
Mobil hitam melaju dengan kecepatan tinggi memasuki kawasan sebuah taman yang sangat luas, terlihat di sisi pinggir jalannya di hiasi pepohonan yang sedang bermekaran bunganya, bunga itu sangat cantik-cantik berwarna merah, membuat sebuah terowongan. Saat berada di gerbang utama, untuk memasuki halaman kediaman rumah Brandon, gerbang yang sangat kokoh itu dengan penjaga yang ada di atas dinding gerbang.
PENJAGA 1 : Ada seseorang yang datang, siapa dia?
PENJAGA 2 : Tidak tahu, sepertinya itu adalah orang asing
Setelah mobil itu sampai di depan gerbang, penjaga itu terdiam sambil menatap mobil itu, lalu ada yang memberanikan diri untuk menghampiri mobil tersebut.
PENJAGA 1 : Maaf, anda siapa? dan mau bertemu dengan siapa
Jendela kaca hitam itu terbuka perlahan-lahan, saat melihat siapa supir yang mengemudikan mobil itu seketika kaget, sontrak langsung menatap wajah Andre dengan sangat kagum.
ANDRE : Maaf tuan-tuan, saya mau bertemu dengan tuan Brandon. Saya memang belum membuat janji bertemu, tapi saya datang mau menjemput istri saya, sebenarnya itu tujuannya
PENJAGA 2 : Baiklah saya akan laporkan hal itu pada tuan besar
Setelah mendengar hal itu, Brandon yang ada di dalam ruangan sedang bersantai dengan Elisa, yang sibuk mencatat bahan makanan apa saja, yang di menu makan siangnya, dengan seorang koki dan Ken sebagai penerjemah yah.
Brandon yang menerima kabar itu, langsung menyuruh mereka membuka pintu gerbang tanpa halangan apapun, agar Andre bisa segera masuk.
"Putriku," Panggilannya dengan sangat lembut, itu membuat Elisa menoleh dengan cepat.
"Iya dad"
"Sepertinya, Alzam sudah tiba"
"Eh? cepat juga dia sampai"
"Dia sekarang sedang memasuki halaman, kita harus keluar untuk menyambut yah"
"Iya, yuk dad"
Mereka akhirnya keluar rumah untuk menyambut kedatangan Andre, Elisa yang berjalan berdampingan dengan Brandon dan Ken yang ada di belakang mereka.
Mobil spot Hitam dengan model terbaru dan terpopuler, limited edition dengan gaya yang sangat estetik itu telah sampai di halaman depan teras.
"Eh! Ini mobil siapa?"
"Ada apa, kamu tidak mengenal mobil ini!"
"Tidak, aku tidak kenal"
Saat Andre keluar dari dalam mobil kaget bukan main, ternyata itu adalah suaminya. Deggupan jantung Elisa tidak bisa di jelaskan, pesona seorang lelaki itu memberikan atmosfer di tempat sangat berbeda, Andre walau hanya mengunakan kaos polos panjang berwarna coklat muda, dan celana kolor panjang tidak mengurangi ketampanannya, malah menjadi sangat modis.
"Kenapa dia kok ganteng benget sih, padahal dia hanya pakai baju sederhana. Apa itu, sendal slop kamar, kenapa dia pakai sendal itu sih. Hahaha"
Andre yang keluar dengan aura yang sungguh membuat iman dan hati tergoda, rambut yang acak-acakan tapi natural, membuat siapapun pasti akan sangat terbuai akan pesonanya karena mabuk akan ketampanannya itu.
Dia memang putraku, bahkan semua sangat mirip. Tidak ada yang hilang darinya. Gerutu Brando yang melihat wajah Andre yang sangat menarik perhatian itu, pelayan-pelayan yang wara-wiri juga sangat kagum, seperti digme jalan Andre itu beraura.
"Apa yang kamu tertawa kan" Ucap Andre yang berjalan mendekati Elisa.
"Hehehe, aku hanya—" Belum sempat selesai pergelangan tangan itu sudah di pegang sangat erat oleh Andre.
"Bagus ya, kamu tak ingat pulang dan tak ingat untuk mengabariku" Ucap Andre yang membulat matanya.
"Maaf! Kamu sudah sampai, cepat juga. Ku pikir kamu pakai supir yang handal, sejak kapan kamu jadi pembalap" Kata Elisa yang menatap Andre dengan senyuman mengembang.
"Tentu saja, aku mengunakan kecepatan di atas 200. Tidaklah penting kapan aku jadi pembalap, kamu yang membuat aku jadi pembalap" Ucap Andre yang sewot.
"Itu bahaya, jangan kamu ulangi lagi"
"Tergantung"
"Hah! kok tergantung"
"Iyalah! Jika kamu menghilang seperti ini lagi, dengan cara apapun, aku pasti akan lakukan itu"
"Baiklah itu salahku"
"Ayo kita pulang" Ucap Andre yang menarik tangan Elisa menuju mobil.
"Eh! kok buru-buru banget, padahal kamu baru sampai. Seharusnya kamu singgah dulu sini, tuan Brandon juga sudah datang, hanya untuk menyambut mu, setidaknya hargai tuan rumah" ujar Elisa yang menahan tangan Andre.
"Tidak ada urusan, kamu yang bikin aku datang kemari, ngapain coba?" Ucap Andre.
"Hehehe, setidaknya kamu sapa beliau dulu" ujar Elisa yang menyuruh Andre agar menyapa ayahnya, dengan sangat terpaksa ia lakukan apa yang di minta Elisa. Andre menarik nafasnya, lalu mendatangi Brandon.
ANDRE : Tuan Brandon, terimakasih sudah menjaga Elisa. Saya datang untuk menjemput ya, izin kan saya untuk membawa istri saya pulang
"Tidak bisa kalian pergi, dari rumah ini" ucap Brandon yang menggunakan bahasa Indonesia dengan baik.
Andre belum sadar dengan jawaban yang dikatakan oleh tuan Brandon. "Kenapa? tidak bisa per— APA, ANDA? TADI?" Ekspresi wajah Andre tiba-tiba kaget, saat sadar apa yang di katakan Brandon.
"Hahahaha!" Elisa tertawa hingga puas.
Karena Elisa tertawa terbahak-bahak membuat Andre menatap tajam, karena malu. "Kenapa kamu yang tertawa terbahak-bahak seperti itu, Elisa" Ia menutup rasa malunya itu dengan menyalakan Elisa.
"Habis mukamu lucu banget, saat kaget kayak tadi mas, aku tak bisa menahannya" penjelasan dari Elisa sambil masih tertawa.
"Tunggu dulu, tadi anda bilang apa?"
"Tidak bisa pergi, karena kami sudah menyiapkan jamuan makan malam, untuk menyambut kedatangan mu"
"Bukan masalah itu, anda bisa bahasa Indonesia?"
"Menurutmu bagaimana!"
__ADS_1
"Sejak kapan?"
"Aku bisa mengunakan bahasa Indonesia sudah 50 tahun, sejak umurku 15 tahun. Aku sudah bisa berbahasa Indonesia, belajar dengan guru-guru private"
"Apa, jadi anda—"
"Aku temen Papah mu, tentu saja aku juga harus menguasai bahasanya agar bisa berkomunikasi dengan baik"
"Bukan hanya temen Papah, beliau adalah kakak sepupu mamah sekaligus ayah kandung kamu mas, beliau adalah seorang ayah darimu" Elisa menyambar untuk menjelaskan.
"Jangan berbicara asal begitu. Elisa, aku bahkan baru bertemu dengan beliau"
"Lebih tepatnya, kamu itu sudah pernah bertemu dengan beliau 2x, iyakan"
"Heh? tahu dari mana"
"Daddy memberi tahuku, saat usiamu 16 tahun Daddy datang kerumah. Tapi Papah enggan untuk membicarakannya tentang beliau, karena takut kamu di ambil oleh beliau, agar kembali ke kemari"
"Sayang, kamu terlalu banyak nonton drakor. Sudahlah, ayo kita pulang" ucap Andre yang menarik tangan Elisa kembali.
"Tuan muda ANDRE AZZAM ARAFIF, kamu susah payah datang kemari, tapi kamu buru-buru untuk pergi" Ucap Elisa yang mengunakan nama lengkap Andre.
"Iya, jangan buat orang di rumah khawatir" Penjelasan Andre.
"Orang rumah yang khawatir, atau kamu yang khawatir. Mas, inilah kenyataan dan kebenarannya. Kamu selalu menghindari masalah, mau sampai kapan. Jangan menyembunyikan diri terus, dan kamu terus lari dari semuanya, cepat atau lambat kamu harus menghadapi masalahmu, karena itu adalah bagian dari proses tahap kehidupan mu"
"Apa maksudmu Elisa, aku tidak mengerti"
"Kamu hanya pura-pura tidak mengerti, aku tahu! Kamu tidak lah bodoh, hanya kamu yang tidak mau mengakuinya, dia ayah kandung mu"
"Cukup! Elisa, aku tidak mau dengar apapun lagi, ayo kita pulang"
"Boleh aku bertanya, kamu selalu ingin mengajakku pulang. Memang mau pulang kemana?"
"Ke rumah!"
"Rumah siapa?"
"Rumah, Monarfi"
"Rumah siapa itu"
"Mamah dan Papah"
"Bukan rumahmu kan"
"Itu rumah orang tua kita"
"Ini juga rumah orang tua kita"
"Elisa cukup, jangan berdebat. Ayo kita pulang"
"Kenapa?"
"Aku takut"
"Takut!, takut kenapa?"
"Padamu"
"Bahkan aku tak akan menyakiti mu, sekesal-kesalnya aku tak akan memudahkan tangan ini untuk meyakitimu"
"Justru karena itu, aku takut padamu"
"Elisa jangan buat aneh-aneh deh, ayo kita kembali"
"Makan malam disini dulu"
"Hah! Apa yang kamu katakan"
"Jika kamu menolak, silakan pulang ke Monarfi tanpa aku"
"Baiklah, aku akan turuti kemauan mu"
Andre mau tidak mau harus mengikuti kemauan Elisa, karena tak ada pilihan lainnya. Di ruang makan, Andre duduk agak jauh dari Brandon sedang Elisa malah duduk di sebelah Brandon.
"Lah, kok jauh banget. Sini, kayak musuh jauh-jauhan" Ucap Elisa yang melihat Andre yang duduk sangatlah jauh.
"Tapi—"
"Sini gak, cepet sini"
"Iya" ujar Andre yang pasrah, duduk di samping Elisa, meluruskan kursi agar berjajar dengan kursi Elisa.
"Daddy, mau lauk apa? Aku yang akan melayani kalian berdua, Tuan-Tuan!" ujar Elisa.
Dengan sigap Elisa mengambil nasi untuk Brandon dan Andre secara bergantian, Elisa juga mengambil lauk yang di suka oleh Andre dan lauk yang di inginkan Brandon.
Saat makanan itu sudah di piring masing-masing Elisa mengambil lauk, Elisa memperhatikan keduanya, bedanya Andre makan pakai tangan kanan sedangkan Brandon pakai tangan kiri karena ia kidal, tapi ada hal yang mirip juga. Mereka sama-sama tidak suka buah tomat, malah menyisikan tomat ke sisi piring.
"Ouh? Apakah tidak suka tomat"
"Tidak," Ucap Andre dan Brandon bersamaan.
Kebetulan itu membuat Andre dan Brandon saling menatap satu sama lainnya, karena ucapan mereka malah kompak.
"Aku tidak suka" Sambung Brandon dan Andre secara bersamaan, lagi-lagi kompak.
__ADS_1
"Hahahahaha– kalian memang bapak dan anak yang kompak, ngomong aja sampai bareng-bareng begitu, sama-sama tidak suka buah tomat"
Elisa tertawa terbahak-bahak, karena tingkah canggung mereka berdua sangat kaku tapi sangat lucu. Sedangkan Andre dan Brandon hanya diam tak bisa berkata-kata, Ken juga hanya bisa tersenyum kecil.
"Sudahlah, lanjutkan makan!" Ucap Elisa yang menyudahinya.
Elisa mengambil semangkok sayur dan lauk-pauk yang lain ke piring Andre, hingga piring itu penuh.
"Eh! Sayang, kok di tambahin lagi"
"Kamu harus banyak makan"
"Tapi—"
"Udah jangan banyak protes, harus di habiskan. Aku tahu kamu gak sarapan kan tadi pagi, coba ngaku! Terus tadi siang kamu juga gak makan, iyakan"
Tebakan Elisa tepat, Andre hanya menuduhkan wajahnya. Brandon langsung menatap Andre, ia baru tahu sifat Andre yang suami-suami takut istri, sama dengan dirinya.
Saat piring Andre sudah mulai habis, Elisa malah menambah satu centong nasi lagi ke piring Andre. "Lah, kok di tambahin lagi!"
"Udah di makan, lagian kamu gak akan gemuk dalam semalam kok. Jangan takut akan kehilangan enam kotak itu, kan bisa kamu bentuk lagi"
"Enam kotak? apa itu, putriku" Brandon yang tidak tahu perumpamaan yang dikatakan Elisa.
"Ah- itu sixpack. Otot perut dia, mas Andre suka pala-pili makanan, nggak seperti aku yang makan segala sesuatu asal enak. Dia suka pala-pilih yang harus ada protein lah, harus seimbang dengan karbohidratnya, dan vitamin juga harus ada. Pokoknya banyak banget aturan dalam makan, dia emang pria yang paling ribet" penjelasan Elisa, Andre tak berkomentar apapun karena mulutnya penuh dengan makanan.
"Begitukah, hahaha. Tapi ada benar juga si, jika makan sembarangan juga akan mengganggu sistem pencernaan. Apa lagi ku dengar, Alzam. Aah- maaf! maksudku Andre, adalah seorang dokter" ujar Brandon yang keceplosan bilang nama lama Andre.
"Dad, gak apa-apa kok jika Daddy panggil dia Alzam, itukan nama dia. Iyakan mas, kamu gak keberatan kan, di panggil itu"
"Hah! Tapi, itukan bukan namaku"
"Itu namamu, dari orok. Lalu di ganti, itu namamu awal"
"Tahu dari mana?"
"Udah-udah, di lanjutkan makannya"
Setelah selesai makan malam itu, Andre yang seakan perutnya akan meledak karena kekenyangan gara-gara Elisa, memasukkan segala hidangan kemulut Andre, dengan cara memaksa.
"Bagaimana nak, apakah hidangan malam ini sesuai dengan selera mu" tanya Brandon pada Andre, tapi karena kekenyangan itu Andre jadi tidak bisa fokus.
"Mas itu di tanya, kok diem aja" Elisa menegur Andre yang bersandar di kursi.
"Ah, kupikir beliau tanya kamu"
"Jawab, jangan diem aja"
"Ehmm– Alhamdulillah enak kok, terimakasih untuk makan malamnya" jawab Andre.
Ternyata putraku memeluk agama Islam, yah! tidak heran jika dia beragama Islam, dia kan ikut Arafif. Pasti akan mengikuti didikan dan ajaran Arafif. gerutu dalam hati Brandon yang tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Syukurlah, jika bisa memuaskan mu. Maaf jika ada kekurangan dalam penyajiannya atau rasanya, mereka koki-koki yang handal tapi mereka juga manusia"
"Iya tidak apa-apa, aku juga tahu. Terimakasih, untuk makan malam yah" jawab Andre.
"Ken, antar mereka untuk istirahat dan bersih-bersih"
Brandon yang melihat Andre yang sudah sangat kelelahan, dan kekenyangan itu.
"Baik Tuan"
"Tidak usah Tuan, kami pulang saja" ujar Andre yang tidak mau terlalu lama di sini.
"Bagaimana kamu akan pulang untuk mengemudi, aku takut ah- pulang sama kamu" ujar Elisa yang langsung menyambar.
"Kenapa, lagian aku bisa nyetir kok!" ujar Andre yang membela diri.
"Nggak mau, takut. Kamu jangan bikin bahaya dong, aku masih mau hidup. Lagian kita belum punya anak, masa mau—" Elisa menghentikan ucapannya.
"Ngomong apa sih, jangan ngawur deh!"
"Udah besok pagi saja kita pulangnya, saat kamu sudah fit, malam ini kita tidur di sini yah"
"Tapi—"
"Udah kamu nurutin kemauan aku gak, kamu jangan bawa bahaya. Lagian ini sudah malam, jadi kamu harus istirahat dulu. Besok pagi saja kita pulang"
Ucap Elisa yang menekan, Andre mau tidak mau harus menuruti keinginan Elisa. "Baiklah"
"Daddy, kamu dengar kan dia mau menginap, jadi bisakah Daddy tunjukan kamar untuk kami" ujar elisa sumringah, dengan kode kedipan salah satu mata.
"Ken, antar kan mereka kekamar atas" perintah tuan Brandon.
"Hah? kamar tidur utama, maksud anda Tuan?"
"Iya, antar mereka ke sana"
"Baik Tuan. Mari Tuan muda dan lady, lewat sini" ujar Ken seakan tidak percaya entah kenapa dengan kamar tersebut.
"Iya, ayok Mas" elisa menarik tangan Andre agar bangkit dari kursi.
BERSAMBUNG ...
Terimakasih atas kunjungan Anda ke cerita saya jangan lupa untuk like, share dan masukan komentarnya...
Jangan lupa follow athour dan masuk ke grup saya ditunggu kedatangannya.
__ADS_1
Kamis 10 Februari 2022