
Kesal, marah dan jengkel bercampur jadi satu di dalam benak Andre, rasanya ingin sekali melampiaskan semua itu, ingin bertanya langsung dengan papahnya yang hanya bisa diam di sudut sana.
"Om, aku mau ke atas dulu. Karena saya membawa pesanan Elisa, takut dia sedang nungguin. Bolehkah aku naik sebentar, nanti aku akan kesini lagi" Ucap Andre yang menunjukkan barang bawaannya.
"Baiklah, jangan terlalu lama ya, pergilah nak. Karena mereka masih ingin banyak tanya ke kamu, ada informasi yang harus mereka kumpulkan untuk mengetahui tentang dirimu" Ucap Markus dengan tatapan menekan.
"Iya om, saya naik dulu" Ucap Andre langsung pergi saja dengan sangat cepat meninggalkan ruangan, rasanya ingin sekali memukul seseorang itu.
Di sisi lain, berada di dalam kamar tidur. Setelah di kerok ibunya tadi, Elisa langsung mandi, katanya tidak mau badannya lengket karena nggak nyaman menurut elisa.
"Loh teh, kok mandi emang udah sehat badan ya" Tanya ibu khawatir.
"Biar seger aja Bu, lagian habis di kerok lengket. Terus biar gak terlalu berat juga. Kata mas Andre mah, biar sehat. Hihihi" Elisa cekikikan sendiri, mengingat kata-kata Andre, ibu hanya menggelengkan kepala mendengar penuturan putrinya.
"Yaudah, kalau gitu. Tapi, beneran ya sudah mendingan badannya, masih ada yang sakit? Gimana hasil kerokan ibu" Tanya ibu siti yang saat ini penuh dengan pertanyaan.
"Tadi, lagi mandi anginnya sudah keluar Bu, jadi agak lega saja, karena sudah di buang" Ucap Elisa yang menepuk-nepuk perutnya.
"Oh- Alhamdulillah kalau begitu, jadi sudah ada yang keluar mah, jadi di kamar mandi bau dong! Nanti pas nak Andre masuk pasti pingsan, gara-gara nyium kentut teteh yang telah lama tersimpan itu" Sambung candaan Bu Siti, yang meledek putrinya.
"Iiih- ibu, yah nggak lah. Dia itu jarang ke kamar mandi, cuman kalo bener-bener ingin saja dia ke kamar mandi"
"Ya siapa tahu saja, saat baunya masih berada di ruangan, terus nak Andre malah ma—" ucapan Bu Siti terpotong karena pintu kamar itu terbuka, lalu terlihat sosok pria yang saat ini aura yah tidak bisa di prediksi sama sekali.
Click-click
Kedua wanita itu spontan langsung menatap ke arah pintu yang terbuka, saat Andre masuk.
"Oh, Mas kamu sudah balik" Ujar Elisa yang langsung mendekati suaminya.
"Iya, nih pesanan kamu" Menyodorkan kotak, dengan cover penutup kotak terlihat gambar donat yang enak.
"Sini, wah donat masih hangat. Terima—" ujar Elisa yang menerima, tapi saat melihat raut wajah Andre yang akan pecah tangisan itu bikin Elisa kaget.
"Wajah kamu kenapa?" Tanya Elisa yang langsung meraba wajah yang merah, karena menahan diri agar tidak jatuh, di depan ibu mertua.
Andre tidak mau menujukan sisi lemahnya di depan mertua, yang sekarang malah menatap dirinya dengan sangat lekat.
"Nggak, nggak apa-apa kok!" Jawabnya terbata-bata.
"Nggak apa-apa gimana! Katakan saja, padaku. Ada apa?" Elisa yang masih sangat penasaran.
"Nggak apa-apa, aku baik-baik saja" Ucap Andre yang menarik tangan Elisa dari pipinya.
"Baik gimana? Mas jangan nutupin gitu, kamu mungkin bisa nutupin dari orang lain, tapi akukan Elisa. Istri kamu! Ada apa?" Elisa semakin di buat sangat penasaran.
"Di bilang gak ada apa-apa kok" Ucap Andre yang merendamkan suara, sengaja ditahan.
"Nggak ada apa-apanya kamu itu, bikin aku tambah penasaran. Bu coba sini, lihat apakah wajah mas Andre baik-baik saja. Menurut ibu gimana?" Ucap Elisa yang minta pendapat ibunya.
Ibu Siti juga tahu jika Andre sedang manahan dirinya, sadar jika posisi ya saat ini telah mengganggu, ia mencoba menutupi apa yang di rasakan menantunya itu.
"Orang nak Andre baik-baik saja kok, teh. Yasudah ibu kembali ke bawa dulu yah, takut ayah nyariin" Ujar Bu Siti beralasan.
"Iya Bu, ati-ati"
"Iya teh, nak Andre ibu turun dulu ya" Ucap bu Siti, bergantian dengan menatap putri dan menantunya.
"Iya Bu. Bu ini, buat Azril. Jangan di kasih ke ayah, kan punya diabet" Ucap Andre memberi 1 kotak lainya pada ibu.
"Kamu ini, masih inget aja sama Azril" Elisa agak cemburu dengan Andre.
"Dia kan adikku, masa aku gak inget" Penjelasan Andre.
"Hehehe iya deh, kamu emang sayang sama Azril, ketimbang aku kan" Ucap Elisa yang memonyongkan bibirnya.
__ADS_1
"Udah teh, jangan di ledekin gitu dong! Ini makasih ya, nanti ibu akan langsung berikan ke Azril" Tegur ibu.
"Iya Bu, sampaikan permohonan maaf Andre Bu, karena belum nepatin janji ke Azril" Sambung Andre.
"Eh? kamu janji apa sama adikku" Elisa penasaran dengan perjanjian yang di buat antara Suami dan adiknya itu.
"Rahasia, kepo" Jawab singkat.
"Dih, kok gitu"
"Udah-udah, kalian ini. Yaudah ibu turun sekarang, lagian teteh kayak yah sudah agak sehat"
"Iya Bu, itu kan berkat doa dan hasil usaha kerokan ibu. Bikin manjur, makasih yah bu"
"Alhamdulillah kalau gitu, iya sama-sama. Ibu gak keluar-keluar nih nanti, kalau kalian ngajakin ibu ngobrol terus"
"Heheh, iya deh. Ati-ati ya bu"
"Iya, Assalamualaikum"
"Walaikumsalam" jawab kompak Andre dan Elisa yang melihat ibunya bejalan keluar kamar.
"Hati-hati Bu turunnya" Ucap Elisa yang masih fokus melihat kepergian ibu.
"Iya teh!"
Setelah pintu itu tertutup, Elisa kembali menatap suaminya dengan tatapan mata tajam, karena masih penasaran.
"Sekarang udah gak ada ibu, nggak ada siapa-siapa, hanya kita berdua. Coba katakan kamu kenapa? Jujur mas, jangan nutupin gitu" Ujar Elisa yang langsung to the point.
"Peluk aku sayang!" Ucapnya parau.
"Hah! Tumben sekali, mau minta di peluk duluan? ada apa sih" Kaget dengan permintaan Andre yang agak mengherankan itu.
Elisa celingukan mencari tempat, agar leluasa untuk memeluk tubuh besar Andre dengan tubuh mungilnya itu. Saat menemukan spot yang pas, Elisa berjalan menuju tempat itu. Naik ke kursi rias, meletakan kotak donat di atas meja rias.
"Lah, sini! Elisa peluk" Ucap Elisa membentang tangannya, untuk menyambut Andre dalam pelukannya.
Andre tersenyum geli karena tingkah laku Elisa itu, ia langsung jalan begitu saja mendekati Elisa yang dengan senyuman tipis di atas kursi rias itu.
"Baiklah, sini aku akan memeluk mu dengan kehangatan. Jika aku lebih tinggi dari mu, akan lebih leluasa pelukannya" Ucap Elisa yang masih fokus menatap suaminya yang jalan mendekatinya.
"Hmm, bisa aja kamu" Ujar Andre yang langsung nemplok seperti anak kecil yang rindu ibunya.
Tak lama, Andre langsung menitihkan air mata yang sudah terkumpul lama, ia tahan.
"Kamu nangis mas, coba sini aku lihat?" Ujar Elisa yang ingin melepaskan pelukannya.
"Nggak, aku gak nangis. Hanya sesak saja rasanya, aku tidak tahu harus bagaimana untuk saat ini, jadi biarkan aku memeluk mu sebentar" Ujarnya malah mempererat pelukannya, tangan yang melingkar di pinggang Elisa begitu sangat kuat.
Di sisi lain, ibu Siti yang akan turun ke anak tangga malah ke inget tujuan dia datang ke kamar Elisa untuk ngasih jamu, jadi ia ingin balik lagi ke kamar putrinya.
"Aduh, aku lupa lagi ngasih ini ke teteh" ucap siti yang menyadari keteledoran yah.
Setelah sampai, ia membuka pintu perlahan-lahan tapi hanya sebatas mengintip ternyata ibu malah dapat cekpot, melihat putrinya dan Andre sedang berpelukan di sana.
"Tuh, aku gak enak ah- nanti aja, walaupun mereka anak-anakku tapi nggak enak juga, mereka sudah menikah, lagi pula kayaknya nak Andre lebih membutuhkannya. Pasti lagi ada masalah serius, ngasih ini lain kali saja ke teteh. Sekarang bukan waktunya yang tepat, mereka lagi—, hihihi" Ibu Siti malah cekikikan sendiri melihat momentum itu.
Elisa, yang masih penasaran kenapa suaminya menangis yang tidak tahu apa penyebab sebenarnya terjadi, merasa kebingungan itu melanda dalam benaknya, tapi untuk saat ini Elisa tak berani bertanya apa-apa, hanya bisa menunggu sampai Andre agak tenang.
Tak lama Andre melepaskan pelukannya, Elisa masih terdiam saat Andre menghapus sisa air matanya dengan kasar.
"Udah selesai nangisnya, mau lanjut gak" Tawar Elisa yang juga membantu Andre menghapuskan air matanya.
"Nggak, kamu pasti capek berdiri begini. Maaf yah, yaudah aku mau cuci muka dulu" ucap Andre yang langsung berbalik badan.
__ADS_1
Tiba-tiba Elisa malah keinget omongan ibunya, soal bau kentut yang tersimpan lama di perut, pasti akan berbau tak sedap, jadi Elisa dengan buru-buru turun dari kursi untuk menahan tangan Andre, agar jangan masuk dulu.
"Tunggu mas, kamu mau masuk kamar mandi yah?" tanya elisa spontan.
"Iya, kan mau cuci muka. Masa mau makan, kamu ini kenapa sih kok aneh gitu" andre kebingungan dengan sikap yang di tunjukan elisa.
"Nggak, nanti jangan masuk dulu tunggu. Satu jam ya, kamu sabar" ucap elisa gelagapan.
"Ada apasih? Kamu aneh tahu nggak, sayang" ucap andre yang mengerutkan alisnya.
"Nggak apa-apa, kamu jangan masuk dulu" elisa masih menahan tangan andre agar tidak masuk kedalam kamar mandi.
"Kenapa emang yah, aku gak boleh masuk. Jangan bilang, kamu nyembunyikan sesuatu yah? Ada apa di kamar mandi?" ucap andre yang saat ini malah di buat penasaran.
"Nggak nyembunyikan apa-apa" jawab Elisa yang mencurigakan gerak-geriknya.
"Kamu pasti lagi bohongin aku kan, apakah saat aku gak ada tadi, kamu menyembunyikan simpananmu di dalam sana iyah kan atau-" ucapan Andre terhenti karena langsung di bantah langsung oleh Elisa.
"Apa sih! Maksud kamu, aku menyembunyikan cowok? gitu. Mas, yang berani masuk cuman kamu dan pak Calder doang! Bahkan papah, ayah dan azril saja gak pernah masuk cuman sebatas pintu doang!" jawab Elisa di buat geram atas tuduhan suaminya itu.
"Ya kirain kamu diam-diam menyembunyikan seseorang di sana, habis aku di larang masuk. Terus, kenapa aku dilarang masuk? Berikan aku alasan yang masuk akal" ucap Andre yang di rundung rasa penasaran.
"Itu karena aku– aku–nyimpen—" suara Elisa terbata-bata karena menahan malu.
"Tuh kan bener, kamu pasti nyimpen seseorang kan. Hayoo- siapa coba?" Andre yang sangat penasaran akhirnya langsung berjalan kearah pintu kamar mandi.
"Iih aku belum selesai ngomong, jangan di potong dong!" ujar Elisa kesal karena Andre curigaan.
"Terus apa?"
"Di dalam itu, karena aku takut kamu nyium aroma tidak sedap, karena masih bau kentut ku" ucap elisa ragu-ragu mengatakannya.
"Hah! Kentut? Kentut apa?"
"Aku, buang gas tadi. Habis di kerok ibu, jadi tak sengaja malah keluar di dalam" ujar Elisa seraya menundukkan wajahnya karena menahan malu.
"Hahahahaha, kamu ini. Ada-ada aja, udah ah- aku di tunggu sama om di bawah"
"Eh, sekarang?"
"Iya, aku harus kebawa lagi"
"Baiklah"
Saat berada di depan pintu kamar mandi, Andre mencoba menggoda Elisa sambil menutup hidungnya dengan rapat-rapat.
"Hemm, sayang!"
"Iya mas, ada apa?" dengan cepat Elisa menoleh kearah suaminya.
"Kok bau busuk ya, dari dalam. Ini tercium kayak, bau bangkai kepiting saus tiram" ucap Andre di selangi tawa seakan melupakan rasa sakit yang menyesakan beberapa detik lalu.
"MAS ANDRE, bercanda terus deh!" kesal karena ejekan dari suaminya itu yang membuat jengkel.
"Dari pada bercandain istri orang, mending bercandaain kamu kan" jawab Andre langsung masuk kamar mandi.
"Udah sana masuk, Elisa juga mau ganti baju" Elisa langsung masuk ruang ganti.
BERSAMBUNG ...
Terimakasih atas kunjungan Anda ke cerita saya jangan lupa untuk like, share dan masukan komentarnya...
Jangan lupa follow athour dan masuk ke grup saya ditunggu kedatangannya.
Jumat 21 Januari 2022.
__ADS_1