Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru

Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru
132. Flash Play.


__ADS_3

Berada di sebuah ruangan santai, dimana sangat indah sekali pemandangannya dari dinding kaca. Brandon, dan elisa telah sampai di sana, satu tempat yang menyejukkan mata, tak bisa di pungkiri tempat yang sangat dekat dengan alam, hening dan sangat sejuk untuk ketenangan dalam batin. Tempat terfavorit bagi pria tua untuk menemani masa-masa senja ya, yang selalu kesepian.



Sangat cantik, Elisa mengagumi tempat santai dari orang-orang kaya itu, termasuk rumah yang di tinggali Brandon, tanpa sadar karena matanya terlalu fokus, menatap kesana-kemari hingga ia menubruk punggung brandon.


Brukk!


"Aaah, maafkan aku daddy, aku terlalu terpesona hingga tidak melihat jalan, dan malah menabrak daddy" ujar elisa sangat malu karena itu.


"Tidak apa-apa putriku, lagi pula itu tidak di sengaja. Silakan duduk, inilah tempat santainya, bagaimana?" tanya brandon.


"Bagus, sangat bagus dan sangat indah" ujar elisa yang melihat pemandangan di luar sangat indah.


"Syukurlah jika kamu suka, dulu tempat ini adalah tempat favorit istriku, dia suka sekali berkebun, dan suka sekali menanam berbagai macam tanaman, entah itu tanaman hias atau sayuran ini-itu" ujar brandon yang menjelaskan.


"Wah, pasti mommyku itu sangat cantik dan sangat anggun sekali, seandainya mommy masih hidup ingin sekali belajar banyak darinya, kenapa mommy cepat sekali perginya" Ucap Elisa yang mendumal sendiri.


"Ha-ha-ha, kamu berfikir begitu? istriku jauh dari kata anggun, bahkan dia seperti laki-laki, sangat tomboy. Yah sangat di sayangkan, istriku tidak disini. Apakah kamu tahu, saat Rubia ingin menjadi seorang ibu. Barulah dia berubah menjadi wanita yang begitu sangat feminim, dia ingin mengubah semua kebiasaan agar tidak mau di salah anggap oleh anak kami nantinya" ujar brandon yang mengingat semua kenangan indah bersama istrinya.


"Hemm, apakah daddy punya fotonya, aku ingin tahu mommyku" ucap Elisa yang begitu sangat penasaran.


"Tentu saja ada, Ken. Tolong ambilkan foto albumku, ada di laci sebelah sana" ujar brandon.


Brandon menujukan semua koleksi foto-foto Rubia, pada Elisa. Istri brandon ini, memiliki mata yang sama dengan andre, berambut coklat, berkulit putih bersih, sangat cantik, bibir yang sama dengan Andre.


"MasyaAllah, mommyku sangat cantik, matanya berwarna sama dengan mas andre, dan senyum juga sangat mirip dengannya, daddy. Apakah daddy sangat merindukan mommy" tanya elisa.


"Iya, tapi aku juga rindu putraku. Tapi, aku tak bisa memeluknya atau menyentuhnya, kadang untuk melihatnya saja aku sudah senang" ujar brandon pilu rasanya anak sendiri, terasa orang asing.


"Daddy, ceritakan bagaimana? bisa mas Andre bersama papah, lalu siapa papah?" ujar elisa yang penasaran dengan kisahnya.


"Ah, benar juga aku sudah berjanji akan menceritakannya. Hm- aku mulai dari mana yah?" ujar brandon kebinggungan.


"Awal daddy bertemu papah saja bagaimana, aku ingin tahu hubungan seperti apa antara daddy dan papah, hingga daddy mempercayakan mas andre pada papah" Ucap elisa yang sangat penasaran.


"Jadi putriku sangat penasaran soal pertemuanku dengan arafif, bukan dengan rubia" ujar brandon yang agak kecewa.


"Ha-ha-ha, yasudah lah terserah daddy mau cerita pertemuan daddy dengan mommy juga nggak apa-apa" ujar elisa yang pasrah saja lah.


"Hahaha, tidak! karena putriku mau mendengarnya, baiklah biar aku ceritakan, sejak awal aku bertemu dengan Arafif hingga kenapa Alzam bisa bersama dengan Arafif" Ucap Brandon.


"Iya aku mau dengar!" ujar Elisa antusias.


"Aku bertemu dengan Arafif tidaklah sengaja, waktu itu kami masih duduk di bangku sekolah menengah keatas, di study high school. Waktu itu, aku sedang di keroyok beberapa kakak kelasku karena tidak memberikan jatah uang jajan untuk beli obat-obatan, atau yang di kenal narkoba" Ucap barandon.


...🕛...


...🕛...


...🕛...


...SIN BERPINDAH...


...FLASHBACK...


Di gang kecil, seorang remaja di keroyok beberapa remaja lainnya, ia sudah babak belur dengan darah yang sudah keluar dari hidung, mulut dan pelipisnya. Lalu tak lama, tiba-tiba ada bunyi sirine begitu sangat nyaring, mereka langsung kebirit-birit kabur. Datanglah Remaja berpakaian sangat lusu, berkacamata tebal dia lebih pendek dari remaja yang sudah tak berdaya di sudut gang itu.


ARAFIF : Kau tidak apa-apa?...


BRANDON : Kau siapa? kenapa kau menolongku.


ARAFIF : Hanya sekedar lewat saja, tidak usah kau pikirkan, mari ku bantu berdiri


BRANDON : Iya, kau tak perlu repot-repot untuk menolongku, tapi saya ucapkan terimakasih


ARAFIF : Ouh, kau bisa berkata terima kasih juga. Ku pikir kau tidak tahu caranya


Arafif menopang tubuh Brandon yang tinggi dari dirinya, ia membawa Brandon untuk pengobatan.


BRANDON : Hah? tentu saja aku tahu, bagaimana aku tidak tahu kata itu, apakah kau mengenalku?


ARAFIF : Tidak! aku tidak kenal kau


BRANDON : Lalu kenapa kau repot-repot menolongku, dan mengatakan hal tadi


ARAFIF : Ya, aku hanya sekedar lewat saja. Tak ada maksud lainnya, aku mengatakan hal tadi karena rata-rata orang elit seperti mu, tak tahu bicara kata itu


BRANDON : HAHAHAHA, itu bukan aku


ARAFIF : Iya-iya-iya kita lihat saja, apakah benar begitu

__ADS_1


Sampai di ruang rawat kesehatan, mereka telah langsung disambut oleh penghuni di sana. Kaget, saat melihat Brandon putra pewaris grup besar itu malah terluka parah, dokter rawat itu langsung berlari menanganinya. Setelah mengantar Brandon, Arafif malah pergi dari sana sebelum Brandon selesai di tangani.


BRANDON : Huh? dimana dia


DOKTER : Siapa yang anda cari tuan muda


BRANDON : Hmm, Anak yang mengantarku


DOKTER : Ouh, Dia. Mungkin kembali kelasnya, dia di kelas B-7


BRANDON : Hah, itukan kelas pertukaran pelajar


DOKTER : Iya, dia memang anak kelas pertukaran pelajar


Terlihat, anak itu duduk di pojok dekat jendela selalu menatap keluar jendela, saat guru itu datang ia langsung duduk di paling depan, mungkin karena minus matanya.


JET : Tuan muda, anda baik-baik saja


BRANDON : Tidak apa-apa, Jet! Aku ingin kenal anak itu. Carikan informasi apapun tentang anak itu


JET : Tapi Tuan, dia-


BRANDON : Jet, dia yang telah menyelamatkan ku. Ingat itu, jika tidak ada dia, aku mungkin tidak akan selamat. Bahkan mungkin akan lebih parah, hingga tidak bisa bergerak, dan mungkin berakhir di rumah sakit


JET : Baiklah, Tuan


Sikat cerita mereka semakin hari semakin akrab, mereka jadi teman yang cukup dekat, setelah kejadian itu. Mereka sering bersama, perbedaan antara mereka memang cukup besar, seperti langit dan kedalaman bumi, tapi itu tidak menghalangi jalan persahabatan mereka.


Brandon si pemboros dan Fakboy atau playboy, suka sekali bergota-ganti pasangan setelah ia bosan, Arafif pria cukup pendiam, jauh dari wanita dan sangat suka menabung berhemat, itulah sikap mereka bertolak belakang tapi gara-gara itu, yang telah merubah sikap Brandon membaik, dia yang biasa boros, jadi suka menabung. Ia juga memutuskan semua teman wanita yah, karena Brandon mengambil contoh Arafif yang tak pernah sekalipun mengeluhkan kondisi perekonomian ya, dan tak pernah mengeluh soal apapun.


Hingga suatu hari orang tua Brandon, mengalami kebangkrutan. Satu persatu teman-teman orang kaya yah Brandon, menghilang karena sekarang Brandon tak sekaya dulu, dengan mobil-mobil mewahnya. Barulah dia sadar ternyata teman yang di kenal selama bertahun-tahun itu tak pernah tulus, mereka hanya cangkang, tapi teman yang baru ia kenal beberapa bulan yang lalu, malah yang masih ada di samping yah, dan selalu mendukung yah.


Brandon frustasi akan hal itu, ia melampiaskan semuanya dengan minum-minum di klub malam. Menghambur-hamburkan uang, disana lah Arafif datang untuk menjemput dan mengulurkan tangannya, untuk tetep bersama Brandon.


ARAFIF : Bro apa yang kau lakukan, ayo kita pulang


BRANDON : Ouh, Arafif ya. Kenapa kau bisa di sini


ARAFIF : Jet yang memberitahu ku


BRANDON : Arafif. Aku sudah miskin Fif


BRANDON : Dasar bodoh, aku sudah jatuh miskin aku—


BRUKK


PLAK


Satu pukulan dan tamparan keras itu menyadarkan Brandon, yang sudah mabuk berat gara-gara alkoholl itu, Arafif langsung menarik kera baju Brandon.


ARAFIF : Sadaralah, bukanya kamu berhemat selama ini, lalu apa yang telah kau lakukan saat ini, sekarang bukan waktunya untuk berlarut-larut, dan membiarkan ini terjadi begitu saja. Kau boleh bersedih, tapi ingat satu hal, kamu harus bangkit. Selamatkan yang menjadi hak milikmu, bukan malah kabur dan minum-minum di sini, kita pulang sekarang


BRANDON : Arafif kau, terlalu baik. Bagaimana aku bisa—


PLAAAK


ARAFIF :Aku masih ada di sini, bersamamu. Ingat bahwa aku akan mendukungmu. Aku akan membantu mu, jadi jangan lemah. Jika kamu lemah, bagaimana kamu bisa menjadi seorang pemimpin, dan merebut lagi Grup luwiss dan andrilos.


Saat itulah Arafif membantu Brandon bangkit, mereka akhirnya bisa membantu memulihkan kondisi keuangan ayah Brandon, tak lama Arafif harus kembali ke negaranya karena study ya sudah selesai.


Sesekali mereka membalas surat kotak post, merasa sangat jauh dari jangkauan, tapi Arafif dan Brandon akhirnya menjadi sangat dekat dan bersahabat lebih kental seperti saudara, mereka mengikat janji jika suatu hari mereka akan masuk ke univ yang sama, untuk merai semua mimpi-mimpi mereka.


Semua itu akhirnya terwujud, Arafif masuk di univ yang sama dengan Brandon dengan fakultas yang berbeda, Arafif mengambil jurusan Dokter, dan Brandon mengikuti kelas fakultas bisnis marketing. Hingga lulus sama-sama, setelah itu mereka berpisah lagi karena mau merai masing-masing mimpi mereka.


Arafif ingin menjadi seorang dokter dengan tangan penolong, karena tak mau ada orang yang bernasib sama seperti ibunya yang tidak bisa di tolong, gara-gara mereka miskin dan tak punya kedudukan. Sedangkan Brandon ingin menduduki tahta Andrilos dan mengambil grup luwiss, yang seharusnya menjadi miliknya.


Singkat cerita. Mereka sama-sama merai sukses bersama, Arafif membangun rumah sakit di kota asalnya, sedangkan Brandon juga menjadi direktur besar di negara yah, hingga menjadi aset negara.


Mereka bertemu kembali setelah sukses, Brandon yang membawa keponakan kesayangan yah saat datang ke Indonesia, dan saat itulah pertama kalinya Arafif menyukai keponakan Brandon yaitu Monika yang seorang balerina, yang waktu itu berusia 17 tahun, dia sedang latihan untuk lomba internasional di Indonesia.


Singkatnya setelah itu, ada kejadian menimpah keluarga besar Andrilos. Yah! Pembantai klan. Brandon terlambat, karena tak bisa menyelamatkan seluruh keluarga di rumah besarnya, hanya ada Monika yang terluka para saat itu.


Arafif yang menolong dan menyembuhkan Monika dari trauma dan luka-luka yah, seiring waktu. Benih-benih cinta mulai tumbuh di antara kedua yah, tak lama setelah dinyatakan Monika telah dewasa, Arafif langsung melamar Monika, yang saat itu sedang hamil anak pertama mereka, tapi sayang. Kebahagiaan itu harus gugur saat itu juga.


Beberapa tahun berikutnya, Brandon mengunjungi tempat Arafif, karena mendengar kabar bahwa Monika tengah hamil lagi. Ia cukup senang, lalu ia datang. Setelah itu mengunjungi tempat Arafif dan Monika, Brandon tak langsung pulang ke negaranya, tapi malah langsung terbang ke Rusia, karena ada bisnis di sana.


Itulah pertemuan pertamanya dengan Rubia, gadis biasa, yang membenci orang kaya. Hingga membuat Brandon harus jungkir malik untuk mendapatkan perhatian yah, menyamar jadi orang biasa-biasa saja.


Tak lama setelah pendekatan itu, Brandon menikahi Rubia. Gadis berambut coklat, bermata biru lautan, bibir yang seperti buah Cherry, senyum semanis madu. Tak lama setelah menikah, Rubia hamil anak pertama mereka, tapi sayang! Kedudukan ANDRILOS saat itu terancam kembali, demi menyelamatkan anak dan istrinya, Brandon harus menyembunyikan Rubia yang tenang hamil itu.


BRANDON : Istriku, aku tak punya banyak waktu, untuk menjelaskan yah, sementara ini kamu bersembunyi dulu di rumah Arafif, di Indonesia bersama monika. Arafif akan menjemput mu, jangan khawatirkan aku

__ADS_1


RUBIA : Lalu kamu akan kemana?


BRANDON : Jangan pikirkan aku, berjanjilah jaga anak kita dengan baik-baik, dia adalah satu-satunya bunga harapan kita, apapun jenisnya aku akan mencintainya, pergilah sekarang Rubia, selamat kan anak kita


Tak lama, setelah Rubia pergi. Rumah besar yang telah ditinggalinya, langsung di serang oleh orang-orang yang entah siapa mereka, Rubia yang sudah jauh dari sana hanya bisa menahan tangisnya. Arafif yang sudah ada di bandara langsung menutupi jejak Rubia, dan membawanya pergi dari sana.


Singkat Cerita. Rubia akhirnya aman di Indonesia, sedangkan Brandon yang harus lari dari satu tempat ketempat lainnya, hanya untuk mengalihkan perhatian musuh-musuhnya, agar jangan menyentuh buah hati dan istrinya.


Beberapa bulan kemudian, dikira sudah aman Brandon menjemput Rubia di Indonesia, di rumah Arafif. Saat itu usia kandungan Rubia menginjak 7 bulan lebih, saat itu juga Monika tengah hamil 3 bulan, saat itulah Arafif akhir yah melepaskan Rubia kembali bersama Brandon.


Tapi sayang, saat perjalanan ke bandara. Mobil yang di kendarai Brandon malah di kepung oleh beberapa orang, dan karena tak mau ada apa-apa dengan anak dan istrinya. Brandon banting setir dan menuju ke jurang, ia langsung melindungi istri dan calon anaknya. Syukurlah sebelum kesadarannya hilang, Rubia sudah di tangani oleh Arafif yang waktu itu sebagai kepala Dokter.


BRANDON : ARAFIF, tolong Rubia, selamat kan dia. Jangan pikirkan aku. Selamat dia, Arafif–


ARAFIF : Dasar bodoh, aku akan menyelamatkan kalian


BRANDON : Terimakasih, saudaraku


Setelah ada dokter yang menangani Brandon, Arafif langsung pergi menangani Rubia yang tengah di ruang sebelah yang berontak ingin menemui suaminya, Arafif langsung membuat rubia tenang.


RUBIA : Arafif !


ARAFIF : Iya Rubia, ini aku. Tenanglah, aku akan menyelamatkan nyawa kalian


RUBIA : Mana Brandon?


ARAFIF : Kamu tidak usah khawatir, dia baik-baik saja


RUBIA : Anakku, bagaimana keadaan dia?


ARAFIF : Syukurlah dia juga baik-baik saja


RUBIA : Syukurlah, aaah—


Tak lama Rubia malah mengalami pendarahan hebat, mau tidak mau Arafif harus menangani kasus Rubia yang akan melahirkan mendadak, disaat itulah bayi mereka lahir secara prematur, dan langsung di berikan pada Rubia, yang ingin menemui anaknya.


RUBIA :Anakku, putraku! Kau benar-benar sangat mirip Brandon. Aku seneng, bisa melihat mu sayang! Arafif aku beri nama dia Alzam, kami berdua sepakat memilih nama itu


Menciumi anaknya itu, dengan sangat senang air matanya tak henti-hentinya mengalir.


ARAFIF : Nama yang indah Rubia


ucap arafif setelah itu tak ada suara lagi dari Rubia, ternyata Rubia meninggal di tempat dengan senyuman yang indah.


ARAFIF : Rubia... Rubia


Rubia meninggal saat memeluk putranya, dan saat itulah Brandon juga malah koma, putranya langsung di bawa ke ruang inap karena bayi terlalu prematur. Sehari setelah pemakaman Rubia, Monika mengalami penurunan kondisi, bayi tabungnya yang di dalam perutnya tak dapat berkembang dengan baik, akhirnya Monika juga di bawa ke rumah sakit.


Monika yang bersih keras untuk mempertahankan anak dalam kandungan, yang baru berusia 4 bulan itu, tak mau di gugurkan lagi. Akhirnya Arafif mau tidak mau mengugurkan anak itu, demi menyelamatkan istrinya, dia tahu itu salah tapi dia tak bisa membiarkan, Monika terlalu lama menderita gara-gara ambisinya itu.


Selama berbulan-bulan Brandon tak sadarkan diri, Monika juga sangat syok karena suaminya tega mengugurkan kandungannya, karena sebab itu monika koma juga, Arafif cukup frustasi saat itu, binggung tak tahu harus bagaimana, ia berbohong pada Monika jika Alzam adalah putranya.


Yah! Arafif, mengadopsi Alzam karena tidak ada tanda-tanda Brandon akan bangun, apalagi anak itu juga selalu di incar oleh musuh-musuh ayahnya, jadi Arafif memalsukan kematian anak Brandon, dan keberadaan pengobatan Brandon.


...SELESAI...


...⭐...


...⭐⭐...


Elisa yang mendengar semua kisah itu malah menangis-nangis, tak berhenti-henti menitikkan air mata. Yah! mungkin cukup berat bagi kaum orang kaya, perdebatan klan dan kedudukan itu sangat penting bagi mereka. Tidak menjamin, kaya pasti bahagia, malah makin susah. Walau susah di buat sendiri, itulah dunia orang-orang kelas atas.


"Maafkan aku putriku, kisahku terlalu pahit bukan" ucap Brandon merasa bersalah, karena membuat Elisa sedih karena harus mendengar kisahnya itu.


"Apakah, Daddy belom pernah bertemu mas Andre selama ini, dan baru bertemu dia kemarin?" Tanya Elisa sambil sesegukan.


"Tidak, aku pernah bertemu dengannya. Setelah bangun dari komaku, 13 tahun yang lalu. Saat Andre berumur 15 Tahun, tapi saat itu Arafif tidak langsung mengenalkan ku dengan putra ku sendiri, jadi aku berpura-pura menjadi tamu Arafif, jujur ada niat untuk mengambil alih tapi aku berfikir kembali. Bagaimana nasib dari keponakan ku nanti, jadi ku urungkan niat untuk membawanya pergi, jika aku mengambil dan membawa pergi Alzam dari pelukan Monika dan Arafif, maka akan—"


"Tapi Daddy, mas Andre kan anakmu"


"Iya, tetapi sejak kecil dia bersama Arafif dan Monika, dia tidak kenal diriku"


"Daddy, tenang saja. Aku akan membawanya kesini, untuk bertemu denganmu, tapi. Dia tidak akan langsung mau. Tenang saja aku akan membujuknya, gini-gini aku ini pawang, dia akan langsung datang menjemputku jika dia tahu aku berada di sini"


BERSAMBUNG ...


Terimakasih atas kunjungan Anda ke cerita saya jangan lupa untuk like, share dan masukan komentarnya...


Jangan lupa follow athour dan masuk ke grup saya ditunggu kedatangannya.


Selasa 8 Februari 2022

__ADS_1


__ADS_2