
Andre sudah tidur di kamar dengan pemandangan alam yang indah, hanya di lapisi dengan kaca yang tebal, Elisa terbangun karena suara panggilan dari hp miliknya.
"Hallo, Mah... Mas andre? dia sedang tidur... Kami di tempat yang aman dan nyaman... Iya, kalian tidak usah khawatir... Heh?... Baiklah, besok Elisa kan bawa mas ke sana... Iya mah, mamah tidak usah khawatir... Iya, waalaikumsalam."
...Contoh Gambar Kamar Elisa dan Andre tempati!...
Keesokan paginya, Andre sudah bangun dari tidurnya. Melihat matahari yang susah terbit, sedangkan matahari dirinya belum terbit malah masih lelap dalam tidurnya. Andre mantap wajah tenang Elisa yang baru bisa tidur dengan nyenyak, setelah 3 hari 3 malam ya tak bisa nyenyak karena harus di ganggu olehnya.
Andre mainkan rambut Elisa yang terurai kemana-mana, sesekali menarik bibir ya untuk tersenyum. Karena melihat tidur Elisa yang tidak bisa diam, tidak berhenti di situ saja Andre memainkannya rambut Elisa, lanjut memainkan pipi dengan mencubit Elisa, dengan bibirnya yang menjempit.
"Kamu lagi ngapain sih, kalau laper makan sana. Pipi Elisa bukan bakbau tahu, di comotin gitu" ucap Elisa mata ya masih memejam.
"Yuk, kita makan sayang? aku juga sudah lapar, enaknya kita makan apa yah?" ucap Andre yang memikirkan menunya pas.
"Emang, di hutan belantara begini ada bahan makanan? yang bisa kita olah, kalau ada kita masak seadanya aja" ucap Elisa yang masih memejamkan mata.
"Hmm- pecel ikan enak deh sayang, bikin yuk!" ucap Andre spontan membuat Elisa bangkit dari ranjang.
"Hah! emang ada, nanti bahan-bahan dari mana?" tanya Elisa yang spontan menjawab.
"Ada deh! sekarang kita cari sayuran aja dulu dan ikannya kita tangkap di sungai, yuk! sekalian kita mandi?" ucap Andre yang langsung meletakkan sedal untuk Elisa.
"Hah? Kita mandi sama-sama, dimana?" ucap Elisa yang agak binggung, mungkin karena setengah sadar.
"Nggaklah, mandinya sendiri-sendiri. Ada tempatnya, udah mendingan kamu bangun saja dulu sayang!" ucap Andre yang mengulurkan tangannya.
"Baiklah" ucap Elisa yang langsung menerima uluran tangan suaminya.
Berjalan menyusuri jalanan menuju tempat yang di tujuh, Andre yang menggenggam tangan Elisa sangat erat. Elisa kebingungan mengucapkan amanat dari mamah mertuanya bagaimana, agar Andre tidak curiga.
"Mas, nanti siang kamu mau nggak ikut aku? Hmm- kita jalan-jalan yuk! Yah, gantian kamu yang sekarang harus ikut aku, mau yah. Plisss, sayangku, mau yah" ucap Elisa yang memohon.
"Kemana?" jawab Andre singkat. Firasatnya tidak baik, tapi Andre tetap tenang.
"Iya pokoknya kamu ikut saja, biar nanti aku yang cari lokasi yang pas buat kita... khemm, bisa pacalan yah!" ucap Elisa yang manja.
"Baiklah, terserah kamu" ucap Andre yang pasrah.
"Yeeeh! Yaudah, sekarang kita sarapan apa? semalam Elisa belum makan apapun," ucap Elisa yang sudah tidak bisa menahan rasa laparnya.
KRUYUKKKK!
"Aduhhh, ya Allah... Maaf mas, anakmu sudah minta makan, kita makan dulu ya. Mandi ya nanti. Elisa udah lapar banget nih, yah mas" ucap Elisa yang memohon.
__ADS_1
"Kamu mau makan apa say?" tanya Andre dengan lemah lembut.
"Kamu sendiri mau makan apa mas, Elisa mah ngikut aja selera kamu" ucap Elisa.
"Lah, kamu ini gimana sih, kok malah nanya balik. Kamu sukanya apa, biar nanti mas gampang pesan makanannya, kalau kamu gak mau buat makanan" ucap Andre yang langsung menatap Elisa.
"Hmmm- Elisa maunya ikan bakar, sama jus buah naga. Seger kayak ya mas, tahu aja kalau Elisa males masak" ucap Elisa yang meluk Andre.
"Oke, bentar ya" ucap Andre yang langsung menekan tombol di monitor layar lebar.
"Eh, apa itu?" Elisa kebinggungan dengan alat-alat yang ada di dalam kamar tersebut.
"Telfon untuk layanan cepat antar, kamu mesan makanan apa lagi selain tadi say?" tawar Andre.
"Sama siapa? kamu pesan makanannya" tanya Elisa yang binggung.
"Sama orang yang punya kedai makanannya sayang! makanya kamu mau pesan makanan lainnya gak?" tanya Andre.
"Nggak ada mas, terus mas sendiri mau pesan makanan apa? cuman nanya Elisa mas gak pesan apa-apa?" tanya Elisa yang binggung.
"Kita makan sama-sama saja, boleh kan!" ucap Andre yang langsung menatap manja.
"Baiklah, kalau kamu mau ya begitu. Mau romantis ya sama Elisa, cieee-" ucap Elisa menggoda Andre.
Andre hanya tersipu malu karena ucapan Elisa, terlihat elisa yang senang dengan tingkah Andre yang gemoy saat malu, wajahnya yang putih langsat ini malah seperti udang rebus.
"Ini tempat apa sih Elisa," tanya Andre yang baru tahu ada tempat yang agak aneh menurut yah, karena Andre baru pertama kali melihat itu.
Dokter Flores ganti tempat, jadi Andre belum tahu soal tempat yang baru dokter Flores, dia hanya menurut apa saja yang di katakan oleh Elisa.
"Mas, ayok kita masuk dulu yah. Ada orang yang elisa temui dulu, dan beliau sudah menunggu Elisa di dalam" ucap Elisa yang menarik tangan Andre.
"Iya, tapi kenapa firasatku tidak enak yah. Sebenarnya ini tempat apa si say, kamu bawa aku ke tempat apa ini. Jelaskan dulu, baru aku akan ikuti kamu" ucap Andre yang enggan untuk masuk kedalam.
"Kamu ikut aku masuk dulu, baru aku akan jelaskan padamu yuk!" ucap Elisa.
Andre akhirnya mau mengikuti Elisa, dan mau masuk kedalam. Saat melihat bagian depannya, adalah resepsionis. Andre baru faham jika dia di bawa ke teman psikologi mental dan perasaan.
"Hallo, Andre. Apa kabarmu?" suara dokter Flores yang datang untuk menyapa.
"Dokter Flores, anda pindah tempat rupanya. Pantesan aja di tempat sebelumnya sudah tidak ada!" ucap andre yang mengatakan santai saja, seperti tidak terjadi apa-apa.
"Ha-ha-ha, mohon maaf karena telah mengecewakan, karena disana sudah ada tempat orang lainnya. Silakan masuk," ucap dokter Flores yang saat ini merasa tatapannya agak ada aneh pada Andre.
"Kamu belum jawab pertanyaan Dokter Flores tadi" ucap Elisa.
__ADS_1
"Hah! pertanyaan yang mana sih?" andre tampak binggung.
"Tadikan Dokter Flores tanya, apa kabar dengan kamu. Tapi, kamu belum jawab?" ucap Elisa.
"Dia pasti sudah tahu apa yang ku rasakan, karena bukan sekali aku ketemu dengan beliau. Dokter Flores juga bisa menebaknya keadaan ku saat ini. Jika ada orang yang membawaku kesini, pasti aku tidaklah baik-baik saja jadi untuk apa menjelaskan yang sudah dia tahu jawabannya itu, akan percuma saja Elisa"
"Begitukah? apakah dokter Flores sudah tahu. Hmph! aku yang belum faham dengan semuanya, yaudah kita masuk sekarang" ucap Elisa yang menyuruh Andre ikut.
"Baiklah, jika itu memang terbaik" ucap Andre yang langsung masuk kedalam.
Tanpa ragu, Andre sudah berdiri di sana di sampingnya ada Elisa. "Silakan duduk, maaf tempatnya sekarang ajak kurang nyaman. Karena selama ini saya tak punya tempat menetap dengan baik, silakan duduk"
"Pamankan temennya papah, kenapa tidak meminta papah untuk merekrut paman di rumah sakit besar milik papah?" ucap Andre.
"Hahaha, susah payah aku keluar dari tempat papahmu. Masa harus aku kembali lagi, jauh sebelum tempat itu di buat. Aku sudah ada di sana, aku keluar dari sana untuk membuka klinikku sendiri"
"Hmm, begitu... Paman, kenapa harus membuka klinik sendiri?"
"Hmmph, ada alasannya yang tidak bisa aku jelaskan padamu" ucap Flores sudah menyiapkan alat-alat untuk menangani kasus Andre.
"Begitukah, lalu apakah paman mau kembali ke rumah sakit, sekarang saya yang mengurus tempat tersebut. Saya juga nanti bisa lebih dekat, tanpa harus mencari atau menghubungi paman yang bahkan situsnya pun sangat sulit di cari" ucap Andre.
"Ha-ha-ha, kadang kala kamu sangat lucu dan konyol ya andre. Sifat mu tidak ada yang berubah. Oh iya, Andre! apakah kamu tidak mau mengenalkan wanita yang di sampingmu itu, aku baru pertama kali melihatnya?"
"Iya, sayang! Ini beliau adalah Dokter Flores, teman papah. Dokter rawat pribadi ku, paman ini Elisa. Dia istri saya," ucap Andre yang mengenalkan Elisa kepada dokter Flores.
"Salam, Dokter Flores... Saya yang tadi di kenalkan, hmm?" dengan tersipu-sipu malu.
"He-he-he, nak. Kamu juga sangat lugu dan polos sekali, dan sangat mirip dengan sifat Andre yang kadang suka konyol, salam kenal juga ya nak Elisa" ucap Flores.
Andre sudah mulai curiga karena Flores sudah menyiapkannya alat-alat ya. "Sayang! ayo kita pulang?" ucap Andre yang sudah bangkit dari sofa.
"Hah? kita baru saja sampai mas, masa mau pulang lagi?" ucap Elisa yang kebinggungan.
"Nggak apa-apa, kayak ada yang ketinggalan deh! Dokter Flores, kami..."
TIK TIK TIK
Elisa yang sudah berhasil menotok, semua sistem gerak Andre membuat dokter Flores takjub, kemampuan itu langsung di manfaatkan dokter Flores untuk membuat Andre rileks dan memasukinya alam bawa sadarnya, untuk di refresh ulang.
"Maafkan aku mas, ini demi kebaikan kamu juga. Karena kami sayang kamu," ucap Elisa yang hanya melihat, Andre yang sudah larut dalam alam bawa sadarnya itu.
Bersambung...
Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya untuk beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa favoritkan...
__ADS_1
Kita akan berjumpa lagi di Episode Selanjutnya. Bye...
Rabu 11 Mei 2022.