Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru

Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru
186. Bertemu Kembali.


__ADS_3

Elisa yang masih penasaran dengan orang barusan pergi, tapi Andre enggan untuk mengatakannya. Karena dia sendiri saja bingung dengan orang yang datang itu, tiba-tiba ingin menjemput dirinya.


"Jujur, siapa dia? kamu tahu kan." tanya Elisa yang membidik tajam.


"Aku tidak tahu, tapi tadi dia mengenal dirinya" jawab Andre yang singkat tidak mau membahas lebih jauh.


"Lalu, dia mau apa darimu. Kenapa? dia datang kesini, apakah ada tujuannya?" ucapan Elisa yang bertubi-tubi.


"Kamu sudah tahu jawabannya, malah masih sempat bertanya" ucap Andre yang menatap intens Elisa.


"Huh? apa? aku tidak faham dengan apa yang kamu katakan, apa yang sudah ku tahu" ucap Elisa yang yang kurang pemahaman.


"Dia juga menginginkan aku masuk untuk duduk di tahta, entah kenapa akhir-akhir ini banyak orang aneh yang datang menghampiri ku" ucap Andre yang tidak habis berfikir.


"ANDRILOS?" Ucap elisa yang langsung menebak.


"Lalu apa lagi, mereka memiliki tujuan yang sama" ucap Andre yang heran dengan tingkah orang-orang tersebut.


"Lalu kamu jawab apa? pada mereka" ucap Elisa yang ingin tahu apa yang di ucapkan oleh Andre yang saat itu terdiam sejenak.


"Aku ingin di adakan voting secara adil, karena aku tidak mau jika aku di pilih karena termasuk keturunan utama, makanya aku ingin mereka mengadakan votingan untuk hal itu. Melakukan secara adil, karena aku tidak mau bersikap acuh pada setiap kandidat lainnya, sebelum aku di ajukan mereka," ucap Andre yang tidak mau bersaing dengan siapapun.


"Lalu dia jawab apa?" ucap Elisa yang begitu sangat penasaran dengan apa yang percakapan.


"Dia menyanggupi ya, tapi katanya akan membutuhkan waktu. Aku bisa menunggu!"


"Kasihan dong! kenapa kamu lakukan penyiksa pada orang, mungkin bagi ketuanya mudah. Tapi, bagi pekerja yah? kamu gak mikirin jika mereka yang akan susah. Elisa merasakan saat jadi pekerja dulu, pemimpin enak tinggal atur, tinggal tunjuk. Tapi, yang susah pekerjaan yang di bawa ya."


"Gitu ya sayang, aku gak kepikiran sampai kesitu. Jadi gimana sekarang, apakah harus aku batalin aja, atau gimana baiknya."


"Seharusnya tadi kamu ngomong ke aku dulu, kenapa tadi kamu tidak mau bagi pendapat. Yasudahlah, mau gimana lagi. Lagian kamu tak punya nomer kontaknya kan?"


"Iya juga sih, hmph!" Andre jadi merasa bersalah.


Sesampainya di lapangan yang begitu sangat luas, telah tersedia sebuah pesawat terbang yang sudah terparkir di lapangan tersebut lengkap dengan pilot dan lainya sebagiannya.


Mereka langsung di sambut, dengan sangat hormat. Mereka sudah berjejer berbaris, saat Andre keluar dari mobil mereka langsung membungkuk badan hormat.


Andre hanya membalas dengan senyuman mengembang, dan ucapan terimakasih.


"Mas kita akan nyampe di rumah jam berapa kira-kira?" tanya Elisa yang sedang naik tangga.


"Jam 9 pagi, kenapa emangnya?" jawab Andre singkat.


"Lah, kita lupa bawa oleh-oleh, lalu apa kah kita tak membawa perlengkapan untuk di rumah? nanti papah mamah tanya kita jawab apa?"


"Lagian sayang! Kitakan ke sini cuman buat pemakaman Junlion, apakah kita sedang liburan?" ucap Andre yang menjawab dengan lembut.


"Hmm- iya juga sih. Tapi, ngomong-ngomong soal liburan yang waktu itu, kok gak ada pembahasan lagi ya?" ucap Elisa jadi teringat soal liburan ke Korea.


"Heh? ouh! kan akhir-akhir kita semakin repot. Iyakan, sayang!" ucap Andre yang baru ingat akan janjinya itu.


"Iya deh! Lain kali saja kita rencana kan kembali, kalau waktunya sempat. Padahal kita belum merayakan bulan madu loh, tapi yaudahlah. Lupakan itu" ucap Elisa yang agak ada rasa kecewanya.


^^^INDONESIA, Pukul 9.00^^^


Mereka akhirnya sampai di Indonesia, mobil jemputan sudah datang. Terlihat, supir juga sibuk memasukan beberapa barang ke dalam bagasi mobil.


"Mas, kita beli sesuatu dulu yuk! di moll. Atau kita makan dulu, Elisa lapar nih?" ucap Elisa yang mulai manja.


"Ngapain harus ke moll sih, kalau cuman mau makan sayang! Kita cari Restoran saja, di jalan" ucap Andre yang heran dengan permintaan istrinya itu.


"Di dekat sini emang ada yang jual makanan mas!" ucap Elisa yang agak ragu.

__ADS_1


"Emang kamu mau makan apa?" Tanya Andre yang ingin tahu kepengennya Elisa.


"Pecak lele enak kali ya, beli yuk mas!" Rengekan Elisa yang ingin makan di pinggir jalanan.


"Elisa-elisa kenapa sih kamu makan gak jauh-jauh dari air, suka banget apa?"


"Heh? maksudnya"


"Iya kamu, kenapa kalau makan gak jauh-jauh lauk yang kamu minta. Kalau gak makan seafood ya makan minta lauknya yang dari air. Kamu gak suka makan daging sapi, ayam atau kambing gitu?"


"Suka, tapi... Kurang selera!"


"Kenapa?" Andre melirik tajam.


"Gigi Elisa ini ada yang ompong mas, jadi kalau makan itu suka nyangkut-nyangkut, jadi gak enak! Kalau makan daging gitu"


"Eh? baru tahu aku. Kalau aku tahu dari dulu, kayak aku akan mikir-mikir deh! atau mungkin aku gak mau lah di cium kamu, Hehehe" Ucap Andre yang bercanda dengan Elisa.


"APA! JADI GITU..." Elisa melotot dan mencubit pinggang dan badan Andre. Mereka bercanda di dalam mobil, hingga membuat luka Elisa terbuka kembali.


"Aaaaah, Sayang ampun... Aduh- sakit tahu, ini hukumanya, iya-iya aku minta maaf. Sudah dong!" ucap Andre yang meminta ampun.


Lalu tiba-tiba, leher Elisa yang terluka itu berembes darah kembali.


"Aduh!" Elisa refleks memegangi lehernya, yang sudah mengalir keluar darahnya.


"Lah kenapa? Ada apa sayang!"


"Aduh sakit mas, leher Elisa?"


"Coba sini aku lihat" Andre memeriksa leher Elisa yang saat ini berdarah kembali.


"Keluar darah sayang?... Sule, kita mampir ke apotek terdekat dulu ya?" ucap Andre pada supirnya.


Setelah sampai di sebuah apotek terdekat, Andre langsung keluar mobil untuk membeli perlengkapan yang di perlukan. Apotek saat ini agak ramai, kebanyakan wanita yang datang.


"Mba permisi! Apakah ada. Antibiotik, Betadine, kapas dan plester sekali pake, sama kain kasanya?" ucap Andre yang bicara pada pelayan apoteker.


"Sebentar ya mas, akan saya cari" ucap si pelayan ia langsung berlalu.


Orang yang di samping Andre melihat degname sosok Andre yang keren dan cool, suaranya yang khas, tegas dan lembut membuat semua yang mendengar dan melihat pun akan terpesona melihat ya, dan di buat mabuk kepayang.


"Lihat tuh ganteng benget ya? Kayaknya blasteran ya, lihat matanya cantik benget" ucap wanita 1.


"Kenalan sana, sapa tahu dapat no kontak ya. Atau aku saya yang mulai kenalan dengannya?" ucap wanita 2.


"Iya, ya ampun. Coba saja, ganteng gitu" ucap wanita 1.


Elisa yang keluar dari mobil menonjolkan kepalanya di pintu apotek. "Mas, udah belum?" ucap Elisa yang melihat ada beberapa orang yang menatap Andre, dengan tatapan suka.


"Bentar sayang! Sabar ya, tunggu aja di situ" ucap Andre yang menyuruh Elisa duduk di kursi tunggu.


"Aku di luar aja deh! Cepat sedikit dong!" ucap Elisa yang memegangi lehernya, lalu menghilang kembali.


"Lah udah punya bini, tuh cincinnya?" Ucap wanita 2. saat melihat jari manis Andre yang telah melingkar sebuah cincin pernikahannya.


"Iya, patah hati deh!" Ucap wanita 1.


Tak lama pelayan apoteker itu datang membawakan pesenan Andre. "Ini mas, persennya. Ada yang lainnya, yang anda butuhkan?" tanya si pelayan apoteker.


"Tidak, ini saja. Berapa semuanya mbak?" ucap Andre yang langsung membayar apa yang di belinya.


Setelah membayar, Andre keluar dari apotek. Langsung duduk di samping Elisa yang mereka duduk di teras depan apotek tersebut. Beberapa orang sedang melihat kearah mereka, tapi mereka acuh saja. Karena dinding kacanya jika di lihat dari luar tidak akan terlihat ke dalam, sedangkan dari dalam bisa terlihat orang dari luar dengan jelas.

__ADS_1


"Sini sayang?, coba ku lihat. Aku buka yah, perbannya?" ucap Andre yang saat ini perlahan-lahan, membuka plester.


"Aduh-aduh! Pelan-pelan dong! Mas, perih tahu" ucap Elisa yang saat ini meringis ke sakitan.


"Iya maaf, bulu kamu pada berdiri sih" ucap Andre yang melihat bulu di kulit Elisa tiba-tiba semua pada berdiri.


"Itu karena kamu megang area sensitif, jadi bulu aku pada berdiri. Kan lagi aku tahan karena kamu lagi ngolesin obatnya" ucap Elisa.


"Begitu, dikit lagi bentar. Dah selesai, coba di lihat lagi. Udah gak keliatan, masih sakit gak?" tanya Andre yang bertubi-tubi.


"Ya masih lah, jadi mau ngajak makan di mana? Elisa udah laper nih?" ucap Elisa yang udah gak sabar.


"Hmph! Nggak tahu, kita cari saja di sekitar sini gimana? Yuk, kita masuk lagi ke mobil" ucap Andre yang mengajak Elisa kembali ke mobil.


"Oke! Kita cari tempat yang nyaman ya mas, kalau bisa yang enak masakannya" ucap Elisa yang merengek-rengek.


Setelah sampai di sebuah rumah makan yang agak dekat dengan tempat pemandian air panas, jadi sedikit agak ramai di dalam sebuah rumah makan tersebut, setelah sampai di parkiran Andre dan Elisa turun dari dalam mobil.


"Le, kamu makan saja bareng sama kita?" ucap Andre yang menawarkan.


"Nggak usah pak! Istri saya masak di rumah, kalau saya pulang tidak makan bisa menjadi perang dunia." ucap Sule 3 tahun lebih mudah dari Andre.


"Ouh begituya? jadi kamu gak apa-apa di tinggal di sini sendiri, atau kamu cari tempat buat neduh." ucap Andre yang khawatir Sule akan bosan.


"Iya pak, Terimakasih atas tawarannya"


"Sayang, mau makan di dalam apa di luar" tanya Andre pada Elisa yang sedang menikmati pemandangan perbukitan.


"Duduk di sana aja deh! dekat sama jalan, biar lihat pemandangan bagus tuh." ucap Elisa yang lagi Selfi-selfi.


"Mataharinya lagi terik banget loh sayang! nanti kepala kamu bisa pusing" saran Andre yang khawatir.


"Yaudah deh! makan di dalam saja" ucap Elisa yang pasrah begitu saja.


"Gak rela banget kayaknya, yaudah kamu cari tempat duduk dulu sana. Mas, mau ke ATM bentar. Tuh ATM ada di depan sana, tunggu ya" ucap Andre yang menujuk sebuah box pengambilan uang.


Saat Andre sedang jalan ke box pengambilan uang. Elisa sangat sibuk selfie-selfie, hingga tiba-tiba saja ada seorang wanita yang berlari ke arahnya. Karena tersandung atau mungkin kelelahan dia jatuh tepat di depan Elisa, itu membuat Elisa sangat terkejut. Elisa langsung saja menghampiri wanita yang jatuh di hadapannya itu.


"Ouh! Mbak... Mbak nggak apa-apa, sini aku bantu bangun. Ya Ampun pada lecet, memar gini" ucap Elisa yang membantu wanita itu berdiri dan, membersihkan debu yang menempel di bajunya.


"Kejar wanita itu... Sini kamu" ucap pria berotot besar. Tak lama Elisa membangunkan si wanita asing itu lalu ada beberapa pria yang mengejar ya.


Setelah wanita itu bangun, salah satu pria itu menarik tangan si wanita. Elisa langsung menahannya, dengan cengkram yang tak kalah kuat ke tangan sih pria.


"Eeeh! bentar. Apa-apaan ini main tarik orang aja, tunggu sebentar sabar dong pak! bapak-bapak ini siapa, dia habis jatuh. Pelan-pelan dikit jangan kasar dong!" sewot Elisa kepada mereka.


"Mbak, gak usah ikut campur, ini urusan kami" ucap si pria berotot.


"Walaupun ini bukan urusan saya, tapi mbak inikan habis jatuh. Jangan main tarik aja, kenapa sih. Susah banget di omongin baik-baik, main ngotot-ngotot aja" ucap Elisa yang tidak terima, mendengar suara Istrinya meninggi. Andre yang tadi ingin mengambil uang, malah langsung lari ke Elisa kembali.


"Ada apa ini, sayang? Mereka siapa?" ucap Andre yang heran dengan 4 pria aneh di hadapannya.


"Kak Andre?" panggilan itu cukup khas terdengar, Andre langsung menoleh ke belakang punggung Elisa, di sana wanita asing itu bersembunyi.


"Medina?" Ucap Andre yang tak kalah kaget saat melihatnya.


"Ouh, mas Andre kenal sama dia?" tanya elisa yang mengalihkan pandangannya kepada tatapan mereka.


Bersambung...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya untuk beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa favoritkan...


Kita akan berjumpa lagi di Episode Selanjutnya. Bye...

__ADS_1


Minggu 24 April 2022.


__ADS_2