Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru

Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru
187. Adik Tingkat Andre.


__ADS_3

Elisa yang binggung dengan tatapan keduanya, Andre yang kaget saat melihat wanita di belakang Elisa tersebut, wanita itu juga kaget karena bisa melihat pria yang wajahnya tidak banyak berubah, semenjak terakhir kali bertemu 6 tahun yang lalu.


"Kak Andre ada di sini, kak aku sangat merindukan mu?" ucap Medina yang menangis saat melihat Andre.


"Aku tahu, tapi ada apa ini?" Andre tersenyum tipis, Elisa yang masih kebinggungan dengan hal itu.


"Tunggu dulu... Apakah kalian ini saling kenal?" tanya Elisa kebinggungan, ada rasa cemburu juga di hati Elisa. Cuman ia tahan karena belum ada komentar apapun dari Andre.


"Iya, dia adik tingkat mas saat di Jerman. Kami satu kampus," jawab Andre menjelaskan pada Elisa, agar Elisa tidak salah faham.


"Ouh! begitu?" ucap Elisa manggut-manggut saja, untuk mempercayai ucapan Andre.


"Kakak, tolong aku" ucap Medina mencengkram baju lengan Andre, dengan wajah yang sudah basah karena air mata.


Cih, dia suamiku. Tapi, mas Andre perhatian banget sama dia, siapa sih nih cewek. Jangan-jangan mantannya kali ya, mas Andre kamu lagi menyembunyikan sesuatu kan dari ku. Gerutu Elisa yang menatap tajam pada lengan baju Andre yang di pegang Medina.


Gawat, aura dingin ini aku kenal sekali. Elisa pasti akan ngamuk nih, Aduh- aku harus segera mengatasi masalah Medina dengan pria-pria ini dulu, baru aku menjelaskan pada Elisa soal hubungan ku dengan Medina. Dumal dalam hati Andre, yang sudah mengetahui jika Elisa sedang menahan diri untuk ngamuk.


Anehnya, kenapa wajah kak andre tidak berubah banyak. Padahal ini sudah hampir 6 tahun berlalu setelah hari wisuda, dan pernikahanku dengan anton. Dalam hati medina merasa heran, dengan wajah awet muda andre yang baby face itu.


"Kamu tenang dulu yah Medina, kalian siapa?... dan ada perlu apa?" tanya Andre yang bergantian dengan para pria-pria tersebut, tatapan mata yang mulai tajam.


"Dia minggat, dari kejaran kami" ucap salah satunya, medina yang sekarang bersembunyi di balik tubuh tegap dan kokoh Andre.


Elisa hanya memperhatikan tingkah andre, yang sok jadi pelindung bagi wanita yang ia temui tersebut, elisa sudah mengepalkan tangannya. Tapi, elisa cukup sabar untuk saat ini, ia mau mempercayai suaminya.


"Apa salah yah?" tanya Andre kembali.


"Dia berhutang, tapi tidak mau membayar" sahut pria lainnya.


"Bukan begitu! Kalian salah faham. Tadikan saya sudah katakan, bahwa saya tidak punya uang untuk saat ini, pokoknya aku belum ada uang. Bulan depan baru ku bayar, kenapa kalian menagih setiap hari" ucap Medina yang nonggol di balik tubuh Andre, untuk protes dengan apa yang di lontar kan penagih itu.


"Kamu ini sudah salah ngeyel lagi, bagaimana kami tidak menagihnya setiap hari, jika kamu membayar dengan benar. Bahkan setengah hargapun kamu tidak membayarnya, karena kamu bayarnya sambil menyicil 200 ribu per hari, bagaimana kami tidak kesal" ucap pria berotot.


"Sudah-sudah kalian tidak usah berteriak seperti itu. Biar saya yang akan bertanggung jawab untuk melunasinya, berapa hutang ya?" ucap Andre yang mengatakan itu dengan tegas.


Sudah ku duga dia pasti akan jadi pahlawan kesiangan, untuk membela wanita ini. Fix kayaknya nih cewek mantannya deh. Gerutu elisa dalam hatinya yang sangat kesal dengan sikap andre yang sangat perhatian dengan medina.


"Dia berhutang 10 juta. Itu belum dengan bunga-bunga ya," ucap mereka memperjelaskan.


"Bukankah aku sudah mencicil ya, masa iya masih genap 10 juta saja dari 3 bulan yang lalu" protes Medina yang tidak terima.


"Hey, wanita. Kamu pikir setiap hari kamu bayar. Kan sebulan sekali kamu suka minta tempo, dan kalau bayar tidak sesuai. Selalu menunggak, gimana bunganya tidak akan naik. Makanya kamu lunasi cepat, agar tidak ada hargo yang terus berbunga" ucap pria itu mempertegas.


"Sudahlah, kan sudah aku katakan. Aku yang akan melunasinya, tapi hari ini aku tidak bawa uang, ini kartu nama saya. Kalian bisa hubungi saya besok, silakan kalian pergi dulu sekarang. Besok, saya akan siapkan uang ya. Tinggal kalian hubungi nomor ya, dan kapan kalian ingin bertemu dengan saya" ucap Andre yang mempertegas juga.


"Baiklah, saya akan datang menagihnya besok kepada anda. Beruntung ya kau, kali ini kau lolos. Ayo pergi," ucap pria berotot, yang langsung pergi meninggalkan tempat.


"Mereka sudah pergi. Kamu sudah tenang, gak apa-apa?" ucap Andre yang mengelus kepala Medina dengan lembut.


"Iya kak. Terimakasih banyak, maaf aku selalu saja merepotkan kak Andre terus, setiap bertemu. Maafkan aku kak," ucap Medina merasa bersalah pada Andre.


"Iya, tidak apa-apa. Sudahlah! Kita duduk di sana yuk! kamu nggak apa-apa kan, ada yang luka?" tanya Andre sambil merangkul punggung Medina. Sedangkan tangan lainnya, menggandeng pergelangan tangan Elisa, untuk segera duduk di tempat tujuan.


"Aku gak apa-apa kak!" jawabnya singkat, seraya menghapus air matanya.


"Gak apa-apa gimana? Itu, di kaki sama tangannya pada lecet, terus mukanya pada memar seperti itu, jangan suka bohong mbak! Yaudah, mas aku akan ambil P3K dulu di mobil" ucap Elisa yang akan pergi, tapi tiba-tiba tangan yang masih di genggaman andre langsung di tahan.


"Biar mas saja sayang! Kamu pesan makanan saja gih. Katanya kamu lapar, gak apa-apa biar mas saja yang ambil. Sekalian mas mau ke ATM, tadi gak sempet kesana gara-gara dengar suara mu." ucap Andre yang yang mencegat Elisa.

__ADS_1


Medina, syok saat mendengar kata-kata yang sangat romantis itu terucap dari mulut pria dingin berhati tembok beton.


Apakah telingaku tidak salah dengar, kak andre memanggil gadis ini 'sayang?' apakah bumi ini telah terbalik. Hehehe, ternyata gunung es telah mencair rupanya? tapi ngomong-ngomong siapa dia, apakah kekasih kak andre?. Gerutu dalam benak medina yang bertanya-tanya dalam hatinya.


"Hmph! Baiklah" ucap Elisa yang hanya menurut saja dengan apa yang di katakan oleh Andre.


"Medina, tunggu sebentar ya! Kamu duduk saja di sini, jangan kemana-mana. Sampai aku kembali, oke!" Andre yang memberi tahu Medina.


"Iya kak, aku akan menunggu kak Andre di sini" ucap Medina yang sudah duduk di tempat.


Elisa pergi Memesan makanan, dan minuman lebih dahulu untuk Medina. Elisa datang dengan minuman dingin, yang di bawa dari restoran.


"Nih, mbak di minum dulu." ucap Elisa menyodorkan gelas air jus.


"Terimakasih," seraya menyeruput segelas jus.


"Apa mereka memukulmu, mbak?" tanya Elisa yang melihat semua luka lembab di wajah dan tangan Medina.


"Tidak, ini aku dapatkan dari tempat kerja, saya di pukul sama majikan di buruh cuci. Mbak!" ucap Medina menjelaskan luka yang di terimanya.


"Kejam sekali, walau mbak buat masalah juga gak seharusnya kan di pukul sampai seperti ini. Itu namanya sudah melanggar hukum, kenapa mbak tidak lapor polisi saja?" ucap Elisa yang tidak terima.


"Saya takut sendiri sama polisi mbak, karena... Saya punya alasan tersendiri kenapa bisa takut lapor pada polisi," ucap Medina wajahnya murung.


"Hmph! gitu. Ouh yah kita belum kenalan, nama saya Elisa. Nama mbak siapa?" ucap Elisa dengan senyuman mengembang, dan mengulurkan tangannya.


"Medina," jawab medina dengan senyum mengembang juga, seraya menerima uluran tangan elisa.


"Ouh! Medina, hampir mirip dengan Madina? hehe..." ucap Elisa ingin menghilangkan rasa canggung.


"Bisa aja nih mbak elisa, suka bercanda juga." ucap medina yang terkekeh karena ucapan itu.


"Maaf nih mbak elisa! saya boleh tidak bertanya?" ucap Medina yang agak ragu.


"Mau tanya apa? katakan saja, nggak usah sungkan," ucap Elisa yang sudah mulai enjoy.


"Saya mohon maaf nih mbak elisa, sebelumnya jika pertanyaan saya ini keterlaluan, mbak boleh tidak menjawabnya. Ngomong-ngomong mbak Elisa ini siapa ya kak andre yah? Karena kak Andre belum pernah memanggil wanita manapun dengan begitu intens seperti itu, apa lagi dengan kata-kata yang begitu mendalam? Bahkan dengan mamah atau wanita yang paling dekat dengannya saja, dia tidak pernah mengatakan ucapan 'sayang'. Tadi, saya cukup terkejut. Saat mendengar ya!" ucap Medina.


"Ouh, aku... Hmph, entahlah aku ini siapa baginya. Aku bisa jadi temannya, atau sahabatnya atau mungkin orang yang numpang makan dan tidur, bahkan orang yang akan selalu menjadi beban baginya," ucapan elisa yang ngasal, Medina merasa kebinggungan dengan apa yang di katakan oleh Elisa.


Tak lama Andre yang sedang berjalan mendekat setelah kembali dari mobil dan ATM, malah mendengar jawaban ngasal elisa seperti itu, andre cukup kesal. Dia langsung saja protes pada elisa.


"Apa yang kamu katakan, asal bicara saja. Jangan dengarkan dia Medina. Dia itu istriku, sekaligus pengawal rahasia ku, yang berstatus istri" ucap Andre yang tiba-tiba datang, dan tak sengaja mendengar percakapan itu.


Andre langsung duduk di tengah-tengah mereka, membawa kantong keresek obat yang tadi ia beli untuk mengobati luka Elisa.


"APA KAU BILANG, PENGAWAL? BERSTATUS ISTRI?, keterlaluan kamu." ucap elisa yang mencubit ginjal andre, alias mencubit pinggang andre hingga andre meringis kesakitan.


"Aaaaaaduuuuhhhh, sayang! Sakit tahu, iya aku minta maaf. Ampuni aku, udah jangan cubit di bagian banyak otot dong!" ucap andre yang merengek agar elisa melepaskan jarinya itu.


Kak Andre tidak pernah menyatakan cinta, atau memperjelas hubungannya. Jika dia memang tidak memikirkan atau memiliki hubungan apapun dengan orang yang tidak dia sukain. Apalagi rasa cinta terhadap wanita. Jadi, kak Andre sudah bener-bener menemukan jantung hati dan jiwanya. Elisa yah, wanita seperti apa yang kak Andre pilih ini. Dumal dalam hati Medina yang melihat tatapan mata Andre yang penuh kasih sayang dan cinta mendalam untuk Elisa.


"Cih, aku tadi niatnya gak mau pamer. Kenapa kamu katakan bahwa aku istrimu, kapan aku menjadi istri mu" ucap elisa yang melipat tangannya dan membuang muka, merasa malu dan gensinya keluar.


"Hari Sabtu pada tanggal 10 November, pukul 10 siang di kediaman rumah arafif. Kamu baru SAH menjadi istriku, sudah puas dengan jawabanya. Hmph!... Elisa, kau tahu betapa aku gugupnya. Saat mengatakan ijab qobul itu, apakah kau tahu aku tidak pernah merasa gugup sebelumnya, dan saat itu pertama kalinya aku merasa tidak percaya diri dengan kejeniusan ku, walau aku menghafalkan siang dan malam, gak kenal waktu. Tapi, aku masih saja khawatir dan takut tidak bisa mengingatnya, dan takut melakukan kesalahan. Kenapa kau tidak menghargai perasaan dan usaha ku itu, sedihnya aku." ucap andre yang lebay ya muncul.


Medina tertawa melihat sisi lain dari andre yang baru ia ketahui, ternyata Andre punya yang sangat konyol, entah itu sifat yang baru atau lama yang tidak pernah ia tunjukan ada siapapun.


"Ha-ha-ha, kak Andre aku baru tahu sifat mu yang ini, ternyata kak andre bisa konyol juga yah." ucap medina.

__ADS_1


"Emang dulu dia gak seperti ini mbak?" tanya elisa yang sangat penasaran sama andre yang dulu.


"Nggak! Dia selalu tegas, perfeksionis, selalu sinis, cuek, acuh, kalau ngomong singkat padat terarah, terus kalau ngomong irit banget, simpel. Orangnya gak mau ribet, sederhana. Kalau mau ngomong panjang dengannya, pasti itu ngomongin soal, kerjaan atau tugas. Pokoknya kalau di kampus dia itu sok cool, dan selalu jadi pusat cewe-cewe. Susah banget kalau mau nemuin dia, kadang dia suka nonggol tiba-tiba kayak hantu" ucap Medina yang menjelaskan.


"Hahaha... Kok bisa beda gitu, kalau sama elisa kamu bawel banget, sampai 7 turunan nggak kelar-kelar. Sampai masalah sepele pun kamu uring-uringan, berdebat panjang banget. Hmph! Ada yang gak beres deh!" ucap Elisa yang menatap tajam.


"Apa yang beda, aku gak berubah sama sekali kok. Medina itu cuman ngada-ngada, udahlah sayang kamu percaya benget sih" pembelaan diri Andre.


"Iya-iya, aku mungkin yang salah. Tapi, semua itu fakta, yang tidak berubah banyak cuman tampang mu doang kak! Orang pasti akan berfikir jika kak Andre pakai perawatan, dan yang tahu kak Andre pasti pada mikir kalau kak andre tidak bisa tumbuh dengan baik, pasti pada mikir jika kak andre itu masih anak SMA tahun pertama. Padahal sudah kepala 3, kan gak ada yang percaya" ucap Medina yang menyahutinya.


"Apa yang berbeda, aku tetap seperti ini. Medina, jangan meracuni pikiran Elisa begitulah, kamu mau perang dunia sama Elisa" ucap Andre yang menatap tajam.


"Hehehe, tapi ini faktanya kak Andre tetap sama, wajah Kakak memang masih sama seperti 7 tahun yang lalu, kok bisa tidak berubah sedikit pun." ucap Medina yang mengingat kejadian acara wisuda dan penikahan dia setahun setelah wisuda.


"Benarkah, padahal di sisi ini sudah ada kumis dan jenggot" ucap Andre yang mengelus bagian yang sedang tumbuh rambut.


"Hehehehe, Kak Andre bisa melucu juga


apakah ini sisi lainya?" tanya Medina.


"Mas, cepat obati mbak Medina malah ke asikkan ngobrol." tegur Elisa agar jangan membicarakan tentang lainnya lagi.


"Iya-iya bawel. Jadi, sekarang siapa yang bawel, aku atau kamu?... Sini medina aku obati luka kamu dulu, mana yang luka?" tanya Andre yang menarik tangan medina.


"Mbak elisa kenapa dari tadi selalu memanggil saya dengan 'Mbak' Panggil Medina saja, biar lebih akrab," ucap medina.


"Dia 2 tahun lebih muda darimu Medina, jadi wajar jika dia panggil kamu mbak!" sahut Andre yang sibuk mengoleskan obat pada luka Medina.


"Heh? Elisa kamu masih berusia 23 tahun?" Medina kaget saat mendengar hal itu.


"Iya, bulan Agustus nanti aku genap 24 tahun, mbak!" ucap Elisa yang menyeruput jus jeruknya.


"Ouhlah, aku gak tahu kalau kak Andre suka wanita imut dan manis kayak begini. Pantesan saja banyak cewek yang kak Andre tolak, saat kuliah dulu." ucap Medina yang mengingat.


"Jangan salah, dia tampang luarnya aja manis dan imut. Aku baru mengetahui akhir-akhir ini, jika ngambek dan ngamuk semuanya akan kelar" ucap Andre yang langsung menatap medina.


"Hahahaha! Apakah ini masih kak Andre yang ku kenal, Kak takut pada Elisa? kamu hebat Elisa bisa menaklukkan gunung Es" ucap Medina yang kagum.


"Tapi, ngomong-ngomong. Dimana Anton?" tanya Andre yang langsung menatap tajam pada Medina.


"Kak Andre, Anton... Dia... Dia... di penjara!" ucap Medina yang ragu untuk mengatakan hal tersebut.


"Hah? bagaimana bisa, gimana ceritanya. Dia kan seorang jaksa, kok bisa di penjara?" ucap Andre yang heran.


"Dia menangani sebuah kasus, tapi dia yang malah di jebak. Semua yang kita miliki, sudah di sita bank dan aku harus membayar rumah sakit karena biaya persalinan ku. Ibuku malah meminjam hutang pada lintenir, yang tadi itu anak buahnya. Setiap hari mereka menagihnya, makanya setelah aku melahirkan, aku langsung bekerja di toko londryan. Tapi, aku tidak di perlakukan dengan baik di sana. Gajinya juga sangatlah tidak mencukupi kebutuhan ku, untuk beli susu dan lainnya" ucap Medina yang mencoba menceritakan semuanya pada Andre.


"Jadi begitu, sudah tidak apa-apa. Jangan menangis, kamu akan baik-baik saja sekarang" ucap Andre yang menepuk-nepuk punggung medina pelan-pelan.


"Terimakasih kak, maaf aku merepotkan kak Andre lagi. Aku belum bisa mandiri tanpa kak Andre, aku selalu menyusahkan kak Andre." ucap Medina merasa bersalah.


"Tidak masalah, sudah yah. Kita makan dulu setelah itu kami akan antar kamu pulang. Sayang! kamu sudah pesan makannya?" tanya Andre.


"Sudah mas, itu lagi di anter kesini" ucap Elisa yang melihat pelayan sedang berjalan untuk mengantarkan pesanan makanan Elisa ke meja mereka.


Bersambung...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya untuk beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa favoritkan...


Kita akan berjumpa lagi di Episode Selanjutnya. Bye...

__ADS_1


Selasa 26 April 2022.


__ADS_2