
Elisa yang baru keluar dari ruang kamarnya, terdengar suara dari arah dapur itu ibu yang melanjutkan masak yang tertunda tadi. Elisa yang merasa bersalah pada ibunya, gara-gara si Andre yang entah ada angin apa.
"Maaf ya Bu, Elisa masaknya tapi belum matang semuanya, malah ibu lagi yang masak. Kan niatnya Elisa yang mau bantuin ibu masak." ucap Elisa yang merasa bersalah pada ibunya.
"Udah nggak apa-apa, nak Andre mana?" Tanya Siti yang tidak melihat menantu berkeliaran lagi.
"Tidur bu, kayak dia capek banget." ucap Elisa yang langsung membantu ibu masak lagi.
"Ouh, gitu. Hihihi, nak Andre itu lucu ya teh. Ibu sampai gak berhenti kepikiran nih." ucap Bu Siti yang cikikikan sendiri.
"Lucunya gimana sih Bu, terus kenapa ibu tiba-tiba bilang gitu. Curiga Elisa, ada apa-apa nih antara ibu sama mas Andre." Elisa yang melihat ibunya yang bahagia sendiri.
"Tadi, saat baru datang ibu tahu kalau dia itu lelah capek banget, tapi dia nggak mau tuh ngaku. Ibu suruh temui kamu di dapur malah bantuin ibu beresin belanjaan." ucap Siti yang mengingat raut wajah Andre.
"Mungkin dia malu Bu, kalau kelakuan manjanya itu ketahuan sama ibu" ucap Elisa yang menjelaskan tentang kelakuan suaminya kalau di belakang ibu Siti gimana.
"Begitu, iya kali yah. Padahal ibu tahu dia pasti udah minta, hmmm yang special kan dari teteh?" seraya ibu mengedipkan mata genitnya.
"Ih apa sih Bu, nggak. Dia nggak pernah ngajak begituan Bu. Dia sukanya tidur meluk Elisa doang, baru dia bisa tidur" penjelasan Elisa yang tegas dan terang.
"Ouh gitu, tapi aneh ya sama nak Andre. Waktu ibu sama ayah saja sehari setelah menikah dengan ayah sudah minta Loh, padahal ibu gak lama pacaran sama ayah itu, cuman 3 bulan. Tapi nak Andre kok dia bisa nahan syahwat prianya, sampai 5 bulan ini yah teh, apakah nak Andre punya kelainan?" ucap Siti jadi kepikiran.
"Mungkin, aku gak tahu. Udah bu ini masih pagi jangan bicara vulgar gitu napa bu, mentang-mentang anak gadisnya udah menikah, makanya bisa bilang begituan ya bu. Kalau mau curhat, gak ada yang lain apa bu." ucap Elisa yang sangat risih dengan hal itu.
"Hihihi, kan ibu bisa bicara begini cuman sama teteh yang sudah bersuami sekarang, emang dulu ibu pernah ngomong kayak gini kan gak toh" ucap Bu Siti.
"Iya deh iya, terus gimana sarapan buat orang-orang di empang bu, kalau ini sarapan pasti akan kelar sampai jam 10 siang." Ujar Elisa yang masih menumis.
"Sudah gak usah khawatir teh, ibu tadi sudah beli sarapan untuk para pekerja di empang. Masak hari ini buat nanti makan siang aja teh," ucap bu Siti yang memasukan bahan ke wajan yang sedang di tumis.
"Ouh gitu, yasudah kalau nanti Mas bangun bisa langsung makan deh." ucap Elisa.
"Tapi nak Andre yang tidur, tapi kok teteh juga ikutan." ujar bu siti yang di buat penasaran.
"Baru aja ku jelasin tadi, bibir ini belum juga diam. Kan sudah Elisa katakan mas Andre kalau tidur harus meluk Elisa, jika tidak meluk elisa dia gak bakal bisa tidur, jadi tadi Elisa habis tiduri dia dulu" penjelasaan Elisa.
"Heh? ti..tidurin!" kaget dengan apa yang di katakan Elisa spontan bu siti membulatkan mata.
"Ya begitu kelakuan yah bu, kalau ada maunya kelihatan dari tingkah juga aneh" ucap Elisa yang curhat dengan ibunya.
"Iya teh, aneh banget hihihi." ujar bu Siti dan Elisa saling bertukar cerita, di sela-sela mereka sibuk masak.
Tak lama semua selesai, masak hari ini kelar Elisa sudah akan mengantarkan ke empang di mana ayah dan pekerja disana, emang sudah waktunya jam makan siang. Bu Siti melihat Andre yang baru keluar dari kamar, dengan rambut yang acak adul, ada cap bantal di sisi pipinya.
Ketawa tanpa suara sesaat. "Ouh nak Andre baru bangun?" ujar bu siti yang merapikan meja makan dengan penuh hidangan.
"Iya Bu," ujar andre yang menjawab ibu dengan mata yang aktif, seakan kepeka naluri seorang ibu sudah tau apa yang di cari oleh menantunya itu.
"Nyariin teteh yah! Elisa lagi nganterin makan siang ke empang, ayah nggk pulang jadi teteh mau ngasih makan siang ke sana. Sini nak Andre makan dulu" tawar bu Siti yang menawarkan.
"Nanti aja Bu, Andre mau mandi dulu, belum sholat Dhuhur" ujar Andre yang menjawab seraya ingin kembali lagi kekamarnya.
"Iya sudah, mandi dulu" ujar bu siti yang masih menahan geli dengan tingkah Andre tersebut, setelah Andre masuk, bu siti baru bisa ketawa puas.
__ADS_1
Tak lama Elisa juga baru kembali dari empang, meletakan rantang di meja makan, duduk dengan lemah.
"Assalamualaikum bu." posisi elisa sudah masuk rumah dan sedang duduk di kursinya ruang makan.
"Walaikumsalam" jawab ibu yang keluar dari kamarnya.
"Mas Andre belum bangun bu?" tanya elisa pada ibunya.
"Sudah, tapi katanya tadi mau mandi dan sholat dulu." jawab Siti.
"Ouh gitu, yasudahlah. Elisa juga mau istirahat dulu, panas banget di empang." ucap Elisa yang menuang air ke gelas.
"Teh, ibu mau ke pengajian di masjid sama ibu-ibu komplek, jadi ibu tinggal nggak apa-apa kan?" ucap Siti yang merapikan kerudung yah.
"Iya Bu, sok aja sih. Elisa juga mau sholat dulu belum sholat, ibu ati-ati yah?" ucap Elisa yang mencium tangan ibunya yang akan pergi.
Andre keluar kamar saat ibu sudah pergi, rambut Andre yang tertata rapi dengan kaos putih dan celana kolor yang khas, Elisa juga gak tahu kenapa Andre suka banget pakai kaos dan celana kolor panjang, stel Andre emang beda.
"Sudah selesai Mas, mau makan?" tanya Elisa yang menawarkan.
"Iya, mana ibu honey." ucap Andre yang duduk di depan Elisa.
"Ke pengajian, mau makan pake apa?" ucap Elisa yang membuka tudung saji yah.
"Pakai nasi dan tangan, masih ada nanya." ucap Andre yang membuat Elisa cekikikan.
"Hehehe masa pakai tangan kamu kanibal banget, emang mau." Elisa yang ikutin alur candaan Andre.
"Ya maksudnya, makanya itu mengunakan tangan kalau lauknya yang ada aja apa." penjelasan Andre.
"Honey, ibu kepengajiannya sendirian?"
"Nggak, katanya sama ibu-ibu komplek."
"Jauh nggak?"
"Nggak, deket kok. Kenapa sih, kok kamu kayak khawatir gitu sama ibu."
"Ya apa salahnya khawatir sama ibu, masa iya kamu cemburu sama ibumu sendiri." Ucap Andre yang sudah mau makan.
"Iya bukan gitu mas, cuman kalian itu agak aneh aja sikapnya, ibu tiba-tiba bilang hal aneh, terus kamu juga perhatian intensif banget sama ibu, gimana aku gak curiga."
"Ya elah, gitu aja di perpanjang sih. Honey, kamu itu sendiri loh yang bilang jangan terlalu cemburuan, apa lagi sama ibumu sendiri."
"Iya gak, udah di makan Elisa mau sholat dulu." Ucap Elisa yang langsung bangkit dari kursi dan menuju kamar.
Berada di halaman depan rumah lebih tepatnya di teras. Andre dan Elisa sedang duduk sambil minum teh bersama, menunggu orang rumah yang belum pada pulang. Ayah masih di empang, Azril belum pulang sekolah, Ibu juga belum pulang dari pengajian.
"Mas, gimana keadaan Ben?" tanya Elisa yang begitu penasaran dengan keadaan anak buahnya Andre tersebut.
"5 tulang rusuknya patah, terus cedera punggung juga, mentalnya juga kena. Aku sudah kirim email ke temen-temen dokter di Eropa untuk membantuku, untuk menangani kasus Ben." penjelasan Anda sambil menyeruput teh.
"Terus gimana hasilnya, apakah ada kemungkinan jika Ben akan sembuh?" tanya Elisa yang begitu sangat penasaran.
__ADS_1
"Semoga saja cepat sembuh ya Elisa. Minta doanya katanya doa istri itu juga lebih lanjut loh. Aku juga belum ada jawaban dari mereka yang ku kirimkan email, kan baru kemarin aku ngirim email kepada mereka."
"Mudah-mudahan aja mereka mau ya bantuin kamu, Mas. Aamiin Yarobalalamin"
"Amin yarobalalamin ya honey."
"Terus, Mas Andre yang lainnya gimana keadaan ya. 4 orang selain ben, bagaimana kondisinya mereka sekarang."
"Mereka kondisinya sudah mulai berangsur-angsur membaik, hanya ben yang makin memburuk kondisinya. Aku binggung mau gimana lagi, harus di tes Sikolog buat anak ini mah."
Tiba-tiba hp Andre berdering panggilan dari luar negeri, terlihat nomer kontak asing. Elisa yang langsung mengambil hp Andre yang sedang di charger itu, dan memberikan pada Andre.
" Mas denger gak ada suara nada dering teleponnya, bentar yah Elisa ambil dulu." Ucap Elisa yang langsung bangkit dari kursi bergegas masuk kamar untuk mengambil hp Andre.
"Dasar Elisa, kalau suara hp dia gercep banget dengernya, kalau di panggil paling lama nyautnya, hufff—" Dumal Andre akan tingkah Elisa.
"Dari siapa?" Tanya Andre saat Elisa sudah sampai di hadapannya.
"Mana elisa tahu, itu nomornya tidak dikenali tapi kelihatan nomor luar negeri." ucap Elisa yang sempat melihat nomer kontak yah.
"Coba sini, kamu kalau di tanya suka bikin aku pusing" Ucap Andre yang meraih hpnya.
"Hallo,... Ouh ini..." Andre langsung saja bangkit dari kursi setelah mendengar siapa yang menelfon ya, Elisa malah duduk kembali melihat Andre yang menerima telepon tersebut.
"Dari siapa?" Tanya Elisa yang penasaran dengan siapa yang menelepon Andre hingga Andre sangat girang banget.
"Dari Gaozhan Farhat, dari Turki. Katanya dia sudah sampai di rumah sakit, aku tidak tahu jika dia langsung terbang dari Turki untuk mencariku." ucap Andre yang sangat senang ada harapan jika Ben itu akan sembuh, Farhat ini terkenal dokter Sikolog yang sangat besar namanya sudah termasuk di daftar jejer dokter terbaik.
"Benarkan dari teman kamu, yaudah sana kamu pergi ke tempatnya." ucap Elisa yang menyerah lagi sama Andre.
Seminggu kemudian, semua dokter sili berganti datang dari luar negeri. Tapi dari sekian banyaknya dokter, tidak ada satu pun yang mampu bertahan dengan kondisi mental Ben yang membuat mereka semua menyerah, Andre kebingungan dengan hal itu.
Semua temen-temen sudah dia hubungi dan datang untuk membantu, tapi satupun tak ada yang berhasil. Elisa yang selalu di tinggal di rumah tak sehari pun, Andre selalu bolak balik ke rumah sakit bahkan sering menginap di sana.
"Kenapa teh, kok mukanya lecek banget sih kayak baju belum di setrika." ucap Azril yang menemani tetehnya sedang melipat baju di rumah tengah.
"Dia gak pulang lagi, berasa bener-bener kayak simpanan tahu gak zril." Curhat Elisa pada adiknya.
"Siapa? mas Andre" Tebak Azril yang membantu Elisa melipat baju.
"Ya terus siapa lagi, dia sibuk ngurusin si Ben. Terus kapan dia ngurusin aku yah, kok yang di pikirkan cuman Ben melulu" ucap Elisa yang agak cemburu dengan kondisi itu.
"Teh, jangan begitu. Posisikan diri teteh itu jadi istri yang baik, jangan mempersulit keadaan begitu, mas Andre kan sedang diposisikan sebagai dokter, dewasa sedikit napa teh." ucap Azril
"Maksudnya apa? kurang sabar kah diriku, baiklah jadi penasaran aku ingin tahu kayak apa sih Ben itu, yang menyita waktu dan isi pikiran suamiku" ucap Elisa yang bertekad akan ke rumah sakit besok untuk menjenguk anak buah Andre lainnya juga.
"Terserah, teteh deh."
...Bersambung......
Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya untuk beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa favoritkan...
Kita akan berjumpa lagi di EPISODE SELANJUTNYA. BYE...
__ADS_1
Senin 21 Maret 2022.