
Sesampainya di tempat istirahat bagi pengawal-pengawal yang bergantian shift jaga, Aoda yang mengantarkan Andre untuk menemui pengawal wanita yang akan di tugaskan untuk menjaga Elisa.
"Tuan, ini mereka yang saya katakan" ucap Aoda, dua wanita yang tadinya duduk seketika berdiri dengan cepat saat melihat Andre.
Gila, ternyata dilihat dari dekat begini tuan majikan ku? ganteng juga, tadinya hanya di lihat dari jauh sih, jadi tidak terlalu jelas. Dumal dalam hati salah satunya.
"Perkenalkan diri kalian, tuan ingin tahu siapa kalian, kalian memang tidak akan mengawal Tuan tapi nyonya Elisa, sebelum ke nyonya kalian harus mengenal diri" ucap Aoda.
"Siap, JJ. Alina pat 77, lulus periode 8. Siap menghadap"
"Siap, lapor **. Mayangsari Dat 11, lulus prieode 24. Siap menjalankan tugas!"
Setelah mereka mengenalkan diri mereka masing-masing, Andre terdiam sejenak melihat keduanya secara bergantian Andre masih kurang yakin dengan keduanya.
"Baiklah, selamat malam. Maaf telah mengganggu waktu istirahat kalian, dan baru bisa menemui kalian malam hari. Pertama-tama saya akan perkenalkan diri dulu, hmmm- nama saya Andre. Itu yang semua orang kenal, saya mohon bantuan kalian untuk menjaga Elisa, istriku susah-susah gampang. Dia orangnya mood-moodtan, besok kalian datang saja untuk kenalkan diri kalian, karena malam ini aku akan pergi. Jadi jika besok pagi dia mencariku, katakan aku hanya pergi sebentar dan akan kembali, jika dia tanya kemana? jawab saja sedang ke rumah sakit. Kalian harus bicara dengan tegas lantang dan menyakinkan, karena Elisa gampang curiga. Faham!"
"Siap laksanakan perintah" dengan kompak mereka mengatakan dengan tangan mereka tegap.
Keesokan paginya, Elisa bangun tidak melihat suaminya di samping, ruangan itu terlihat sunyi dan kosong.
"Hmm- mana dia?" ucap Elisa yang setengah sadar, ia turun dari kasur menuju kamar mandi.
Setelah rapi dengan baju ganti dan dia juga sudah wangi karena sudah mandi, ia membuka pintu dan melihat tidak ada siapapun di sana, saat menuruni tangga terlihat banyak pria yang sedang duduk-duduk di sana.
"Ouh, nyonya. Anda sudah bangun?" saat melihat Elisa turun dari atas.
"Aoda, dimana suamiku itu?" tanya Elisa sesuai dugaan, Elisa pasti akan menanyakan soal keberadaan Andre.
"Tuan– Dia ada, tapi sedang pergi sebentar Nyonya tenang saja" ucap Aoda menenangkan Elisa.
"Kemana? Apakah jauh?" tanya Elisa yang sangat penasaran.
"Beliau sedang pergi ke rumah sakit, tempat beliau bekerja" ucap Aoda yang mengikuti petunjuk dari tuannya.
"Kapan dia berangkat, kenapa dia tidak memberi tahuku?" tanya Elisa kembali, Aoda terdiam sejenak, lalu mengatakan dengan jelas.
"Tadi pagi sekali, mungkin tuan tidak ingin membangunkan Anda" ucap aoda, seraya menarik kursi untuk Elisa duduk.
"Hmmm-"
Elisa melihat sekeliling tempat, ternyata ada beberapa orang-orang yang tidak ada, bahkan Glenn saja tidak ada. Elisa sudah bisa menebaknya, jika Andre tidak pergi ke rumah sakit.
Dia kemana yah? semua pengawal ini pasti tidak akan mau buka mulut, semua setia pada Andre. Aku khawatir terjadi sesuatu padanya, tapi aku tidak mungkin menanyakan soal ini pada mereka. Dalam hati Elisa yang sudah bisa menebaknya.
"Ada apa nyonya?" tanya Aoda yang melihat Elisa seperti sedang mengawasi sesuatu.
"Apakah mas Andre membawa sebagain besar pengawalnya?" tanya Elisa yang ingin tahu.
"Hmmm- iya nyonya, karena itu juga untuk ke selamatan dan keamanan Tuan" ucap Aoda.
"Ouh begitu, suamiku tidak pergi kemana-mana kan, bener dia pergi hanya ke rumah sakit?" Elisa yang makin curiga.
__ADS_1
"Hmmm, iya nyonya. Silakan anda sarapan dahulu, setelah itu anda mau kemana lagi setelah ini, atau kami akan antar anda ke toko atau pulang ke rumah" ucap Aoda menawarkan.
"Hmm, aku mau pulang saja. Lagian dia juga tidak ada disini" ucap Elisa yang langsung menatap untuk menyakinkan.
"Pulang ke rumah orang tua anda atau ke rumah orang tua Tuan?" tanya Aoda.
"Kerumah papah Arafif" jawab Elisa.
"Baiklah" ucap Aoda yang langsung memberikan kode pada semua bawahnya, untuk menyiapkan semua keperluan Nyonya.
"Silakan duduk disini nyonya, anda ingin makan apa?" tanya Aoda kembali.
"Iya Terimakasih"ucap Elisa yang langsung duduk di kursi yang telah di siapkan.
"Apakah, Hidangan ini sesuai keinginan anda nyonya? atau ada yang ingin anda makan untuk sarapan pagi ini?" tanya Aoda.
"Hmm, sebanyak ini?" Elisa agak syok karena semua menu yang dia suka tertata rapi di meja panjang.
"Iya nyonya, semua ini memang di siapkan untuk anda" ucap Aoda.
Elisa menelan ludah sendiri karena syok dengan semua hidangan yang di atas meja tersebut, Elisa tak bisa membayangkan betapa sakitnya nanti perut yah.
"Aoda, aku tak bisa menghabiskan semua ini. Bagaimana jika kalian juga ikut makan dengan ku. Jika kalian menolaknya aku tak akan makan, aku mogok makan" ucap Elisa yang melipat tanganya kedepan.
"Tapi nyonya, kami..." ucap Aoda yang tak bisa berkata-kata.
"Yasudah, aku telfon suamiku" ucap Elisa yang mulai mengancam.
Lalu menyuruh semua anak buahnya untuk duduk di kursi, karena kursi itu tidak muat untuk orang banyak, akhir banyak yang duduk di tempat yang luang. Mereka menikmati hidangan bersama dengan suka cita dan senang, Elisa merasa bahagia dengan hal itu.
Perjalan untuk pulang ke rumah, Elisa yang duduk dengan Aoda dan kedua pengawal wanita yang tadi berkenalan dengan Andre, duduk di sebelah Aoda satu dan di belakang duduk di samping Elisa satu sedangkan Aoda yang menyetir.
"Hmmm, Aoda sepertinya ini bukan jalan yang kemarin deh!" ucap Elisa yang agak binggung.
"Iya nyonya, ini bukan jalan yang kemarin. Saya mengambil jalan pintas, agar lebih cepat sampai tujuan" ucap Aoda yang memberikan penjelasan.
Padahal, itu untuk menghindari musuh-musuh yang sendang mengincar Andre dan keluarga ya, Aoda yang dengan waspada saat mengendarai mobilnya.
Tidak mungkin, pasti ada sesuatu yang mereka sembunyikan dariku, tapi apa itu?... Mas Andre juga akhir-akhir ini lebih banyak di rumah, binggung dengan sikapnya juga. Suara dalam hati Elisa.
Sesampainya di persimpangan jalan yang agak sepi, beberapa mobil pribadi datang memotong jalan di mana Elisa dan mobil-mobil lainnya akan keluar dari tempat tersebut.
"Hmph? kenapa kita berhenti di jalan bengini" tanya Elisa yang kebinggungan.
Gawat, mereka ternyata sudah bergerak. Bagaimana ini, nyonya Elisa ada di dalam. Ternyata mereka bukan mengincar Tuan, tapi... Dalam hati Aoda yang kaget saat mobil-mobil itu menghadang jalan mereka.
"Nyonya, anda di sini saja jangan keluar. kalian berdua gantikan aku menjaga nyonya!" ucap Aoda yang langsung keluar dari dalam mobil, adalah satu pria masuk ke dalam mobil untuk mengantikan menjadi supir untuk Elisa.
Elisa yang masih planga-plongo yang kebingungan, apa yang terjadi itu hanya bisa diam, dan mengikuti instruksi.
"Aku akan membuka jalan, kalian cepat bawa nyoya pergi dari sini dengan selamat" ujar Aoda berpesan pada anak buahnya yang menjadi supir mengantikan posisinya.
__ADS_1
"Baik" jawab singkat.
Aoda yang menghadapi semua komplotan itu, Elisa baru faham saat bentrokan itu tidak terelakkan lagi. Mereka saling bertarung satu sama lainnya, Elisa yang melewati semua orang yang sibuk berkelahi Aoda yang jadi ketua untuk menjaga nyonya, karena Andre bersama Glenn.
"Apakah kita harus kirim bantuan, markas besar pasti belum tahu. Jika mereka mengikuti kita dan akan mengincar nyonya," ucap Alina.
"Baiklah, nyonya anda jangan khawatir kita akan pergi dari sini dengan selamat" ucap Maya.
Tapi, ada mobil lainnya yang menghalanginya jalannya, mobil yang di tunggangi Elisa terkepung sekarang, si supir mulai panik, hingga dua wanita yang jadi pengawal Elisa pun ikut panik.
Disisi lainnya Andre yang sedang memperkuat pertahanan juga di serang, tapi untungnya pasukan Andre lebih kuat. Mereka pun selamat, Andre kepikiran Elisa.
"Tuan, ada kabar jika kelompok B, sekarang sedang di kepung, sedangkan nyonya belum keluar dari tempat" ucap Glenn.
"Apa! kita pergi sekarang juga" ucap Andre.
Kembali pada Elisa dan pasukannya, supir mengikuti instruksi ia langsung saja menerobos mobil-mobil yang ada di depan, menabrak sana sini.
"Kita berhasil, lebih cepat lagi mereka malah mengejar kita?" ucap Alina.
"Sekarang kita harus gimana? sesuai rencana kita selamatkan nyonya dulu."
Tapi saat mereka hampir keluar dari tempat tersebut, ada seseorang yang berdiri di tengah jalan dengan seorang pemuda yang menjadi sandra, yang menjadi sandra itu adalah Azril.
"Berhenti! itu... Azril?!" ucap Elisa syok saat melihat adiknya.
Mobil yang di dalamnya ada Elisa pun berhenti, Elisa langsung keluar dari dalam mobil. Disusul oleh tiga pengawalnya yang langsung keluar juga untuk melindungi Elisa.
"Nyonya, anda jangan keluar dari dalam mobil bengini" ucap Alina.
"Teteh, cepat pergi... Jangan keluar cepat masuk, mereka—" belum sempat melanjutkan Azril sudah di bungkam.
"Jadi kau adalah nyonya Clarlosen yang baru, tak ku sangka" ucapnya sambil menodongkan senjata kepala Azril.
"Lalu saat kau sudah tahu aku, apa mau mu?" ucap Elisa yang masih bersikap santai.
"Aku akan membawa mu" ucapnya dengan tatapan tajam menakutkan.
"Jika begitu lalu apa lagi mau mu, maka lepaskan dulu sandra mu itu. Karena dia adalah adikku, jadi lepaskan dia" ucap Elisa.
"Aku akan lepaskan dia, dengan catatan jika kamu datang kemari dengan sendirinya, kita pertukaran. Bagaimana?" ujarnya.
"Jangan nyonya, dia mungkin ingin memanfaatkan keadaan anda" ucap Maya.
Bersambung...
Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya untuk beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa favoritkan...
Kita akan berjumpa lagi di Episode Selanjutnya. Bye...
Selasa 31 Mei 2022
__ADS_1