
Monika yang heran ternyata dia datang sia-sia, akhirnya memutar otaknya untuk mencari dokter kandungan lainnya, sekiranya hari ini Elisa harus diperiksa.
Monika menarik tangan Elisa keluar dari tempat tersebut, tapi Elisa dengan wajah yang meminta tolong pada suaminya, Andre mengikuti di belakang.
"Mah, jangan menarik Elisa seperti koper begitu dong!" ucap Andre yang tidak terima istrinya di paksa jalan.
"Diam kamu, Elisa saja tidak komentar. Kamu jalannya yang cepat elisa, lambat banget sih" ucap Monika marah-marah.
"Mah, kasihan Elisa. Lagian mamah mau membawa Elisa kemana sih?" tanya Andre.
"Ke tempat lainnya, karena mamah sangat penasaran" ucap Monika yang masih menarik Elisa.
Elisa yang terus saja menuruti langkah kaki Monika karena tanganya masih di tarik Monika, sedangkan Elisa hanya bisa pasrah dengan keadaannya. Andre yang tidak tega, dengan keadaan istrinya yang di pelakunya begitu, Andre langsung menahan tangan Monika yang menarik tangan Elisa.
"Mah, berhenti dulu. Sebentar, Andre boleh tanya. Sebenarnya tujuan mamah sekarang itu kemana? biar Elisa naik mobil sama Andre saja yah" ucap Andre yang ingin menyelamatkan istrinya.
"Nggak perlu, biar Elisa sama mamah saja. Emang kamu gak kerja, sudah sana kamu kerja saja" ucap Monika yang mengusir putranya.
"Yaudah gini aja, mamah ikut mobil Andre. Kita pergi sama-sama, ke tujuan yang mamah inginkan, gimana? Andre akan turuti kemauan mamah, hari ini mamah mau kemanapun tujuannya?" ucap Andre yang masih berusaha.
Hmph! ide bagus, jika begitu, sekalian saja Andre juga ku periksa, dia subur atau tidak. Kalau Elisa saja itu gak efektif, jadi kalau Andre juga bisa ikut itu akan lebih mudah. Ucap dalam hati fikiran Monika yang mulai berencana kembali.
"Baiklah, kalau begitu. Kamu emang sanggup? Pergi ke jalan Suryakencana dekat terminal kereta, di sana ada kenalan papahmu juga" ucap Monika yang langsung mengambil keputusan cepat.
"Kita ngapain sih mah kesana?"tanya Andre yang sangat penasaran.
"Jadi kamu mau nganterin mamah apa tidak?" Monika sudah naik pitam.
"Yah jelaskan dulu kenapa kita kesana, ada tujuan apa, dan alasannya apa? harus jelas dong!" ucap Andre yang meluruskan.
"Sudah tahu malah nanya, kan mamah mencari dokter kandungan buat Elisa" ucap Monika yang wajahnya sudah mulai kurang mengenakkan.
"Di rumah sakit kita juga ada dokter kandungan. Lagian dokter di rumah sakit sudah bersartifikat legal yang sudah SAH, sudah melakukan pelatihan di New York, lulusan terbaik di Jerman, apa lagi coba. Segitu semua sudah lengkapnya kan, kenapa mamah mau cari dokter kandungan jauh-jauh kesana. Kalau ada yang dekat dan lebih aman" ucap Andre yang langsung membujuk Monika.
Bener juga yang di katakan Andre, yaudah deh! kita kesana aja, tapi bagaimana kalau dokter itu bersekongkol dengan andre? Itu yang jadi permasalahan yah saat ini. Dalam hati Monika mulai ada pertimbangan.
"Pak Sofyan, bapak bisa pulang lebih dulu. Biar nanti mamah pulang sama saya" ucap Andre, Monika tidak terima.
"Enak aja, kan mamah yang nyuruh Sofyan buat nganter mamah, kok kamu yang suruh dia pulang" ucap Monika yang tidak mau jika Sofyan itu pulang.
"Lagian mamah akan ikut mobil Andre, pulang sama Andre, terus pak Sofyan ngapain coba. Mobil juga mau di pakai papah, katanya papah mau ke Bekasi?" ucap Andre yang menjelaskan.
__ADS_1
"Kok papah gak bilang apa-apa sama mamah, kamu tahu dari mana?" ucap Monika yang mencurigai anaknya itu bohong.
"Tadi pagi, saat Andre pulang jogging. Papah bilang begitu, jika papah akan ada seminar di sana," ujar Andre yang membuka pintu mobil.
"Beneran itu Sofyan" Monika yang kurang mempercayai ucapan Andre malah minta pendapat Sofyan.
"Iya Nyonya, sebenarnya mau bilang itu. Cuman tadi nyonya langsung naik aja ke mobil, jadi..." ucapan Sofyan yang tidak melanjutkan.
"Yaudah pak, mending bapak pulang saja sekarang. Mungkin sudah di tunggu sama papah di rumah." ujar Andre yang khawatir.
"Iya den, saya duluan yah Nyonya. Permisi!" ucap pak Sofyan yang langsung naik mobil kembali.
"Elisa, ayo! Cepat masuk" sambung Andre yang menyuruh Elisa untuk duduk di jok belakang sedangkan Monika di depan.
Monika juga sudah duduk di jok depan, Andre memakainya sabuk pengaman yah. Lalu Andre, menyuruh pak Sofyan pulang dulu karena papah pasti sudah menunggu. Mereka akhirnya pergi ke rumah sakit milik Arafif, Monika sebenarnya agak ragu cuman malah mengikuti saran dari Andre.
"Kalian ini sengaja menunda yah?" ucap Monika yang sangat penasaran.
"Menunda apa sih mah!" ucap Andre yang kebingungan dengan ucapan Monika yang tiba-tiba terdengar oleh Andre.
"Ya kalian ini menunda untuk punya anak kan?" Monika yang langsung menatap andre dengan tajam.
"Iya, tapi itu Andre yang mau" ucap Andre yang langsung to the point, Elisa sekecap pun tidak mengatakan apapun.
"Andre punya alasan andre sendiri, yang tidak bisa Andre katakan pada mamah, karena ini masalah Andre dan Elisa?" ucap Andre yang mencoba menjelaskan.
"Ya apa alasan kamu menundanya, kamu tahukan resiko wanita hamil di usia tua akan sangat berat, dan kamu gak kasihan nanti sama Elisa jika nanti Elisa hamil di usia tua?" ucap Monika yang khawatir dan memberikan penjelasan kepada anaknya.
Andre malah menarik nafas panjang, karena sangat heran dengan apa yang di katakan mamah yah itu."Mah, aku juga seorang dokter tahu bagaimana perawatan dan menanganinya, jadi mamah tidak usah khawatir soal itu. Andre juga faham, tapi mah masalahnya bukan itu. Elisa dan Andre punya rencana sendiri, insyaallah kalau Tuhan meridhoi, tahun depan kita rencanakan, karena maunya satu tahun ini kita full in untuk pendekatan dulu, karena Andre masih mau menikmati masa pacaran dulu lah mah" ucap Andre yang menenangkan Monika.
"Tapi, Andre. Kamu yang ngertiin mamah dong! Mamah sudah pengen gedong cucu, gimana kalau mamah mati sebelum ketemu cucu, kamu gak kasihan sama mamah?"
"Astaghfirullahalazim mah, jangan ngomong itu ah! pasti ketemu kok, jangan ngomong yang mengada-ada begitu, Tuhan kan masih sayang sama mamah. Pastilah Tuhan mengerti mana yang terbaik untuk mamah"
"Andre, mamah pengen banget sayang! kalian gak usahlah nunda yah" ucap Monika yang memohon.
"Yang sabar dong mah, lagian Andre masih sibuk!" ucap Andre yang kembali fokus kepada jalanan.
"Ya kamu kurangi dong aktifitas di luar rumahnya, biar bisa fokus buat cucu untuk Mama" ucap Monica yang sangat benar-benar ingin memiliki cucu.
"Emang gampang, mamah kalau ngomong suka kayak gitu dah, asal ngomong aja nih mamah? Andre gak mau buru-buru, soal momongan mah"Andre sedikit agak syok dengan hal itu.
__ADS_1
Elisa hanya diam tanpa suara, tak pernah berkomentar apapun, matanya hanya fokus melihat jalanan yang sangat rindang dengan pepohonan.
Sesampainya di sebuah rumah sakit milik keluarga Arafif, mereka keluar dari mobil ada seseorang yang memarkirkan mobil Andre, Andre langsung disambut oleh beberapa orang yang ingin minta tanda tangannya.
Monica langsung saja pergi dengan Elisa yang digandeng oleh Monica menuju ruang dokter kandungan yang tidak jauh dari ruang ibu dan anak.
"Kumpulkan saja dulu, semua berkas-berkas ini nanti saya koreksi jika saya lenggang. Karena sekarang saya masih ada urusan lainnya yang harus saya selesaikan terlebih dahulu. Jadi tunggu saya sampai selesai, bisakan" Ucap Andre yang menjelaskan.
"Baik dokter Andre" ucap staf dokter itu.
"Yaudah saya duluan yah," ucap Andre yang langsung berlari karena Monika dan Elisa sudah jalan jauh.
"Mama tunggu sebentar dong! kalian kok jalan cepat banget baru juga ditinggal ngobrol sebentar, udah nyampe sini aja" ucap Andre yang langsung menahan pintu.
"Mama kan sudah nggak sabar, jadi Mama kan langsung ke sini" ucap Monika yang menepis tangan Andre yang menahan itu.
"Tapi mah, mamah kan bisa nungguin Andre sebentar" ucap Andre yang sudah mulai panik, karena raut wajah Elisa sudah mulai kesel dan menahan amarahnya.
Mereka sudah sampai di depan pintu ruangan dokter kandungan, elisa yang hanya diam saja dari tadi. Sebelum mereka membuka pintu itu, ternyata ada orang yang membuka pintu tersebut, karena ada pasien yang baru akan keluar dari ruangan tersebut.
"Ouh? andre, kenapa kamu ada di... Ternyata kamu tidak datang sendiri, tante monika" ucap medina yang melihat monika sudah di pintu.
"Medina? kamu kerja disini juga" monika empat syok dan kaget.
"Iya tante, andre yang mengajak saya datang kesini" ujar medina yang menjelaskan pada monika. Langsung saja medina mencium punggung tangan monika.
"Ouh begitu, jadi sekarang kamu jadi dokter" ujar monika, yang agak kurang suka dengan medina.
"Iya, kenapa kalian kok pada berdiri di depan pintu, andre kenapa kamu tidak mengajak masuk?" ujar medina yang langsung merangkul elisa.
"Aaah iya, mah... Medina, ini Dokter yang saya maksudkan, dia akan—" Andre belum selesai ngomong sudah di putus oleh Monika.
"Kamu bisa cek kesuburan Elisa?"ucap Monika yang langsung menatap tajam.
"Hah! tentu saja bisa Tante monika" ujar Medina yang agak kaget.
"Elisa, coba sana kamu cek!"
Bersambung...
Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya untuk beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa favoritkan...
__ADS_1
Kita akan berjumpa lagi di Episode Selanjutnya. Bye...
Senin 23 Mei 2022