Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru

Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru
169. Ide Kesempatan.


__ADS_3

Azril yang sudah selesai menyirami tanaman, langsung ikut duduk di samping kakak iparnya yang sudah duduk duluan di depan teras rumah. "Mas Andre, mau tanya soal apa sama Azril?" tanya Azril yang menatap dengan sangat penasaran.


"Hmph, begini Azril. Waktu kemarin saat kamu datang ke rumah sakit katanya kamu habis menjenguk temanmu, boleh ku tahu siapa teman mu itu. Setidaknya namanya?" tanya Andre yang sangat penasaran.


"Kenapa emang ya mas, kok mas Andre seperti khawatir gitu," Tebak Azril.


"Karena aku ingin tahu. Bolehkan mas tahu siapa namanya?" Ucap Andre, memang Andre sangat sadar jika dia terlalu ingin tahu sama urusan adik iparnya itu.


Azril tersenyum, melihat kakak iparnya itu sudah panik dan sudah seperti malu-malu kucing.


"Mas Andre kok bisa ketularan kepo, kayak Mas Rudi jadinya. Mentang-mentang atasannya, jadi ikutan yah?" Sindir Azril dengan gelak tawa.


"Aku serius zril, karena aku menemukan ini. Di ranjang seseorang. Nama penguna ya katanya bernama Azril, ku pikir itu milikmu. Jadi apakah benar ini milikmu?" ucap Andre yang penuh dengan tanda tanya.


Azril tersenyum kembali, jadi itu alasannya kenapa si Ben tidak membawa gamemot yang dia berikan, ternyata ada di tangan kakak iparnya. Rencana Azril tidak berjalan dengan lancar, awal tujuannya memang bukan begitu. Ingin diam-diam membantu kakak iparnya, tapi malah sudah ketahuan.


"Kenapa? kamu kok senyum-senyum, cengengesan begitu sih dek, serem tahu gak." Andre yang merasa heran dengan sikap adik iparnya itu.


"Nggak, habis lihat mas Andre lucu aja." ucap Azril yang masih cengengesan.


"Lucu... Lucu gimana si dek, kamu ini orang lagi di ajak ngomong serius juga malah di ajak bercanda," ucap Andre yang mukanya sangat penasaran dan sangat serius.


Azril terdiam sejenak lalu menatap kakak iparnya, ingin mengungkapkan apa yang tidak bisa di sampaikan oleh tetehnya selama ini. "Mas Andre. Mas sadar gak, jika mas Andre selama ini terlalu fokus pada satu sisi," Azril menatap tajam pada kakak iparnya.


"Heh? Maksudnya."Andre malah binggung dengan apa yang di katakan adik iparnya itu.


"Karena terlalu fokus sama satu orang, mas Andre malah mengabaikan orang lainnya." Azril yang mulai protes karena tidak adilnya Andre pada tetehnya, tak bisa membagi waktu untuk keluarga dan orang dekat lainnya.


"Aaah, tetehmu."Sadar jika Azril sedang menuntut ya, membuat Andre terdiam sejenak.


"Bukannya aku membela teteh atau di pihak teteh. Dia, memang kadang kalah ya. Nyebelin, nyeselin, ngambekan, marah-marah gak jelas dan manjanya minta ampun. Dari semua itu, ada satu yang dia sembunyikan. Yaitu, keluhnya walau tampak jelas di wajahnya. Dia tidak akan pernah mengatakan hal itu terang-terangan, jika itu tidak benar-benar menyakiti hatinya." Penjelasan Azril.


"Aku tahu kesalahan itu, tapi..." Andre tak bisa berkata banyak karena tatapan tajam dari Azril.


"Azril faham. Mas saat ini binggung, galau, risau, gelisah dan penuh khawatir. Tapi, jangan sampai mengabaikan apa yang sudah jadi kewajiban mutlak yang diperlukan, karena terlalu fokus sama satu tujuan. Mas Andre mengabaikan hal yang penting lainnya, sebuah pondasi jika tidak rapih dan ada satu saja terlewati. Akhirnya tahu sendiri, secara logika bangunan itu tidak akan sempurna sebagai bangunan, dan semua akan runtuh dengan mudah."


Hah, aku faham sekarang. Kesalahan terbesar ku telah salah memikirkan resiko ini. Azril saat ini sedang bertindak sebagai kakak yang menuntut yah. Aku salah telah menilai anak ini, dia bukan anak remaja biasa. Dia cukup dewasa dalam pemikiran, bahkan pikiranku saja tak sampai, hingga logika bangunan itu. Dasar Azril, bagaimana otakmu menerjemahkan dan bekerja sih. Dumalan Andre dalam hatinya.


"Iya, aku faham apa yang kau katakan. Sepertinya aku bisa merasakan apa yang sedang kau pikirkan, Azril sepertinya kamu lebih faham dan mengerti aku dan Elisa."


"Jujur, sebenarnya Azril belum mengerti sama sekali dengan mas Andre. Tapi, kalau teteh. Itu sudah luar dalem aku hafal. Marahnya, ngambeknya, manjanya, dan bahkan saat dia tidak mengatakan apapun. Aku sudah tahu apa yang dia rasakan. Berbeda dengan mas Andre yang orang lain. Apa lagi Azril baru kenal beberapa bulan ini, jadi Azril belum mengerti apa yang di rasakan mas Andre saat ini. Tapi, aku faham jika posisi mas Andre juga tidak lah mudah, karena menjadi seorang yang penting di masyarakat itu sangat sulit untuk membagi waktu dengan umum dan keluarga. Iyakan."


"Hmmm, kau benar." Ucap Andre yang sudah tidak bisa berkata-kata lagi, karena Azril sudah tahu isi hatinya.


"Tapi, utamakan lah pondasi awal mas Andre, karena itulah jalan utamanya, dan tiang penopang bagi mas Andre. Jangan mengabaikan teteh, dan utamakan keluarga dahulu sebelum orang lainnya, itu intinya. Baiklah, Azril akan kembali ke topik utama yang tadi di tanyakan oleh Mas Andre. Soal gamemot ini," ucap Andre yang sangat tulus, Andre mulai tegang dan serius.


Kata-kata Azril cukup ngena dalam batin Andre, selama ini Andre menang terlalu fokus pada Ben dan urusan soal orang-orang yang menyerangnya akhir-akhir ini. Makanya Andre tak bisa berkata-kata apa-apa, karena kesalahannya ini memang benar ada ya.


"Maafkan aku. Baiklah silakan di lanjutkan, aku akan mendengarkan." ucap Andre yang sangat penasaran.


"Benar ini milikku. Aku memang sengaja memberikan ini padanya, awalnya ku pikir membiarkan saja benda ini ada di tangannya. Karena Azril berpikir dia pasti akan jenuh di rumah sakit, karena terus terkurung di dalam ruang dengan lingkup ya rata-rata orang sakit dan dokter atau perawat yang hanya boleh masuk dan keluar."


Jadi gitu cara kerja pemikiran Azril cukup masuk di akal, apa lagi aku juga sibuk dengan urusan ku di rumah sakit. Boleh juga, kenapa gak kepikiran oleh otakku ya. Walaupun usia Ben sudah 15 tahun, dia tetap remaja yang sedang tumbuh dan berkembang. Dasar Andre, kau selalu berfikir positif setiap hari ya, tetapi hal seperti ini tak kau pikiran padahal ini sangat sederhana. Dumal dalam benaknya, sambil mendengarkan apa yang di jelaskan adiknya.


"Ini alat sebagai hiburannya, dan juga untuk ruang belajar Spikologis mentalnya, karena aku sudah memprogram isi di dalam game, untuk daya tangkap dan daya ingat Ben, agar sedikit demi sedikit dia mau berkomunikasi lagi dengan kalian. Itu tujuan awalnya." ucap Azril yang menjelaskan mendetail.


"Jadi begitu, aku tidak tahu zril karena ku pikir benda ini adalah milik seseorang yang berniat jahat lagi padanya, itu hanya kecurigaanku saja jadi.."


"Aku tidak menduganya sih, hal ini akan terjadi. Karena tidak aku pikirkan sebab utama mas Andre jadi waspada. Tenang saja, di dalam benda ini ada alat otomatis yang sudah aku lengkapi dengan sistem program seperti kamera, rekaman suara, dan JPS. Lengkap kan, makanya benda ini cukup berguna. Bukan sekedar hanya main game," ucap Azril yang sangat lancar menjelaskan itu pada Andre.


"Wah, adikku sampai berfikir sangat sejauh dan sedetail ini. Sama percis kayak tetehnya. Kamu hebat Azril, aku saja gak berfikir sampai ke situ." ucap Andre yang bangga pada adik ya itu.

__ADS_1


"Itu sih awalnya, sebelum mas Andre menujukan ini." Ucap Azril yang merenung sejenak.


"Ini awalnya, jadi apakah ada akhirnya?" ucap Andre yang sangat penasaran.


"Iya ada, Azril sudah merancang semuanya dengan sedemikian rupa. Tapi,..." Azril tak melanjutkan ucapannya, binggung bagaimana untuk menjawab. Baru awal rencana saja sudah gagal, jadi semua tak bisa berlanjut.


"Tapi kenapa zril, kok malah berhenti." ucap Andre binggung.


"Semua gagal, aku tak bisa mengunakan semua rencana itu lagi." penjelasan Azril pada kakak iparnya.


"Lah kok bisa, gak di pakai lagi?" entah kenapa Andre saat ini lemot dalam berfikir.


"Ya gimana mau di pakai, orang sudah mas ambil bendanyakan, ini ada di tangan mas Andre. Gimana coba untuk melanjutkan rencana, jika awal saja udah gagal. Sudahlah lupakan, kita cari jalan keluar lainnya'"


"Ouh iya, hahaha terus gimana sekarang. Atau besok deh, mas kembalikan lagi padanya." Tawa Andre yang sangatlah tepaksa, karena merasa bersalah.


"Mendingan jangan mas, karena jika di kembalikan sama saja bohong." ucap Azril.


"Eh kok jangan? bohong gimana maksudnya?" ucap Andre yang makin binggung.


"Hmph- sebentar... Aku punya rencana lewat game ini, agar benda ini berguna lagi. Ben juga kembali seperti semula. Aku kepikiran untuk mengubah sistem cara kerjanya, biarlah itu jadi urusan ku. Tapi, itu juga butuh tahap dan waktu, dengan metode yang ku pikirkan saat ini, jika salah Azril minta maaf. bukan ada maksud apa-apa. Tapi Azril sekedar membantu, sekurang-kurangnya kemampuan seseorang setidaknya. Ini bisa membantu Ben untuk menangkap apa yang di tunjukan atau yang dia lihat dari permainan game! Rencana begitu, gimana menurut mas Andre?"


"Hemm! boleh juga ide kamu zril. Kok aku gak kepikiran metode ini yah, kamu sangat jenius. Pengamalan ku selama ini di dunia medis tidak sampai disitu," ucap Andre berfikir keras.


"Kita harus mengikuti perkembangan jaman, dan memanfaatkan teknologi untuk hal-hal kebaikan bukan malah sebaliknya."


"Baiklah, jadi benda ini ku simpan dulu?"


"Iya. Biarkan ben sendiri yang akan memintanya, aku sudah punya rencana lainnya, ide ini tiba-tiba saja muncul dan baru saja ke pikiran" ucap Azril yang langsung kepikiran soal ide yang lainnya.


"Ouh yah, secepat itu. Wah, bagaimana bisa kau memikirkan dengan waktu yang sangat singkat." ucap Andre yang heran dengan kemampuan pikir Azril.


"Baiklah." ucap Andre yang singkat, seraya memikirkan matang-matang cara yang di katakan oleh Azril.


"Iya, karena benda ini sudah ada di tangan mas Andre, biarkan mas simpan dulu setelah selesai seleksi program baru. Sampai si Ben itu meminta sendiri, caranya. Mas Andre mau ikuti ide konyol ku tidak? ya walaupun baru saja ku pikirkan ini setidaknya lebih efektif. Agar Ben segara sembuh, Aamiin Yarobalalamin" ucap doa Azril mempertegas.


"Oke apa itu, katakan saja." Andre mulai serius sehingga memajukan duduknya.


"Benda ini jangan mas langsung kasih, apa lagi secara cuma-cuma. Mas Andre harus punya syaratnya, agar Ben mau bicara. Saat Ben meminta, dia pasti akan bicara dengan mas Andre. Caranya adalah mas suruh dia mencari tahu namaku, selanjutnya aku akan katakan namaku. Lalu aku akan memberikan syarat lainnya agar dia juga berkomunikasi dengan mas Andre, lalu soal lainnya aku yang urus. Selanjutnya akan ku pikirkan kembali, karena rencana yang ku buat jauh-jauh hari, tapi kan sudah gagal, jadi aku harus cari cara lainnya"


"Aaah... Maafkan aku karena benda ini terlalu mencurigakan. Tapi ngomong-ngomong ini dapat dari mana? benda ini sangat mahal bukan?" ucap Andre.


"Hmm, dari tuan Brandon yang memberikan ini untuk hadiah, karena aku telah bergabung di IT miliknya." Ucap Azril yang sangat senang.


"Aaah... Begitu, selamatnya adikku. Tidak mudah untuk bisa bergabung di sana, kamu cukup hebat bisa mengalahkan pesaing lainnya."


"Terimakasih. Atas pujiannya," ucap Azril tersipu-sipu.


"Apakah teteh sudah tahu soal itu?"


"Iya, semua sudah tahu kecuali mas Andre."


"Heh? orang tuaku juga tahu"


"Iya, papah dan mamah juga sudah tahu semua itu." Azril memanggil orang tua Andre dengan sebutan yang sama dengan Andre, karena Arafif menganggap Azril sudah seperti putranya sendiri.


"Wah, aku kurang uptudet rupanya."


"Mas Andre sih... Salah sendiri selalu sibuk, mana ada waktu untuk bahas soal sepele begini iyakan."


"Maafkan aku ya, aku tak tahu soal ini zril." ucap Andre yang merasa bersalah dengan adik iparnya.

__ADS_1


"Iya gak apa-apa, aku mengerti kondisi mas Andre kok" ucap Azril.


Tak lama Elisa memanggil adiknya untuk sarapan. "Azril, cepat sarapan dulu. Katanya kamu berangkat sekolahnya pagi, cepat masuk." Suara teriakan dari dalam rumah.


"Iya Teh." Jawab Azril dengan berteriak juga.


"Yaudah mendingan kita masuk zril, nanti tetehmu bisa pakai jurus bayangannya lagi" ucap Andre, seraya tersenyum lebar.


"Hehehe iya mas." Azril juga ikutannya ketawa.


"Nih bocah bilang saja iya, tapi kok gak masuk-masuk ke dalam rumah. Azril... kamu lagi ngapain sih kok lama bang... Eh, kok mas Andre ada di sini kapan datang. Nggak ngasih kabar lagi, sudah lama di sini?" Ucap Elisa yang kaget saat melihat suaminya yang akan bangkit dari kursi.


"Iya teteh sih gimana, mas Andre sudah lama di sini. Sudah ada dari semalam, teteh gak tahu kan, istri macam apa coba. Nggak tahu jika suaminya tidur di luar, dan meninggalkan suami di luar rumah. Gak pulang-pulang sampai suaminya tidur di mana-mana, di urus yang bener dong teh, kalau di colong orang lagi baru nangis-nangis 7 turunan." Ucap Azril yang protes dan berjalan pelan melewati tetehnya.


"Eh, apasih... Masuk sana, kok ngomong ngawur gitu!" ucap Elisa agak kesel sama adiknya itu yang ngomong sembarangan.


"Iya iya iya, kalau gak ada butuhnya aja di usir. Kalau ada butuhnya, landat-lendot kaya uler kadut." Ucap Azril yang langsung lari masuk kedalam setelah menyindir tetehnya.


"Apa kamu bilang, kamu samain teteh sama uler kadut... Nih anak belum pernah rasain kena pukulan ya, sini kamu—" ujar Elisa yang langsung mengejar adiknya.


Azril lari ke belakang ibunya, yang sedang berdiri di meja makan. "Sini kamu, jangan sembunyi di balik ibu yah." ucap Elisa yang kesel.


"Sudah teh, ya ampun kalian ini sudah pada besar, tingkah ya kayak anak TK" sewot ibu.


"Azril duluan Bu, dia bilang Elisa kaya uler kadut." ucap Elisa yang Ngambek.


"Dasar teteh tukang ngadu, Bu jangan di dengerin. Teteh bohong tuh, tapi emang faktanya kayak uler lempe kan."


"Itu Bu malah tambah parah, masa nyamain Elisa sama uler bu" Elisa yang seperti anak kecil merengek pada ibunya.


"Adek, udah dong. Sudah tahu tetehnya gitu, masih aja di bercandain. Kamu juga teh, udah menikah masih saja kayak gitu, mbok di ganti sifatnya. Dewasa, gimana ibu mau punya cucu nanti, kalau bunda ya macam kayak teteh begini."


"Tuh dengerin teh, belajar dewasa agar anaknya bisa di didik dengan baik. Semoga anak teteh jangan ada yang mirip dengan teteh, semoga mirip kayak mas Andre semua, gak ada yang kayak teteh!"


"Kalau semua mirip kayak aku, nggak akan ada kerja samanya dong! Antara aku dan tetehmu, zril" ucap Andre yang baru masuk kedalam ruangan makan.


Bu siti dan Pak Yusman kaget dengan kehadiran Andre yang muncul di balik lorong pintu. "Eh, nak Andre kapan datang nak?" tanya ibu saat melihat Andre.


"Assalamualaikum, Bu-Ayah." Andre langsung mendekati mertua ya, dan mencium tangan mereka bergantian.


"Walaikumsalam..." Siti dan Yusman kompak mengucapkan salam.


"Nak, kapan datang" tanya Ayah yah.


"Baru ayah," Jawab Andre dengan senyuman mengembang di wajahnya.


"Sini duduk, sudah sarapan?" Tanya ibu, menyuruh Andre untuk duduk di sebelah Yusman.


Andre hanya menjawab dengan gelengan kepala pelan-pelan. "Teteh ambil satu piring lagi buat nak Andre." Suruh Siti, tapi putrinya baru saja kembali dari dapur.


"Udah ku ambilin nih, sini makan!" ucap Elisa bergantian ngomong dengan ibu dan suaminya.


Andre duduknya sebelah dengan Elisa, malah Azril yang dekat dengan ayahnya. "Iya." Jawab singkat, Elisa menaruh nasi dan lauk di atas piring untuk Andre. Sedangkan Andre hanya tersenyum.


Bersambung...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya untuk beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa favoritkan...


Kita akan berjumpa lagi di EPISODE SELANJUTNYA. BYE...


Rabu 30 Maret 2022.

__ADS_1


__ADS_2