
Saat ambulan itu telah sampai di depan halaman rumah sakit, beberapa perawat dan suster itu keluar dari dalam ruangan untuk menyambut. Pertama-tama mereka mengeluarkan junlion lebih dahulu, di susul Andre yang keluar dari dalam mobil ambulan. Tak lama mobil yang di kendarai Try pun, telah sampai juga di lokasi, mereka semua langsung keluar dari dalam mobil.
"Andre, kamu baik-baik saja kan?" tanya Try menanyakan keadaan saat ini, Andre yang sangat lemas tak bertenaga.
"Try, kita harus segara membawa jun untuk operasi mengambil peluru ya" ucap Andre yang lemas dengan suaranya hampir hilang, menahan Isak tangisnya.
"Baiklah... Bawa dia ke ruangan operasi yah" ujar Try yang bergantian bicara dengan perawat lainnya, mereka langsung membawa Junlion itu ke ruang khusus untuk segera di operasi.
"Baik dokter Try" di bantu dengan beberapa perawatan lainnya yang ikut membantu, banyak yang tidak percaya jika Jun si pria narsis itu telah tiada.
Seisi rumah sakit, telah berduka Mia dan geng ya ikut membantu. Tapi, sayangnya sudah banyak orang yang menjemput Junlion, mereka sudah masuk ruangan. Rudi yang mendengar hal itu langsung pergi mencari Elisa dan Andre, ia masih belum mempercayai bahwa ucapan semua orang itu di rumah sakit bener, Rudi yang kalang kabut khawatir dengan ke adaan Elisa saat ini.
Berada di ruangan obat, di sana Rudi sedang mengecek obat-obatan yang baru datang, tugas Elisa yang sebelumnya sekarang Rudi lagi yang mengurusnya, hingga datang seseorang membawakan kabar yang mengejutkan Rudi.
"Rudi, kamu gak denger?" ucap seorang pria dari luar ruangan obat, hanya menampakkan kepala di pintu.
"Denger apa?" ucap Rudi yang masih santuy, masih fokus di rak obat.
"Itu, Dokter Andre di culik dengan istrinya katanya di bunuh?" ucap si pria yang membuat Rudi syok.
PLARAAANG !
Papan yang ada di tangan Rudi jatuh karena kaget dengan apa yang dikatakannya, bangkit langsung dari jungkuk, berjalan keluar dari ruangan penyimpanan obat. Menuju ruangannya, yang sekarang si pria itu masih di ambang pintu.
Karena kaget dengan apa yang di katakan oleh si staf itu, Rudi menghampiri dengan sangat cepat langkah ya. "Eeeeh, jangan bercanda kamu. Elisa di bunuh, kamu jangan bicara yang nggak-nggak!" ucap Rudi yang kesal, menarik kera baju si staf itu.
"Ngapain aku bercanda, kalau kamu gak percaya coba kamu lihat sendiri di ruang otopsi sana. Tadi, aku lihat banyak perawat dan suster membawa seseorang ke ruangan otopsi" ucap si staf yang mengatakan itu.
Rudi langsung berlari ke ruangan yang di di katakan, "Serius kamu, Elisa!" Rudi yang tak karuan perasaan, Elisa yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri. Gimana perasaan seorang kakak, kehilangan adik perempuan ya.
Berjalan di lorong, rumah sakit. Elisa yang dari tadi mengikuti langkah suaminya di belakang walau tak bisa menyusul, Elisa bersusah payah agar bisa berjejer dengan suaminya.
"Mas Andre, kamu tidak apa-apa kan?" ucap Elisa yang sangat khawatir, memegangi tangan Andre. Agar Andre berhenti, itu memang berhasil Andre langsung menatap Elisa yang sudah khawatir dan gelisah.
"Sudah jelas dia gak baik-baik saja Elisa!" ucap Kevin yang menyahutinya.
"Aku, baik. Elisa kamu tunggu di ruangan saja ya atau kamu pulang ke rumah duluan, aku mungkin tidak pulang malam ini. Jadi kamu tidak usah menungguku, aku akan di sini untuk membereskan beberapa masalah" ujar andre yang menyuruh elisa untuk pulang lebih dulu.
"Tapi, mas aku mau di sini! Menemani mu, jadi biarkan aku disini yah?" permohonan elisa pada suaminya.
__ADS_1
"Tidak perlu! Karena aku baik baik saja, mendingan kamu pulang. Tidak usah khawatirkan aku, kamu tenang saja" ujar andre yang menyakinkan elisa.
"Hmph! Kayak yah aku harus tetap disini untuk menemanimu, nggak mungkin aku akan tenang di rumah. Terserah kamu larang aku untuk disini, aku akan tetap di sini" ujar elisa yang kekeh tidak mau ikuti perintah.
"Ya sudah terserah kamu, kalau sudah ada keputusan seperti itu... Ayo! Try, kita ke ruang operasi" ujar andre yang langsung bergantian berbicara pada Try.
"Andre apakah kamu yakin kuat, jangan memaksakan diri jika kau tidak sanggup. Biar aku saja yang lakukan, tidak apa-apa" ujar try yang menawarkan diri.
"Jangan khawatir, aku baik baik saja Try. Kita harus segera melakukannya." ujar andre yang saat ini berjalan di depan, yang di ikuti try di belakangnya.
Sesampainya di ruangan khusus operasi saat melihat wajah pucat junlion, andre jadi merasa tak kuat untuk membedah tubuh junlion. Tapi, andre memaksa ingin melakukan sendiri. Saat semua persiapan telah di lakukan, andre juga sudah ganti baju operasi, dan siap-siap ingin membelah kulit dan daging dadah junlion. Tiba-tiba tangannya bergetar hebat, hingga membuat pisau itu hampir terjatuh dari genggaman tangan yah.
"Andre? kamu baik-baik saja. " tanya Try yang ada di samping sudah mulai khawatir.
"Iya, aku baik. Kita mulai ambil pelurunya, apakah kalian semua siap?" ujar andre yang sekarang mulai kembali memfokuskan diri.
"Iya siap dok!" jawab serempak semua yang ikut membantu.
KLAAAANG!
Tiba-tiba pandangan andre kabur, kepala nyut-nyutan, tangannya mulai kejang dan tak bisa memegang pisau bedah dengan benar, hingga membuat pisau itu jatuh ke lantai.
"Andre jangan memaksakan dirimu, sini biar aku saja yang ambil alih. Mendingan kamu kembali ke ruangan untuk istirahat, Elisa pasti sendiri disana, pergilah!" ucap Try yang tahu jika Andre saat ini tidak kuat untuk melakukan sendiri.
Di tempat lainya, luar ruangan operasi. Kevin yang dari tadi sangat geram dan sangat gemas ingin mengobati luka di leher Elisa, darahnya yang sudah mulai mengering, jadi terlihat seperti bukan darahnya.
"Elisa! Sini kamu harus ikut aku dulu yuk, cepat sini" ucap Kevin yang menarik tangan Elisa.
"Eh? kamu mau ngajak aku kemana sih, aku harus di sini menunggu mas Andre sampai keluar ruangan." ucap Elisa yang menolak pergi.
"Elisa aku tahu kamu sangat khawatir dengan paman, tapi kamu juga butuh di obati dulu. Lihat itu lukamu." ucap Kevin yang saat ini menujukan darah yang sudah membeku.
Lalu Rudi yang panik, ia langsung mendatangi Elisa dan Kevin. "Eli... Kamu gak apa-apa kan?... Mana, ada yang luka kah!" ucap Rudi yang panik. Memutar-mutar tubuh Elisa, takut ada yang luka di tubuh Elisa.
"Aku baik-baik saja mas Rudi, cuman—" ucap Elisa yang suaranya parau, dan merunduk wajahnya.
"Cuman apa? siapa yang ada di ruang operasi. Andre baik-baik saja kan, dia gak kenapa-kenapa kan?" Rudi yang sangat penasaran dengan apa yang terjadi saat ini, penasaran dengan siapa yang ada di balik ruangan operasi.
"Iya, dia baik-baik saja. Tapi, ini soal Dokter Jun—" ucap Elisa yang yang tak kuasa menahan air mata ya.
__ADS_1
"Kenapa dengan Jun, apakah dia terluka parah? jika Andre baik-baik saja, dia pasti akan menolong Junlion. Jadi kamu tenang saja yah, ada Andre dan Try kan, mereka dokter terbaik" ucap Rudi yang tidak tahu apapun malah menenangkan Elisa.
"Itu gak mungkin, jika ada keajaiban dari tuhan mungkin saja itu akan ada." sambung Kevin.
"Apa maksudnya?" ujar Rudi yang sangat penasaran.
"Karena, kak Junlion sudah... Meninggal!" ucap Kevin yang sangat terpukul dengan apa terjadi saat ini.
"Aku tahu jika Junlion pas–Heh? apa yang kamu katakan tadi. Men–menninggal? kamu jangan bercanda, menyumpahi orang seperti itu Kevin. Dosa tahu gak, jangan kayak gitulah" ucap Rudi yang tidak percaya dengan apa yang di ucapkan.
"Aku serius, kak Jun sudah tiada. Paman dan kak Try saat ini di dalam, karena kak Jun kena dua peluru," ucap Kevin yang mempertegas.
"Nggak mungkin. Kamu jangan bercanda yang aneh-aneh, Elisa itu gak beneran kan! Iyakan!" ucap Rudi yang masih belum mempercayai hal tersebut.
"Hwaaaa!" Elisa malah histeris saat ini, ia tak tahu harus bagaimana untuk menjelaskan tentang semua yang terjadi.
"Eeeehhh?! kok kamu malah nangis sih, udah cup cup? jangan nangis disini. Malu, kita pindah tempat yuk!" ucap Rudi yang memeluk Elisa yang menangis.
"Elisa, kita harus obati dulu luka mu tuh. Darahnya sudah mulai kering, nggak baik buat kesehatan kamu nantinya" ucap Kevin yang menarik Elisa dari pelukan Rudi.
"Elisa, kamu terluka yah? coba sini aku lihat. Waduh! kok aku gak sadar ya, yaudah yuk aku obati kamu" ucap Rudi yang menarik tangan Elisa.
"Tunggu dulu, kamu ini apa-apa sih main peluk-peluk istri orang aja?" ucap Kevin yang agak gimana sama Rudi, dia takut jika Rudi ini punya rasa pada Elisa.
"Nggak apa-apa Kevin, mas Rudi ini kakak aku. Dia, sudah seperti kakakku sendiri" ucap Elisa yang menjelaskan.
"Begitukah!" ucap Kevin yang masih tidak mempercayai ya.
"Seperti kamu, aku juga merasakan seperti kamu adalah kakakku. Jadi, kamu gak usah khawatir, aku tahu kok mana orang lain mana orang yang tidak sesuai" ucap Elisa yang menjelaskan.
"Jadi, kamu khawatir jika aku ini punya hubungan apa-apa sama Elisa yah, kamu tenang aja. Aku ayah 4 anak, istriku juga masih utuh. Mendingan kita bawa Elisa ke ruangan ku saja, disana tempat stok obat" ucap Rudi yang menjelaskan tidak mau berdebat terlalu panjang dengan Kevin.
"Iya, niatnya juga gitu!" ucap Kevin yang langsung menarik Elisa ke jalan lebih dulu.
"Eh! main tarik anak orang aja tuh boca, Elisa-elisa tunggu aku." ucap Rudi.
Bersambung...
Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya untuk beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa favoritkan...
__ADS_1
Kita akan berjumpa lagi di Episode Selanjutnya. Bye...
Kamis 21 April 2022.