
Diam dan hening, semuanya hanya bisa menunggu keajaiban dari sang maha kuasa atas apa yang sedang di alami keluarga Arafif dan Yusman. Andre dan Elisa sekarang masih terbaring di atas ranjang yang telah di siapkan, karena Andre yang langsung tidak sadarkan diri, Arafif yang menangani Andre sedangkan Try yang menangani Elisa.
"Bagaimana ini, kok jadi begini?" tanya Monika yang malah jadi ikut panik.
"Sebaiknya kamu pulang saja dulu, biar ini aku yang tangani. Bu Siti dan pak Yusman pasti lelah" ujar Arafif yang menyarankan agar Istirahat di rumah.
"Kami tidak bisa kembali pak, kami khawatir dengan kondisi putri kami" Ucap pak Yusman.
"Nak Andre, dan Elisa akan baik-baik saja kan Pak Arafif. Kenapa mereka jadi begini, kalau kami pulang apakah mereka akan membaik, kami tidak bisa tenang pak" Sambung Bu siti yang ikut khawatir.
"Kita doa kan saja yah Bu, agar mereka cepat sembuh dan siuman saat mereka bangun sudah baik-baik saja" Sambung Monika yang berusaha tenang, karena Bu Siti sudah mulai panik.
"Iya Bu, kita berdoa untuk kesembuhan kedua anak kita saja" Ucap ayah ikut bicara.
"Iya ayah"
Tak lama setelah obat kedua telah di masukan dalam campuran infus, Elisa akhirnya memuntahkan cairan darah dari mulutnya, seperti yang dikatakan oleh Andre sebelumnya. Jika darahnya akan keluar warna merah agak gelap, dan racun dalam tubuh Elisa sedikit berkurang.
Uhuk Uhuk...
"Ouh! lihat itu, Elisa keluarkan darah dari mulutnya" Ucap Monika.
"Alhamdulillah, jika seperti ini" Ucap Siti, yang mengingat ucapan menantu ya.
"Papah, aku akan tangani Elisa, dan papah fokus tangani Andre" Ujar Try yang langsung berlari ke ranjang Elisa.
Junlion yang baru datang membawa obat penawar untuk Andre, yang saat ini malah tidak sadarkan diri.
"Maaf gua terlambat datang, weeeh! ada apa ini, kenapa ramai sekali disini" Ucap Jun yang masih sempat-sempatnya bercanda.
"Jangan banyak bacot, bantu papah untuk menangi Andre!" Try yang agak kesal dengan tingkahnya.
"Eh, Andre kenapa? tadi baik-baik saja dan masih memerintah gue. Lalu kenapa harus gue, kan ada profesor Arafif" Ucap Jun yang mau angkat tangan.
"Aku sedang menangani Elisa, jangan banyak protes ku suntik mati kau jika banyak protes" Ucap Try yang sudah kesal.
"Ok! Tapi ada apa dengan Andre" Jun meletakan obat di meja.
"Jangan banyak tanya, kamu cek sendiri kenapa malah terus nanya. Junlion seperti kau bukan dokter, banyak nanya mulu. Sudah kayak wartawan ganti profesi sana" Try sudah naik pitam karena Junlion.
"Sudah-sudah, Junlion. Saya akan jelaskan, Andre tidak sengaja meneguk racun penawarannya sendiri yang di berikan pada Elisa tadi. Jadi boleh minta bantuannya untuk mengeluarkan racun itu, agar Andre selamat" Ucap Arafif yang mohon, berusaha untuk tetap tenang.
__ADS_1
"Eeeeh kok bisa, bukannya dia buat penawaran untuk Elisa, malah dia minum sendiri dasar Andre" Ujar Jun tapi tangannya sibuk menangani kasus Andre.
"Udah jangan banyak cincong, bantu papah untuk menangani Andre" Ucap Try yang masih naik darah.
"Iya-iya, segini gue bantuin papah kan nggak mudah buat periksa kondisi, tekanan nadi dan racunnya" Ucap Jun yang membela diri.
...🍂🍂🍂...
Tiga hari kemudian, Elisa beransur-ansur membaik kondisinya dari siaga 3 jadi normal, Andre yang belum juga menunjukan tanda-tanda dia akan bangun itu membuat semua merasa khawatir, Andre belum sadarkan diri itu membuat khawatir. Padahal racun yang masuk kedalam tubuh Andre skala kecil, itu yang membuat heran. Elisa juga sekarang sudah mulai menujukan adanya perubahan, di tubuhnya dari rona warna kulit yang sudah mulai normal dan rona bibirnya juga menjadi merah muda kembali.
"Syukurlah Elisa sudah ada perubahan, tapi Andre bagaimana?" Tanya Arafif yang masih duduk di kursi karena kelelahan berjaga sepanjang malam, Try yang juga tidak pulang selama 3 hari.
"Iya, Pah. Tapi Andre pasti akan bangun jika Elisa sudah bangun, kita tunggu reaksinya dulu" Ujar Try yang telah memasukan obat ke 3 pada Elisa.
"Nak, kamu pulang lah. Kamu sudah berjaga selama 3 hari ini, tanpa pulang" ucap Arafif yang khawatir.
"Nggak apa-apa Pah, Andre yang lebih penting. Tadi Fero dan Regina yang bawakan baju ganti ku. Jadi papah tidak usah khawatir"Ucap Try yang menenangkan Arafif.
"Papah kangen dengan mereka," Ucap Arafif yang sudah lama tidak bertemu dengan kedua cucu ya itu.
"Jika mereka berdua sudah siuman, kita akan adakan syukuran keluarga bagaimana pah?" Saran Try yang masih sibuk menangani Elisa.
"Iya, papah setuju." Ucap Arafif dengan senyum tipis.
"Ouh, Elisa kamu sudah bangun," Teriak Try yang sangat senang.
"Dokter Try, aku dimana?" Ucap Elisa yang melihat langit-langit rumah sakit.
"Kamu di rumah sakit, tidak usah khawatir kamu akan pulih kembali Elisa" Ucap Try yang sangat lega.
"Lebay banget sih, Elisa kan cuman demam biasa kok sampai di rumah sakit. Jangan mengandalkan jika aku menantu pemilik rumah sakit, hingga sakit flu saja harus datang ke rumah sakit" ucap Elisa yang ngomel-ngomel.
"Nak, bukan begitu" Sambung Arafif yang menjelaskan tentang keadaan.
"Papah? Papah sudah pulang ke Indonesia, lalu bagaimana dengan ibu dan ayah?" Tanya Elisa yang kaget melihat Arafif yang datang.
"Mereka juga sudah kembali, syukurlah kamu sudah bangun nak, kami semua khawatir dengan kondisimu" Ucap Arafif yang sedikit agak lega.
"Jika semua sudah pulang lalu bagaimana dengan keadaan maskusay, pah?" Tanya Elisa yang khawatir dengan Andre.
"Maskusay? Apa itu yang kamu tanyakan?" Arafif agak binggung.
__ADS_1
"Maskusay Pah, Maksudnya mas Andre. Ada di mana pah?" Tanya Elisa yang akan bangkit dari pembaringan tapi di tahan oleh Try.
"Jangan bergerak dulu Elisa, untuk sementara kamu tiduran begini saja" Ucap Try.
"Tapi Doker Try, aku ingin duduk. Aku ingin tahu di mana maskusay ?" Tanya Elisa yang kekeh ingin bangkit.
"Elisa, sabar lah. Lihat ke sebelah sana, dia tepat berbaring di samping mu" ucap Arafif yang saat ini membantu Elisa untuk duduk dengan benar di ranjang yang sudah di naikkan.
"Mas Andre, Pah! dia kenapa ? kok bisa seperti itu. Ada apa dengannya, dia ikutan tiduran di rumah sakit? apakah dia habis lembur operasi, atau dia kerja sampai kelelahan begitu" Ucap Elisa asal tebak.
"Bukan nak! Tapi andre, dia. Mencoba untuk menyelamatkanmu dari racun yang sangat berbahaya, tapi dia harus terkena racun penawarnya sendiri" Penjelasan Arafif.
"Jadi maksud papah, Mas Andre minum racun gitu" Ucap Elisa yang masih belum memahaminya.
"Iya bisa di bilang gitu Elisa. Andre tidak sadarkan diri selama 3 hari ini, kamu tenang saja dia pasti akan membaik jika kamu sudah membaik" Sambung Try.
"Apakah kalian tidak bercanda kan?" Elisa yang belum mempercayai bahwa ucapan Try itu adalah benar.
"Apakah wajah tua ku ini terlihat sedang bercanda Elisa!" Ucap Arafif yang menegaskan.
"Papah, dokter Try dan dokter Jun. Kaliankan Dokter, dan di bidang yang sama kenapa kalian hanya diam saja, tolong sembuhkan dia" Ucap Elisa yang langsung merengek-rengek.
"Elisa walau kami dokter, tapi kami juga manusia biasa. Cuman Keajaiban yang dari Allah, yang bisa membangunkan dia. Serta dukungan darimu yang bisa buat dia sadarkan diri, kami tidak bisa berbuat apa-apa" Ucap Try.
"Segala cara sudah kami lakukan hingga yang terbaik, untuk kesembuhan dia. Bahkan obat apapun yang gue buat juga tidak ada perubahan apapun bagi Andre" Ucap Jun yang angkat bicara.
"Lalu, apa yang harus ku lakukan untuk membuat dia sadar kembali?" ucap Elisa yang makin khawatir, saat melihat kondisi sang suami.
"Bicaralah dengannya, walau dia tidur tapi dia dengar" Ucap Try sambil tersenyum tipis.
"Masku, koma pah?" Tanya Elisa untuk menyakinkan diri.
"Iya, lebih tepatnya begitu!"
"Seharusnya dia tidak lakukan hal bodoh! Tapi, demi lu, dia rela lakukan hal gila dan paling bodoh walau dia sangat jenius" Ucap Jun yang agak kesal.
"Elisa, pengorbanan Andre ini cukup besar. Bahkan dia rela untuk menegak racun demi kamu, tanpa memikirkan keselamatan dan kesehatan diri sendiri, yang terpenting kamu sembuh dan selamat" Ucap Try yang menepuk pundak Elisa pelan.
BERSAMBUNG ...
Terimakasih atas kunjungan Anda ke cerita saya jangan lupa untuk like, share dan masukan komentarnya...
__ADS_1
Jangan lupa follow athour dan masuk ke grup saya ditunggu kedatangannya.
Kamis 10 Maret 2022.