Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru

Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru
160. Kesal dan Menyesal.


__ADS_3

Andre turun ke bawa, setelah sudah rapi dengan stelan kemejanya. "Dre, kok sendiri mana Elisa?" Tanya Monika yang tidak melihat Elisa ikut turun ke bawa bersama.


"Honey? Bukanya dia ada di dapur, bantuin bi ina" Ucap Andre yang langsung duduk di kursi dekat dengan mamahnya.


"Eh, gitu mamah gak tahu" Ucap Monika yang tidak melihat Elisa, lalu tak lama Elisa yang baru keluar dari dapur dengan panci yang berisi sayur baru matang.


"Nggak tahu apa mah?" Elisa yang datang langsung menyahut apa yang di katakan mamah Monika, di susul dengan bi ina yang berjalan di belakang Elisa.


"Itu kamu, mamah nggak lihat kamu turun sama Andre." Ucap Monika yang mengulang kembali ucapanya.


"Ouh, Elisa bantuin bi ina. Kan mba Jeje lagi pulang kampung, jadi bi ina sendirian nyiapin makannya, lagian Elisa juga gak ada kegiatan. Mas Andre, Elisa boleh main ke rumah temen gak?" Ucap Elisa yang minta izin ke suaminya.


"Kemana?" Tanya Andre yang menerima piring dari Elisa.


"Ke rumahnya mba Reva" Ucap Elisa yang memberi nasi ke piring Andre.


"Reva siapa?"


"Itu istrinya Dokter Try, boleh gak?"


"Setahuku Reva sedang di luar kota, kerumah orang tuanya. Jadi gak ada di rumah, coba nanti aku hubungi dia" ucap Andre yang mengingatkan ucapan Try.


"Iya, hubungi mba Reva dulu"


Setelah sarapan itu Andre kembali ke kamar, untuk mengambil tas dan hpnya. "Hallo Try... Ada apa?... Ouh, sudah sampai... Apa!... Baiklah aku akan segera kesana... Iya bawa ke lantai atas... Oke" Ucap Andre yang panik, saat menerima panggilan itu ternyata, Ben sudah datang ke rumah sakit.


"Mas Andre, sudah menghubungi mba Reva yah?" Ucap Elisa yang tidak di kubris, Andre malah mengabaikan apa yang di katakan Elisa.


"Maaf ya, honey! Mas buru-buru, Ben sudah sampai tapi. Aaah, sudahlah. Aku pergi sekarang, lain kali saja kamu main ke sana. Sekarang kamu pergi saja sama mamah, ke moll atau ke salon atau jalan-jalan nih! ATM ya. Mas pergi dulu yah, tidak usah antar mas ke bawa" ucap Andre dengan wajah paniknya, Andre langsung berlari keluar meninggalkan Elisa, tanpa cium tangan atau cium Elisa seperti biasa karena terlalu panik Andre sampai lupa dengan kebiasaan pagi saat mau berangkat kerja.


Elisa hanya bisa menatap kepergian Andre yang sudah hilang di balik pintu, terduduk di sofa sambil menatap ATM.


"Huh! di kasih kartu lagi, berapa banyak yang dia punya. Bukan ini yang ku mau, dia selalu sibuk. Nggak punya waktu untukku, cuman mikirin ini itu tapi gak pernah mikirin aku. Sebenarnya aku ini ada gak sih di pikirannya, buat apa coba kartu ini. Bener-bener seperti simpanan om-om kaya." Gumam Elisa meletakkan kartu di dompet, yang penuh dengan kartu ATM.


Elisa turun kebawa dengan wajah bete, menyalakan tv melihat siaran disana. "Ada apa sayang, kok mukanya bete gitu" ucap Monika yang langsung menghampiri Elisa.


"Nggak apa-apa mah" ucap Elisa yang duduk dengan lesu.


"Tadi Andre buru-buru sekali, apakah ada operasi dadakan yah?" tanya Monika yang penasaran.


"Nggak! Katanya anaknya sudah datang dari London" Ucap Elisa yang ketus.


"Hah! anak?, anak yang mana?" Monika kaget dengan apa yang di katakan oleh Elisa.


"Itu loh mah si Ben, katanya sudah ketemu dan sudah sampai di rumah sakit" Elisa menjelaskan.


"Ouh gitu, terus kenapa ini mukanya di tekuk gitu sayang, jelek banget sih. Nggak di bolehin main yah sama Andre?" Tebak Monika.


"Bukan gak di bolehi, cuman katanya suruh pergi saja ke moll atau ke salon sama mamah, terus kapan dong dia punya waktu jalan-jalan sama Elisa, emang uang bisa membeli waktu. Kan nggak, gimana Elisa nggak bete. Dia selalu punya waktu dengan yang lainnya, tapi waktu buat Elisa mana? cuman pagi hari dan malam sebelum tidur, itu juga cuman ngobrol" Ucap Elisa yang kesal.


"Yah kamu harus maklumin Andre dong! sayang, Andre emang akhir-akhir ini sedang sibuk" ujar Monika yang membela anaknya.


Elisa menghela nafas panjang. "Dari dulu juga dia sibuk, sebelum nikah sama Elisa juga dia sudah sibuk kali mah, sudahlah. Elisa mau kerumah ibu saja, mau lihat toko kue." ujar Elisa yang tidak ada gunanya bicara dengan Monika yang pasti akan membela anaknya.


Sesampainya di rumah orang tuanya, Elisa yang naik taksi ke sana. "Assalamualaikum, bu-yah." ucap Elisa yang masuk kedalam rumah.


"Walaikumsalam, ih- ada teteh? kok pagi-pagi sudah kesini. Sendirian teh? mana nak Andre" tanya Siti saat tidak melihat menantu yang ikutan bersama.


"Kerja lah bu, dia kan robot kerja" ucap Elisa yang kesal, membanting tubuh ke sofa di ruang tamu.


"Kok gitu ngomongnya, kenapa? Lagi berantem sama nak Andre yah?" Tebak Siti.


"Nggak, cuman kesel aja Bu, mas Andre itu nyebelin banget. Masa Bu, selama ini dia gak punya waktu libur, hari Minggu pun tetap masuk kerja. Padahal dia pemilik rumah sakit, papah saja punya waktu buat keluarga yah. Kok dia gak punya sih, kan bikin Elisa kesel bu" ucap Elisa mengeluarkan unek-unek di hatinya.


"Yah, mungkin nak Andre emang lagi sibuk teh. Teteh harus maklumi dong" ucap Siti, yang sama dengan ucapan Monika.


"Ibu, kok sama kayak mamah sih suka belain mas Andre" ucap Elisa protes.

__ADS_1


"Bukan belain, emang faktanya gitu teh, sebagai istri harusnya teteh ngertiin posisi nak Andre, apa lagi. Nak Andre kerja juga buat siapa coba, buat teteh juga. Nak Andre melarang teteh kerja karena itu sudah jadi tanggung jawab dia, jadi sewajarnya teteh harus mengerti kondisi dan posisi saat ini" penjelasan tentang keadaan yang sedang di hadapi oleh Elisa.


"Bu, Elisa selama ini sudah sabar dan maklumi kondisi mas Andre. Tapi,—" ucapan elisa tidak di lanjutkan karena sudah tak bisa berkata-kata lagi.


"Kalau teteh emang sabar, gak mungkin akan ngeluh kayak gini teh, sabar saja itu nggak cukup. Jika teteh menjalankan tugas sebagai istri itu dengan ikhlas, insyaallah semua masalah akan mudah di hadapi, dan akan baik-baik saja. Tidak akan ada keluhan begini, seharusnya ibu dan ayah atau pak Arafif dan Bu Monika, tidak tahu soal prahara rumah tangga teteh seperti ini, jadi kalau ada masalah apapun kalian harus selesai secara langsung. Orang tua sudah tidak punya hak apapun lagi, jadi saran ibu. Teteh ngomong langsung ke nak Andre keluhan itu, bukan ngomong ke ibu" Ucap penjelasan Ibu.


"Hah! iya Bu. Maaf" Elisa mulai lulai dengan ucapan nasehat sederhana dari ibu, tapi semua itu adalah benar.


"Yaudah gak apa-apa, lain kali jangan sampai kayak gini lagi. Teteh udah sarapan?" Tanya Siti yang membelai putrinya.


"Hmm- sudah bu ini baru selesai sarapan, terus datang ke sini" ucap Elisa yang masih murung.


Aku gak punya temen buat curhat, ngomong sama kedua wanita ini, juga gak ada guna yah. Jadi harus dipendam sendiri, serba salah. Jadi kayak aku ini pelaku bukan korban. Yah visual wajah polos tanpa dosa milik mas Andre emang luar biasa, hingga ibu saja membelanya. Gerutu Elisa dalam benaknya.


"Ouh gitu, terus mau ke toko?" tebak ibu.


"Nggak, Elisa mau disini. Tapi ngomong-ngomong, ayah mana bu?" Baru sadar jika ayahnya tidak keliatan dari tadi.


"Ayah lagi di Empang ikan, sama pak Ridwan" Ucap Siti yang menjelaskan.


"Ouh. Terus sekarang ibu mau kemana? sudah siap-siap gitu" tanya Elisa yang melihat ibu sudah menyiapkan makanan di rantang- rantang dan kotak ukuran sedang.


"Ya mau ke Empang lah, ngasih makan para pegawainya di empang"


"Lak kok ibu yang ngasih makan pekerja, emang itu empang milik ibu?"


"Lah iya, itu empang punya ayah bukan punya ibu" ucap Siti yang menegaskan.


"Eh! kok Elisa gak tahu? kalau ayah punya empang, sejak kapan?" tanya Elisa yang binggung.


"Lah kirain ibu teteh sudah tahu, kan empang itu nak Andre yang ngasih modalnya, terus pak ridwan dan ayah jadi pengurusnya" ucap Siti.


"Mas Andre? kok dia gak ngomong apa-apa sama Elisa yah bu"


"Ah masa sih. Teteh yang lupa paling juga, nak Andre bilang sudah bicarakan ini dengan teteh" Ucap Bu Siti.


"Iya kali, Elisa yang lupa" ucap Elisa gak mau berdebat lama dengan ibunya.


"Eeeh, nggak mau lah. Elisa jauh-jauh kesini mau cari temen, malah di tinggal sama aja bohong, yaudah deh! Elisa ikut saja sekalian mau tahu" ucap Elisa, sambil membantu membawa kotak lauk dan nasi.


"Yaudah, yuk!" ucap Bu Siti yang langsung mengambil kunci rumah untuk menutupi pintu.


Sesampainya di empang, ayah dan para bapak-bapak sedang sibuk panen udang dan ikan lele, terlihat mereka sedang panen besar karena banyak sekali yang mereka dapat.


"ASSALAMUALAIKUM, bapak-bapak sini sarapan dulu, maaf agak telat" ucap Siti yang datang ke sebuah saung bambu di sana.


"Iya bu siti, aduh- Mantur nyuwun, sampai repot-repot bikin sarapan" bapak 1.


"Nggak pak, ini semuanya kan sudah jadi tugas dan kewajiban saya, sebagai tuan rumah. Monggo bapak-bapak silakan di cicipi dulu masakan saya yah, walau nggak seenak di warteg bu Erni" Ucap Siti yang nada bercanda.


"Ha-ha-ha bisa aja nih bu siti" bapak 2.


"Eleh-eleh Bu Siti, datang ke mari sama siapa ini bu" tanya bapak 3.


"Ouh, ini putri saya, tetehnya Azril" Jawab pak Yusman yang langsung menatap putrinya.


"Baru kelihatan teh!" ucap bapak 4.


"Iya pak, baru kesini lagi" ucap Elisa duduk di samping ayahnya.


"Emang dari mana, sampai baru kemari. Kerja?" ucap bapak 3.


"Nggak, pak. Cuman di rumah" Jawab Elisa santai, binggung mau jawab apa.


"Ouh, sudah punya rumah sendiri!" Tanya bapak 4 yang kepo.


"Nggak juga, itu rumah mertua" Jawab Elisa.

__ADS_1


"Eh, si pak Yusman sudah punya menantu toh. Walah kami gak ada yang tahu" Ucap bapak 1.


"Hahaha bapak-bapak bisa saja, iya saya sudah punya menantu" ucap Yusman canggung.


"Kirain belum menikah, niatnya mau saya jodohin sama anak saya. Si Juki, ya sayangnya gak jadi besanan sama juragan empang" Ucap bapak 2.


"Hahaha bisa aja nih bapak Herman." Ucap Bu Siti yang nyahut secara natural.


"Menantunya kerja di mana?" Tanya bapak 4 yang kepo banget tanya ke Siti dan Yusman, karena masih sangat penasaran.


"Di rumah sakit" Jawab Elisa yang singkat.


"Ouh, emang jadi apa?" Tanya bapak 4.


"Dokter" Jawab Elisa jutek dan sinis.


"Widih keren si pak Yusman, menantu yah seorang dokter, pantesan saja pak Yusman langsung sembuh dari struk, pasti di obati langsung sama menantu yah" Ucap bapak 4.


"Boleh lah Pak, jika ada keluarga saya sakit minta bantuan ke menantunya" Ucap bapak 3.


"Yo Monggo, cuman saya kasih tahu dulu sama anaknya." Binggung mau menanggapi gimana, Yusman gelapkan sendiri.


Sialan nih bapak-bapak, kok kayak mereka suka bergosip gitu yah, sebagai orang tua kok nyebelin banget yah mereke. Ayah juga kepojok, kalau di lanjut bisa panjang juga nih urusannya. Salah aku kesini, tadi aku kerumah Nay atau mba Eva aja. Gerutu Elisa dalam hatinya yang terpendam.


Di rumah sakit, Andre baru sampai di lobi sudah di sambut oleh beberapa orang yang menunggu Andre di sana, dengan pakaian jaket serba hitam, dan earphone di telinga masing-masing.


"Bagaimana keadaannya, sebenarnya apa yang terjadi" Tanya Andre dengan jalan yang sangat cepat menuju pintu lift.


"Tuan, 5 tulang rusuknya patah dan dia seperti orang yang telah di hipnotis. Anak ini juga seperti kehilangan ingatan, aku coba tanya-tanya dia hanya diam dengan tatapan kosong" ucap Glenn sambil mengikuti langkah kaki Andre yang cepat.


"Begitukah, lalu bagaimana kalian menemukan dia. Ben dalam kondisi seperti apa?" Tanya Andre yang langsung masuk ruangan mengambil alat medis dan jas putihnya.


"Saat kami menemukan dia, dia sudah seperti ini. Terikat di kolam, dan sebagian tubuhnya sudah mulai membiru" ucap Glenn.


BRUKK !


Andre memukul dinding hingga tangannya berdarah, kesal karena mendengar hal itu. "Seandainya aku menemukan dia lebih cepat, tidak akan terjadi seperti ini" ucap Andre yang menyesal apa yang terjadi pada Ben.


"Ini juga salah kami Tuan, yang telah gagal untuk mendapatkan informasi, kelalaian kami juga karena telah mengabaikan masalah ini" ucap Glenn.


"Dia masih kecil Glenn, tak seharusnya jadi begini. Dia sampai harus mendapatkan perlakuan macam ini, aku gagal. Glenn! Keluarkan dia dari aliansi, jangan biarkan dia masuk anggota pengawal lagi, aku tidak akan mempekerjakan anak di bawa umur atau kurang dari 20 tahun" ucap Andre yang sudah tidak bisa mentolerir apapun lagi.


"Baik Tuan. Laksanakan perintah Anda, saya undur diri" ucap Glenn, menundukkan kepalanya memberikan hormat.


"Maafkan aku Ben, aku salah" gumam Andre yang lemas saat mendengar hal itu, langsung dia bergegas ke rumah VVIP.


"Try, gimana kabarnya." Ucap Andre yang masuk ke ruangan, melihat Try baru selesai membalut luka Ben.


"Lihat dia, coba saja kamu bicara dengannya. Yah! mungkin saja jika kau yang ajak dia bicara dia akan buka mulut." Ucap Try yang berjalan mendekati Andre.


"Ben, ini aku... Kamu ingat, siapa aku. Ben Shidqi Arsalaan, apakah kamu ingat nama itu." ucap Andre yang berusaha berkomunikasi dengan Ben, tapi Ben hanya diam sambil menatap wajah Andre.


"Percuma Dre, kita obati fisiknya dulu lalu kita akan bawa ke ruang radiologi untuk pemeriksaan lebih lanjut, dan pengecekan terhadap organ dalam juga" Sambung Junlion yang baru datang.


"Iya kamu benar, Dre. Kita bawa dia ke tempat radiologi untuk pengecekan" sambung Try.


"Junlion, panggil dokter Reka untuk tes psikologis anak ini. Mungkin dia gangguan trauma, dan dokter Ginian untuk pengecekan tulang" Ucap Andre menyuruh Junlion.


"Baiklah, gue pergi lagi" ucap Jun yang baru datang sudah di usir kembali.


"Try kita bawa dia, untuk rekamedis secara menyeluruh" Ucap Andre.


"Baiklah, akan ku siapkan"


BERSAMBUNG ...


Terimakasih atas kunjungan Anda ke cerita saya jangan lupa untuk like, share dan masukan komentarnya...

__ADS_1


Jangan lupa follow athour dan masuk ke grup saya ditunggu kedatangannya.


Rabu 16 Maret 2022.


__ADS_2