget, Junno seketika lumpuh dan darahnya mengucur kemana-mana.
__ADS_1
Alex juga kaget saat ini karena anak buahnya tak ada yang di perintahkan untuk membunuh tapi...
"Aku datang Andre!" ucapnya seraya melepas topeng kulit wajah yang mirip rekan Junno si Darius itu.
"Dion? kamu..." Andre cukup lega karena bukan Darius melainkan Dion Tentara internasional yang pernah berada di jalur perang, Dion kenal Andre saat Andre jadi relawan di jalur perang.
"Iya ini aku, saudaraku. Aku hanya ingin menepati janjiku padamu, kamu pernah menyelamatkan nyawa ku, sekarang aku akan membalasnya" ucap Dion sambil melangkah mendekat.
"Terimakasih, lalu bagaimana dengan istriku?" ucap Andre yang khawatir.
"Mas Andre!" Elisa yang di kawal oleh beberapa orang di belakangnya.
"Lalu, bagaimana dengan bom ini" tanya Andre yang panik.
"Kamu tidak usah khawatir, ini hanya rompi biasa kok. Lagian aku kok yang memasangnya, kamu tidak usah khawatir tinggal di lepas saja" ucap Dion.
Tapi saat Dion mencoba membuka rompi tersebut, malah bom itu aktif.
"Dion apa yang kau lakukan, katamu bom ya tak akan aktif, ini..."
"Sumpah! Aku sudah... Sial, aku kecolongan, sepertinya dia telah menukar bom lainnya. Andre kamu jangan panik, aku akan menelfon anak buahku yang ahli penjinak bom" ucap Dion yang menenangkan Andre.
"Mas Andre bagaimana ini?"
"Jangan khawatir, kita akan baik-baik saja sayang. Percayalah"
Setelah di undang, mereka cukup lega karena Dion sudah mempersiapkan segalanya dengan matang.
DION : Bagaimana, kamu bisa kan?
__ADS_1
HENDRY : KAPTEN, ini mungkin agak rumit, ini bom yang di rancang sangat ahli.
DION : lakukan sebisa mu, akan aku bantu
HENDRY : Baik.
Waktu terus berjalan dan tak bisa di hentikan, semua sudah pasrah Andre dan Elisa yang saling menggenggam tangan. Elisa yang ketakutan, Andre lebih khawatir dan takut.
"Mas Andre sebaiknya kalian pergi saja tak apa. Tinggalkan elisa?" ucap Elisa parau.
"Mana mungkin aku meninggalkan kamu sayang! Jangan bercanda, lebih baik kita berdoa agar kita semua selamat" ucap Andre yang menyakini Elisa.
"Mas Andre, Elisa takut" seraya menggenggam tangan Andre lebih erat.
"Kita pasti akan baik-baik saja sayang! Percaya lah"
Waktu tinggal 10 detik lagi, tapi belum juga ada titik tempuh bagi Hendry dan Dion untuk menjinakkan bom tersebut. Waktu tinggal 5,4,3,2 Dion langsung melempar bom tersebut saat sudah terlepas dari tubuh Elisa, karena tak bisa di jinakan Dion memotong rompi itu dengan sangat hati-hati dan membuangnya.
...🙏🙏🙏...
Catatan : Karena Andre dan Elisa di lapak ini ada masalah, jadi Elisa dan Andre akan buka cabang, atau buka lapak baru dengan judul yang berbeda, bukan lagi Jodoh itu unik melainkan PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS! Di tunggu trailer ya, karena masih dalam proses pembuatan, mohon maaf jika selama ini up ya lama karena saya sebagai penulis binggung, dengan novel saya sendiri yang review lama itu yang membuat novel suka nyadat dan lama updet, selalu telat dan selalu tidak tepat, jadi membuat saya males buat ngetik. Mohon maaf untuk pembaca setiaku, saya minta maaf sebelumnya pada kalian semua.
DI TUNGGU DULU YAH!
Bersambung...
Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya untuk beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan...
Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.
__ADS_1
Rabu 29 Juni 2022