
Malam semakin larut, terlihat Elisa yang terbangun di malam hari melihat Andre sudah terlelap dalam tidur, untuk kali ini Andre bisa tidur terlelap tanpa harus gelagapan atau suka mengerutkan alisnya. Andre tidur dengan tenang dan baik-baik saja itu sudah buat Elisa lega, karena selama beberapa hari belakangan ini seperti banyak sekali kejadian tidak terduga, itu membuat beban fikiran bagi Andre, dan mempengaruhi tidur Andre jadi kurang baik, selalu dengan rasa gelisah.
( Syukurlah, dia tidur nyenyak juga setelah semua hari ini banyak kejadian yang tak terduga. Aku jadi penasaran, dengan apa yang terjadi sebenarnya. Apakah masalahnya sangat serius hingga membuat dia seperti ini, nafsuu makan dia juga berkurang. Apakah aku hubungi saja, Tuan itu, uuntuk menanyakan prihal ini. Besok pagi saja deh aku menghubunginya! Ini sudah larut malam, aku simpan dulu, takut besok gak bisa) Gerutu Elisa yang mengambil kartu nama itu, dan diam-diam menyalin nomer yang tertera di sana.
^^^Flashback 7-8 jam yang lalu^^^
Saat berada di restoran bintang lima, saat ketemu dengan Brandon, dan Andre tiba-tiba minta pulang secara mendadak, lalu moodnya juga berubah drastis, aura juga sudah gelap. Saat Andre bangkit dari kursi dan bejalan pergi mendahului, Elisa sempat-sempatnya meminta nomer asisten Brandon.
"I am sorry, Mr. can I have the phone number?" Ujar Elisa terbata-bata mencari kata dengan translate sebisa Elisa dengan baik dan tepat dia bicara dengan suara pelan.
Asisten itu seakan faham dengan apa yang di katakan Elisa, ia tersenyum tipis. Langsung memberi kartu nama milik Brandon.
"Thank you" Ujar Elisa mengambil dengan cepat agar Andre tidak melihatnya, karena itu bersifat pribadi.
"You're welcome, lady" dengan senyuman mengembang di balik wajahnya.
"Sayang, cepat jalannya" Teriak Andre dari jauh, bergegas Elisa menyimpan kartu itu di tasnya, agar Andre tidak tahu dan tidak curiga.
"Iya bentar, Sabar napa?" Jawab Elisa.
"Mr. Bye-bye" Ucap Elisa melambaikan tangan dan pergi mengejar Andre.
BRANDON : Ken, apa yang di minta oleh putri menantuku itu
KEN : Nona minta nomer kontak, saya berikan kartu nama anda
BRANDON : Gadis itu, sungguh sangat mirip dengan Rubia. Tidak bisa diam sangat lincah, dan bisa menaklukkan hati seorang pria keras kepala seperti Alzam, hihi- alzamku sangat mirip denganku secara fisik, tapi sifatnya sangat mirip rubia
KEN : Sekarang bagaimana tuan, sepertinya tuan muda tidak setuju akan hal itu
BRANDON : Biarkan saja dulu, ini mungkin membuatnya syok! Kita percayakan semua pada waktu dan hasilnya, sepertinya putri menantuku itu juga akan mau membantu usaha kita
KEN : Nona? tapi tuan, nona itu apakah bisa anda percayakan
BRANDON : Dia, anak menantuku! bagaimana aku tidak mempercayai yah
^^^🍇🍇🍇SELESAI^^^
Keesokan paginya, Elisa sudah sangat rapi setelah sholat subuh tadi. Saat Andre sedang sibuk mengaji, Elisa diam-diam meninggalkan ruangan tanpa di ketahui oleh Andre. Sesampainya di bawa, ada ibu yang sedang mau mengantar teh untuk ayah.
"Loh! Teh mau kemana pagi-pagi sudah rapi, mana nak Andre?" Tanya Bu Siti.
"Bu, Elisa mau keluar sebentar atau mungkin agak lama. Elisa pergi dulu ya Bu, assalamualaikum" ujar Elisa yang langsung berjalan cepat keluar rumah, menuju mobil yang sudah siap di depan.
"Iya, walaikumsalam. Itu anak kenapa sih! Kayaknya sedang buru-buru sekali, mau kemana?" Ucap Bu Siti yang sangat penasaran.
Setelah mengaji Andre turun ke bawa, mencari Elisa tapi tak melihatnya. Bu Siti dan Ayah Yusman juga baru keluar kamar, ibu yang mendorong kursi roda ayah.
"Cari siapa nak Andre?" Ucap ayah saat melihat menantunya sedang sibuk, mondar-mandir.
"Bu-Ayah, tahu Elisa nggak?" Tanya Andre, seperti anak kehilangan emaknya, udah panik saat tidak menemukan Elisa.
"Ouh, tadi ibu sempet lihat, teteh pergi keluar naik mobil" Ujar Bu Siti.
"Kira-kira, ibu tahu enggak! Elisa pergi ke mana?" tanya Andre yang sangat penasaran.
"Iya ibu gak tahu, karena teteh nggak bilang mau pergi ke mana? Coba nak, kamu telfon, sapa tahu saja di jawab" ujar Bu siti yang menyarankan.
Tut Tut Tut—
"Gimana? di angkat?" Tanya Ibu.
"Nggak di angkat Bu, aduh! kemana sih? biasanya dia cari makanan di bawah, kok gak ada?" Dumal Andre.
"Di coba lagi nak, mungkin teteh gak dengar, atau mungkin teteh belum sempat bisa jawab" Ucap ibu yang memberikan penjelasan.
Sampai beberapa kali Andre menelfon Elisa, tapi tidak di angkat oleh elisa. Akhirnya, Andre langsung melacak keberadaan lokasi di mana Elisa.
Saat maps itu sedang bekerja, malah menujukan lokasi yang tidak terduga, maps tidak jalan kemana-mana, stak lokasi di rumah. Andre mencari lokasinya, ternyata hp Elisa tidak dia bawa, masih berada di tempat meja riasnya.
__ADS_1
"Gimana nak, ketemu?" Tanya Bu siti saat Andre turun lagi, dari kamarnya.
"Nggak Bu, hp yah dia tinggal. Yah! kalau aku yang kayak gini, dia pasti ngomel-ngomel tujuh turunan gak habis-habis. Kemana si? bikin pusing aja deh!" Ucap Andre yang kesalnya di ujung ubun-ubun.
"Sabar nak- sabar. Teteh, mungkin sedang jalan-jalan" Ucap Bu siti yang menenangkan menantu yah itu.
"Andre permisi, mau cari Elisa dulu" ucap Andre yang langsung jalan keluar rumah.
Tapi saat jalan menuju halaman, Arafif tiba-tiba menghentikan langkahnya. "Andre!"
"Hm–" Andre menyahut dengan cepat, menoleh ke sumbernya.
"Nak! Papah boleh bicara denganmu sebentar!" Ujar Arafif yang terbata-bata.
"Tentang masalah apa?"
"Papah ingin ngobrol soal yang kemarin, kita bisa bicara di ruang perpus, karena papah akan menjelaskannya. Mari ikut papah ke—" ujar Arafif yang terbata-bata mencari kata yang tepat.
"Pah, untuk saat ini Andre gak bisa ikut. Karena mau cari Elisa dulu, dia menghilang tanpa jejak" ucap Andre yang langsung pergi.
Setelah di cari seisi rumah Andre tidak dapat menemukan Elisa, bikin Andre frustasi karena tak dapat melihat Elisa dimana-mana.
"Gimana nak, ketemu Elisa yah!" Tanya ayah yang khawatir.
"Nggak ada ayah, apakah dia belum kembali?" Ucap Andre yang duduk sebentar di sofa sebelah ayahnya.
"Belum"
"Nak Andre, ibu tadi bilang Elisa naik mobil. Nak Andre gak denger yah! apa yang ibu katakan, di cari seisi rumah juga gak bakalan ketemu" Ucap Bu Siti.
"Kemana ya bu?" Andre baru ngeh.
"Mungkin saja teteh pergi beli sesuatu cemilan yang dia mau mas, jangan parno deh! teteh emang suka gitu kan, kalau ada makanan yang lagi hit pasti pengen cepet-cepet beli" Ujar Azril yang datang dari belakang.
"Iya bener yang di katakan Azril, nak! sudah jangan khawatir" Sambung ayah yang menepuk punggung Andre.
"Tapi Ayah, aku—"
"Aku tahu ayah, tapi aku yang tidak akan baik-baik saja sekarang. Aku butuh dia untuk di samping ku, untuk mendukung ku" Ujar Andre yang meneguk segera air di meja, yang sudah di sediakan ibu untuk Andre.
"Nak, coba kamu temui pak Arafif dulu sana. Mungkin saja, saat kamu ketemu pak Arafif, teteh sudah balik lagi" Saran Bu Siti.
"Iya deh, Andre ke papah dulu. Permisi Ibu-Ayah"
"Iya"
Andre mendatangi kamar Papahnya, tapi tidak ada papahnya. "Mah, mana Papah?" Tanya Andre spontan.
"Bukannya ada di luar kan, sama kamu" ucap Monika.
"Nggak ada mah, terus mamah lagi ngapain. Nggak keluar-keluar, ibu dan ayah ada di luar tuh" Jawab Andre cepat.
"Nggak apa-apa, ini mamah baru selesai mandi. Semalam papahmu gak bisa tidur, jadi mamah baru bangun nih" ucap Monika menatap lekat putranya dengan sayu.
"Ouh! Yaudah, Andre mau cari papah"
"Mungkin keruang perpus, atau ruang favorit yah"
"Iya baiklah"
Andre akhirnya menemui papahnya, yang sedang melihat sebuah buku, tapi saat Andre datang buku itu ia tutup langsung meletakkan lagi di tempatnya semula.
"Pah!" Panggilan itu membuat Arafif tersentuh, Andre manis sekali memanggil papah dengan nada seperti itu.
"Papah masih ingin berbicara denganku?" sambung Andre yang mendekati papahnya.
"Maafkan Andre yang sebelumnya, dan maafkan Andre juga saat kemarin, itu karena Andre terbawa arus. Soal, kemarin Andre juga tidak tahu harus bagaimana? nggak bisa faham kenapa papah tidak mau mengatakannya. Akan tetapi Andre bisa mengerti kenapa papah tidak mau mengakui yah, jadi biarlah itu menjadi semua misteri, Andre tetap akan jadi anakmu. Aku bukan anaknya, Andre tetap putramu. Walau apapun yang membuktikan jika papah bukan papah kandungku, aku tidak peduli" Ujar Andre yang menyikapi hal itu dengan sekuat-kuatnya.
"Kamu terlalu naif nak, semua tidak bisa seperti yang kamu katakan. Selama ini aku juga berfikir begitu, tapi fakta tidak seperti itu" Akhirnya Arafif membuka mulutnya, berbalik badan menatap putranya sayu.
__ADS_1
Semakin lama manatap Andre Arafif semakin rapuh, tak tahu harus bagaimana untuk menanyakannya kepada Andre, jujur dirinya tak mau di tinggal pergi oleh anaknya itu, walau dia tahu jika Andre bukanlah darah daging yah, tapi rasa cinta dan sayang sudah mendarah daging.
"Mungkin, tapi! Papah adalah segalanya bagiku, papah adalah dunia ku, papah juga adalah pahlawanku, lalu bagaimana aku bisa meninggalkan duniaku. Andre tidak akan bisa hidup tanpa papah, saat Andre kecil papah adalah rumah bagiku, lalu selama ini ada untukku juga papah, saat aku sakit papah juga yang menemaniku, bahkan papah rela meninggalkan semua pekerja papah hanya untuk menjagaku semalam di rumah sakit. Padahal waktu itu papah ada seorang dokter ketua, papah yang ada saat aku terjatuh dari motor, Papah juga yang membantu saat aku terpuruk. Lalu kenapa jika papah tidak bisa di sebut seorang papah, jika pengorbanan mu lebih dari seorang papah kandung bagiku" ucap Andre yang menekan dan menjelaskan semuanya.
Tumpah sudah air mata yang di tahan Arafif saat mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Andre, dulu Andre hanyalah seorang bayi laki-laki yang lahir prematur, saat kandungan 7 bulan dia sangat mungil, dengan tinggi 25 cm dan berat 1,5 kg. Tapi lihat sekarang, dia sudah menjadi pria yang sangat besar dan tinggi, hingga tangannya yang dulu sangat mungil, tapi sekarang bisa sangat kuat.
Hik hik hik
"Maafkan aku nak, aku-" Tak kuasa menahan diri, Andre yang tak tega membentang tangannya untuk memeluk papahnya.
"Pah, sudahlah. Aku sudah memaafkan papah, aku yang tidak bisa memaafkan diri ini karena telah beraninya membentak papah, sedangkan papah terlalu banyak kesulitan selama ini gara-gara aku, bahkan pengorbanan papah tak bisa aku ganti dengan apapun, Andre juga belum bisa membalas semua kebaikan papah, jasa-jasa papah. Andre malu pada diri ini, yang belum bisa membuat papah bahagia hanya rasa sulit setiap saat yah. Maafin Andre ya Pah, maafkan Andre karena Andre belum bisa membuat papah bahagia dan bangga pada Andre" Ucap Andre yang sangat erat memeluk papahnya.
"Putraku, kamu memang putraku. Kamu adalah Andre milik ku" Tangisan itu semakin pecah, Arafif menumpahkan semua rasa campur aduk ya dalam pelukan hangat Andre.
Di sisi lain, Elisa telah sampai di sebuah halaman rumah dimana disana, semua orang sudah berbaris seperti sedang menunggu presiden, dengan halaman rumah yang megah dan luas.
^^^RUMAH KING EMPEROR^^^
Ada yang membuka pintu mobil, Elisa keluar dari dalam mobil Mewah dengan warna silver dengan taburannya warna keemasan.
"Gila, ini rumah. Atau Istana di surga, Waaah, ini 10x lipat dari Istana Monarfi" Ucap Elisa terpesona dengan keindahan rumah yang bernuansa putih dan hijau karena taman-taman yang di jaga dengan baik.
"Silakan nona lewat sini" Ucap pelayan wanita dengan senyuman mengembang, dia manager pelayan di sana.
"Iya Terimakasih" Ucap Elisa dengan tersenyum sekilas, tapi langsung mengalihkan pandangannya lagi, untuk mengagumi keindahan rumah itu.
"Eh, aku baru sadar tadi dia pakai bahasa Indonesia kan, aku gak salah dengar kan" Gerutu Elisa yang baru sadar.
Seraya melongo melihat kemegahan rumah itu, datanglah Ken, kaki tangan Brandon.
"Lady, You've arrived. Welcome to king emperor palace" menyambut Elisa dengan sangat ramah.
"Maafkan aku, aku tidak mengerti dengan apa yang anda katakan, bisakah suruh orang untuk menerjemahkan, ke bahasa Indonesia" Ucap Elisa khawatir, lalu menatap ken dengan penuh harapan.
Ken tersenyum, lalu mengangguk pelan. "Jadi begitu, anda tidak mengerti. Tapi saat di Gedung J anda pakai bahasa Inggris, dengan sangat baik" Ucapnya seraya memuji Elisa.
"Eh, itu belajar secara otodidak, alias dadak mikir hahhaha. Upss! maaf kelepasan" Ucap Elisa yang ketawa agak keras, langsung ia tutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Tidak masalah lady, walau anda belajar otodidak seperti itu anda sangat hebat, langsung bisa mengatakan dengan fasih" pujian Ken pada elisa, ia sesekali menatap Elisa yang sangat lucu tingkahnya,
Ken jadi teringat, saat nyonyanya pertama kali datang ke istana Emperor, juga seperti Elisa yang tidak bisa diam, sibuk memperhatikan sekitarnya.
"Terimakasih atas pujiannya Pak" Ucap Elisa spontan.
"Nama saya Ken, anda bisa memanggil saya Ken saja, tidak usah pakai pak, lady" Ucap Ken yang menegaskan.
"Hmm- aku tidak bisa, anda lebih tua dari saya, bahkan anda seperti ayah saya, bagaimana jika saya panggil paman saja anda tidak keberatan kan?" Ucap Elisa yang sangat memohon.
"Jika anda nyaman seperti itu, baiklah saya setuju" ucap Ken yang pasrah.
"Terimakasih" Elisa mengembangkan senyumnya.
"Lady, saya akan ulangi lagi kata-kata yang tadi saya katakan. Selamat datang di istana king emperor, Anda sangat di tunggu kedatangan yah" dengan membungkuk tubuhnya, saat sampai di depan pintu masuk.
"Iya terima kasih paman, hmm- tuan rumah ya ada?" Ucap Elisa yang membungkuk tubuhnya juga.
"Tuan Brandon sedang bersiap-siap, sebentar lagi akan turun. Mari ke ruang makan, ada sudah sarapan?" Tanya Ken.
"Ah! iya aku datang terlalu pagi, maafkan aku. Karena aku tidak dapat menemukan waktu yang tepat, untuk bisa menemui tuan Brandon, aku tidak tahu kapan bisa lolos dari dia, karena Andre 24 jam suka mengikuti ku kemanapun, kecuali kamar mandi" Ucap Elisa yang melihat tingkah Andre akhir-akhir ini seperti anak kecil yang pengen nempel terus.
"Hahaha begitukah, saya tidak tahu jika ada momen seperti itu, dulu tuan juga suka begitu, mungkin gen turunan. Silakan duduk, lady" Ucap Ken, menarik kursi agar Elisa duduk .
"Terimakasih, paman" Elisa dengan senyuman mengembang.
BERSAMBUNG ...
Terimakasih atas kunjungan Anda ke cerita saya jangan lupa untuk like, share dan masukan komentarnya...
__ADS_1
Jangan lupa follow athour dan masuk ke grup saya ditunggu kedatangannya.
Sabtu 5 Februari 2022.