
Setelah makan Andre membayar ke kasir, hingga membuat kasir itu kesem-sem sendiri saat melihat wajah tampan Andre itu, seraya tak bisa memalingkan wajahnya dari Andre.
"Sudah aku duga, dia akan tetap jadi pusat perhatian, masih populer juga dia di kalangan cewek maupun cowok. Tidak ada yang berubah dari dirinya, kadang aku heran sama dengan tubuhnya, terbuat dari apa sih. Elisa apakah kamu tidak cemburu melihat banyak orang yang menatap begitu, walau Andre selalu pakai baju kebesaran dan sederhana seperti orang kuno dan ketinggalan zaman begitu, tapi tidak bisa menutupi penampilan luar biasa itu, masih banyak yang melihatnya" ucap Medina yang menanyakan pendapat Elisa sebagai sang istri.
"Cemburu? Hmph! Itu pasti ada mbak, apa lagi dia tipe yang pakai apapun jadi, di tambah berwajah rupawan begitu. Tapi, anehnya dia suka cemburu kalau aku nonton cowok lainnya, bandingin dia. Kadang, saat aku nonton gong Yoo atau Lee Min hoo! Dia suka matiin dan merebut hp ku," ucap Elisa yang keinget tingkah Andre kalau Elisa lagi fokus nonton, terus mengabaikan Andre.
"Heh? Mereka aktor Korea kan?" Medina yang baru tahu, jika istri Andre menyukai drama luar negeri itu.
"Iya, aku suka nonton film. Di hp dia dan di leptop semua full, koleksi foto mereka. Walau suka dia hapus semua" ucap Elisa yang mengingat ya.
"Hehehe ternyata dia ada sisi itu juga ya, ku pikir dia tidak akan merasa cemburu karena merasa dirinya kan cukup sempurna, jadi nggak akan punya pikiran itu kan."
"Iya aku juga insecure sendiri sama dia pada awal pernikahan ku, karena kalau di bandingkan sama wanita-wanita temanya, mereka semua cantik-cantik. Dilihatnya kurang cocok aja dengan ku, jadi minder sendiri," ucap Elisa yang teringat.
"Elisa, kak Andre itu bukan tipe cantik dia mau, seksi dia mau. Kak Andre itu cari pendamping yang bisa dibuat kerja sama dan satu pemikiran, hingga saling mengerti satu sama lainnya. Mungkin saja kak Andre menemukan apa yang dia cari dalam dirimu, makanya dia mantep menikahi mu walaupun 1000 wanita di jodohkan denganya, dia tak akan melirik" Ucap Medina yang hafal dengan sikap Andre.
"Begitukah, kayak mbak Medina hafal sekali soal mas Andre"
"Tentu saja, bahkan waktu kuliah pernah. Cewek seksi dan populer juga si kampus, sebut saja primadona di sana, dia 3 tahun lebih tua dari kak Andre, ada sebuah kejadian di mana Andre hampir jadi korban pelecehan!"
"Heh? kok bisa!" Elisa kaget ternyata mas Andre selalu dapat perlakuan seperti itu dari wanita, itu jadi mengingat Elisa yang selalu memaksa Andre untuk melakukan hal itu.
"Cerita, tuh cewek menyatakan perasaannya ke pada Andre saat pergantian jam. Tapi, kak Andre menolaknya. Dia bilang, mau fokus belajar, apa lagi dia masih anak baru. Kak Andre menolaknya dengan baik-baik, tapi si primadona itu tidak terima di tolak, akhirnya dia menyuruh seseorang membuat Andre masuk sebuah ruangan di mana hanya ada dia dan si primadona itu. Mereka menutup semua pintu masuk dan keluar, saat kak andre masuk. Yah, kau bisa menebaknya kan apa yang terjadi selanjutnya."
"Apa yang terjadi mbak! mas Andre melakukannya?"
"Tentu saja tidak! dia mencoba bicara baik-baik dengan di wanita tapi, kayak si cewek tidak faham situasi. Bodyguard Andre langsung datang dong! aku gak tahu kalau Andre waktu itu anak konglomerat, Darah garis biru. Andre saat di temukan oleh bodyguard, sudah telanjang dadah bajunya sudah sobek sana sini. Ternyata Andre sudah di bawa pengaruh obat, perangsanggg. Jadi dia tidak sadar, apa yang di lakukan si primadona padanya, setelah itu si cewek di keluarkan dari kampus, karena telah mencemarkan nama baik kampus." ucap Medina yang menjelaskan hal itu.
"Ternyata kejadian di New York, saat sama Ariana itu bukan kejadian pertama kalinya" Dumal Elisa yang bicara pelan.
"Hah! Apa yang kamu katakan Elisa? kak Andre mendapatkan hal seperti itu lagi, wah! kalau begitu lebih dari 3x dong. Atau mungkin dia dapat lebih, soal perlakuan begitu"
"Mungkin mbak, aku gak tahu." ucap Elisa yang merasa kasihan pada suaminya.
Ternyata aku tidak tahu apapun tentang mu mas, bahkan aku belum bisa mengetahui isi dalam hatimu, dan fikiran mu. Jadi ini alasannya, kamu suka menolak ku dan sama sekali tidak merasakan apa-apa saat berada bersama ku. Kamu punya trauma selain penculikan, tapi kenapa tak pernah cerita sih mas. Kalau kayak gini, aku tak akan memaksamu. Dalam hati Elisa yang berbicara.
Andre sudah selesai membayar tagihan di restoran, setelah itu membawa bungkusan untuk Sule dan keluarga Medina di rumah. Langsung naik ke mobil Andre, duduk di depan dengan Sule dan di belakang Elisa dan Medina. Mereka sekarang terlihat sudah cukup akrab.
"Medina, dimana kau tinggal?" Tanya Andre yang tidak tahu alamat rumah Medina saat ini.
"Rumahku, di jalan Pattimura no 77 kak. Rumah lama ku, saat aku masih kecil" ucap Medina yang menjawab dengan sangat mudah.
"Baiklah, Sule kita kesana. Apakah jauh dari sini?" tanya Andre kembali.
"Tidak kak, jika sudah ada tulisan pondok indah. Kita tinggal masuk kedalam jalan itu saja, nanti juga kelihatan rumah Medina" penjelasan Medina.
Tidak kurang dari lima menit, mereka sudah sampai di depan rumah tua, dengan sangat sederhana terlihat ada anak laki-laki yang duduk di luar seperti menunggu seseorang.
"Ouh, dia menunggu ku?" Ucap Medina saat melihat putranya.
"Siapa?" Tanya Elisa sangat penasaran.
"Anakku." Jawab Medina.
"Mana?" Elisa ingin tahu.
"Itu, yang duduk di sana" menujuk anak yang sedang duduk.
"Ya ampun tampannya, sangat manis" ucap Elisa yang kagum dengan anak laki-laki.
__ADS_1
"Dia persis seperti Anton," ucap Andre yang ikut bicara.
"Benarkah? tapi ku pikir dia mirip seperti aku kak." Ucap Medina yang Protes.
"Mirip kalian berdua," Andre mengklarifikasi.
Saat mobil itu berhenti tepat di depan rumah Medina, anak kecil itu menatap aneh dengan mobil yang berhenti di depannya, lalu dia teringat dengan apa yang di katakan oleh bundanya medina, ia langsung bangkit dan akan pergi meninggalkan tempat dengan buru-buru.
Medina langsung keluar dari dalam mobil, membuat putranya tidak jadi pergi.
"Rayn, maafkan bunda. Karena datang terlambat. Mana nenek?" tanya Medina yang memanggil putranya.
"Bunda, nenek ada di dalam. Tadi Rayn mau kabur, takut mobil penculik" ucap polos Rayn.
"Eh, ternyata kamu masih ingat dengan kata-kata bunda ya sayang!" ucap Medina yang mencium puncak kepala putranya.
Andre dan Elisa langsung keluar juga dari dalam mobil, tersenyum pada kedua orang di depannya. "Anak yang pintar, kamu memang anak yang hebat" puji Andre pada Rayn.
"Bunda, paman itu siapa?" tanya Rayn sambil bersembunyi di balik tubuh bundahnya.
"Jangan takut nak, paman itu kakaknya bunda. Panggil dia om, sana salam sama om" ucap Medina menyuruh anaknya untuk memberikan salam pada Andre.
Andre hanya tersenyum karena tingkah polos Rayn, ia berjalan mendekati Rayn yang meminta salam, kedua sangat senang.
"Kak ayo masuk dulu, kalian tidak buru-buru kan?" tanya Medina yang menunggu jawaban.
"Gimana sayang? kamu mau main dulu di sini, sekalian nunggu sore!" tanya Andre yang sebenarnya sih Andre yang mau tetap tinggal.
"Boleh deh!" Elisa pasrah, karena dia tahu Andre ingin menghilangkan rasa sesaknya selama ini, setelah semua kejadian yang menimpahnya.
Andre menemui keluarga Medina, di sana terlihat ada anak balita yang baru bisa merangkang. Putri kecil Medina, baru bisa merangkang itu mendekati Andre bukan Medina.
"Loh, Lufia. Bunda di sini, kok malah kesana? sepertinya dia ingin menyambut tamu yah" ucap Medina pada putrinya, yang ingin ia gendong tapi malah tidak mau.
"Ah iya, dia namanya Lufia. Sepertinya dia lebih tertarik pada tamu di bandingkan bundanya, sedihnya aku, tidak di sambut oleh putriku sendiri" ucap Medina.
"Hallo, anak cantik Lufia. Nama ante Elisa, boleh gendong gak mbak?" ucap Elisa yang sudah gemes banget melihat putri kecil Medina.
Elisa sudah mengulurkan tangannya untuk menggendong Lufia. Tapi, tangan Elisa di tahan oleh Andre. "Ada apa sih mas, kok tangan Elisa di tahan gini" tanya Elisa yang binggung.
"Jangan menggendong ya begitu, tulangnya masih rawan dan baru saja tumbuh, bisa kekilir kalau kamu gendong begitu," ucap Andre yang mengatakan secara teori.
"Cih, gedong bayi saja harus ada aturannya. Terus apakah kamu bisa gendong bayi?" ucap Elisa yang menantang Andre.
"Elisa, Andre ahlinya kalau soal menggendong bayi dan mengurus anak, bahkan anak-anak akan langsung menyukainya walau Andre hanya diam saja" sahut Medina yang sudah kenal dekat Andre.
Andre langsung menggendong Lufia dengan sangat lembut, dan menaruhnya di pelukan. Si bayi juga seperti sangat senang karena di pelukan, tanpa sadar Andre juga tersenyum bahagia.
Cih, dia bahkan bisa tersenyum seperti itu pada anak kecil. Dia sebenarnya menyukai anak-anak kan? tapi kenapa dia selalu menolak membuatnya, dasar sok jual mahal dan munafik banget si kamu mas. Masa cuman gara-gara dia trauma sama kejadian itu dia gak mau melakukan dengan ku. Gerutu Elisa dalam hatinya, saat melihat tatapan mata Andre yang sangat bahagia.
"Tuh, apa ku bilang kan, putriku langsung seneng aja sama Andre. Dia anak yang sangat pemilih kalau soal di gendong, apa lagi sama orang asing yang baru dia kenal. Tapi, lain cerita kalau sama pawang yang ahli, lihat saat ini. Bahkan dia tidak kenal sama bundahnya, malah asik nemplok di sana" ucap Medina yang sangat senang sekali melihat itu.
"Iya, Andre Azzam Arafif. Memang serba bisa, lakukan apapun itu sudah jadi keahlian dia, dalam bidang apapun. Kecuali satu, yang dia gak bisa yaitu bikin anak. Iyakan mas!" Sindiran kuat dari Elisa membuat Andre dan Medina kaget dengan apa yang di katakan Elisa.
"Hah? Apaan sih! Yah, tentu saja aku gak bisa. Kan hanya Tuhan yang bisa bikin, bukan aku" ucap ngelesnya Andre, untuk mengalihkan pembicaraan.
"Hehehe. Elisa-elisa kamu blak-blakan banget ya, kak Andre suka bercanda. Kode keras tuh kak Andre, peka dikit napa kak. Masih aja kayak gitu, bikin wanita baper deh! Kak Andre, kalau sudah pikirkan untuk mengambil anak orang, seharusnya Kaka juga sudah siap dong! Masih saja begini" ucap Medina, yang langsung memojokan Andre.
"Ya gitulah, udahlah lupakan. Mbak, tadi aku lihat ada air terjun, airnya dari mana? perasaan di sini gak ada gunung?" ucap Elisa yang langsung mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Itu sumber mata air Elisa, cuman akhir-akhir ini banyak kontraktor yang ingin mengusir kami dari desa ini gara-gara ingin mengambil tahan lapak ini, katanya sih di sini banyak mengandung mineral dan apa gitu, jadi banyak beberapa orang sudah pindah. Gara-gara risih di gubrak-gubrak mereka," penjelasan Medina pada Elisa.
"Lah, emang ini tanah milik mereka apa?" tanya Elisa yang ingin tahu.
"Milik seseorang, tapi sudah di jual katanya. kami binggung mau tinggal dimana kalau kami pindah, walau di sini surga untuk orang-orang itu tapi di sini tempat kami berteduh" Ucap Medina yang sangat ingin tetap tinggal di sini.
"Medina, kamu ingat rumah di daerah Rambutan kan? Saat kita liburan, akhir pekan waktu sama temen-temen, waktu itu aku kan mengajak mu kesana?" diam-diam Andre menguping, walau sibuk main dengan anak-anak Medina, tapi masih sempet mendengar apa yang di katakan Medina.
"Iya kak aku masih ingat, kenapa emang kak?" tanya Medina heran.
"Jalan menuju kesana, apakah kamu masih ingat?" tanya Andre kembali.
"Iya masih ingat, tapi agak lupa sih pas persimpangan itu. Kan waktu itu aku tidur kak, anton mungkin masih inget. Kenapa emangnya kak?" Medina masih penasaran.
"Setelah Anton keluar nanti, kalian pindah saja kesana. Aku akan bilang sama Herman, kalau rumah itu, nanti akan ditempati sama kalian sekeluarga." ucap Andre yang tidak pernah sungkan untuk memberikan apa yang di punya, pada orang-orang yang membutuhkan yah.
"Hah? Nggak usah kak, jangan repot-repot begitu... Sudah banyak aku merepotkan kak Andre, aku merasa gak enak, selalu berhutang budi sama kebaikan kak Andre, berasa aku seperti memanfaatkan Kak Andre" medina yang merasa tak enak hati.
"Memanfaatkan keadaan ini akan lebih baik Medina, dari pada anakmu nanti yang akan jadi korban, aku tidak memikirkan kalian berdua. Tapi, aku memikirkan anak-anak ini, mereka harus tumbuh di lingkungan yang baik, disana juga kamu bisa menyekolahkan putramu Rayn."
"Kak, walau kak Andre tidak memikirkan kita. Tapi, aku yang terbebani dengan hal itu. Aku tidak bisa menerima ya, aku sudah banyak banyak merepotkan kak Andre," ucap medina yang sudah berkaca-kaca.
"Kau selama ini telah menganggap ku apa Medina?" Andre menatap tajam pada Medina.
"Hah? Aku menganggap kak Andre seperti kakak ku sendiri?" jawab Medina.
"Lalu apakah seorang kakak akan tega melihat adik dan ibunya menderita, hingga keponakannya harus jadi korban. Aku tidak sekejam itu, Lufia dan Rayn butuh lingkungan tumbuh kembang yang baik. Anggap saja, tempat itu sebagai hadiah kelahiran Lufia yang hebat, karena bisa hadir walau banyak rintangan" penjelasan Andre yang membuat Elisa dan Medina merasa kagum.
"Lalu bagaimana aku bisa membalas semua ya kak" medina sudah tidak bisa menahan air matanya, karena kebaikan Andre entah itu di masa lalu, atau masa sekarang. Tidak pernah berubah, selalu membuat Medina merasa bersalah.
"Jika kamu mau membalas ku, gunakan cara lain yang lebih baik. Aku sekarang tidak kekurangan apapun. Tapi, aku membutuhkan bantuan, apakah kamu mau membantuku?" ucap Andre yang menatap serius.
"Tentu saja kak aku akan membantu kak Andre sebisaku" jawab Medina dengan semangat.
"Bagus kalau begitu, nanti saat Lufia sudah bisa jalan atau sudah bisa di tinggal. Kamu, datang temui aku dengan CV dan ijasah mu. Bisakan, Medina" ucap Andre yang punya niat merekrut Medina di rumah sakit besarnya itu.
Kaget dengan jawaban itu, medina tanpa sadar langsung memeluk Andre dengan sangat cepat dan eratnya. Andre kaget dengan hal itu, Elisa hanya tersenyum tipis saat melihat betapa senangnya Medina.
"Kak Andre... Terimakasih banyak kak," Memeluk Andre dengan mendadak.
"Jangan memeluk ku seperti ini, Elisa bisa ngamuk loh" ucap Andre, takut Elisa bisa salah faham.
"Aaah- iya. Aku minta maaf Elisa, aku lupa" ucap Medina yang khilaf.
"Tidak apa mbak, lanjutkan saja. Mas kamu menyuruh ku tidak boleh kerja, tapi kenapa kamu suruh seorang ibu bekerja, lalu bagaimana dengan anak-anak nanti?" tanya Elisa yang heran.
"Ada Anton kan, suaminya. Lagian pekerjaan jaksa itu tidak setiap hari ada kasus Elisa, apa lagi. Anton punya riwayat masuk penjara, pasti akan sulit untuk dapat kepercayaan lagi. Tapi itu tidak usah di khawatir kan, nanti aku katakan pada Zacky agar dia mau menampung Anton di kantor ya" ucap penjelasan Andre.
"Terimakasih kak, aku sangat senang bisa mendengar hal itu. Tapi, kalau menunggu Anton keluar pasti 2 tahun lagi kak. Karena hukumannya selama 3 tahun, Anton baru 1 tahun di penjara" penjelasan Medina.
"Tidak, apa Medina kamu tidak usah khawatir. Dia pasti akan keluar, doa yang baik-baik dong! doa seorang istri itu manjur tahu, kamu harus doa agar suamimu bisa cepat keluar dari derita itu, agar bisa melihat putrinya yang cantik ini" ucap Andre yang mengelus-elus kepala Medina lembut.
"Iya kak, aku akan mendoakan yang terbaik untuk Anton." ucap Medina yang mulai semangat lagi.
"Nah gitu dong! baru ini namanya Medina Karisma, yang aku kenal. Demi Rayn dan Lufia, kamu harus kuat"
Bersambung...
Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya untuk beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa favoritkan...
__ADS_1
Kita akan berjumpa lagi di Episode Selanjutnya. Bye...
Kamis 28 April 2022.