
Keesokan paginya, Elisa yang baru bangun. Langsung meraba kesamping, merasakan jika Andre sudah tidak ada di sebelahnya lagi, membuka mata perlahan-lahan, ternyata benar Andre sudah tidak ada di sisinya.
"Lah kok gak ada, kemana dia? Jam berapa sih, eh- ini hp Mas Andre? Orangnya kemana? Joging kali yah" Tebak Elisa, yang tahu kebiasaan suaminya itu, jika habis subuh-subuh pasti akan lari-lari kecil atau olahraga dalam rumah.
Tak lama terdengar suara ketukan pintu, dari luar kamarnya.
TOK TOK TOK
"Nyonya, ini Michal. Apakah nyonya sudah bangun?" Suara itu terdengar dari balik pintu.
"Ah! Iyah Michal aku baru bangun, sini masuk saja. Kayak yah sudah gak di kunci, coba kamu buka" Ucap Elisa yang menebak.
"Baik nyonya," Ujar Michal, lalu langsung membuka pintu dengan kereta dorong.
"Nyonya, mau saya siapkan tempat untuk mandi?" Ujar Michal yang menawarkan diri.
"Nggk usah, lagian tinggal buka keran doang. Michal kamu tahu suami saya, pagi-pagi begini dia pergi kemana?" Ucap Elisa yang turun dari ranjang.
"Hmm- tadi saya lihat beliau keluar, mungkin sedang jalan-jalan di halaman" Jawab Michal yang sempat melihat Andre pergi.
"Begitu, yasudah terimakasih"
"Apakah ada yang nyonya butuhkan lagi, biar saya ambilkan"
"Tidak usah Michal. Oh, seperti ya ada. Boleh minta baju ganti nggak, saya tidak bawa baju ganti"
"Kebetulan saya sudah ambilkan, ini di persiapkan langsung oleh tuan besar untuk anda dan tuan muda. Silakan anda mengganti pakaiannya"
"Terima kasih"
Disisi lain Andre yang berdiri di sebuah pohon, yang cukup rindang dedaunan muda ya. Setelah musim salju itu, pepohonan mulai tumbuh kembali. Brandon yang datang mendekati Andre, seraya menatap pohon yang sama bersama.
"Pohon ini ditanam oleh Rubia, saat pertama kali dia datang ke rumah ini" Suara itu terdengar sangat lemah lembut, Brandon berdiri di samping Andre.
"Aku tidak tanya!" Jawab Andre datar, seraya melirik dari ujung ekor matanya.
"Dia bilang. Ingin menanam pohon ini untuk anaknya kelak, agar anaknya bisa seperti pohon yang dia tanam. Saat melihat pohon ini, tumbuh berkembang. Ku rawat sendiri layaknya anakku, karena kupikir dia pasti akan datang untuk melihat ini. Dia juga bilang, pohon ini adalah pembawa keselamatan, kejayaan, kesehatan, dan keamanan agar anaknya selalu dalam lindungan, walau dia tidak ada di samping" Penjelasan Brandon pada Andre.
Andre hanya diam mendengarkan apapun yang di katakan oleh Brandon, seraya menatap daun-daun yang tertiup oleh angin.
"Kenapa Anda menceritakan hal itu, padahal aku juga tidak menanyakan kepada anda, lagi pula dia kan istri anda" Ucap Andre yang masih kekeh, tidak mau mengakui bahwa Brandon adalah ayahnya.
"Hm– yah! Ku sadari jika suatu saat kamu pasti tidak akan menyukai ku, aku juga tahu perasaan kebencianmu terhadapku, dan kamu juga belum bisa menerimaku, tapi aku cukup berharap kita bisa dekat. Walau tak bisa dekat seperti ayah dan anak pada umumnya, setidaknya kamu mau menemuiku sesekali" Ucap Brandon yang menatap Andre yang penuh harapan.
"Anda salah jika menilai dari sisi samping, aku tidak membencimu. Iya, jujur aku belum bisa menerima anda, karena aku belum mempercayai bahwa ucapan anda adalah kebenaran" ujar Andre yang menatap sepasang bola mata yang sudah rapuh itu, mata yang sudah menggenang, sorot mata yang kendur tapi masih memiliki secarik harapan.
"Iya, aku tahu sifat mu itu. Walau kamu mengatakan tidak, yang itu artinya Iya. Ucapan mu tak akan sesuai dengan apa yang di dalam hatimu, karena kamu sangat mirip denganku. Akan bertolak belakang dengan apa yang dipikirkan, Nak! aku bisa memahami yah, jika memang kamu belum bisa menerima ku. Maaf, sudah memaksakan diri, agar kamu mengenalku. Tapi, aku punya alasan sendiri, kenapa aku ingin dekat denganmu" Ucap Brandon yang menatap kembali pohon di depan yah.
"Jangan mengada-ngada, aku bukan putramu. Jadi jangan terlalu berharap banyak pada orang asing, yang baru anda kenal. Tuan" Ucap Andre yang masih kekeh itu.
"Ya terserah, apapun yang kamu katakan aku kan terima, mungkin itu sudah jadi resiko bagiku, karena aku tidak bisa menjadi ayah yang baik untuk merawat mu. Syukurlah, karena kamu dirawat oleh orang yang tepat sebagai Papahmu, Arafif adalah sahabatku satu-satunya. Dialah orang yang sangat baik, aku banyak belajar darinya, aku juga bisa berubah dari yang buruk jadi baik. Dia adalah contoh yang ku ikuti, karena dia terlalu baik" Ucap Brandon yang menatap ujung-ujung batang pohon.
Setelah perbincangan itu, Andre berada di teras rumah Brandon seraya melihat pemandangan kebun dan halaman yang begitu luas dari ketinggian, rumah yang di bangun sangat megah layaknya istana itu memiliki teras atas dan bawah. Andre berada di teras atas, untuk melihat-lihat sekitar. Seraya memikirkan matang-matang perasaannya, dan apa yang di katakan Brandon beberapa waktu lalu.
Tiba-tiba, sepasang tangan melingkar di pinggang yah. "Hap! Kamu tertangkap" Ucap Elisa yang memeluk Andre dari belakang.
"Apa yang sedang kamu lakukan, aku mencari mu ... Kenapa kamu diam saja? ... Mas! ... Mas! ... Woy, kok diem aja" Elisa melambaikan tangan di depan wajah Andre, tak merespon. Jalan kesamping, kedepan dan belakang. Memutari tubuh Andre, yang saat ini tak bergeming dari tempatnya.
"Mas, kamu kok diem aja, kamu beneran gak kesambet kan" Ucap Elisa yang ketakutan.
Andre tersenyum geli dengan tingkah laku istrinya itu, yang sangat lucu saat dia panik.
Sekalian saja aku goda dia. Sebagai hukum membuatku kuwalahan kemarin, jangan harap kamu akan lolos dari balas dendam ku ini yah. Gerutu dalam hati Andre.
__ADS_1
"Sepertinya, aku di rasuki seseorang di dalam tubuhku"
"Hah, serius?" Wajah Elisa panik, Andre hanya menatap, dan menjawab mengangguk kelapanya pelan.
"Mas kayaknya kamu harus di ruqyah, biar... mmm—" belum sempat melanjutkan ucapan. Andre sudah melahap bibir Elisa, hingga bibir itu habis tak tersisa.
Andre menaikan tubuh Elisa ke pembatas teras, ia dudukan Elisa di sana. Di rasa sudah puas, mencium bibir Elisa, hingga nafas mereka tak beraturan. Andre melepaskan ciumannya, terdiam sambil menyatukan dahinya dengan jidat Elisa.
"Kamu kenapa?" Suara itu terdengar sangat pelan, karena Elisa mengatur nafasnya.
"Aku lelah, kenapa semua ini tidak pernah habis. Kenapa saat aku lari menjauh, semua malah mendekat. Seperti fatamorgana, yang tak ada akhirnya, ku hadapi apakah akan sanggup untuk tetap berdiri" Ucap Andre yang tidak tahu harus bagaimana.
"Masalah itu pasti akan datang, jika tidak mau ada masalah itu bukan hidup. Karena ujian itu pasti ada untuk setiap makhluk, karena Allah sayang sama kamu, karena kamu lebih ingin dekat dengannya, makanya masalah itu selalu datang menghampiri kamu" Ucap Elisa yang mengatakan bahwa hal itu wajar.
"Rasanya aku tak kuat lagi sa, aku sudah tak sanggup lagi. Sepertinya aku juga tak mampu untuk berdiri, setelah berulang kali terjatuh" Ujar Andre yang masih menyatukan jidatnya itu.
"Aku ada di sampingmu, jangan takut untuk melanjutkan dan melangkah untuk keluar dari zona hitam mu. Aku akan menemanimu, jadi jangan khawatir untuk bergerak maju kedepan. Mau keluar bersamaku, coba sini aku mau lihat wajahmu" Ucap Elisa yang menjauhkan wajah Andre wajahnya.
"Mas, aku tahu ini sulit untuk kamu fahami, tapi hidup harus kamu jalani. Aku tahu ini berat bagimu untuk kau topang sendirian, lalu kenapa kamu tak minta bantuan, aku akan memikul bersama mu. Untuk berbagi rasa susah dan senangmu, aku di sini untukmu" Ucap Elisa yang menyakinkan diri Andre.
"Terimakasih, karena kamu mau ada di samping ku" Ucap Andre seraya mengecup kening Elisa lembut, dan langsung memeluk Elisa.
Lama di teras, saat kondisi Andre agak membaik Elisa memberanikan diri untuk mengatakan tujuannya mendatangi Andre, dirasa karena Andre masih ragu akan dia sebenarnya adalah putra dari Brandon, Elisa hanya ingin membantu menyatukan kedua pria ini, Elisa harus membuat rencana.
"Mas, kamu mau nggak melakukan tes DNA?" Tanya Elisa yang sangat penasaran.
"Emang buat apa?" Tanya Andre yang menatap Elisa yang berada di dekapannya, saat ini masih menatap pemandangan di depan.
"Yah! Agar sebagai pembuktian, jika kamu itu anak Daddy, kamu kan gak percaya jika tidak ada buktinya" Ucap Elisa yang membalikan badan, menghadap ketubuh tinggi itu.
"Aku tidak mau" Ucap Andre yang menolak dengan mentah-mentah.
"Jika kamu menolak seperti itu artinya tidak mau mengakui Daddy sebagai ayah kandung kamu, iya kan. Lalu bagaimana kamu mau keluar dari zona hitam mu, seharusnya satu persatu kamu selesai kan dulu, agar lebih ringan. Beban juga akan lebih berkurang, lalu bagaimana aku bisa membantu jika kamu tak mau berkerja sama" Ucap Elisa yang membingkai wajah Andre dengan kedua telapak tangan yah.
"Karena aku gak mau kamu akan menyesal di kemudian hari, lagian Daddy selama ini hanya bisa menunggu sebuah harapan jika anaknya akan kembali, dan datang di hari tuanya, jangan begitu egois. Jika aku jadi kamu, aku pasti akan sangat senang bisa bertemu dengan ayah kandung ku"
"Lalu, apakah setiap ada orang yang akan mengaku sebagai ayah atau ibuku, apakah akan ku anggap orang tua kandung ku"
"Mas aku tahu kamu tidaklah bodoh, bisa menilai dari sisi manapun, jadi tidak usah aku jelaskan dengan sangat detail. Pokoknya aku gak mau tahu, kamu mau atau tidak aku akan memaksa mu. Terserah jika kemudian kamu akan marah, atau membenci ku, aku lakukan semua ini demi kamu"
"Baiklah" Andre sangat pasrah saja dengan sangat cepat, tak mau membuat Elisa menjadi pundung.
"Ya, sudah kita buktikan kalau memang benar. Daddy itu bukan Ayah kandungmu, seharusnya ada DNA itu agar bisa membuktikan, kalau kamu anaknya atau bukan. Jadi jangan menolak, artinya kamu yang takut akan kebenaran itu ada" Ujar Elisa yang menyakinkan diri Andre.
"Ya sudah terserah kamu, aku hanya ikuti saja, apa yang kamu mau" Ujar Andre yang pasrah.
"Nah, gitu dong nurut" ujar Elisa yang membelai kepala Andre.
Sampai di sebuah rumah sakit, disana khusus untuk penelitian. Andre dan Brandon langsung disuruh masuk ke ruangan untuk mengambil sempel DNA mereka, saat menunggu hasilnya. Elisa yang duduk sambil memperhatikan mereka bekerja, sedangkan Brandon duduk di sisi Elisa, Andre berdiri dengan Ken yang berada di belakangnya.
Saat dokter itu keluar, yang antusias hanya Elisa, ia langsung bangkit. "Hmm- bagaimana dok, hasilnya" ujar Elisa yang bertanya-tanya.
DOKTER : Tuan-tuan, anda sedang bercanda dengan kami?
Ujarnya, karena melihat tes itu malah membuat Dokter itu binggung, dari wajah saja sudah membuktikan kalau mereka ayah dan anak.
"Mas, apa yang dia katakan? Aku gak faham" ujar Elisa yang kebingungan.
BRANDON : Tidak, kami ingin tahu hasilnya. Bagaimana?
DOKTER : Tuan, dilihat dari wajah kalian saja sudah sangat mirip, walau dengan versi menua dan muda. Walau tanpa melakukan tes ini, lalu kenapa harus melakukan tes DNA.
BRANDON : Untuk membuktikan, kami sudah lama tidak berjumpa
__ADS_1
DOKTER : Ah, begitu. Maafkan saya! saya tidak tahu
ANDRE : Kami maklumi, tolong berikan pada saya hasilnya
DOKTER : Ini tuan
Dokter itu langsung memberikan kertas itu pada Andre, Elisa yang sangat heboh dari tadi sangat penasaran dengan hasilnya.
"Apa hasilnya mas, itu hasilnya kan? cepat mas di baca" ucap Elisa yang melirik-lirik kertas tersebut.
"Iya, kamu ingin melihatnya" ujar Andre yang menatap Elisa yang begitu sangat bersemangat untuk melihat hasil yah.
"Iya, sini Elisa saja" ujar Elisa yang meminta keras itu dari tangan Andre.
Kertas itu langsung Elisa ambil alih dari tangan Andre, tapi sayang karena kertas itu berbahasa Inggris Elisa kesulitan untuk membaca, dengan sikapnya yang kocak dan imut. Membuat gelak tawa, Andre dan Brandon, bahkan dokter itu pun ikut tersenyum.
"Bagaimana cara membacanya, lidah Elisa tiba-tiba kecekik Mas, bacakan" ujar Elisa menyerah, dan membalikkan kertas itu lagi pada Andre.
"Sudah aku duga, makanya" Ucap Andre yang mengambil kembali kertas tersebut, dan langsung membuka lembaran selanjutnya.
"Cepat katakan, apa hasilnya"
"Sesuai keinginan kamu"
"Hah! Apa, cepat katakan yang jelas Mas, apa hasilnya"
"Hasilnya, hasil dari penelitian tes ini. Adalah 99% hubungan ayah dan anak yang sangat—" belum selesai ngomong sudah di potong.
"Apa aku bilang, kamu selalu saja mengelak. Apakah kamu mulai percaya, dan akan mengakui Daddy sebagai ayah kandung mu. Mulai sekarang, jangan melakukan hal itu lagi yang membuat hati Daddy terluka sekarang kamu benar-benar anak daddy, bukti ini sudah jelas" Ucap Elisa yang senang banget.
"Siapa yang akan berani menentang perintah dari mu nona Elisa" Ucap Andre yang pasrah.
"Paman Ken, cepat bikin perayaan jika tuan muda kalian sudah kembali" ujar Elisa yang semangat sekali.
"Apa maksudmu?" Tanya Andre kebingungan.
"Mas, biarkan saja. Sekalian Daddy merayakan hari ini, untuk mengundang para temannya dan berpesta" Ucap Elisa yang asal saja.
"AKU TIDAK SETUJU" Dengan kompak Andre dan Brandon bersamaan mengatakan hal itu.
"Eh, kompak lagi"
"Elisa itu terlalu awal untuk merayakannya"
"Daddy juga berfikir begitu, karena aku khawatir tentang keselamatan kalian, jangan sampai masa lalu itu terulang kembali, aku tidak mau kehilangan kalian. Nanti saja"
"Lady, jika seperti itu akan sangat bahaya. Bagi keselamatan dan posisi penerusan generasi, apa lagi tuan muda yang awalnya sudah dinyatakan tidak ada, lalu tiba-tiba muncul akan sangat bahaya bagi keselamatan penerus ANDRILOS. Nanti saja, jika posisi tuan muda aman dan saat tuan muda sudah dinobatkan sebagai penerus ANDRILOS selanjutnya, boleh untuk mengumumkan kebahagiaan itu" Ujar Ken.
Elisa hanya terdiam dan terpaku, karena tidak tahu apa-apa. Soal perselisihan antara kekuatan perebutan kekuasaan, Andre tahu jika Elisa ingin berbuat baik hanya saja waktunya memang tidak tepat.
"Itu benar, untuk saat ini biarlah waktu yang akan menjadi saksinya, lagi pula aku tidak mau memaksa putraku untuk memimpin dan harus melawan mereka, lalu meninggalkan Arafif. Aku tak bisa membuat hati Monika terluka, dan juga tak sanggup jika harus kehilangan cahaya itu lagi, Andre memang pohon harapan bagi kami tapi, aku tak bisa membantu jika ada apa-apa pada kalian" ujar Brandon.
"Musuh-musuh berselimut kabut masih ada lady, tuan juga selama ini bersembunyi dari kejaran mereka, agar tuan bisa bertahan" sambung Ken.
"Maafkan Elisa Daddy, Elisa tidak tahu" Ujar Elisa yang merasa bersalah pada Andre dan Brandon.
"Tidak apa-apa, aku tahu Putriku tak akan mau membahayakan keselamatan kami, kamu anak yang baik. Aku tahu kamu hanya ingin aku bahagia, karena telah mempertemukan aku dan putraku yang selama ini aku rindukan" ujar Brandon seraya membelai lembut kepala Elisa.
BERSAMBUNG ...
Terimakasih atas kunjungan Anda ke cerita saya jangan lupa untuk like, share dan masukan komentarnya...
Jangan lupa follow athour dan masuk ke grup saya ditunggu kedatangannya.
__ADS_1
Sabtu 12 Februari 2022