
Hari sudah agak siang, waktunya sarapan semua sudah datang, keluarga besar Markus semua sudah kembali ke asal mereka, jadi hanya keluarga orang tua Elisa dan orang tua Andre, tapi kecuali Andre dan Elisa.
"Bu monika, semua anggota keluarga bu monika yang lain pada kemana? Apakah langsung pada pulang kemarin" tanya bu Siti yang sangat penasaran dengan keluarga ANDRILOS.
"Iya, mereka semua pada pulang. Karena mereka semua orang-orang sibuk, dengan urusan masing-masing" Ucap Monika yang menjelaskan kehidupan sehari-hari keluarga yah itu.
"Ouh! begitu, pantas saja saya jarang melihat wara-wiri mereka" ujar bu siti yang langsung mengambil piring untuk suaminya.
"Iya bu siti sulit untuk kumpul bersama, kalau hari-hari besar saja, kami bisa berkumpul seperti itu" ujar Monika memperjelas.
"Keluarga banyak juga, masih sulit berkumpulnya bu, kalau saya anak satu-satunya. Ayah juga cuman dua bersaudara, cuman kakaknya ayah cewek tapi meninggal saat hari kelulusan SMA" ujar bu siti yang menjelaskan.
"Ya Tuhan, jadi pak yusman sendirian juga yah" ujar Monika yang merasa prihatin juga atas hal itu.
"Iya, bu"
"Kalau saya, punya tiga kakak laki-laki, saya paling bungsu. Tapi ibu kami berbeda, jadi ayah saya menikahi empat wanita, masing-masing memiliki satu anak" ujar penjelasan monika.
"Oh- gitu, jadi masih ada satu lagi kakak anda yang tidak datang, kemarin hanya kakak kedua dan anak-anak, dari kakak pertama bu monika saja yang terlihat" ujar bu siti yang mengingat acara kemarin itu.
"Hubunganku, kurang baik dengan kakak ke tiga ku itu bu siti, jadi walau aku memberikan undangan padanya dia tidak akan datang, anak-anaknya pun punya watak yang sama, jadi aku binggung mau harus bagaimana untuk menyikapi yah" ucap Monika frustasi.
Sadar jika putranya tak kunjung juga turun, itu membuat Monika agak geram, karena sampai siang ini si Elisa dan Andre tidak nongol-nongol juga batang hidungnya.
"Nara, tolong kamu panggil Elisa dan Andre untuk sarapan yah, ini sudah siang, tapi mereka kok belum juga ada tanda-tanda akan turun kebawa buat sarapan" ujar Monika.
"Baik nyonya" ucap Nara yang langsung pergi, untuk menuju kamar Elisa dan Andre di lantai atas.
Setelah beberapa saat kemudian, Nara kembali ke ruang makan untuk melaporkan kondisi yang dia lihat di kamar majikan muda.
"Anu, nyonya. Maaf! Nyonya, itu di kamar tuan dan nona muda. mereka, tidak ada di kamar. Kamarnya saja masih rapih, atau mungkin sudah di rapihkan" ujar Nara yang terbata-bata.
"Hah? Kok bisa, kamu sudah cari di kamar ganti dan kamar mandi?" ujar Monika kaget dengan penuturan Nara itu.
"Saya sudah memanggil-manggil, tapi tidak ada yang menyahuti saya nyonya" jawab Nara yang terlihat khawatir bercampur takut.
"Aduhhh, kemana mereka pergi. Calder. Calder" panggil Monika kepala asisten rumah, yang punya wewenang sama dengan Marlina.
CALDER : Iya nyonya ketua, ada yang bisa saya bantu
MONIKA : Cepat kamu cari tau dimana Andre berada sekarang
CALDER : Baik nyonya, saya akan melacak keberadaan tuan
MONIKA : Bukan hanya Andre tapi, lacak Istrinya juga karena Elisa juga tidak ada
CALDER : Baik nyonya, saya akan melaksanakan perintah Anda
Semua orang sibuk, seperti kebakaran jengot hanya untuk mencari dua orang dewasa saja, harus membuat keheboan. Semua panik bukan main, seperti kehilangan dua anak kecil yang baru bisa jalan.
"Coba kalian cek, semua keberangkatan keluar negeri atau luar kota" ujar Monika yang sangat panik, karena Andre hilang entah kemana bersama Elisa.
"Nyonya tidak ada jadwal penerbangan, atau keberangkatan apapun, atas nama tuan, dan nona muda" ujar jeje yang menangani soal jalur keberangkatan.
"Telfon mereka" ujar Monika mengatakan pada semua pelayan yang ada.
"Hp tuan dan nona aktif, tapi mereka meninggalkan hp di kamar nyonya, ini phonsel mereka" ujar Nara yang memberikan hp keduanya.
"Aduuuh, kemana sih Andre dan Elisa. Jika Andre saja yang hilang itu sudah biasa, lah ini Elisa juga ikut-ikutan hilang" ucap kepanikan monika.
__ADS_1
"Ada apa ini bu Monika, pagi-pagi saja sudah heboh saja, cari apa?" tanya bu siti yang baru saja kembali dari kamar mengantarkan makanan untuk suaminya.
"Bu Siti, apakah ibu tahu dimana Elisa atau Andre, pergi kemana yah mereka" tanya Monika pada siti yang baru datang itu.
"Teteh, mungkin saja masih di kamarnya, bersama nak Andre" ujar polos bu Siti.
"Nggak ada bu, makanya aku heboh begini karena aku mencari-cari mereka berdua, yang entah kemana menghilangnya, pagi-pagi gini" Monika sudah hilang kendali.
"Nggak ada gimana? mungkin saja teteh jalan-jalan keluar atau sedang berduaan sama mas Andre, mamah Monika tenang saja" ujar azril menenangkan monika, yang sudah menganggap monika seperti mamah sendiri saja.
"Jangan-jangan mereka kabur bersama lagi" asal tebak Monika, karena rasa khawatirnya itu sudah menutupi akal sehatnya.
"Mau kabur ke mana? tetehku itu bukan orang yang gampang ikuti kemauan orang, jika tidak ada tujuan yang jelas" ujar Azril yang menjelaskan bagaimana tetehnya.
"Ya, mungkin saja pergi ke luar negeri atau luar kota, bisa saja kan. Bukannya mereka mau kabur dari sini"
"Paspor dan koper yang lainnya juga masih ada, semuanya masih lengkap disini, lalu bagaimana mereka bisa pergi" tanya Azril yang melipat tangannya kedepan.
"Loh, kok bisa semuanya masih lengkap! Coba kamu cek kendaraan di garasi apakah masih lengkap juga" ujar Monika yang bergantian bicara pada pelayannya.
"Baik nyonya, saya ke garasi dulu" ujarnya langsung berlari menuju garasi mobil yang tidak jauh dari samping rumah.
Setelah mengecek semua masih lengkap, dia kembali lagi untuk melaporkan keadaan di garasi.
"Nyonya semuanya masih lengkap, sepertinya tuan dan nona tidak mengunakan kendaran apapun" ujarnya seraya menyakinkan majikanya.
"Bagaimana mungkin, atau mungkin Andre punya kendaraan lain, mungkin dia beli mobil baru atau pakai kendaraan umum"
"Mamah Monika tenanglah dulu, mereka mungkin masih di sekitar istana ini, firasatku ini sangat kuat untuk tetehku, jadi mamah Monika, tenanglah dulu" ujar Azril yang mengelus-elus punggung mamah Monika.
"Yang di katakan azril itu ada benarnya bu Monika, mungkin saja mereka ada disekitar sini" sambung bu siti yang juga mencoba menyakinkan Monika.
"Marlina, aku nggak bisa tenang putraku dan menantuku entah ada dimana" Ucap Monika yang semakin dibuat panik.
"Mungkin mereka sedang jalan-jalan dulu, teteh bukan orang yang akan ambil kesimpulan dengan cepat, dia pasti akan pikir-pikir dulu sebelum dia benar-benar matangkan pilihannya. Apalagi kalau dia kabur dengan mas Andre, itu tidak akan mungkin. Karena tetehku tidak bisa yang namanya meninggal ibu, ayah dan adiknya disini" Ucap Azril yang begitu sangat menyakinkan diri Monika.
"Begitukah? Ya mungkin kalau andre saja yang kabur, aku tidak khawatir. Tapi, masalah Elisa juga ikut terlibat. Aaaduh- aku nggak enak sama kalian" Ujar Monika takut bu Siti berfikir yang aneh-aneh.
"Bu Monica, tenangkan diri anda saja sekarang, bu Monika istighfar, yang tenang. Coba ini, di minum dulu! biar Bu Monika agak tenang" Ujar Bu siti sambil menyodorkan segelas air putih.
"Maaf ibu Siti. Aku punya penyakit parnoan, hingga panik yang lebih besar" Ucap Monika yang menjelaskan.
"Iya saya ngerti posisi ibu, saya juga seorang ibu, makanya aku juga tahu rasa khawatir" Ujar Bu Siti menenangkan Monika.
Tak lama seseorang pelayan memberi kabar baik, jika ada yang sudah bisa menemukan Elisa dan Andre. Itu membuat semua lega, termasuk Monika yang awal begitu sangat panik minta ampun.
"Nyonya. Itu, tuan dan nona muda sudah ketemu" ujarnya dengan mengatur nafasnya.
"Ouh! dimana mereka berada sekarang?" tanya monika yang langsung bangkit dari sofa.
"Itu, nyonya. Tuan dan Nona muda, berada di taman bunga" jawabnya sambil menujuk kearah taman bunga.
"Apa yang ku bilang, mamah tidak usah khawatir, tentang teteh. Dia tidak akan berani untuk pergi jauh-jauh, apa lagi di negara asing begini" ujar azril yang sangat bangga dengan firasatnya itu.
"Iya kamu benar, syukurlah jika mereka masih ada di sini. Lalu sedang apa mereka di sana, kenapa tidak langsung datang untuk sarapan" ujar monika yang sangat kesal.
"Saya kurang tahu nyonya. Tapi tadi saya lihat Tuan sedang tertidur, di pangkuan nona. Karena aku hanya melihat dari jauh nyonya, jadi kurang tahu jelas" ujar sang pelayan yang mengatakan dengan keraguan karena hanya bisa melihat dari jarak jauh.
"Disini sudah kapal bengkah, malah yang di cari asik-asikan pacaran, ampun deh! Teteh- mas andre, bikin pala pusing tujuh keliling saja" ujar azril yang kesal dengan kedua kakaknya itu.
__ADS_1
"Ooh! Gitu, kalau mereka sudah selesai, dengan urusan mereka. Cepat kamu langsung panggil mereka, buat sarapan" ujar monika yang baru agak tenang dengan kabar tersebut.
"B-baik nyonya" ujarnya seraya berajalan pergi untuk memberi tahu, orang yang bersangkutan.
Di sisi lain, elisa yang berusaha menutupi wajah andre, dengan kedua tagannya, karena sinar matahari sudah semakin tinggi, air kerigat elisa juga sudah membasahi kening dan sudah ada yang meluncur turun ke dagu, hingga menetes seperti embun jatuh di wajah andre, itu membuat andre terbangun.
Pelan-pelan andre membuka matanya, melihat siluet wajah elisa yang terkena sinar matahari itu semakin membuat elisa sangat menawan.
"Ih, kok bangun-bangun malah tersenyum gitu? kamu kesambet mas, kalo sudah bangun cepat bangun" ujar elisa yang masih menghalangi cahaya matahari itu menerpa wajah andre.
Andre merai tengkuk leher elisa, itu membuat elisa menunduk hingga wajah mereka sangat dekat, itu memudahkan andre untuk melakukan aksinya, tanpa pikir panjang sebuah bibir lembut dan hangat itu, sudah mendarat di bibir elisa.
Setelah itu, andre langsung bangkit dari pangkuan elisa yang sudah agak lama itu.
"Kamu pasti capeknya, yuk! kita balik ke rumah pasti mereka sudah kalang kabut mencari kita" ujar andre yang sudah berdiri dengan tegap.
"Ouh! bentar mas, kaki aku keram karena di buat bantal olehmu" ujar elisa yang memukul-mukul pahanya yang keram.
"Maaf yah sayang" ujar andre yang berjongkok lagi dengan satu kaki, sebagai tumpuhan utama.
Andre langsung mengangkat elisa, mengendong elisa berjalan masuk kedalam istana monarfi, semua pasang mata menyaksikan betapa romantisnya mereka berdua.
Setelah sampai di ruang tengah, monika dan yang lainnya sudah duduk dengan sangat kesal geram juga karena ulah mereka berdua bikin seisi rumah leweh.
"Kalian berdua dari mana?" tanya monika yang sudah tahu tapi malah masih bertanya.
"Aku dan Mas Andre habis pacaran dulu, mah. Nggak jauh-jauh kok, hanya menikmati mentari pagi setelah malam yang gelap dan dingin, iya kan mas" ujar elisa yang baru di turunkan oleh andre.
"Hemm- kalian lagi-lagi kalau mau mojok di sudut taman, seharusnya pakai rambu-rambu, biar di dalam jangan khawatir" ujar monika yang di buat naik darah.
"Yaelah mah, kayak kendaraan saja. Harus ada rambu-rambunya, kan kita gak mau di ganggu sama siapa-siapa" sambung elisa yang seraya melingkarkan tangan di lengan andre.
"Yah! Lagian mojok dimana sih teh, sampai semua orang pada cariin kamu gak tahu" ujar azril yang melipat tangannya.
"Yeeeh- kamu kepo banget sih zril, anak kecil nggak perlu tahu" ujar elisa yang mengaca-acak rambut adiknya.
"Aaaah teteh, kebiasaan deh! suka banget ngacak-ngacak rambut azril, kalian tau nggak seisi rumah heboh, gara-gara cuman nyariin kalian berdua" penjelasan azril yang kesal.
"Lah kenapa? kan elisa dan Mas andre nggak kemana-mana, cuman di sekitaran rumah" ucap elisa yang tanpa berdosa.
"Iya! Nggak kemana-mana, cuman mengilang. Mas andre kalau kalian pergi kayak begitu lagi, seharusnya kalian bilang-bilang dong! biar seisi rumah gak khawatir atau panik, kalau mau pergi ke taman atau kemana pun" sewot azril yang menceramahi kedua kakahnya.
"Iya dek, maaf mas andre yah! karena enggak bilang-bilang" ujar andre dengan senyuman di wajahnya.
"Iya, masa mau pacaran saja! harus bilang-bilang dulu ke kamu, emang kamu mau gangguin kita begitu" ujar elisa yang cemberut.
"Nggak juga, kayak ngga ada kerjaan aja aku gangguin kalian, aku hanya memberitahu dan memberi saran, jikalau ada apa-apakan kita bisa tahu, jadi jangan buat orang jadi khawatir sama kalian" ujar azril yang sangat kesal, mewakili semua luapan ucapan monika.
"Kok, kamu jadi yang marah-marah sama kita sih zril, mamah dan ibu saja hanya diam saja tuh" ujar elisa yang ngeyel.
"Karena mereka lelah, setelah mencari kalian kemana-mana, aku juga bukannya sedang marah, cuma ngasih tahu pada orang yang ngakunya sudah dewasa tapi tingkah kalian seperti anak usia 3 tahun" ujar azril memberitahu.
"Iya-iya deh, zril kami ngaku salah, kamu tenangkan dirinya jangan marah-marah, nanti kamu cepat tua sebelum umur mu loh" ancaman elisa.
BERSAMBUNG ...
Terimakasih atas kunjungan Anda ke cerita saya jangan lupa untuk like, share dan masukan komentarnya...
Jangan lupa follow athour dan masuk ke grup saya ditunggu kedatangannya.
__ADS_1
Senin 24 Januari 2022.