Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru

Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru
121. Kisah Haru.


__ADS_3

Setelah sarapan Elisa duduk bersama mamah yang sibuk merangkai bunga-bunga yang cantik-cantik, membantunya untuk merangkai bunga-bunga itu dalam pot-pot lucu.


"Ouh! hai, sayang kamu sudah selesai sarapan?" tanya Monika pada menantunya yang baru datang itu.


"Iya ma, mama sedang apa sepertinya asik sekali yah?" duduk di sebelah mama yang sibuk memotong-motong ujung-ujung bunga.


"Sedang merangkai bunga, mana Andre? ngga lanjut pacaran" sindir mama pada Elisa.


"Hehehe! Ngga ma, nanti di ceramahi lagi sama Azril. Ouh ya ma, aku kok sudah lama yah, gak lihat papah. Sudah dua hari ini, kemana papah? ma" tanya Elisa pada mertuanya.


"Ada kok, dia di kamar"


"Kenapa kok gak pernah keluar, seperti lagi menghindari sesuatu"


"Takut sama anaknya!"


"Anaknya? Hah! Maksudnya mama, papah takut sama mas Andre? atau sama siapa mah" Elisa kebingungan dengan yang di ucapkan oleh monika.


"Siapa lagi anaknya, kan cuman satu" ujar Monika yang membenarkan akan hal itu.


"Kenapa emangnya ma, punya masalah apa si papa, sampai harus menghindar dan sembunyi begitu. Hingga takut ketemu mas Andre, sampai nggak mau keluar?" tanya elisa yang begitu sangat penasaran.


"Hahaha, mamah juga gak tahu. Elisa coba kamu bujuk papah buat keluar kamar sana, kalau sama menantunya mungkin dia mau keluar" ujar monika yang tertawa geli juga dengan sikap uring-uringan arafif itu.


"Elisa coba ya mah, tapi Elisa gak yakin mah. Boleh gak Elisa tanya-tanya dulu apa masalahnya, hingga papah ngga mau keluar?" Elisa semakin tambah penasaran dengan sikap kedua pria itu.


"Hemm- soalnya, elisa masih ragu mau tanya ini, hmm-Mah, Elisa kan nanya tapi mama janji ya gak boleh marahi elisa karena terlalu kepo" sambung Elisa yang duduknya ia rapatkan.


"Tanyakan saja sayang, kenapa kamu juga kayak ketakutan gitu sih, bilang saja. Jangan takut, mamah ini sudah jinak kok" ujar monika sambil cekikikan sendiri.


"Ma! aku mau nanya soal ANDRILOS dong! boleh nggak aku tahu soal itu ke mamah. Karena aku berfikir keras pun aku tak menemukan jawabannya, dan jalan keluar, jadi percuma aku memikirkan yah seharian ini, sampai mamah harus mencari kami tadi pagi itu karena aku berfikir soal ANDRILOS, jika aku tahu soal ANDRILOS, mungkin saja aku dapat memecahkan masalah antara papa dan masku, itu adalah penyebab dari ke retakan hubungan mereka"


"Kamu bener juga Elisa, huh! Mama mulai dari mana yah" sempat berfikir sejenak untuk mengingat.


"Memang kisahnya panjang ma, sampai mamah binggung mau mulai dari mana?" ujar elisa yang kebinggungan.


"Iya Elisa, mungkin kalo di bukukan bisa sangat tebal, dan jika di film kan mungkin akan berepisod-episod. Aah- mulai dari situ saja"


...—***—...


^^^👉🏻Flashback!^^^


^^^💫20 Tahun yang lalu^^^


...🕛...


...🕛...


...NEW YORK, 8 Januari. Pukul, 09.00 pagi....

__ADS_1


Seorang anak kecil menangis di tengah hujan salju, dengan darah yang mengucur dari kepala membasahi dahinya, tanganya mengepal karena menahan rasa sakit, dan hawa dingin yang menusuk-nusuk sampai ketulang-tulang.


"Mama-Papa" Suara hampir hilang, karena sudah tidak tahan lagi, ia juga kelelahan dan menahan rasa lapar, tak lama anak itu akhirnya roboh juga, di pinggir jalan yang berselimut salju, tidak lama ada polisi lalu lintas sedang patroli di jalan itu.


Disisi lain kantor polisi setempat, seorang ibu yang marah-marah disana, karena terpisah dari putranya yang baru saja merayakan ulang tahunnya, dan baru genap usianya yang ke-7 tahun, sedang berlibur keluarga, tapi malah dapat musibah seperti ini, ia harus terlepas dari genggaman orang tua.


"Putraku, dimana putraku. Dia putaraku, di mana putraku. Kak, anak kita, aku tak bisa menjadi mama yang baik untuknya, cepat kak. Cari dia kak, dia belum makan. Apakah sudah minum atau tidur, kak aku tidak tahu keadaan dia—" suara di selangi dengan tangisan.


"Tenanglah monika, Alzzam pasti ketemu. Dia anak yang kuat, pasti dia akan baik-baik saja" seraya memeluk istrinya yang sudah gusar karena menahan kesedihan.


POLISI : Nyonya tenang lah, anda bisa berbahasa English. Bicara bahasa Inggris, kami tak faham


ARAFIF : Maafkan kami telah membuat keributan disini pak. Pak, putra kami berusia 7 tahun, kami kehilangan dia di taman kota, saat kejadian ******* itu datang. Tolong temukan putra kami pak, dia putra kami satu-satunya


POLISI : Anda tenang lah dulu, kami akan mencari informasi yah, anda duduk dulu, kami akan periksa area sekitar


"Kak, jika terjadi sesuatu pada Alzam aku tidak akan pernah memaafkan diri ini, aku- aku belum siap kak. Jika aku juga harus kehilangan Alzam" ujar monika muda, yang terseduh-seduh di pelukan suaminya.


"Aku juga tidak akan sanggup jika seperti itu, aku juga akan membalas! jika terjadi sesuatu padanya" ujar arafif yang menenangkan monika.


"Apakah akan terjadi sesuatu padanya? Kak, aku belum siap! Jika aku harus kehilangan seorang anak lagi, dia satu-satunya harapan kita, dia juga adalah masa depan kita untuk hari tua kita nanti, jika-jika kita juga kehilangan dia. Lalu bagaimana kita akan hidup kedepannya, Kak! cepat temukan dia kak. Kita, tidak boleh kehilangan dia! Tidak, kita tidak bisa tinggal diam saja di sini" ujar monika yang mulai bangkit.


"Tenanglah Monika, dia pasti akan baik-baik saja, anak kita adalah anugerah dan takdir yang dikirim oleh Tuhan untuk kita, walau dia titipan yang berharga, kita tidak bisa kehilangan dia juga" ujar arafif yang seakan sudah frustasi.


(Jika seandainya aku pergi dengan membawa aset ku, mungkin kami tidak terlantar seperti ini, aku akan merebut kembali apa yang sudah kalian rebut dari kami, aku tidak akan melepaskan kalian keluarga ANDRILOS! Kalian telah membuat kami seperti ini, tunggu pembalasanku suatu saat) gerutu Arafif yang penuh amarah.


POLISI : Nyonya, Tuan. Saya dapat kabar, jika temen kami dari kantor pusat, telah memberi informasi menemukan seorang anak kecil, tapi dia sedang menjalani operasi di rumah sakit kota


MONIKA : Pak, apakah anak itu mengunakan pakai kardigan dan kaos hitam, dan wajahnya sangat manis, berkulit putih bermata biru toska


POLISI : Maaf, nyonya saya juga kurang tau ciri-cirinya, mendingan anda mengecek sendiri anak itu. Apakah benar anak nyonya dan tuan atau bukan, mari saya antar


"Kak, apakah Alzam, putra kita atau bukan. Apakah putra kita baik-baik saja, kak kenapa diam saja" Ucap Monika yang sengat panik.


"Kita belum tahu, mendingan kita mengecek saja secara langsung kesana, semoga dia baik-baik saja dan semoga saja anak kita juga segera di temukan, jika dia adalah anak kita semoga dia tidak apa-apa. Alzam anak yang kuat, kamu harus percaya itu" ujar Arafif menenangkan istrinya, walau dalam benak juga berkecamuk, tidak karuan


^^^⭐1 Minggu kemudian^^^


Terlihat dua pria di sebuah tempat tertutup, hingga seekor nyamukpun juga tidak bisa masuk. Ruangan khusus untuk membicarakan hal-hal yang rahasia.


"Kamu harus lebih hati-hati lagi, karena mereka sedang mengincar putramu, jika mereka menemukannya. Dia akan jadi bahan untuk perdebatan klan, menginginkan anakmu. Para anggota asosiasi juga ingin anakmu, jika mereka memperebutkan putramu, apa yang akan kau lakukan, ARAFIF aku hanya menyarankan untuk keselamatan anak semata wayangmu yang susah payah kamu dapatkan itu, jika mereka tahu soal anak itu, mereka akan membawanya tapi, hanya bisa memanfaatkan anak itu. Jika putramu di cuci hanya untuk di kendalikan" ujar seseorang.


"Lalu aku harus bagaimana? untuk menyelamatkan mereka berdua, putraku terlalu mencolok untuk di sembunyikan, apa lagi dia anak yang sangat aktif" ucap arafif yang tidak tahu harus bagaimana.


"Sebaiknya kamu pindahkan dia dari negara ini, karena tempat ini tidak aman, untuk anak dan istrimu. Kau tahu, ke-6 anakmu bagaimana bisa gugur. Itu semua perbuatan kakak iparmu yang menginginkan kalian tidak memiliki keturunan, hingga dia mau menguasai ANDRILOS" Ujarnya seraya menekankan.


"Sebenarnya, aku tidak menginginkan grup itu. Kami hanya mau hidup damai, tapi kami juga hanya mau minta hak sebagai anggota keluarga. Setidaknya untuk memberikan kami sedikit, aset hanya untuk tinggal dan makan"


"ARAFIF, aku tahu kesusahanmu. Sebaiknya jangan, karena itu percuma, mendingan kamu cepat pergi dari sini karena semuanya akan-sia-sia sebelum ter—" belum sempat itu di katakan Monika sudah berlarian menuju tempat dimana suaminya berada.

__ADS_1


Menggedor-gedor pintu, dengan gusar dan kasar. Arafif kaget, ia langsung membuka pintu tersebut di lihat Monika sudah menangis tersedu-sedu.


"Kak, kak! Alzam kak, Alzam? Dia, anak kita—dia telah. Telah di culik kak, cepat cari dia kak!" Ucap Monika yang lemes sekali ia terduduk di lantai.


DEG!


Seperti pukulan hebat dalam benak Arafif, ternyata penderita itu belum juga berakhir sekeras apapun ia bangkit, lagi-lagi mereka harus jatuh dan menelan rasa yang sama.


"APA! JANGAN BERCANDA MONIKA!" Ujar Arafif tak mempercayai penuturan apa yang di katakan oleh Monika itu, walau dia sudah nangis-nangis di kaki Arafif.


"Untuk apa aku bercanda, ini nomer si penculik! Alzam. Mereka menginginkan kamu datang, mereka bilang hanya ingin kau saja yang datang, untuk menemui mereka, jangan libatkan polisi atau orang lain" Ucap Monika.


"Apa! Siapa dia, beraninya menelfon kemari, Monika bangun lah, Monika kamu percaya padaku kan? kita akan selamat putra kita" Ucap Arafif yang membangunkan Monika yang terduduk itu.


"Iya kak. Kak, si penculik menelfon lagi, bagaimana ini" Monika menujukan hpnya.


"Arafif, kita pergi sekarang sebelum terlambat" Ucapnya, yah dia adalah pengacara sekaligus teman baik Arafif.


Jordan Henderson, pengacara sekaligus temen baik Arafif ini satu-satunya yang menangani kasus tersebut, Arafif tidak mempercayakan kasus apapun pada siapapun, dia sudah di anggap pengacara pribadi, hingga pembuat akte baru nama Alzam menjadi Andre.


...—***—...


...Selesai...


Monika menjelaskan, dan menceritakan tentang keadaannya semua yang di alami Andre saat masih kecil dengan sangat detail, hingga Andre pernah meregang nyawa, karena dia harus jatuh dari ketinggian. Ada orang bayaran untuk percobaan pembunuhan, orang itu suruhan oleh Kaka ketiga Monika yang selalu ingin Monika tak pernah bahagia. Elisa hanya bisa mendengarkan semua itu dengan baik, Elisa sampai menitikkan air mata saking sedihnya kisah itu.


Hingga saat Andre 8 tahun, barulah dia bisa bahagia karena akhirnya Andre bisa ketawa dan bisa tersenyum kembali, seperti dulu. Walau senyuman itu gampang memudar, dan bayangan gelap selalu menghantuinya. Rasa kasihan terhadap putranya tidak seperti dulu lagi, akhirnya Arafif dan monika mengunakan cara lain agar putranya melupakan masa pahitnya itu, agar tidak menjadi trauma baginya, menggunakan Hipnoterapi secara teratur.


"Jadi gitu sayang ceritanya, itu belum selesai. Penderita kami belumlah benar-benar berakhir, setelah keluar dari Kerajaan ANDRILOS, kami harus rela mengorbankan semuanya, dan harus rela kehilangan semuanya, seperti tempat tinggal yaitu rumah, dan aset lainya, tapi itu tidak masalah bagiku, karena harta bagi kami bisa di cari, tapi Andre! Andre adalah malaikat bagi kami, dialah sumber kebahagiaan kami. Jadi kami rela melakukan apapun untuknya, walau papah itu terlihat cuek, dan tidak terlalu peduli, sebenarnya dia lebih sensitif di bandingkan denganku" Penjelasan Monika.


"Begitukah, iya sih papah emang tidak pernah menujukan jika dia peduli tapi, dia menujukan secara diam-diam" Ucap Elisa yang seraya menghapus air mata yang dari tadi mengalir deras terus.


"Bahkan saat Andre pernah di culik berulang kali, sebelum mengganti nama dan menghapus semua data dan file profil Andre sebagai pangeran ANDRILOS, di Buku silsilah keluarga ANDRILOS. Barulah setelah kejadian itu, 1 Minggu setelah kejadian Andre Menganti nama dan semua. Kami pindah ke negara yang agak aman, tapi tetep saja masih banyak orang yang mengincar Andre, dan menginginkan Andre untuk... Untuk mati"


"Astaghfirullah, kok gitu mah kejam sekali mereka" Elisa kaget dengan penuturan itu, sampai gak mampu melanjutkan kata-kata nya.


"Selama ini Andre selalu dalam pengawasan kami, bahkan saat dia jauh dari kami. Saat kuliah hingga magang di jalur perang pun, dia tetap dalam pengawasan kami. Ya walau di bilang kami orang tua yang over protektif terhadap anak, tapi kamu bisa faham kan apa yang kami lakukan selama ini hanya untuk Andre tetap hidup dan baik-baik" Ujar Monika menggenggam erat jemari Elisa


"Walau, Andre kadang mengatakan jika dia seperti boneka bagi kami. Itu semua tidak benar, mungkin itu hanya pemikiran dia karena kami terlalu banyak mengatur, bahkan kami yang menginginkan dia jadi dokter. Walau dulu Andre punya cita-cita jadi pilot, dan arsitek. Arafif tidak mau Andre itu terlibat dalam keluarga Andrilos lagi, itu sebabnya kami cukup takut untuk mencoba melepaskan Andre. Kami cukup bersyukur, karena Andre memilih wanita yang tepat baginya, saat dia memutuskan untuk menikahi mu. Awal aku ragu, karena khawatir terjadi apa-apa denganya, apa lagi dia tidak tahu jelas tentang dirimu. Tapi dia terus saja menyakinkan ku untuk mau membuatmu jadi wanitanya, dan itu pertama kalinya dia meminta dengan sungguh-sungguh. Jadi Elisa tolong maafkan kami, dan maklumi lah orang tua yang sudah banyak kehilangan 6 anaknya" Ucap Monika yang nangis-nangis itu.


Tanpa pikir panjang Elisa memeluk mamahnya, Elisa juga ikut menangis gara-gara cerita yang mengharukan itu. Dua wanita yang sama-sama menangis, membuat mereka akhirnya faham satu sama lain.


"Iya, ma. Makasih yah sudah susah payah melahirkan, merawat, melindungi dan mempertahankan masku hidup sampai sekarang. Usaha mama dan papah tidak akan sia-sia, dia memang orang yang kuat" Ucap Elisa menghapus sisa air mata mamah yang masih belum kering di pipinya.


BERSAMBUNG ...


Terimakasih atas kunjungan Anda ke cerita saya jangan lupa untuk like, share dan masukan komentarnya...


Jangan lupa follow athour dan masuk ke grup saya ditunggu kedatangannya.

__ADS_1


Selasa 25 Januari 2022.


__ADS_2