
"Mas Andre, aku telah menemukan lokasi Gustoni, beliau ada di selatan. Di jalan persimpangan pemuda, dekat taman pondok." ujar Azril yang mengzoom sebuah lokasi yang telah terdeteksi oleh sinyal radar Azril.
"Baiklah, akan ku hubungi orang untuk segera kesana" ujar Andre yang sangat senang akhirnya ada titik terang, untuk menemukan semua orang yang tidak berdosa tersebut.
"Rainer ada di barat di sebuah gedung pabrik terbengkalai, dan Jay ada di utara berada di gedung perkantoran yang belum selesai di bangun" ujar Azril yang telah berhasil melacak lokasi yang lainnya.
Azril bersiap untuk mencari lokasi Canary dan Ben, tapi saat mencari lokasi Canary. Data yang di berikan itu malah tidak di temukan, atau tidak valid. Itu membuat Azril juga kebingungan, di coba berulang kali tetap saja hasilnya sama, tidak valid.
"Ada lagi zril?" tanya Andre yang akan memberi tahu Glenn informasi pemberitahuan sekaligus.
"Tinggal dua orang lagi yang belum ketemu lokasinya? Ben dan Canary, Mas. Tapi, ngomong-ngomong si Canary ini, kok mas Andre belum memberikan informasinya, dan data yang di berikan juga tidak valid" ucap Azril yang menujukan layar notiv No Valid.
"Aaah- sebenarnya Canary ini belum genap seminggu, bekerja denganku dan belum tahu semua informasinya." ucap Andre yang baru ingat satu pengawal wanita dan satu-satunya perempuan di anggota tim internasional.
"Begitu yah, tidak apa. Aku akan mencarinya, mas jangan khawatir. Azril akan cari lewat nomer induk identitas kependudukan. Coba mas hubungi saja orang-orang yang akan menuju lokasi yang sudah ketemu dulu, untuk menemukan mereka yang sudah ada data lokasinya, akan ku kirimkan Maps lokasi pada anak buah mas Andre" ucap Azril yang sibuk, semua jarinya main di keyboard, mata fokus ke monitor.
"Baiklah, itu boleh juga." ucap Andre yang langsung mengeluarkan hpnya, untuk menghubungi markas.
"Hallo... Glenn, kamu masih di markas?... katakan pada Hadi, aku akan kirimkan sebuah lokasi keberadaan 5 orang yang hilang itu... baiklah, kalian bersiap...," Ucap Andre, sambungan telfon belum terputus. Tapi Andre bergantian untuk bicara dengan Azril kembali, untuk menanyakan informasi.
"Azril, kamu kirimkan saja katanya ke komputer yang di markas, kode ya. Kamu tahu tidak?" ucap Andre, yang mengatakan pada Azril.
"Baiklah Mas, aku tahu kodenya" ucap Azril yang sudah bersiap akan mengirim data lokasi, yang telah valid untuk pencarian.
"Bagaimana Glenn apakah Hadi telah menerima data lokasi... Sudah muncul di layar monitor kalian... Begitu, jadi mulai lah pencarian di lokasi tersebut... Jika kalian menemukan mereka, langsung hubungi aku... Oke" ucap Andre yang menutup panggilan yah.
Satu persatu semua orang yang hilang telah di temukan, semua sudah berhasil dirawat langsung di rumah sakit milik Andre. Tinggal mencari Ben yang belum bisa si temukan, orang terakhir yang telah di temukan adalah Canary yang datanya saja sangat sulit di cari. Tapi, Azril berhasil menemukan keberadaan si Canary. Tinggal mencari lokasi si Ben yang entah hilang kemana, sudah hampir 2 Minggu Ben hilang, semenjak kejadian sebelum keracunan itu. Membuat Andre khawatir, karena Ben yang paling dia sayangi di antara bodyguard lainnya.
Seminggu kemudian akhirnya Azril berhasil menemukan keberadaan Ben, yang sekarang berada di London, di markas cabang Blue house. Niatnya Andre sendiri yang ingin pergi ke sana, tapi Aoda dan Glenn melarang untuk Andre turun tangan, jadi akhirnya mereka berdua yang pergi ke London untuk mencari Ben.
Di kamar rumah besar Arafif, Andre yang terduduk di kasur seraya nyenderkan kepala di penyangga ranjang dengan pikirannya campur aduk, tatapan mata kosong menatap dinding yang dingin, di luar sedang hujan dengan petir yang menyambar-nyambar.
Andre tidak bisa tenang dan tidak bisa tidur nyenyak walau ada Elisa di sampingnya, kerena perasaan yang gelisah dan khawatir itu membuat Andre tidak enak dan nyaman.
"Mas Andre, kamu nggak tidur?" Tanya Elisa yang terbangun karena saat meraba-raba kesamping, bukan tubuh Andre yang ia pegang malah kaki Andre.
"Hmph!, aku gak bisa tidur tenang sayang. Kepikiran, apakah mereka berhasil menemukan Ben atau tidak? ini sudah lewat dua hari setelah mereka sampai di London, tapi belum juga ada kabar apapun juga dari mereka" ucap Andre yang membantu Elisa untuk duduk.
"Hmph! kayaknya kamu sayang banget sama bocah bernama Ben itu" Ucap Elisa yang menempel di bahu Andre.
Andre tersenyum tipis, dia tahu jika Elisa sedang cemburu dengan Ben. "Dia itu, adalah anakku?" ucap Andre tanpa ragu saat membicarakan Ben.
Refleksi tubuh Elisa. Kaget dengan apa yang di katakan oleh Andre, Elisa langsung menjauhi tubuh Andre dengan cepat. "Hah? anakmu dari mana. Kamu suka melucu deh!" Ucap Elisa kebinggungan.
"Ha-ha-ha, dia itu memang anakku." Ucap Andre lagi untuk menegaskan.
"Anakmu dari mana? bahkan kamu tidak bisa melahirkan, apakah kamu menikah dengan wanita di usiamu 13 tahun? jangan ngaco deh!" Ucap Elisa yang heran dengan apa yang di katakan oleh Andre itu.
"Hahaha, ternyata aku tidak bisa bohongi kamu yah. Padahal aku mau buat kamu cemburu loh, dengan itu. Yah, jadi gagal deh" ucap Andre yang tersenyum lebar.
"Nggak mungkin aku cemburu sama wanita, kalau kamu yah saja gak kegoda" ucap Elisa pertegas.
__ADS_1
"Iya! baiklah-baiklah aku ngaku. Ben itu, dia bukan anakku. Ben ditemukan 15 Tahun yang lalu di sungai, tersangkut di ranting-ranting pohon di hutan, saat itu aku sedang perjalanan untuk pulang. Entah kenapa waktu itu mobil yang sedang ku naiki tiba-tiba saja ban ya kempes. Mungkin itu takdir aku harus bertemu dengannya, tega sekali orang tuanya yang telah membuang anak bayi yang baru lahir. Niatnya aku sendiri yang akan merawat yah, hingga dia tumbuh besar, tapi saat itu kondisi ku yang selalu jadi buronan. Mana mungkin, aku bisa membawa anak itu dalam bahaya, makanya aku titipkan pada paman Salim dan bibi Jeanny, untuk merawat anak itu di markas besar" Ucap Andre menceritakan kisah masa perjalanan dia bertemu Ben.
"Ouh, gitu ya ceritanya. Pantesan kamu sayang banget sama dia, ternyata dari orok kamu yang menemukan yah" Ucap Elisa yang salut sama Andre, yang punya pikiran untuk merawat anak bayi di usia masih remaja.
"Iya, karena dia anak yang malang. Aku tidak tega, dia sangat manis saat bayi dan keinginan ku untuk punya adik yang membuat aku ingin mambawa anak itu. Tapi, ada yang aku sesali saat aku tidak tahu jika dia malah masuk ke aliansi untuk menjadi pengawal ku, saat aku magang di jalur perang. Ben malah masuk ke aliansi, katanya untuk membalas semua kebaikan ku. Sebenarnya bukan begini yang ku mau dia malah kekeh ingin membalas ku, bahkan aku tidak pernah meminta dia untuk membalas ku. Kan bukan aku yang merawatnya, jadi tidak enak. Pada bibi Jeanny dan paman Salim yang telah merawat anak itu" ujar Andre yang langsung murung.
"Apakah Bibi Jeanny dan paman Salim, punya anak?" Tanya Elisa penasaran dengan bibi Jeanny dan paman Salim.
"Punya, Glenn yang kamu temui waktu itu adalah anaknya, dan ada lagi adik perempuan yang waktu itu menelfon ku, tapi kamu yang mengangkat panggilannya, itu juga anak bibi Jeanny" Ucap Andre yang mengingatkan Elisa.
"Ouh gitu, lalu apakah si Ben itu masih sekolah?" Tanya Elisa yang langsung menatap Andre dengan tatapan penuh pertanyaan.
"Iya, sudah tamat akademi. Katanya dia masuk sekolah kemiliteran aliansi, kenapa tiba-tiba kamu tanya begitu" Ucap Andre yang menjelaskan secara detail, lalu tiba-tiba heran dengan sikap elisa yang penuh ingin tahu.
"Tidak apa-apa, jika dia belum sekolah kan bisa kamu memasukan dia ke sekolah biar bareng sama Azril. Itu sih tujuannya, yah kalau anak itu mau sih" ujar elisa yang penuh harapan.
"Anaknya saja belum jelas ketemu tidak, kamu malah bicara dia suka atau tidak untuk sekolah, gimana sih" ucap Andre yang masih khawatir dan gelisah.
"Iya kita berdoa saja agar anak itu selamat dan masih hidup, agar bisa tumbuh sebagai anak normal lainnya, dan bisa sekolah dengan baik dan normal seperti anak remaja pada umumnya" ujar Elisa yang penuh harapan.
"Aaamin, semoga saja yah. Apa yang kamu doakan semuanya terkabul" ujar Andre yang juga berharap.
"Mau sholat malam gak, kita sholat minta bantuan Allah biar anak itu cepat ketemu dan kembali hidup-hidup, dan baik-bak saja" ajakan Elisa agar suaminya lebih tenang dan nyaman.
"Iya yuk, aku juga dari tadi mau bilang itu, cuman nunggu kamu yang ngajak" ucap Andre yang nurutin permintaan Elisa dengan sangat senang.
"Cih alasannya bisa aja kamu mas, tapi aku seneng deh, kita akhirnya bisa obrolan kayak gini. Itu bisa membuatmu sedikit merendamkan ketegangan, iya kan mas. Karena dari kemarin kamu sangat tegang sekali, tapi saat kamu membicarakan Ben tadi terlihat sekali dari matamu yang terus saja berbinar- binar, syukurlah" Ucap Elisa yang langsung memeluk Andre dengan sangat erat.
"Apaan sih, aku biasa aja kok" ucap Andre yang malu dengan apa yang di katakan oleh Elisa, dengan senyuman tipis yang di tunjukan Andre.
"Mas Andre? Sudah subuh, kita Sholat subuh dulu yuk!" Ucap Elisa membelai lembut kepala suaminya itu.
"Iya honey," ucap Andre yang parau, matanya masih memejam, Elisa belum sadar jika Andre mengubah panggilan sayangnya.
"Kamu udah bangun yah?" tebak Elisa yang menatap wajah Andre.
"Hmph, dengar suara adzan Subuh tadi. Cuman masih ngantuk jadi tidur lagi, kamu duluan aja. Mandi, dan sholat subuh" ucap Andre menarik selimut kembali.
"Hmph, dasar bilang aja kamu mau tidur 10 jam lagi kan" ucap Elisa sambil membuka selimut yang menutupi tubuh Andre tersebut.
"Huh! Itu lama banget, honey?" Ucap Andre langsung membuka matanya saat mendengar kata 10 jam.
Sadar jika ia mendengar nama hany. "Eh, kamu salah nyebut nama deh?" ujar Elisa.
"Bener kok, aku gak salah nyebut nama" ujar Andre yang matanya memejam kembali.
"Lalu siapa itu Hany? selingkuhan kamu. Iya, hany itu selingkuhan kamu" ujar Elisa yang asal tebak.
"Selingkuhan dari mana! jangan ngada-ngada deh. Bukankah, itu nama panggilan" ujar Andre yang langsung membuka mata saat mendengar kata selingkuhan.
"Iya, itu memang nama. Tapi, nama panggilan siapa, pacar kamu?" ujar Elisa yang curiga.
__ADS_1
"Ya Allah, kamu salah faham. Itukan dari kata bahasa inggris, Honey yang di tulisanya H-O-N-E-Y. Di baca honey. Panggilan sayang, orang luar negeri biasa bilang begitu" Andre berusaha keras untuk menjelaskan.
"Ouh gitu, kiraian nama pacar kamu" ujar Elisa yang agak lega karena penjelasan itu.
"Mana ada, jangan ngada-ngada aja! Ini masih pagi, tapi kamu sudah bikin aku berfikir keras begini hanya buat jelasin" ujar Andre yang agak kesal.
"He-he-he. Maaf, habis kamu sendiri yang tiba-tiba ganti nama panggilan sayang jadi honey, hayo- ada maksud tersembunyi kah?" ucap Elisa yang langsung ngeh sama panggilan, yang biasanya sayang jadi honey.
"Nggak ada, cuman mau ganti aja. Biar ke barat-baratan" ucap Andre yang menatap Elisa yang sudah bangkit dari ranjang.
"Alaah! Lebay kamu mas, udah cepat bangun keburu siang" Ucap Elisa yang jalan menuju kamar mandi.
"Iya-iya" Ucap Andre juga bangun dan duduk dulu di ranjang ngumpulin nyawa, sambil nunggu Elisa keluar dari kamar mandi.
Tiba-tiba suara hp Andre berdering, tertera nama Glenn. Bergegas saja Andre mengangkatnya, karena itu adalah informasi yang sangat penting baginya.
"Hallo glenn... Iya, aku sudah bangun. Bagaimana ada kabar apa?... Sudah ketemu, baiklah bawa dia kemari aku sendiri yang akan merawatnya... Iya, pakai pesawat pribadiku, agar lebih cepat... baiklah" Andre menutup panggilan, biasa saja saat mengangkat panggilan. Tapi dalam hatinya bersorak gembira, karena Ben ketemu.
Andre sangat senang hingga saat Elisa baru keluar dari kamar mandi, langsung berlari menuju istrinya dan memeluknya dengan sangat erat, dan mencium Elisa dengan semangatnya. Elisa kebinggungan dengan hal itu, tapi ia tak bisa melepaskan diri dari cengkraman pelukan Andre saat ini.
"Eellliiissssaaa, Dia ketemu!" Ucap Andre yang berlari dari ranjang, menghampiri Elisa.
"Mas... Aaaah—" Elisa yang langsung di dekap erat oleh Andre, merasa binggung.
Akhirnya penantian Andre untuk menunggu kabar tentang keberadaan dan keadaan Ben yang tidak jelas itu akhirnya telah di temukan, Andre menciumi lagi Elisa ke seluruh wajah Elisa dengan girangnya.
"Aaaddduuuhhh- Mas Andre apa-apa sih, kamu kenapa?" ucap Elisa yang binggung.
"Honey, Ben. Dia katanya sudah ketemu, dan akan pulang kesini, aku sendiri yang akan merawatnya, kali ini aku aku tidak mau ada korban lagi" ucap Andre yang sudah melepaskan pelukannya.
"Benarkah? syukurlah!" Ucap Elisa yang ikut senang dengan adanya kabar tersebut.
Syukurlah, Mas Andre sudah lebih baik dan bisa senang begitu, hanya karena Ben di temukan. Gumam Elisa dalam hatinya.
Elisa langsung kembali lagi ke kamar mandi, Andre langsung menatap tajam pada Elisa.
"Honey? kamu mau ngapain lagi kok, mau masuk lagi ke kamar mandi, sekarang ini giliran aku mandi" ucap Andre yang menegaskan.
"Semua ini kan gara-gara kamu, tadi kamu gak sadar apa yang telah kamu lakukan padaku. Lalu siapa suruh kamu datang-datang langsung menciumi ku, yah jelaskan wudhuku batal" Ucap Elisa membelah diri.
"Ouh, itu– hahaha, maaf honey. Aku gak sadar karena sangat senang, akhirnya Ben bisa di temukan, hari ini aku akan kerumah sakit sekalian mengecek kondisi semuanya" Ujar Andre minta izin.
"Siapa yang akan melarang mu, silakan saja. Elisa tidak akan melarang kamu, itu semua sudah jadi tanggung jawabku sebagai tuan bagi mereka" Ucap Elisa yang menjelaskan.
"Terimakasih, honey. Kamu memang pengertian, Love you" Ucap Andre sambil mencium bibir Elisa, dan langsung keluar kamar, menuju lantai bawah untuk kekamar mandi di bawah.
"Cih, dasar. Kok mirip kayak anak kecil sih, girang banget. Sudahlah yang penting dia sudah membaik, tidak suka pundung terus dan sensitif kayak kemarin-kemarin, udah ngalahin Cewek Mens" Gumam Elisa sambil melihat kepergian Andre yang keluar dari kamar.
BERSAMBUNG ...
Terimakasih atas kunjungan Anda ke cerita saya jangan lupa untuk like, share dan masukan komentarnya...
__ADS_1
Jangan lupa follow athour dan masuk ke grup saya ditunggu kedatangannya.
Senin 14 Maret 2022.