
Kesal, marah, jengkel, dan sudah di puncak ke marahan. Elisa sudah tidak kuat lagi berpura-pura seperti itu, ia sudah benar-benar muak dengan sikap Junno yang sudah melewati batas.
"Junno, kamu telah melanggar janji kelingking kita. Ku bilang kau jangan melukai aku, apa lagi membuat ku berdarah begini kan. Tapi, kamu malah sengaja menggores luka di leherku, apakah kamu sanggup menerima konsekuensinya?" ucap Elisa yang sudah geram dengan tingkah Junno.
"Iya, aku sangat takut dengan konsekuensinya. Tapi, aku sudah jelaskan. Agar lebih dramatis, makanya aku lakukan hal ini padamu." ucap Junno merasa aura Elisa sekarang berbeda tidak seperti tadi.
Ada apa ini, kenapa aura Elisa saat ini tiba-tiba berbeda. Ada hawa dingin dan pembunuh cukup kuat terpancar, tapi aku cukup berani untuk mengatasi ya. Dalam hati Junno yang sangat percaya diri.
"Dasar bodoh, kamu yang telah membuatku sangat marah, karena telah berani memberikan luka fisik padaku. Kamu akan terima hukumannya, jika kamu tidak takut aku akan menuntut balasan dari apa yang kau lakukan saat ini, terhadap suami dan keluarga ku" ucap Elisa yang sudah mengepal keras.
"Apa maksudnya?" tangan Junno semakin melemah saat tatapan mata Elisa berubah.
"Inilah yang ku maksud kan, Tuan Junno Verdheter..." ucap Elisa. Mengejutkan seluruh anak buahnya, Elisa berhasil membalikan keadaan tawanan.
Junno saat ini berhasil di lumpuhkan dengan satu pukulan keras di bagian wajah karena Elisa menyendulkan kepalanya, hingga membuat Junno terdorong kebelakang, hidungnya keluar darah. Elisa langsung saja menarik kedua tangan junno ke belakang, dengan sangat cepat itu membuat tangan Junno terpelintir.
Hingga membuat Junno tidak bisa bergerak lagi, Jonson tidak tinggal diam, dia sudah menyodorkan pistol kehadapan Elisa. Tapi, dengan sigap Elisa menendang dan mengambil pistol tersebut, setelah Elisa berhasil merebut pistol dari tangan Jonson, tanpa disengaja peluru itu malah menembak bagian kaki Jonson. Itu membuat Jonson tersungkur menahan kesakitan, karena darahnya sudah banyak yang keluar.
"Aaaaaaahhhhhh—"Teriakan sakit Jonson karena hal itu.
"Hahahaha- senjata makan tuan, rasakan itu. Makanya jangan main-main dengan senjata seperti ini, susah untuk di bilangin si. Terima akibatnya, dan tanggung sendiri hukumannya" ucap Elisa yang tertawan puas.
"Aku telah meremehkan kamu, rupanya kau jago juga bela diri yah Elisa" ucap Junno yang saat ini, sudah tidak bisa bergerak karena sedang menahan rasa sakit, karena pukulan dan tangan yang terpelintir sebelumnya.
"Kenapa kamu baru kaget sekarang? kan sudah ku bilang di awal tadi, jangan melukai aku jika kamu tidak sanggup menerima konsekuensinya. Kamu tidak mau mendengarkan ya" ucap Elisa yang mempertegas.
Elisa, kamu membuat aku khawatir saja. Aku tidak menyangka istriku hebat juga, aku tidak boleh kalah darinya. Bagaimana aku bisa lolos sekarang, cari benda yang tajam. Dumal dalam hati Andre, seraya sibuk mencari benda untuk melepaskan ikatannya.
Elisa melihat sekeliling lagi, tiba-tiba banyak pistol yang mengarah kepada dirinya. Entah itu dekat atau jarak jauh, semuanya mengarah pada Elisa yang saat ini baru tahu jika ada orang-orang yang bersembunyi diantara pepohonan.
"Hehehe, sekarang apakah kau masih bisa tertawa lagi Elisa? kalian sudah di kepung, mereka akan siap untuk melakukan apapun jika aku dalam bahaya" ucap Junno yang gantian tertawa sinis dan liciknya.
"Ouh! Jadi begini caramu, main keroyokkan. Dasar pengecut, apakah dengan kamu membawa seluruh pasukan mu seperti ini, aku akan takut padamu" ucap Elisa yang mendekat perlahan-lahan, baru satu langkah penembak meleset mengarah pada kaki Elisa.
"Elisa, apakah kamu baik-baik saja?" Teriak Andre yang kaget, jauh di sana.
"Kau tidak udah khawatir, aku baik-baik saja" jawab Elisa yang sangat khawatir.
Gawat jika seperti ini, apakah akan bisa selamat, mereka banyak sekali dan punya senjata? Ya Allah, selamatkan hamba mu ini. Lindungi kami Ya Allah, dari orang-orang zholim kepada kami, semoga ada bantuan dari-Mu. Aamiinn- ucap Elisa dalam benaknya, ia percaya kekuatan keajaiban dari Tuhannya.
Tiba-tiba saja Elisa kepikiran sesuatu, lalu melihat ada cela. Mengambil belati, lalu melemparkannya pada Junno. Tepat mengenai kaki Junno, langsung kesakitan. Elisa langsung lari dari tempat dan menundukkan Junno, agar semua anak buahnya juga bisa di kendalikan oleh Elisa.
"Jangan ada yang bergerak, jika kalian ada yang berani untuk bergerak maju atau mendekat. Selangkah saja, maka isi otak tuan kalian ini akan... Aaah! aku tidak mau meneruskan ya..." ucap Elisa yang memperingatkan pada seluruh anak buah Junno.
Karena mendengar hal itu, Junno terus berusaha ingin meloloskan diri. "Iiih-, bisa diem. Jika kamu masih mau hidup tuan Junno, jangan kau pikir aku tidak segan untuk membunuh mu, kan sudah aku katakan tadi, jika kamu telah melanggar perjanjian untuk tidak melukaiku. Tapi, kamu malah sengaja melukai ku, ini adalah hukuman bagi balasanku." ucap Elisa yang bicara secara bergantian.
Elisa melepas tali baju yang di jadikan ikat pinggang, untuk di jadikan tali ikat kedua tangan Junno yang telah berhasil di lumpuhkan oleh Elisa. Junno yang sekarang tengkurap di tanah, dengan posisi Elisa yang ada di atas tubuhnya.
"Bagaimana bisa kau melakukan hal ini terhadapku. Aku lengah hingga terlalu merendahkan mu, jadi kamu selama ini berpura-pura bodoh dan konyol hanya ingin membuat ku lengah dan mengendurkan kewaspadaan, terhadap pengawasan ku, kamu memang sangat hebat nona Elisa" ucap Junno yang baru sadar.
__ADS_1
"Seharusnya kamu lihat-lihat dulu siapa orang yang sedang kamu lawan, hingga kau bertindak sebodoh ini. Bagaimana apakah aku cukup menawan sebagai wanita. Ingat aku juga masih menggenggam satu rahasia mu yang lainnya. Apakah kamu ingat, jadi jangan macam-macam padaku" ucap Elisa yang mengancam Junno.
"Cih! sialan... Awas kau Elisa. Tunggu pembalasan ku, jika aku juga menemukan cela bagiku. Maka kamu akan tamat, hingga waktu itu tiba kamu hitung saja waktu sisamu" ucap Junno yang sangat kesal dengan semua ya.
"Ya baiklah, aku tahu kamu sedang mengutukku. Tapi, lihat siapa yang sedang jadi tawanan? sudah diam aja terima saja nasibmu tuan Junno" ujar Elisa yang sangat kesal juga.
Elisa lalu menatap ke sekitar lagi setelah selesai dengan Junno, ia memperingatkan lagi anak buah Junno, agar mau menyerah saja. "Hai kalian semua, jika kalian ingin tuan Junno selamat. Maka kita lakukan barter, serahkan suamiku, maka aku akan berikan tuan kalian. Bagaimana?" ucap Elisa dengan nada yang sangat lantangnya.
"Percuma kamu teriak seperti itu, mereka tidak akan mengerti dengan apa yang kau katakan" ucap Junno yang tersenyum tipis yang licik.
"Terjemahkan jika kamu mau hidup, maka jika kamu tidak siap-siap dari sekarang, bahkan sampai kau matipun. Kamu tidak akan bisa mendapatkan ANDRILOS yang kamu inginkan, jika kamu mau bekerjasama, mungkin saja kamu bisa duduk dikursi singgasana. Bagaimana apakah kau tertarik?" ucap Elisa mengancam.
Junno akhirnya menuruti apa yang di katakan oleh Elisa, semua pengawal ya kaget. "Tuan Junno, kamu juga harus perintahkan orang-orang mu yang jauh di sana yang sedang membidik sasaran ke arah kita, atau mas Andre kamu juga akan kena akibatnya juga kan!" ucap Elisa yang tahu jika mereka juga memasang orang-orang penembak jitu jarak jauh.
"Baiklah, aku akan menuruti apa yang kau katakan." ucap Junno yang sudah tidak berdaya saat ini.
Elisa langsung melempar belati pada Andre, yang sekarang jaraknya tidaklah jauh. "Mas Andre, gunakan itu untuk melepaskan diri. Kamu bisakan lakukan sendiri, karena aku sangat sibuk sekarang." ucap Elisa yang sekarang mengunakan pistol untuk menahan anak buah Junno.
"Elisa kamu cukup cerdik karena bisa menyanderanya, sayang! jangan terlalu keras. Tubuhnya itu sangat rapuh, jika kamu terlalu keras menekannya," ucap Andre yang sekarang berusaha ingin merai belati tersebut.
"Kau kan Dokter, jadi bisakan bertanggung jawab atas perbuatan istrimu ini. Dokter Andre" ucap Elisa yang menarik pelatuknya.
"Jangan main-main dengan benda itu sayang! tanganmu tidak terbiasa memegangi benda seperti itu, bagaimana jika tanganmu meleset dan malah menarik pengait dan menempatkan kepala ya dalam bahaya, dia bisa mati menyusul ayahnya zenus kau harus tanggung jawab untuknya" ucap Andre yang meledek Junno.
"Kamu tenang saja maskusay, aku bisa jaga diri ku kok" ucap Elisa yang sangat kuat memegangi pistolnya.
Andre yang sedang berusaha untuk meraih belatinya, tiba-tiba saja anak buah zerry yang sebelumnya telah di lumpuhkan oleh Andre. malah bangun, dan menodongkan pisau itu di lehernya.
Di tempat lainnnya, Ben dan pengawal lainya telah tiba di titik-titik yang Azril kirimkan datanya, orang-orang penebak jitu jarak jauh punya Junno itu telah berhasil di lumpuhkan oleh kelompok tim A dan B, milik Aoda dan Ben yang ikut serta, hanya Glenn yang tidak ikut karena lukanya masih parah.
Bersamaan dengan hal itu Mark dan kelompok asosiasi khusus internasional pun baru sampai. Tapi, saat anak buahnya mark ingin membantu, tapi malah di tahan oleh mark. Agar tidak ikut campur dalam hal itu. Mark tidak membantu Andre atau melerai mereka, malah hanya menonton dari atas dataran tinggi.
MARK : Tunggu, jangan ke sana. Cukup kita lihat dari ini, aku ingin melihat kualitas dari Ratu ANDRILOS
BAWAHAN : Baiklah Tuan! tapi kenapa kita di larang untuk kesana, bukankah kita datang untuk membantu Tuan muda?
MARK : Iya, tapi aku sangat penasaran dengan nyonya muda. Kemampuan Nyonya muda ini... Hmph! Cukup kuat dan sangatlah luar biasa. Akan tetapi, jika hanya kekuatan fisik seperti ini dia tidak akan bisa memimpin pasukan ANDRILOS. Dia juga harus pandai dan cerdik, agar bisa membawa nama Ratu ANDRILOS dengan baik
Kembali pada orang-orang yang berada di bawah, Elisa yang jadi pertanyaan kenapa ada orang yang berani untuk melakukan hal itu.
JUNNO : ZERY, selamatkan aku dahulu baru kau bisa membalasnya nanti
ZERY : Baiklah!
"Elisa, dia mau melakukannya. Sekarang, kita lakukan pertukaran. Dia sudah setuju dengan apa yang kamu katakan tadi, cepat kamu lepaskan aku," ucap Junno.
"Begitukah? aku tak percaya" ucap Elisa yang masih belum yakin.
Elisa masih menahan Junno di sana, zery bersiap untuk melakukan pertukaran dengan elisa, dia sedang melepaskan tali di kaki Andre.
__ADS_1
"Kamu siap, aku akan hitung sampai tiga kita lakukan barter" ucap Elisa.
Mereka akhirnya melakukan pertukaran, Junno yang jalannya pincang karena kakinya kena belati sebelumnya, membuat dia lambat berjalan. Tapi, akhirnya sampai juga. Andre juga sampai di sisi Elisa, ingin rasanya memeluk Andre tapi Elisa urungkan.
Di sisi lainnya juga Zacky dan Kevin baru sampai, melihat Andre juga sudah lepas dari ikatan dan sekarang sedang mengahadapi beberapa orang yang mendekat. Zacky ikut membantu, melawan mereka. Kevin menarik tangan Elisa agar jauh dari pertikaian itu.
"Elisa, kamu baik-baik saja" tanya Kevin yang datang mendekati Elisa yang saat ini sedang mengatur nafasnya.
"Kalian datang, syukurlah. Kevin tolong mas Andre, dia—" ucapan Elisa yang terhenti saat melihat Andre sudah ada yang membantu.
"Kamu tenang saja, lihat ada dua orang yang membantu paman Andre" ucap Kevin.
"Syukurlah," ucap Elisa agak lega.
Hingga semua berhasil di lumpuhkan oleh mereka, Junno juga telah di akusisi oleh polisi internasional yang datang untuk menjemput mereka semua, dengan orang-orang yang di bawah oleh Junno.
Andre baru bisa mendekati Elisa seraya bernafas dengan lega. "Sayang, kamu tidak apa-apa?" ucap Andre yang khawatir, langsung memeluk Elisa.
"Iya aku baik-baik saja kok, kamu gimana ada yang luka?" ucap Elisa yang juga sangat khawatir pada suaminya.
"Tidak ada, kamu tidak usah khawatir ya" ucap Andre yang langsung memeluk Elisa kembali.
"Baiklah, cukup bersyukur kalian cepat datang. Aduhhh! kaki ku sangat lemas sekali, ini pertama kalinya aku memegang pistol asli" ucap Elisa malah berjongkok.
"Eh? pertama kalinya, ku pikir kamu pernah mengunakannya Elisa. Karena kamu sangat keren sekali tadi, tidak gemetaran. Aku jadi fans mu, kamu sangat hebat Elisa" ucap Kevin yang mengacungkan jempol ya.
"Kurang asem, lihat kakiku sampai lemas begini kamu pikir itu mainan ya?" ucap Elisa yang memukul kaki Kevin pelan.
"Ha-ha-ha, iya aku hanya merasa kamu sangat keren saja" ucap Kevin yang sangat senang.
Tiba-tiba Junno yang sudah berhasil di ringkus malah, berhasil kabur dan merebut pistol dari tangan seseorang yang membawanya. Langsung mengarahkan pada Andre yang saat ini sedang bicara dengan Mark dan ketua pasukan Asosiasi itu.
"Kamu harus mati hari ini Alzam!" ucap Junno yang sudah bersiap membidikkan pistol ke arah Andre, semua kaget karena saat ini Andre sedang tidak dalam keadaan waspada.
"Mas Andre, awasss..." Elisa berlari mendekati Andre, dan langsung memeluk Andre.
Tapi, Andre langsung memutar tubuh untuk melindungi Elisa. Peluru itu cukup cepat meluncur, hingga membuat semua kaget dan tak bisa mencegah yah.
DORRR !
SRAAAAT!
JLEEPP!
"TIDAK, JUNLION..."
Bersambung...
Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya untuk beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa favoritkan...
__ADS_1
Kita akan berjumpa lagi di Episode Selanjutnya. Bye...
Senin 18 April 2022.