Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru

Jodoh Itu Unik: Lembaran Yang Baru
168. Gimot.


__ADS_3

Terlihat Azril yang sedang jalan sambil mata ya fokus ke layar hp, Azril yang sedang asik main game. berjalan ke suatu tempat, dan duduk si kursi dekat dengan seorang remaja laki-laki yang sedang menatap ke pemandangan di bawa rumah sakit.


"Yah, kalah lagi. Permainan ini sulit juga, bagaimana untuk menyingkirkan semua yah. Jangankan untuk membunuh Raja, prajurit ya saja sangat sulit." dumal Azril yang sedang main game.


Anak laki-laki itu melirik dari ekor matanya, melihat Azril yang sedang main game. Azril, tahu jika dia sedang di tatap seseorang. "Apakah kau bisa main ini?" tanya Azril pada si anak remaja itu.


Si remaja itu kaget, padahal matanya sedang fokus ke Hp itu. Tapi, malah bisa mengatakan sesuatu remaja itu hanya diam, dan tak bicara apapun. Anak remaja itu adalah Ben, anak angkat Andre itu.


"Hmph, ini permainan yang sangat sulit sekali loh. Temen-temen ku di sekolah juga tak ada yang bisa memainkannya, padahal ini permainan game lama," sambung Azril seraya berfikir, dan sesekali melihat ke arah Ben.


Azril sengaja mendekati Ben, karena kasihan dengan teteh dan mas ya gara-gara anak itu mereka jarang sekali bertemu. Elisa juga seluruh murung dan pergi kerumah ibunya. Walaupun Elisa gak pernah mengasuh pada orang tuanya, atau orang lainnya. Tapi, Azril ini peka dengan keadaan tetehnya. Akhirnya Azril mencoba untuk membantu kakak-kakak ya itu, meringankan beban pikiran Andre, dan Elisa.


"Kau tahu cara main game ini?, hei... aku dari tadi bicara denganmu tahu, apakah aku sedang bicara dengan patung?" Azril mulai sewot dengan nada tegas.


"Lihat... Mati..." Ben akhirnya dari sekian lama selalu bungkam, banyak dokter di datangkan dari berbagai belahan dunia. Tapi, tak ada satupun dokter yang berhasil. Membuat Ben membuka mulutnya untuk bersuara. Pada akhirnya gara-gara game, dia membuka suara juga, walau masih samar-samar. Azril tersenyum tipis saat mendengar suara Ben.


"Kau tahu, ini game lama. Walau game lama tapi, permainan ya sangat susah. Jika sudah game over malah kembali ke level 1. Apakah kau bisa main ini?" ucap Azril yang melempar gamemot itu ke samping.


Pelan-pelan Ben mulai bergerak, dan mengambil gamemot itu dari samping Azril. Mulai membuka game dan mulai mainkan game tersebut, dengan sangat lihat Ben mengoperasi game tersebut.


[New Win]. Suara itu dari gemes tersebut.


"Wah, keren kau hebat juga yah, dalam main game. Bagaimana kau lakukan hal itu, ajari aku juga." ucap Azril yang langsung menatap Ben, langsung saja Ben malah menundukkan wajahnya lalu Ben meletakkan kembali game tersebut di tempat semula, ia memutar kursi roda untuk meninggal Azril.


"Eh... Hei, mau kemana?... Woy, setidaknya kita kenalan dulu kan." Bergegas Azril menghentikan jalannya kursi roda, Ben.


Tapi, Ben berhasil meloloskan diri dari kejaran Azril. Lalu, berinisiatif untuk kembali lagi besok pagi setidaknya dia mau berinteraksi sebentar. Azril tersenyum tipis, lalu mengambil gamenya, mengejar Ben kembali yang saat ini akan kembali ke kamar rawat.


"Tunggu... Ini, ambilah. Aku tak bisa pakai itu, karena tak bisa main. Buat kamu saja. Aku pergi sekarang. Daaah!" ucap Azril yang saat ini langsung pergi meninggalkan Ben.


Ben yang kebinggungan dengan apa yang di lakukan oleh Azril itu, ingin mengembalikan game tersebut tapi tak bisa karena tubuhnya yang belum bisa bergerak bebas, akhirnya hanya bisa menerima gamenya.


Terlihat Andre yang baru keluar dari ruang bangsal, sedang mengajarkan materi kepada para dokter-dokter magangnya. "Ouh, dek! Darimana?" tanya Andre.


"Jenguk temen mas. Sekalian bawain makan siang buat mas Andre, pesanan teteh. Azril sudah letakan di meja kerja mas." Azril yang baru turun dari lantai atas, di hentikan dengan panggilan suara kakak iparnya.


"Ouh gitu, Terimakasih yah. Sudah repot-repot bawakan makan siangnya," ucap Andre dengan senyuman mengembang.


"Yaudah mas, Azril pulang yah. Assalamualaikum" ucap Azril mencium tangan Andre.


"Walaikumsalam, ati-ati dek!" Ucap Andre yang menjawab.


Sebelum pergi Azril menoleh lagi ke belakang, melihat Andre yang masih menatapnya.


"Mas Andre, nanti jangan lupa di makan, teteh bisa ngamuk loh. Jangan di kasih ke orang apa lagi di buang, teteh akan marah besar," ucap Azril memperingatkan.


"Iya, nanti mas makan kok tenang aja" jawab Andre seraya tersenyum tipis.


Saat Azril sudah agak jauh, Andre masih menatap kepergian Azril. "Dasar ya, teteh dan adek sama aja. Sama-sama bawel, lucu ya." Dumalan Andre sendiri.


Andre setelah selesai dengan urusannya, dengan para dokter-dokter juniornya. Andre kembali ke ruangannya untuk makan siang dan Istirahat sejenak. Setelah selesai, ia pergi ke ruangan Ben, karena sudah waktunya dia minum obatnya, jadi Andre langsung kesana. Terlihat Ben sedang memegang sesuatu di tangannya, benda yang asing.


"Apa itu?... Dari siapa?" tanya Andre sambil jalan menuju ranjang Ben. Tak di jawab, atau merespon apa yang di tanyakan oleh Andre.


"Coba lihat, apakah ada seseorang yang datang menemui mu? Katakan saja Ben. Jika memang ada yang mengancam mu, jangan takut" ucap Andre yang sangat penasaran dengan apa yang di pikirkan Ben.


Tetap tak ada jawaban dari Ben, karena benda itu mencurigakan. Setelah Ben selesai minum obat, Andre mengambil benda tersebut.


"Benda ini, aku ambil. Karena kamu tidak mau menjawab benda ini dari siapa? Apa lagi benda ini cukup mencurigakan, ini semua ku lakukan untuk kebaikanmu. Bukan melarang mu bermain" ucap andre yang bertindak sebagai peran seorang ayah. Andre membawa benda tersebut, Ben hanya diam dan menatap kepergian Andre.


Keesokan paginya, Azril datang lagi ke rumah sakit, dan lagi-lagi Ben sedang duduk di sana karena di suruh untuk berjemur oleh perawat, Azril langsung duduk di sebelah Ben.


"Kau sendirian lagi di sini, dan menatap ke arah sana. Apakah di sana ada hal yang menarik perhatianmu?" ucap Azril yang berjalan mendekati Ben.


Ben kaget saat mendengar suara Azril, ia melihat dengan bola mata yang hampir keluar.

__ADS_1


"Ada apa? kau kaget aku datang lagi. Tenang saja, aku ke sini bukan menengok mu, tapi mengantarkan makan siang untuk kakak ipar ku, dia bekerja di sini... Hmm-, ngomong-ngomong. Kemanakan remote game yang ku berikan waktu itu, kenapa kau tidak membawanya hari ini. Apakah kau membuangnya?"


Ben kaget dengan apa yang di katakan Azril, karena binggung untuk menjawab gamemot itu berada di tangan andre saat ini. Ben langsung menggeleng kepala dengan pelan, tanpa suara. Ingin rasanya ia menjelaskan jika game itu ada di tangan andre, tapi bibirnya itu kaku dan bergetar. Suaranya tak mau keluar, azril sadar jika ben ingin mengatakan sesuatu. Terus saja azril pancing agar ben mau bicara lagi.


"Apakah kamu bisu? kenapa setiap pertanyaanku dari kemarin kamu tak bicara apapun padaku, seperti bicara dengan patung tahu gak. Benda mati saja bisa ngomong loh (HP). Kamu yang manusia malah diam saja, tak punya suara kah?" ucap Azril yang menyindir Ben.


Ben terdiam, dan menundukkan kepala. "Lalu dimana kah gamemot milikku... Aaah! maksudnya, gamemot milikku yang ku berikan padamu kemarin, itu kemana?" ucap Azril yang menanyakan game ya.


"Di... A..m..bil!" Suara yang terputus-putus, dengan nada yang sangat kecil.


"Hah, apa yang kau katakan aku tak bisa mendengar yah, bisa nggak lebih keras lagi." ucap Azril yang mendekatkan dirinya.


"Diambil!" Suara Ben agak jelas saat mengatakan yah.


Syukurlah, dia masih bisa bicara rupanya. Ku pikir kontak suaranya telah rusak, setidaknya ini langkah awal yang baik menuju kesembuhan. Suara dalam hati Azril dengan senyuman tipis.


"Diambil siapa?" tanya Azril yang langsung bertanya kembali.


"Sama Tu...an" jawab Ben yang menjelaskan, wajahnya masih menunduk.


"Tuan?... Tuan siapa?"


"Tuanku," ucap Ben yang masih ragu, nadanya masih terdengar samar-samar.


"Tuan mu, siapa nama Tuan mu. Apakah masih ingat namanya, pasti beliau punya nama kan?" ucap Azril yang memancing Ben agar berani untuk bicara lebih banyak.


"Hmmm," Ben tampak berfikir keras soal itu, ia masih ragu untuk mengatakan banyak hal pada orang asing. Ada rasa takut juga dalam hatinya jika, Azril adalah orang-orang yang sedang mengincar Tuannya.


"Tidak usah takut, aku anak baik." ucap Azril yang menjelaskan tentang dirinya. Tetep saja Ben diam, dan masih menundukkan kepalanya.


Sepertinya aku terlalu terburu-buru, untuk saat ini sampai di sini saja, yah dia sudah mau sedikit terbuka, tak usah memaksa sekarang. Setidaknya dia sudah mau bicara sedikit, aku datang lagi saja besok. Gumam dalam hati Azril yang bangkit dari kursi.


"Iya baiklah, aku tak akan memaksa mu untuk mengatakan yah sekarang. Aku harus pulang, sampai berjumpa besok. Ouhnya, jangan lupa ya, aku meminta gamemot ku kembali, kau harus mengembalikan, besok" ucap Azril yang langsung jalan pergi.


Disisi lain, Andre masih curiga dengan beda yang ia rampas dari Ben. Datanglah Zacky, dengan informasi yah. "Andre, apakah kau ada di dalam?" tanya Zacky.


Zacky masuk, dan langsung duduk di depan Andre. "Apakah aku dengar informasi tambahan," tanya Zacky pada Andre.


"Tidak, memang apa informasi tambahan ya." Andre mulai serius.


"Jika orang-orang yang waktu itu menyerang rumah sakit, ternyata mereka orang bayaran." ucap Zacky yang telah berhasil mengintrogasi beberapa orang dari para preman.


"Begitu rupanya, aku juga sudah menduga ya, jika mereka bukan orang biasa. Apakah mereka katakan sesuatu lagi, untuk siapa mereka bekerja?" tanya Andre masih sangat penasaran.


"Ketuanya bilang dia tidak melihat siapa orangnya, karena mereka berkomunikasi dengan orang itu lewat hp" ucap Zacky yang menjelaskan.


"Begitu rupanya," Andre tampak kebinggungan dengan hal itu.


"Kamu punya curiga dengan siapa?" tanya Zacky yang masih mencari siapa pelakunya.


"Tidak ada sama sekali kak, aku tak mencurigai siapapun. Di otakku hanyalah bagaimana Ben bisa biacra lagi, karena semua informasi ada padanya. Itu yang sedang ku pikirkan" ucap Andre yang menjelaskan isi kepalanya.


"Tapi kita harus selidiki lebih jauh, jika hanya menunggu hasil. Tak ada gunanya, apa lagi harus menunggu anak itu bicara akan memakan banyak waktu kan" ujar Zacky yang menjelaskan tentang keadaan saat ini


"Iya Kakak benar, tapi aku juga binggung mau bagaimana lagi."


"Sudahlah, biar aku saja yang mencari informasi lainnya. Ouhnya, apakah kamu juga dapat kabar lainnya, jika orang itu pasti ada kaitan dengan Zenus" Tebakkan Zacky yang menduga itu kaki tangan Zenus atau anak-anak yah.


"Huuffft... Kenapa aku harus berurusan lagi dengannya, orang yang sudah di vonis mati, tapi kenapa namanya masih saja menyusahkan diriku. Lalu apakah kakak punya rencana, aku sudah tak punya. Pikiranku buntu, tak ada jalan lagi" ucap Andre yang langsung menyandarkan kepalanya ke penyangga kursi.


"Niatnya aku dan Glenn akan cari informasi di lokasi tempat Ben di sekap, untuk mencari bukti dan informasi lainnya terkait kasus apapun, karena jika kita menunggu Ben sampai dia mau bicara akan lama, dan waktu kita terbatas bukan. Sebelum di serang kita harus punya persiapan, dan pertahanan" ujar Zacky yang berfikir.


"Iya kakak benar, lalu bagaimana jika aku minta tolong kepada Dady. Mungkin saja daddy punya caranya untuk mencari info tentang itu." Ide Andre yang langsung teriang di pikiran ya.


"Grup Luwiss menang cukup bagus, dalam jaringan Intel tapi... Apakah tidak akan cukup berbahaya jika kita gunakan jaringan itu, apalagi itu sudah di akui banyak negara, ayahmu tergabung dalam grup asosiasi internasional bukan." ucap Zacky yang mengingatkan.

__ADS_1


"Aaah benar juga, itu akan mempengaruhi proses lainnya, dan juga berakibat fatal bagi Dady." ucap Andre yang baru ingat.


Zacky milihat benda aneh di meja milik Andre, meja yang selalu di hiasi tumpukan dokumen sekarang malah ada sebuah benda aneh.


"Apa ini?" tanya Zacky yang mengambil beda itu.


"Ouh, itu... Aku tidak tahu, ini ku ambil dari ben" ujar Andre yang menjelaskan.


"Ini game kan?" ucap Zacky.


"Game! Tapi, dapat dari mana? aku tak membelikan dia game." ucap Andre


"Lalu apakah kau tanya, dia dapatkan ini dari mana?" ucap Zacky yang lihat-lihat sekelilingnya.


"Kakak tahu sendiri dia bagaimana, tak bisa menjawab apapun. Karena benda itu cukup mencurigakan, jadi ku ambil takutnya itu adalah petunjuk, jadi ku bawa kesini."


"Hmm- begitu yah... ouh, coba kau lihat ini." ucap Zacky yang mengembalikan benda itu pada Andre lagi.


"Ada apa, apakah ada petunjuk?" ucap Zacky yang menujukan produk milik You N.


"Ini buatan produk YouN. Kau tahukah grup YouN, yang terkenal dengan teknologi modern yang canggih, grup Luwiss juga bekerjasama dengan mereka." ucap Zacky yang mengingatkan bagaimana semua game-nya seluruh di sukai di dunia.


"Tapi, bagaimana ini bisa ada pada Ben, jika ini di jual oleh perusahaan besar pasti ini sangat mahal kan, Ben tak mengambil uang apapun dariku, dan kartu id ya masih ada padaku" ucap Andre yang kebinggungan dengan semua itu.


"Coba kau buka, mungkin saja ada petunjuk lainnya" saran Zacky untuk membuka tombol on, untuk membuka layar game.


"Oke!"


[Welcome, di game Terbaru dari YouN. Selamat datang untuk pelanggan setia kami, telah menggunakan produk kami, Tuan Azril silakan mulai bermain]. Suara dari game yang sudah di bahasa Indonesia kan.


"Heh, siapa... Azril? apakah Azril ini orang yang sama ku kenal?" ucap Zacky saat mendengar nama pengguna ya.


"Aku juga gak tahu kak, coba kita ulangi lagi" ucap Andre yang juga belum jelas dengan apa yang dia dengar.


"Iya, coba kita dengarkan sekali lagi. Siapa nama pengguna yah"


Sampai di rumah Andre yang lelah, merebahkan dirinya di kasur tak melihat istrinya yang biasanya sudah tidur saat di pulang, yah sudah 3 hari Andre tak pulang kerumah.


Mengambil hp ya, dan melihat jam di sana pukul 10 malam. "Kemana perginya dia, apakah tidur di rumah ibu lagi. Seharusnya tadi aku pulang ke sana, hmm! lupa tadi siangkan Azril mengantar makan siang, biasanya pak sofyan. Jadi Elisa tinggal di rumah ibu, aku malam ini walau tidur di kasur sendirian dong! Kalau begitu bagaimana aku bisa memejamkan mata lagi, coba ku telfon apakah dia masih bangun?" Dumalan Andre yang menekan tombol kotak Sayangku.


Tut Tut Tut...


Panggilan tidak di angkat oleh elisa, karena sudah malam. "Tidak di angkat ya, dia pasti masih marah padaku. Huuuftt harus bagaimana lagi, aku belum menemukan titik terang dalam hal ini"


Keesokan paginya, Andre yang bangun subuh-subuh setelah sholat biasanya dia GYM atau olahraga pagi, dia tak lakukan itu hari ini. Langsung keluar rumah mengendarai mobil miliknya menuju rumah mertua.


"Eh, mas Andre pagi-pagi sudah di sini" Azril yang sedang menyiram tanaman.


"Assalamualaikum" Andre yang baru keluar dari dalam mobilnya.


"Walaikumsalam, masuk mas" Azril melepaskan selang dan mencium tangan Andre.


"Tetehmu ada Zril," tanya Andre.


"Ada di dalam, lagi masak sama ibu" jawab Azril.


"Zril, boleh ku tanya sesuatu padamu?" tanya Andre.


"Iya Boleh. Mau tanya apa?"


Bersambung...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya untuk beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa favoritkan...


Kita akan berjumpa lagi di EPISODE SELANJUTNYA. BYE...

__ADS_1


Selasa 29 Maret 2022.


__ADS_2