Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru

Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru
131. Daddy.


__ADS_3

Terlihat Elisa masih aktif tengok sana- tengok sini. Mata melihat-lihat sekitaran rumah yang bernuansa Eropa warna putih itu lebih dominan, membuat rumah itu sedikit sangat megah, Ken hanya bisa tersenyum kecil saat melihat tingkah Elisa, yang sangat aktif itu, Elisa yang tak berani bertanya, tapi sibuk sekali melihat sana-sini.


"Lady, apakah anda mau melihat-lihat koleksi di sini" Tanya Ken.


"Eh! hehehe, nggak paman. Aku hanya kagum saja dengan semuanya, hm- ini sangat bagus" Ucap Elisa dengan cengengesan.


"Jika anda mau, saya bisa mengantarkan anda untuk melihat-lihat sekitar dulu, sebelum tuan datang" tawar Ken.


"Terimakasih paman, tapi saya tidak enak hati. Ini kunjungan pertama saya, tidak mungkin saya melakukan tur he-he-he" Ucap Elisa yang masih cengengesan.


Tak lama, Tuan Brandon datang dengan beberapa pelayan di belakangnya, Ken yang melihat itu langsung membungkuk badan.


KEN : Tuan, anda sudah datang.


Ucap Ken yang membungkukkan tubuhnya, saat Brandon datang. Reflek tubuh Elisa juga bangkit dan ikut membungkukkan tubuhnya, karena melihat Ken seperti itu.


BRANDON : Silakan duduk kembali putriku?, kamu tidak usah seperti itu. Jadi ini wajah aslimu, sungguh manis. Kemarin terlihat sangat dewasa, tapi saat melihat tanpa make up seperti ini terlihat manis dan imut.


Walau di puji-puji seperti itu, Elisa tak faham, jadi hanya cengengesan saja. Mendengar kalimat itu, Ken langsung mendekati tuannya.


KEN : Tuan, nona tidak bisa berbahasa inggris, apakah saya boleh membantu tuan.


BRANDON : Tidak usah Ken, terimakasih, aku ingin lebih dekat dengannya, kamu sepertinya lupa siapa aku.


KEN : Tentu saja tidak, baiklah saya akan menyiapkan sarapan untuk anda.


BRANDON : Iya, itu sudah jadi tanggung jawab mu, jangan buat putriku menunggu. Cepat siapkan, hidangan terbaik koki di rumah kita.


KEN : Baik, Tuan


Ken langsung pergi meninggalkan tempat, Elisa yang masih sangat aktif melirik kanan-kiri.


"Putriku, kamu suka makan apa?" Tanyanya membuat Elisa menatap dengan kaget, ternyata tuan Brandon bisa berbahasa Indonesia dengan fasih.


"Hah? Saya! hemm– Elisa tidak pernah pilih-pilih makanan Tuan, semua Elisa lahap. Jika itu enak, dan bisa di makan" Ucap Elisa dengan tawa kecil malu.


Brandon tersenyum mendengar ucapan itu, ternyata putri menantu ya itu sangat lucu dan manis. "Baiklah, aku ubah pertanyaannya" Ucap Brandon.


"Putriku, kamu mau makan apa yang paling enak, menurutmu? karena lidah orang tua sepertiku ini sudah mulai kaku, dan mungkin rasa juga sudah mulai menurun" Ucap Brandon menunjuk dirinya.


"Anda berfikir begitu, tapi yang saya lihat anda tidak setua itu. Hm- apakah anda merasa sudah tua, tapi menurut saya anda masih sangat muda" Ucap Elisa menatap dengan lekat.


"Hahaha, muda? dari mana kamu melihatku muda" Karena pujian dan sanjungan itu Brandon tertawa terbahak-bahak.


KEN : Tuan, sepertinya sangat bahagia. Nona itu, membuat pria tua yang pemurung itu, bisa keluar dari zona hitamnya. Terimakasih nona, anda telah membawa secarik cahaya untuk tuan Brandon


Gerutu Ken di balik dinding dapur, karena suara tuan Brandon, megelegar sampai terdengar ke dapur.


"Putriku kamu pandai bermain kata-kata sanjungan yah, hingga membuat orang tua ini melayang ke angkasa" Ucap Brandon.


"Hihihi, aku tidak berbohong Tuan. Anda memang masih sangat tampan, ku pikir usia anda juga tidak jauh beda dengan Andre, terlihat masih berumur 30an, ya kan" Ucap Elisa polosnya.


"Ha-ha-ha! bener-bener kamu putriku yang sangat istimewa, pandai memujiku dan entah kenapa? saat kamu yang mengatakannya, aku percaya jika aku masih muda" Ucap Brandon dan sesekali melebarkan senyumannya.


"Iya, anda memang masih muda"


"Baiklah, sudah cukup memujiku. Jadi kita mulai dari awal lagi, bolehkah kita berkenalan dahulu" Ucap Brandon.


"Ouh Iya, aku lupa. Ini Tuan, aku bawa sesuatu untuk anda, ku harap anda menerima yah dan semoga anda juga suka. Tolong maafkan aku, karena belum sempat menyiapkan hadiah untuk anda, aku malah membelinya di jalan tadi, ini kado untuk pertemuan pertama kita, karena aku tidak enak datang tanpa bawa apa-apa" Ucap Elisa yang mengeluarkan sebuah kado kecil dari tasnya.


Ken mengambil kado tersebut, lalu memberikan pada Brandon. "Kamu tidak usah repot-repot putriku, kamu mau datang saja aku sudah sangat senang sekali" Brandon menitikkan air mata kebahagiaan, saat melihat kotak kecil itu


"Tidak apa-apa, aku memang sengaja melakukan hal ini untuk anda, ku harap anda tak melihat apa isi yang ada, tapi anda melihat ketulusan ku yang ada. Hehehe, itu tidak seberapa. Semoga bermanfaat dan anda suka" ucapnya Elisa dengan cengengesan.


"Boleh ku buka"


"Nanti saja, anda membukanya. Karena aku malu, jika anda membukanya di depanku"


"Baiklah, Ken simpan ini"


"Baik tuan"


"Ouh ya, aku juga belum memperkenalkan diri. Maaf atas ketidak sopananku, malah asik duduk lagi. Mohon maaf sebelumnya, saya akan kenalan diri dulu. Nama saya Elisa Nurhaliza, usia saya 23 tahun, putri pertama dari keluarga yang sederhana, nama ayah saya yusman dan ibu saya siti, saya punya adik laki-laki bernama Azril" ucap Elisa dengan tingkah yang membuat Brandon tertawa terbahak-bahak.


"Ha-ha-ha, kamu sangat lucu dan manis putriku, bagaimana kamu mengenalkan dirimu seperti itu. Seperti sedang mencalonkan dirimu untuk menikahi ku?" ucap Brandon yang tertawa lepas.


"Eh, heheheh. Maaf, aku terlalu deg-degan. Jika bertemu pria tampan, hehehe"


"Begitukah? apakah aku masih cukup tampan? usiaku mungkin setengah abad darimu"


"Iyakah? tapi anda masih sangat tampan bahkan uban pun tak ada?"


"Tuan Brandon menyamarkan rambutnya, lady" sambung Ken yang menyiapkan hidangan dengan beberapa pelayan, yang satu-persatu berdatangan.

__ADS_1


"Ah, masa aku gak percaya. hihihi" ucap Elisa yang juga terkekeh sendiri.


"Putriku, lalu kenapa kamu tidak menyebutkan, anggota keluargamu yang lainnya juga, mungkin kerabat atau lainnya" Ucap Brandon.


"he-he-he maaf tuan, aku cukup gugup, karena aku bisa bertemu orang asing yang bahkan aku baru ketemu kemarin" Ucap Elisa jujur dengan tingkat polos yah.


"Benar begitu? Putriku, aku bukan orang asing bagimu, aku masih berkerabat dari keluargamu. Yah! walau kerabat yang mungkin aku sebagai ayahmu, jika kamu mau akui dan menganggap ku" Ucap Brandon.


"Tantu saja, aku pasti akan sangat senang sekali, jika seperti itu" Ucap Elisa dengan semangat menjawab yah.


"Tuan, hidangan sudah siap!Sebaiknya anda lanjutkan nanti mengengobrolnya, anda sekarang sarapan dahulu" Ucap Ken yang menyilakan untuk makan dahulu.


"Hmpm, wah! banyak sekali menunya. Tuan, sebaiknya anda sarapan saja dulu, benar yang di kata paman Ken. Anda harus makan, biar kuat" ucap Elisa yang membuat semua yang di sana tertawa kecil.


"Baiklah, Ken. Ambilkan makanan untuk kami, putriku kau juga harus makan bersama denganku"


"Hap, itu yang ku tunggu. Paman, jika tidak keberatan biar aku yang melayani tuan Brandon, bolehkan"


Ken melirik pada Brandon, dan dapat jawaban hanya kedipan mata dan anggukkan pelan. "Baiklah lady, silakan" Ucap Ken yang mundur lagi ke posisi, Elisa berjalan mendekati Brandon.


Brandon sangat senang di layani oleh Elisa, yang begitu sangat aktif. Menjajal semua hidangan, seakan-akan Elisa tuan rumahnya, Ken hanya diam sesekali tersenyum tipis. Setelah acara makan itu, Elisa yang sudah sangat kenyang terduduk dengan wajah puas.


"Bagaimana makannya, apakah sesuai selera mu, putriku" ucap Brandon yang ingin tahu pendapat Elisa.


"Semua hidangan ini, dibuat oleh Koki di rumah ini" Ucap Brandon.


"Wah, keren. Semua sangat lezat, Tuan. Lain kali aku pinjam yah koki anda, untuk mengajariku memasak juga" Ucap Elisa spontan membuat mata itu membulat.


Brandon hanya terdiam, sambil tersenyum tipis. "Baiklah, Ken sampaikan pada Guan soal ini"


"Baik tuan"


"Putriku, apakah kamu sudah kenyang?"


"Iya, tentu saja! Ini perutku sampai-sampai hampir saja meledak, karena kekenyangan"


"Ha-ha-ha, begitukah!"


"Iya"


"Syukurlah jika kamu suka, dengan semua hidangan dan merasakan kenyang"


Elisa celingukan mencari keluarga lainnya, tapi tak melihat siapa-siapa lagi selain pelayan. "Hemm- Tuan, apakah anda tinggal disini sendirian? maksudnya tidak ada istri atau anak-anakmu" ucap Elisa penasaran.


"Ouh, maafkan aku. Aku tidak tahu, pasti anda sangat kesulitan dan kesepian, tidak apa! Sekarang anda punya aku, anda menyimpan nomer hpku kan. Jikalau anda merasa bosan atau kesepian anda telefon saja aku, bukankah aku putrimu. Anda bisa memanggilku Elisa, hmm- aku juga boleh panggil anda Daddy?, itu sebutan orang bule. Boleh kah? aku memanggil anda seperti itu"


Elisa cukup khawatir, baru kenal malah menganggap bahwa brandon bukan orang asing, malah cepat akrab dengannya.


Brandon tak bisa berkata-kata lagi saat mendengar hal itu, ternyata menantu sendiri yang mau mengakui dirinya sebelum anak kandung ya.


Tak sadar, air mata itu mengalir kembali. Elisa tak tega, ia duduk mendekati Brandon.


"Ada apa tuan, anda tidak senang yah! Maaf jika aku terlalu lancang, dan tidak sopan" Ucap Elisa yang menuduhkan wajahnya.


"Tidak, putriku. Ini tangisan bahagia, selama ini aku selalu memimpikan untuk di panggil sebutan itu oleh anakku. Tentu saja, aku tidak keberatan, malah aku sangat senang sekali, bisa di panggil itu" ucap Brandon, yang tak kuasa menahan air itu jatuh membasahi pipi ya.


Elisa refleks, mengambil tisu di saku ya, lalu menghapus air mata Brandon yang terus jatuh itu.


"Baiklah. Daddy, aku juga sangat senang bisa memanggil mu seperti ini, hmm- itu artinya kita harus menjalin hubungan yang lebih berkembang, mulai sekarang anda tidak perlu sungkan lagi padaku"


"Ha-ha-ha, seharusnya aku yang mengatakan hal itu, kenapa jadi kamu yang mengatakan yah"


"Aku hanya mewakili perasaan Daddy, pasti akan mengatakan hal itu"


"Ha-ha-ha, kamu sangat manis"


Ken yang melihat adegan itu, ikut senang karena bisa melihat tuan rumahnya bisa tertawa dan tersenyum bahagia, setelah sekian lama. Tuan rumahnya, baru bisa senang seperti itu jadi ikut lega melihatnya senyuman itu kembali, setelah banyaknya masalah yang menghantam keluarga Luwiss Clarlosen ini.


"Elisa, mari kita pindah ke ruang santai saja. Ken kau sudah persiapkan bukan, aku akan ajak putriku melihat-lihat"


"Saya sudah mempersiapkan segalanya tuan, tinggal anda dan lady menepati saja"


"Baiklah, mari Elisa kita pergi ke tempat yang sudah di persiapkan"


"Baiklah, aku jadi tidak sabar untuk melihat yah, Daddy bikin kejutan yah untuk ku?" Ucap Elisa sambil menatap wajah Brandon dengan senyuman mengembang.


"Tentu saja, aku sudah persiapkan semuanya" ucap Brandon dengan senyuman tipis.


Saat di perjalanan, menuju tempat tersebut, Elisa di sugukan banyak lukisan kuno, dan patung-patung atletis, yang cantik. Tiba di sebuah lorong, ada foto ukuran besar terpasang disana, foto keluarga. Lalu ada foto yang menarik perhatian Elisa yang membuat dia kaget.


Wah! Kok banyak sekali patung disini, dan banyak sekali lukisan. Cantik-cantik! Eh- kenapa ada foto mas Andre disini? Tunggu, ada yang berbeda, tapi apa yah?.


Elisa berhenti seketika saat melihat foto ukuran 1x2 meter di pasang sangat jelas, di dinding yang sangat besar itu, melihat-lihat dengan sangat teliti.

__ADS_1


Ken yang ada di belakang ikutan berhenti karena melihat Elisa yang menatap foto itu dengan sangat tajam. "Ada apa lady, apakah ada yang aneh?" Tanya Ken heran.


Brandon ikut terhenti juga langkahnya karena mendengar suara Ken itu, saat menoleh ke belakang Elisa malah sedang sangat serius menatapi foto miliknya itu.


"Foto ini, asli?" Tanya Elisa polos.


"Tentu saja" jawab Ken.


"Hmm- Lalu kenapa ini bisa ada disini?"


"Tentu saja, ini foto asli putriku, ini di ambil saat masa kejayaan saat itu" ujar Brandon yang datang menghampiri Elisa.


"Begitu kah?" ujar Elisa yang heran, foto terlihat sangat kuno, tapi masih sangat bagus.


"Memang kenapa, putriku ada masalah dengan fotonya?" tanya Brandon yang Kebingungan.


"Kapan anda mengambil foto ini?"


"Tahun 19xx" jawab dengan cepat.


"Eh? Bahkan aku belum lahir, tapi kenapa ini sudah ada, jangan-jangan dia kaum vampir yah?"


"Siapa yang vampir? Apa maksud mu, putriku" tanya Brandon yang semakin di buat Kebingungan.


"Daddy, ini foto mas Andre kan?" ujar Elisa polos dengan menatap tajam kearah Brandon.


Ken dan Brandon saling menatap, lalu mereka sama-sama tertawa terbahak-bahak mendengar hal itu.


"Ha-ha-ha, jadi begitu! Kamu berfikir, jika orang yang ada di foto itu, adalah Andre?"


"Iya, kenapa anda menyimpan fotonya?" tanya Elisa kembali meminta jawaban.


"Bukan, itu adalah aku saat usiaku 25 tahun, saat pengambilan foto itu, tepat di hari ulang tahunku orang tuaku, yang menginginkan aku di foto sebagai kenangan, karena hari itu juga ibuku meninggal tepat pada malam setelah pesta perayaan ulang tahunku berakhir, karena serangan jantung" Penjelasan Brandon membuat Elisa tersentak sesaat, mendengar hal itu.


"Aah! maafkan aku daddy, aku tidak tahu" ujar Elisa yang merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, lagian itu sudah berlalu" ucap Brandon yang sudah ikhlas menerima takdir.


"Tapi kenapa bisa sangat mirip yah?" ujar Elisa yang memikirkan matang-matang menatap kembali foto itu.


"Coba kamu perhatikan lagi, apakah benar sangat mirip, saat kamu perhatikan lebih dalam. Kamu pasti akan menemukan perbedaan lainnya, antara fotoku itu dengan Andre? Dia juga pasti tidak akan mungkin mau mengakui, jika dia mirip denganku, pasti dia akan menolak dan akan katakan tidak mirip, ada yang berbeda" ujar Brandon yang sudah bisa menebak kepribadian Andre, yang sangat ia tahu.


"Hmpm sepertinya daddy lebih mengenalnya, di bandingkan aku. Apakah Daddy juga salah satu fansnya, iya kan! kenapa sampai begitu detail" ujar Elisa yang menatap tajam.


"Tentu saja, aku tahu"


"Baiklah mari kita lihat. Dady benar, warna bola mata yang di dalam foto miliki coklat hitaman, sedang milik mas Andre biru lautan tapi saat malam hari, bola matanya berubah sehijau daun muda. Ah! bibir juga berbeda yah! itu juga berbeda katup bibirnya cukup tipis, sedangkan milik mas Andre bibir bawahnya agak tebal, dan berwarna merah merkah seperti bunga mawar, alis juga tipis tapi sangat tegas. Sedangkan milik mas Andre agak tebal, tapi rapi memang sekilas agak mirip, tapi kok bisa!"


"Tentu saja lady, karena tuan adalah..." Ken menghentikan ucapannya saat Brandon mendecak agar, Ken diam.


"Ken, ..." suara Brandon membuat Ken langsung terdiam.


Elisa langsung menatap ke arah Brandon dengan sangat cepat. "Dady, apakah... Dady, punya hubungan yang sangat kuat" Ucap Elisa menatap tajam.


"Mungkin saja!"


"Apakah... Daddy, ini paman atau saudara kembar mas Andre? atau mungkin... Daddy adalah... Ayah? mas Andre. Benarkan, daddy? Jika daddy adalah ayah kandungnya, lalu siapa papah?"


"Kamu menanggapinya begitu, bisa saja aku bukan daddynya bagaimana" ucap Brandon.


"Tidak, aku tahu. Elisa ini orang ya welcome dengan semua orang, tapi tidak langsung sedekat ini dengan orang asing, apa lagi kenal dengan Daddy. Tapi langsung seperti ada ikatan yang kuat antara aku dan Daddy, jadi tidak di pungkiri jika daddy pasti ayah mertuaku" Ucap Elisa polos mendiskripsikan masalahnya.


"Itu benar, lady. Tuan adalah Ayah kandungan tuan Alzam, atau tuan Andre"


"Alzam? Andre! jadi nama itu"


"Iya itu nama yang kuberikan pada Andre sebelumnya yah, tapi nama itu entah kenapa bisa berganti menjadi Andre" Ujar Brandon, sesak saat mendengar yah tapi mau bagaimana lagi, Arafif memang ayah yang telah memberikan kasih sayang penuh untuk putra yah.


"Bagaimana mungkin, bisa terjadi begitu. Cerita bagaimana? kok bisa" Ucap Elisa yang sangat penasaran.


"Apakah, putriku mau mendengarkan kisahku, mungkin akan sangat panjang" Ucap Brandon.


"Iya, aku mau. Mau sekali, Elisa tidak masalah jika cerita bisa berepisod- episode, aku suka kok" Menjawab dengan semangat.


"Baiklah, mari kita lanjutkan perjalan kita ke tempat yang agak santai, untuk mengobrol dan menceritakan yah" Ucap Brandon yang berjalan kembali.


BERSAMBUNG ...


Terimakasih atas kunjungan Anda ke cerita saya jangan lupa untuk like, share dan masukan komentarnya...


Jangan lupa follow athour dan masuk ke grup saya ditunggu kedatangannya.


Senin 7 Februari 2022

__ADS_1


__ADS_2