
^^^Catatan :^^^
^^^Curhatan hati seorang Istri^^^
Berada di ruang ganti pakaian, Elisa termenung dalam lamunan. Menatap etalase kaca di depannya, terduduk di kursi yang serba guna, bisa untuk duduk dan bisa juga untuk panjatan, karena tubuh Elisa yang mungil maka akan kesulitan jika tidak ada kursi untuk mengambil pakaian, setiap etalase selalu ada kursi yang sudah di persiapkan di sana, buat panjatan bagi Elisa itu.
"Aneh, sama mas Andre. Dia sebenarnya pria tulen gak sih? Kok, gak sama sekali tertarik untuk melakukan hubungan intimmm! Padahal aku sering kali menawari ya, berasa kayak gak ada harga diri banget kan aku ini. Kalau aku bukan istrinya, mungkin aku di anggap cewek murahan atau gampangan. Lagian, kan aku kayak begini cuman sama dia aja, bisa menjajal diri kayak gini" Gumam Elisa yang kebingungan sama sikap Andre yang seperti tidak tertarik.
"Kenapanya! Dia selalu saja nolak, padahal aku sudah pasrah begini, terus buat apa coba, dia menikahi ku? Apakah cuman buat penenang bagi orang tuanya saja? agar tidak khawatir. Biar tidak di sangka guy, kan aku ini istrinya" Elisa memikirkan matang-matang perasaannya.
"Hemmm- Padahal setahuku, pria yang punya hasratttt, saat malam pertama setelah akad pun, mereka pasti akan minta jatah yah kan, kok dia beda. Ini sudah akhir bulan ke tiga, aku bersamanya, tapi hubungan ku belum bisa sejauh itu. Masih begini-begini saja, bahkan dia tidak pernah minta untuk melakukan hubungan suami-istri. Buat ciuman saja selalu aku dulu yang maju, dia?Nggak pernah maju duluan!"
"Sebenarnya apa yang terjadi, apakah dia juga punya trauma untuk berhubungan? atau dia memang tidak punya pikiran begitu, ku goda dengan berbagai cara. Tapi hasilnya, selalu nihil. Uuhh! geramnya, padahal aku sudah pengen banget punya anak sendiri, gimana rasanya? Pasti anak dari mas Andre lucu banget, karena bapaknya saja udah ganteng selangit begitu, rasanya mau teriak. MASSS- AKU PENGEN BANGET! Tapi, dia tetap saja kuat menahan imannya itu. Jadi gimana nih! Caranya agar dia mau melakukan itu dengan ku. Bujuk dan merayu sudah ku lakukan, model kayak begitu? Aku harus cari cara di google deh!, atau aku tanya mamah atau ibu saja lah? Yang sudah senior, kali aja dapat manfaat yah" Ucap Elisa yang sambil berfikir keras.
...🤔...
...🤔...
...🤔...
Setelah selesai ganti baju, Elisa melihat ranjang terlihat Andre sedang duduk dengan menyenderkan tubuh di kepala ranjang, matanya fokus ke layar HP. Elisa mendatangi Andre, menarik selimut mendekat bahu Andre.
"Lama banget ganti bajunya?" tanya Andre yang meletakan kembali HP di tempat semula.
"Kan milih-milih, katanya ngga boleh pakai baju yang kemarin, yah! wajar lah lama. Habis Elisa belum pernah punya baju sebanyak itu, mas tau sendiri. Baju Elisa tiba-tiba banyak terus bagus-bagus itu gara-gara siapa? Mas inget kan saat Elisa datang pertama kali, saat pindah ke rumah kamu, hanya bawa tas kecil, yah emang cuman segitu baju yang elisa punya" ujar elisa yang menjelaskan.
"Sudah lah, jangan bikin aku pilu jika mengingat hal itu. Lagian sekarang kamu sudah punya banyak, tapi nggak banyak-banyak banget sih. Hm- bukanya cuman delapan etalase lemari doang, kok bisa lama" ujar Andre yang mengingat jumlah lemari elisa, lebih sedikit dari miliknya.
"Mas, dulu malah Elisa gak punya tuh etalase! apa lagi lemari. Syukur-syukur punya kotak kecil saja, baju Elisa juga gak sebanyak itu, bisalah di hitung dengan jari, ya maklumi Napa. Wajar kalau cewek lama, mas Andre cowok kok mandinya lama, itu yang wajib di pertanyakan" ujar elisa membalikan ucapan andre.
"Yah! Aku mandinya lama itu, sambil luluran 7 kali, biar kulitnya glowing. Hehehe" ujar andre sambil cengengesan.
"Dih, lebay" seraya memukul dadah bidang Andre pelan, Andre hanya tertawa kecil.
Andre melanjutkan main HP, Elisa semakin penasaran dengan apa yang selama di pikirannya.
"Mas!" ujarnya parau.
"Apa?" jawab Andre singkat.
"Kamu kenapa sih!"
"Kenapa, apa yah?"
"Kok, kamu suka nolak?
"Nolak"
"Iya, kamu suka nolak, kalau aku ngajak" ujar elisa menatap andre dengan lekat.
"Ngajak kemana?, coba yang bener nanya yah. Jelaskan, gimana maksudmu" ujar andre yang membenarkan posisi duduknya.
__ADS_1
"Aku ini kan istrimu, atau hanya sebagai pajangan bagimu?" ujar Elisa menuduhkan wajahnya, karena malu untuk mengatakannya.
"Hah! Kamu ini bukan pajangan kok, kamu itu adalah pacarku yang aku nikahi" ujar Andre seraya menyakinkan Elisa.
"Ouh! Terus apa gunanya, kamu nikahi aku" ujar Elisa menatap Andre, semakin punya banyak pertanyaan.
"Lah, bukanya tujuan pacaran itu mau serius untuk ke jenjang pernikahan kan?" ujar Andre yang mengatakan dengan nada membidik.
"Iya, tapi. Kenapa dengan kamu? sudah menikahi ku, tapi bukannya tujuanmu untuk melanjutkan keturunan! emang kamu nggak mau 'Begituan' denganku kah?" ujar elisa yang penuh penekanan.
"Begituan gimana?" ujar Andre yang malah bertanya-tanya.
"Ya itu! Kita berdua melakukan kegiatan makhluk hidup untuk berkembang biak, masa harus Elisa jelaskan juga" ujar Elisa kesal.
"Ha-ha-ha"
"Ih- kok malah ketawa, Elisa sedang serius nih"
"Yah, lagian kamu ada-ada saja ngomong begitu, pemilihan katanya. Kayak hewan saja, harus berkembang biak!" ujar Andre yang masih ketawa kecil.
"Ya, kan namanya juga makhluk hidup, ya pasti tujuannya itu"
"Hmm-, iya juga sih"
"Jadi kenapa, kamu belum mau melakukan itu. Padahal Elisa sering tuh, menawarkan diri ke kamu" ujar Elisa yang mengingat.
"Kamu belum siap, nunggu kamu benar-benar siap dan matang" ujar Andre yang menegaskan.
"Iya Kamu" Andre menujuk Elisa.
"Terus, kamu kapan sudah siapnya?"
"Hmm, siap gak siap! Aku akan siap kapanpun"
"Emangnya mas Andre, nggak mau yah! Punya anak denganku yah?"
"Mau, cuman gak sekarang"
"Kan belum tentu sekali melakukannya, Elisa akan hamil"
"Iya, tapi gimana kalau di kasihnya cepat" ujar Andre yang makin kewalahan, menanggapi pertanyaan demi pertanyaan.
"Lah! Emangnya, mas Andre gak mau"
"Ya, Alhamdulillah sih. Cuman—" belum sempat berlanjut kata-kata itu terputus.
"Cuman apa?, dari tadi kamu suka bolak-balik melulu. Jujur sebenarnya kamu gak mau kan, atau kamu benci anak kecil yah? Kamu punya trauma sama anak kecil yah"
"Sayang, bukan gitu. Kenapa sih kamu kait-kaitkan terus dengan trauma. Aku hanya gak mau kamu nantinya jadi repot"
"Itu udah resiko. Mas, kamu sadar nggak, terus saja nunda-nunda padahal istrimu sudah ngajak begini, dosa loh. Rasullullah saja, melakukan hal itu dengan semua istrinya, bahkan ada yang usia istri umur 9 tahun, Elisa 23 tahun jauh kan"
__ADS_1
"Yah! Jangan di samakan Beliau, dengan mas pasti jauh beda dong, mas hanya manusia biasa, sedangkan Beliau utusan kesayangan Allah"
"Terus, alasan kamu yang masuk diakal yang paling kuat buat kamu gak mau melakukan itu kenapa? Apakah kamu punya trauma, atau gimana?" Tanya Elisa.
"Nggak punya trauma kok, lagian aku gak pernah sedekat ini sama wanita, apalagi sampai tidur satu rajang bengini. Ini baru pertama kalinya, Elisa belum saatnya kamu—"
"Kanapa? tahu gak Elisa sudah kayak wanita murahan banget, minta-minta sampai mohon-mohon kayak gini, ke kamu"
"Kenapa sih kamu kayak ngebet banget, pengen begitu"
"Iyalah, ngebet banget. Emang mas Andre gak iri gitu sama temen-temen Mas, mungkin yang seusia mas udah punya anak. Bahkan sudah punya empat anak, kalau Elisa mah iri banget, ngeliatnya. Nih di ulung ati udah ngebul, saking panas hati saat melihatnya, karena Elisa udah pengen benget. Yah- setidaknya kita pernah lah melakukan hubungan suami-istri. Agar Elisa tenang, bisa menikah sama orang tepat"
"Kenapa kamu bisa ngomong gitu!"
"Mas, rata-rata tipe cowok ganteng itu ada dua. Itu bukan mitos atau abal-abal, ini nyata"
"Apa!"
"Cowok ganteng cantik model kayak mas Andre bengini. Ada dua jenisnya, 1. Kalau cowok cuek, pasti sudah punya cewek atau istri.
Terus yang ke- 2. yang lebih aneh. Pasti dia sesuka sama jenis.
Nah! mas Andre tipe yang mana?"
"Ha-ha-ha, yang pasti. Aku ini penyuka wanita, dan aku pria tulen. Cuman suka sama wanita bernama Elisa, dan hanya punya Elisa seorang. Nggak ada yang lain, soal itu? Aku memang tidak bisa melakukan, karena aku takut akan menyakitimu. Aku belum siap untuk meyakinkan diri ini untuk menyakiti orang yang paling aku sayangi, itu alasanku"
"Mas Andre gak punya hasratttt atau terangsanggg gitu?"
"Punya, bahkan mungkin akan lebih kuat. Jika kamu mau tahu, hanya saja aku selalu meredamkan Naffssuu ku"
"Kanapa?"
"Karena! Nunggu kamu bener-bener siap menerima aku, apa adanya. Kamu ingat kan, saat aku tanya kamu suka apa yang ada padaku, dan kamu jawab kamu hanya suka bola mataku. Itu menujukan, jika kamu memang belum siap, untuk kejengjang berhubungan lebih jauh" Ucap Andre yang mengingatkan Elisa saat malam melamar itu.
"Saat itu aku malu buat katakan, sebenarnya aku sudah suka mas, saat pertama kali kita bertemu di halte itu, iya Elisa jujur. Memang Elisa memandang fisik, tapi apakah mas tahu, sebenarnya berat punya suami ganteng. Lebih berat dari pada hanya pria biasa saja, karena pria seperti mas Andre begini, sangat diminati oleh para wanita. Aku harus punya kesabaran ekstra, Elisa mungkin bisa bersaing dengan mereka tapi aku insecure, karena mereka lebih cantik. Makanya kenapa aku suruh mas untuk merahasiakan identitas hubungan kita, karena aku takut dapat tatapan mata aneh"
"Ouh jadi begitu, alasan kamu"
"Iya, tapi aku kaget dari semua pilihan kamu itu, kenapa kamu malah menikahi wanita biasa seperti aku"
"Hmm- aku juga gak tahu kenapa? Yang jelas kamu seperti matahari yang menyinari bumi yang gelap ini, jadi aku selalu ingin lebih jauh mengikuti mu, aku juga seperti rembulan yang kehilangan cahaya saat mentari tak mau berbagi sinarnya saat malam hari, saat kamu tidak ada di sekitar ku aku merasa kehilangan mu. Kamu juga seperti embun saat pagi hari, saat aku tak tahu harus apa kamu dapat menyejukkan hati, menyegarkan pikiran ku. Itulah dirimu, kamu buat aku menjadi seorang yang benar-benar sempurna, hanya kamu yang tahu jika aku tidak pernah tersenyum tulus, karena aku juga tidak tahu alasan dibalik aku benci untuk tersenyum, aku juga jadi menyukai bola mataku karena kamu menyukai yah"
Elisa tersentak, sejak kapan suaminya itu pandai berpuisi romantis begitu, kata-katanya seperti pujangga sedang mencari cinta.
"Sayang! Aku gak pernah punya pikiran begitu. Aku tulus sama kamu, aku menyukai wanita, aku juga suka dengan Elisa, karena kamu memang formalitas utama dalam hidupku, karena aku mencintaimu bukan rahim mu. Jika soal berhubungan suami-istri itu, beda lagi. Jika aku pria yang hanya menyukai melakukan hubungan seksuallll, ngapain coba aku menikahi wanita Istimewa seperti mu, toh! Aku bisa tunjuk saja wanita yang cantik yang hanya mau memberikan kehormatan untuk ku. Itu mudah bagiku, aku bisa sewa wanita maupun jika hanya mau melakukan itu satu malam, kalau aku mau. Tapi aku tidak mau melakukan hal itu, karena wanita bagiku adalah mahkota bagi kaum lelaki. Tampa mereka, kaum kita tidak akan pernah ada. Papah tidak mengajarkan aku untuk melakukan sesuatu hal begitu, papah mengejar kan untuk menghargai perasaan wanita dan menghormati mereka, aku tahu aku telah berdosa padamu. Jadi maafkan aku, karena selalu menolak ajakanmu kali ini waktunya kurang tepat untuk melakukan yah"
BERSAMBUNG ...
Terimakasih atas kunjungan Anda ke cerita saya jangan lupa untuk like, share dan masukan komentarnya...
Jangan lupa follow athour dan masuk ke grup saya ditunggu kedatangannya.
__ADS_1
Jumat 4 Februari 2022.