Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru

Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru
179. Menjadi Sandera.


__ADS_3

Berada di dalam mobil. Dimana Elisa sedang berfikir sangat keras, memikirkan cara agar bisa keluar dari masalah sekarang ini, dengan aman dan nyaman terbebas dengan baik-baik. Tapi, pengawasan yang begitu sangat ketat bagaimana elisa bisa kabur dan terbebas dari cengkraman si pria asing.


"Dari tadi kita ngobrol, kenapa kamu belum menyebutkan namamu. Katanya kamu ingin memberi tahu soal namamu, kok sampai detik ini kamu tidak memperkenalkan dirimu" ucap Elisa yang membuka pembicaraan agar tidak hening, untuk membuat cela agar mengetahui tentang keadaan bisa lolos atau tidak.


"Ouh! Begitukah, apakah anda sangat ingin tahu dan penasaran dengan siapa nama aku?" ucap si Pria asing.


"Nggak juga sih. Tapi, aku susah untuk memanggilmu, jika aku tidak tahu namamu kan. Masa aku harus memanggilmu saudara kembar dari dokter junlion, kan nggak Ektis banget" ucap Elisa yang menatap pada pria asing.


"Hahaha ternyata anda sangat lucu juga ya," entah kenapa si pria ini, saat melihat wajah Elisa yang sangat manis saat mantapnya. Hatinya terasa agak aneh.


"Jadi siapa nama anda? tuan!" ucap Elisa yang wajah kesal.


"Namaku Junno Verdheter. Nona Elisa, apakah bisa memanggil nama Junno saja, jangan pakai Tuan." ucap Junno.


"Aah... Jadi sama-sama nama depannya Jun yah, ya namanya juga anak kembar pasti sama persis" ucap Elisa yang berfikir.


"Tentu saja beda lah, aku juno bukan junlion." ucap Junno yang keras tidak mau di samakan dengan saudara kembarnya.


"Dokter Junlion itu kakakmu atau adikmu, kan biasa anak kembar siapa yang keluar lebih dulu adalah kakaknya?" ucap Elisa yang menatap sangat penasaran dengan Junno.


DEG !


Karena Elisa membalikan tubuh dengan tiba-tiba, hingga membuat tubuh mereka agak dekat, Junno yang awalnya sangat ingin menekan Elisa, dan ingin membalas dendam atas kematian ayahnya Xenia Zenus. Entah kenapa saat melihat Elisa semangat yang awalnya itu sekarang sedikit berubah.


"Aku kakaknya," ucap Junno membuang mukanya menghadap ke jendela kaca mobil.


"Ouh! pantas saja, kamu sok berkuasa ya, beda sekali dengan Dokter Junlion yang ku kenal. Yah, sikap anak kembar memang ada saja perbedaan ya." ucap Elisa yang menatap ke depan.


"Memang dia seperti apa?" Junno penasaran dengan penilaian Elisa terhadap saudara kembarnya.


"Dokter Junlion memang sangat narsis, sama halnya sepertimu. Tapi, dia juga punya kecendrungan tersendiri dan tahu batasan dimana dia harus berhenti, orang juga mau minta maaf lebih dulu, walau dia tidak bersalah. Sangat beda dengan anda yang salah tapi tidak mau di salahkan" ucap Elisa yang melipat tanganya kedepan.


"Apakah aku seperti itu di matamu, wah! anehnya kenapa aku tak bisa marahnya. Apakah karena yang di ucapkan kamu semua benar," ucap Junno yang tersenyum menyaring.


"Iya sepertinya begitu, karena alami seseorang yang melihat itu cukup jelas tapi kamu yang memiliki tubuh tak akan sadar, jika dirimu salah" ucap Elisa yang raut wajahnya berubah menjadi serius.


"Anda cukup jeli juga ya, hingga detail saat mengomentari tentang penampilan ku saja" ucap Junno yang tersenyum sinis.


"Ngga juga, itu hanya penilaian ku secara singkat. Kan kita baru bertemu, jadi aku gak bisa melihat secara ke seluruh dirimu" ucap Elisa yang masih berusaha mengambil pistol di samping Junno.


"Begitu kah?" ucap Junno yang agak frustasi mendengar hal tersebut.


"Lalu boleh ku tanya sesuatu pada anda, jika anda tidak ke beratan?" tanya elisa yang saat ini menatap tajam.


"Apa itu? katakan saja" ucap Junno yang menyetujui permintaan Elisa.


"Selama ini siapa kah yang selalu meneror kami, dengan mengirimi kami paket-paket aneh? dengan isi surat mengancam. Apakah itu anda atau ada orang lain di baliknya?" tanya Elisa yang sangat serius dengan apa yang ingin dia tanyakan.


"Hahaha... Ternyata anda sangat penasaran yah" Junno tertawa terbahak-bahak saat mendengar hal itu.


"Yah tentu saja itu sangat mengganggu ku, jadi katakan dengan sebenarnya. Apakah tujuanmu mengetes kami, atau kamu ingin aku katakan bahwa kamu telah mencelakakan orang" ucap Elisa yang berpura-pura menjadi bodoh kembali.


"Sebenarnya semua itu adalah rencana dari ku, aku menyarankan malah lebih kejam dari itu, maunya ku pakai darah manusia asli. Tapi junlion walau dia seorang dokter malah tidak berani untuk melakukan dengan darah manusia asli, itulah yang membuat rencana ku gagal" ucap Junno yang menjelaskan secara rinci.


Kurang ajar nih orang, emang psikopat banget. Aku tahu Dokter Jun gak akan mungkin melakukan hal seperti itu, dia terlalu lembut walau kadang dia sangat menyebalkan. Dumal dalam fikiran Elisa.

__ADS_1


"Jadi apakah maksudnya, anda adalah dalang di balik semua ini?" tanya elisa yang sangat penasaran.


"Ya awalnya adalah aku, yang hanya ingin Andre merasa tertekan dengan semua kiriman tersebut, itu akan lebih mudah menghancurkan mentalnya. Lebih mudah menghilangkan rasa percaya dirinya, dengan membuat tulisan dan mengemas semua benda-benda aneh itu" ucap Junno yang dengan bangga tanpa berdosa ia mengatakan ya.


Nih, orang belum pernah makan bangku sekolah apa ya, rasanya ingin aku pukul tuh muka. Tanpa merasa bersalah dia dengan bangga mengatakan semua yang dia lakukan, wah didikan kurang baik. Dumal pikiran Elisa kembali.


"Lalu siapa yang selalu mengirimi kami paket-paket itu hingga sampai di rumah sakit tanpa ketahuan oleh cctv di rumah sakit?" ucap Elisa yang ingin tahu segala-galanya, tentang semua rencana kurang ajar itu.


"Awalnya orang suruhan yang ku kirim untuk meneror kalian saat ada di rumah, tapi saat di rumah sakit itu adalah junlion. Aku yang ada di monitor cctv agar aksi Junlion tidak ketahuan, begitulah. Bagiamana aksi kami keren kan, kamu pasti terkesima dengan ku" ucap Junno yang narsis keluar.


"Narsis kau, lalu sekarang dimana dokter junlion? apakah dia ikut juga dengan mu atau masih terlibat dalam masalah rencana mu yang lainnya" tanya Elisa, yang berfikir jika Junlion sekarang ada di tempat Andre untuk mengawasi pergerakan Andre.


"Hahaha... Sepertinya aku sudah terlalu banyak memberikan informasi yah. Wah! tanpa sadar mulutku malah membicarakan sesuatu yang tak seharusnya kau tahu, anehnya kamu ini memiliki kemampuan untuk menghipnotis orang ya" ucap Junno yang baru saja sadarkan diri.


Sesampainya di suatu tempat dimana terlihat banyak sekali orang-orang bersenjata, mengelilingi Andre dan di setiap sisi dan sudut semua ada hingga penembak jarak jauh pun ada pokoknya sangat lengkap. Hingga sangat ketat pengawasan dan pengawalnya, Elisa semakin dibuat down tak bisa berfikir seperti pupus semua harapan ya.


Tapi tiba-tiba saat melihat suaminya di ikat dan tawan itu semangat yang tadi hilang kini muncul lagi. Ada orang yang membuka pintu mobil untuk Elisa, saat Junno keluar. Memperlihatkan pada Elisa jika Andre ada di bawa sana, Elisa agak geram.


"Itu dia, kamu bisakan melihat suamimu yang tampan itu kan, lihat dia sedang sangat menikmati sekali menjadi tawanan ya" ucap Junno yang dengan bangga ya memperlihatkan itu pada Elisa.


"Iya kau benar, masku seperti sangat senangnya dengan menjadi tawanan di sana." ucap Elisa yang langsung menatap manja pada Junno walau di lubuk hati yang terdalam sangat marah dan ingin sekali memukulnya.


JONSON : Tuan anda sudah datang, lihatlah dia sudah tidak bertenaga.


JUNNO : Bagus, apa saja yang kalian lakukan hingga dia diam saja?


JONSON : Kami hanya memberikan pelajaran sedikit padanya, walau awalnya dia sempat melawan. Tapi, kami langsung saja menakan dengan kata-kata soal istrinya, akan dalam bahaya jika dia melawan


JUNNO : Lalu bagiamana reaksi ya, apakah dia melawan lagi setelah itu?


JUNNO : Begitukah bagus, dia memang seperti itu sejak dulu...


Elisa kepikiran sesuatu, walau ide itu agak gila dan mungkin akan membahayakan dirinya. Elisa tidak peduli akan hal itu, ia rela menukar keselamatan dirinya untuk menyelamatkan andre.


"Tuan Juno?" Elisa membalikan tubuh menghadap Junno yang sedang bicara dengan jonson tersebut.


"Ada apa?" Junno langsung meladeni Elisa yang wajahnya saat ini penuh dengan semangat sekali.


"Aku juga mau dong!" ujar Elisa yang saat ini seraya memohon pada Junno.


"Kamu mau apa?" ujar Junno kebinggungan dengan apa yang di katakan oleh Elisa.


"Tuan junno, aku juga mau jadi tawanan. Tapi, aku nggak mau seperti itu, jangan di ikat kayak begitu, cukup menyandera ku saja gimana dan jangan gunakan senjata api juga, aku sangat takut dengan benda tersebut" penjelasan dari Elisa.


"Hah? kamu ini adalah satu-satu wanita yang paling aneh, yang pernah ku kenal" ujar Junno yang heran kok ada wanita yang mala terobsesi sekali ingin menjadi tawanan, bahkan wajah begitu sangat senang begitu.


"Kamu mau nggak bantu aku, karena aku ingin jadi tawanan kamu juga seperti dia" ujar Elisa yang menujuk ke arah Andre.


"Ini pertama kali ada wanita yang ingin menjadi sandra, kamu ini unik banget sih Elisa, biasanya banyak yang menghindar dan lebih cenderung tidak mau jadi tawanan. Namun, kenapa kamu malah menginginkannya." ujar Junno yang sangat penasaran dengan alasan Elisa yang sangat ingin sekali menjadi tawanan.


"Apa yang aneh, aku hanya tidak bisa melihat Andre menikmati menjadi sandra sendirian, itu alasanku. Jangan kamu gunakan pistol ya jika ingin menyandera ku, tapi... Hmmm- pake apa yah yang lebih dramatis... Aaaah- Pakai ini saja, cepat pegang itu" ujar Elisa yang menujuk sebuah belati yang terpasang di sabuk Jonson.


"Kamu ingin aku menyandera mu pakai ini begitu? Tapi ini belati, apakah kamu yakin?" ujar junno yang sangat terkejut dengan permintaan Elisa tersebut.


"I-iya emang salah yah? tapi ingat kamu jangan terlalu keras untuk menekan leherku ya, hingga mengeluarkan darah, apa lagi menggores luka di leher ku, kau janji?" ujar Elisa yang mengeluarkan jari kelingkingnya.

__ADS_1


"Baiklah," Junno mengaitkan jari kelingkingnya di jari kelingking elisa.


JUNNO : Jonson berikan belatimu, dia gadis yang benar-benar aneh dan sangat bodoh. Dia malah menawarkan nyawanya sendiri, dengan menjadi tawanan


JONSON : Dia memang gadis yang sangat bodoh tuan, silakan ini belati yang anda minta


Ucap Jonson dengan senyuman yang sangat senang dan penuh dengan kemenangan, akhirnya mereka jalan untuk menuruni tempat, dengan jalan ke anakkan tangga yang sudah di paplingblok tersebut.


"Andre, lihat istrimu" teriakan Junno seraya menyandra Elisa.


Kaget saat melihat istrinya malah jadi sandra. "Mas Andre... sayangmu ini malah jadi korban tawanan, tolong aku sayang!" ucap Elisa yang pura-pura minta tolong.


"Elisa—" Kaget ingin langsung pergi untuk menyelamatkan istri ya, tapi tubuhnya yang terikat tidak bisa bergerak.


"Ouh! Tenang saja, aku tidak akan menyakiti dia kok, asal kamu mau menuruti perintah ku. Maka aku akan melepaskan dia, bagaimana apakah kamu setuju. Tuan Alzam?" ucap Junno yang memberikan penjelasan.


"Sebenarnya apa mau mu, kenapa kau menawan ku dan Elisa? Kamu, kamu siapa?" ucap Andre yang tidak mengenali siapa sosok pria asing ini.


"Mas Andre, dia Junno. Saudara kembar ya Dokter Jun, dia datang kesini katanya mau kamu menyesali perbuatan mu yang telah membunuh ayahnya." Ujar Elisa yang berteriak untuk menjelaskan tentang keadaan, seraya memberikan kode agar Andre jangan terlalu khawatir.


"Elisa, biar aku saja yang memberi tahu soal itu pada Andre. Kau sudah dengar bukan, tapi ada syarat lainnya yang ingin kau juga harus serahkan. Yaitu soal ANDRILOS, berikan tahta itu juga padaku, maka istrimu akan selamat." ucap Junno yang menegaskan tujuannya.


"Tidak akan ku biarkan kau mendapatkan ANDRILOS," ucap Andre yang sangat geram.


"Baiklah, jika seperti itu bersiaplah kau harus melihat mayat istrimu di depan matamu" ucap Junno yang langsung menekan belatinya hingga membuat leher Elisa berdarah, karena kesal tanpa sadar dia menggoresnya.


"Aaah- aaaduh... Hey! Kau ini. Katanya tidak akan mengunakan terlalu kuat, ini terlalu kuat lihat aku sampai berdarah. Kamu telah melukai aku, Junno kau dengar tidak" ucap elisa yang tanganya sekarang sudah mengepal. Bersiap akan menggunakan bogeman itu untuk memukul, wajah pria brengsek tersebut.


"Maaf! kita harus dramatis. Jika hanya menekan dia dengan kata-kata saja itu tidak efektif. Akan tetapi, dengan cara ini kita akan mengetahui, seberapa cinta kah suamimu kepadamu?" alasan Junno pada Elisa.


"Alasan yang masuk akal, tapi kalau di pikirkan suamiku itu sangat mencintai aku" ucap Elisa yang percaya diri.


"Baiklah, kita akan tahu jika dia beneran mencintai mu atau tidak. Dia pasti akan setuju dengan persyaratan ku tadi, jadi kita tunggu" ucap Junno yang membela dirinya.


"Tapi, kamu telah melukai aku" ucap Elisa yang sangat geram dengan sikap Junno.


"Ini itu agar berasa bener-bener dramatis, kamu pernah nonton drama aksi kan?" ucap Junno yang menjelaskan pada Elisa.


"Tentu saja, tapi semua itu bohongan darah yang keluar dari tubuh para aktornya, sedangkan posisi kita saat ini. Walau berpura-pura, tapi kenapa yang keluar ini darahku beneran tahu" ucap Elisa yang jengkel.


"Diam lah! Aku masih punya perjanjian dengan dia... Bagiamana Andre? kau pilih yang mana. ANDRILOS atau istrimu!" ucap Junno yang menekan.


"Hentikan kekonyolan mu ini Junno, akan ku berikan ANDRILOS padamu. Tapi, lepaskan dia dulu" ucap Andre yang sudah kalang kabut.


"Wah! Dia begitu sangat mencintai mu ya, aku jadi semangat nih untuk—" ucapnya berhenti saat melihat tatapan mata tajam milik Elisa.


"Kan sudah ku bilang, jika suamiku sangat mencintai ku. Kau tidak percaya," ucap Elisa yang bangga dengan perasaannya.


"Baik akan ku lepas, tapi setelah kau benar-benar membuatku menjadi seorang pemimpin di ANDRILOS" Junno yang sangat berkeinginan menjadi pemimpin penerus ANDRILOS.


Bersambung...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya untuk beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa favoritkan...


Kita akan berjumpa lagi di Episode Selanjutnya. Bye...

__ADS_1


Sabtu 16 April 2022.


__ADS_2