
Elisa yang begitu sangat penasaran dengan hasil yang diperoleh oleh make over, tangan seorang graneta itu bagiamana Elisa cukup gugup, karena Elisa di larang untuk melihat cermin dulu sebelum selesai.
Andre itu banyak menutut pada graneta, dan permintaannya banyak. Nggak boleh menor atau terlalu full make up, maunya terlihat natural, bibir juga gak boleh terlalu merah, karena Andre cukup cemburuan, jika Elisa pakai lipstik warna merah.
Pakaian juga, Andre cukup rewel dengan kostum yang akan di gunakan Elisa. Gak boleh membentuk lekuk tubuh, yang simpel tapi elegan, sederhana jangan bikin ribet, terus Elisa di haruskan pakai hijab.
"Ampun deh!, tuh orang penyiksaan banget" Gerutu Elisa yang mendecak kesal, untungnya graneta yang sedang sibuk merapikan hijab Style, tidak mendengar atau mengerti apa yang di katakan oleh Elisa.
GRANETA : Nona, cek hasil make up, dariku, bagaimana?
Ujar graneta seraya memutar kursi, kearah cermin besar. Yah! Elisa tampak cantik dengan balutan busana muslim ala Eropa, dengan desain sederhana tapi tetap menampilkan sebuah kemewahan.
"Hah! ngomong apa sih? udahlah jawab aja. Yes! Perfect-perfect" Ujar Elisa yang binggung mau jawab apa, saat Elisa melihat cermin kaget melihat dirinya.
"MasyaAllah, ini aku? Kayak Barbie banget, seperti ini. Kok, aku gak kepikiran jika aku secantik ini, padahal pernah di dandani, saat akad dan resepsi beberapa hari lalu, tapi ini..." Elisa tak bisa berkata-kata lagu, tangan graneta seperti ada sihir.
GRANETA : Thank you, anda sangat cantik sekali. Manis dan imut, Andre beruntung banget memilih mu. Ini pertama kali dia bawa wanita, untuk saya di make over, dan banyak banget permintaan yah. Biasanya tidak terlalu peduli dengan fashion, tidak terlalu banyak ingin
"Hahaha, yes-yes. Sorry, what you speak. I am, no Understand" Ujar Elisa yang bicara seadanya.
GRANETA : Ha-ha-ha, tidak masalah. Aku mengerti, Andre cukup teliti memilih wanita yah
Langsung faham dengan apa yang dikatakan oleh Elisa, ia malah tertawa kocak.
"Yes! Nggak tahu deh! dia ngomong apa? terserah aja" Gerutu Elisa kesal.
Tak lama Elisa di suruh untuk diam dulu di balik tirai, tak lama Andre keluar dari sebuah pintu. Ya ampun! Andre sangat tampan, dengan stelan jas yang senada dengan gaun yang di gunakan Elisa, wajah yang susah di jelaskan dengan kata-kata, Andre yang sudah aslinya baby face, imut-imut manja. Bikin mau di makan saja, di tambah di make over, semakin kayak pangeran kerajaan saja dia.
"GILA, DIA SIAPA?" Gerutu Elisa yang melihat dari celah-celah tirai.
GRANETA : Waw! ANDRE, kamu bener-bener seperti good model. Baju trendy ku pasti akan laku keras di pasar internasional, jika kamu memakai yah. Sungguh maha karya yang indah, pangeran ANDRILOS. Kamu telah membawa berkah, bagi butik dan salonku?
Semua pelayan graneta yang rata-rata wanita, semua terdiam menatap Andre yang sangat tampan itu, tak ada yang bicara, semua hanya menatap dengan berbinar-binar, hingga seakan air liur mereka juga ikut jatuh.
ANDRE : Lebay! Mana istriku
Ucap Andre yang sontrak langsung menatap pada graneta, yang membenarkan kemeja dan dasi Andre yang kurang rapi.
GRANETA : Tutup matamu, aku akan berikan kejutan juga untukmu
ANDRE :Jangan lupa apa yang ku pesan tadi, kamu tidak melupakannya kan! Awas saja jika tidak sesuai dengan permintaan ku, akan ku buat tutup butik mu ini
Ancaman Andre yang tekanan tapi sebetulnya itu adalah candaan, graneta seakan-akan dirinya, merasa ketakutan dengan murkanya, seorang pria bernama Andre.
GRANETA : Tidak, Jangan bertindak kejam kepadaku. Tuan. K-kamu tenang saja, semua sesuai dengan permintaan mu. Nancy, bawa lady kemari
Di luar dengan dugaan Elisa, ternyata Andre sama sekali tidak kaget saat melihat hasilnya, wajah datar dan ekspresi biasa saja yang di tujukan Andre saat tirai itu di buka.
"Kok dia, gak kaget sih, aku sudah seperti putri dalam dongeng loh. Apa? jangan-jangan aku gak cantik yah?" Gerutu Elisa.
Elisa sudah ada di hadapan Andre, tapi masih saling diam tak ada suara sepata-katapun dari mulut Andre.
"Bagaimana mas, aku cantik gak?" Tanya Elisa membuka pembicaraan, seraya mencari pendapat dari Andre.
Andre mengerut dahinya, dan menatap tajam. "Kamu ini siapa?" Tanya Andre seakan-akan tidak mengenal Istrinya.
"Astaghfirullah, mas! Ini aku, masa kamu gak inget" Ucap Elisa yang kesal.
"Siapa kamu, aku gak inget! Apa lagi harus kenal denganmu" Ucap Andre yang menghindari Elisa, yang sangat dekat dengannya.
"Mas, jangan bercanda dong!" Ucap Elisa yang ketakutan, jika dengan dandanan seperti itu Andre malah tidak kenal dirinya.
ANDRE : Graneta, aku menyuruh mu memanggil istriku. Siapa yang kau panggil ini, aku tidak mengenalinya. Di mana istriku?
Nada seperti sewot, Andre mencari di setiap sudut ruangan. Semua keheranan, tak ada wanita lain yang di make over hari ini, jadi semua pekerja graneta kebingungan.
GRANETA : Hello, Andre.Tidak usah bercanda, aku tahu kamu sedang ingin menjatuhkan harga diri ku. Ternyata kamu masih belum juga berubah, suka sekali memanipulasi dan memainkan peran dengan baik, seharusnya kamu jadi aktris saja. Jangan sia-sia kan bakat mu, dan awas jika kamu bertidak pura-pura tidak kenal dengan wanitamu ini, bisa di ambil orang! Kamu buat dia panik begitu dong lihat dia, sudah khawatir.
Ujar graneta yang sudah tau jika Andre memang suka bercanda, dan menggoda dirinya, apa lagi sekarang iya juga memiliki istri yang mudah di buat bahan candaannya.
ANDRE : Hahahaha, iya-iya. Aku puas dengan kerja keras mu, terimakasih. Aku sudah kirimkan deposit pembayarannya untuk mu, cek ATM. Aku pergi sekarang, bye!
"Yuk! sayang" Ucap Andre yang langsung mengandeng tangan Elisa dengan lembut.
__ADS_1
Sesampainya di sebuah tempat, sudah banyak yang datang, orang-orang penting lainnya. Terlihat karpet merah yang sudah di bentangkan, ala-ala keyword para aktris papan atas, dengan wartawan yang sudah berkumpul di sisi-sisi rantai pembatasan, dengan beberapa bodyguard yang siap menghadang agar tidak ricu.
Mobil yang di dalamnya membawa, Andre dan Elisa juga baru sampai di depan karpet merah tersebut, dari jauh sudah ada yang mengawasi, untuk melaporkan jika Andre dan istrinya telah datang.
Seseorang telah membukakan pintu mobil, Andre bergegas keluar lalu mengulurkan tangannya, agar Elisa meraihnya. Andre membantu Elisa untuk keluar dari dalam mobil.
"Wah! Ini pameran, atau acara penghargaan word sih. Berasa kayak aktis papan atas, maaf ya mas. Aku terlihat katrok banget, kampungan yah? he-he-he, karena ini pertama kalinya aku datang ke cara beginian" ujar Elisa sambil tangannya aktif, dadah-dadah persis kayak artis yang menyapa pengemarnya.
"Nggak apa-apa, aku juga tahu" ujar Andre singkat dengan sesekali melebarkan senyumannya.
"Hmm- ngomong-ngomong, aku baru tahu, jika acara pameran saja bisa seramai ini" ujar Elisa yang sudah sampai di layar putih, tanda tangan.
"Ini belum ada apa-apa yah sayang, masih ada lagi acara besar selain ini. Event-event orang-orang penting, dan orang konglomerat lainnya" ujar Andre yang bergantian menadatangani, papan putih di belakang tubuhnya itu.
"Wah! Masih ada lagi acara yang seperti ini tapi lain dari ini?" ujar elisa yang kaget dengan kehidupan orang KAYA.
"Iya, masih banyak. Tapi itu juga hanya sebagian yang ku tahu, karena aku jarang ikut atau bergabung dengan hal-hal seperti itu" ujar Andre.
"Kenapa?"
"Merepotkan, kayak gak ada kerjaan lainnya saja, hanya kumpul-kumpul nggak jelas, lalu ngajak taruhan dan lain sebagainya"
"Wah! Dunia orang yang berduet, emang beda, seperti uang tidak ada artinya" ujar Elisa yang sangat takjub, dengan apa yang di lakukan orang-orang kalangan atas itu.
"Yah, itulah dunia sesungguhnya orang-orang yang tidak mau menghargai orang lain, akan menyepelekan semua budak atau orang-orang yang ada di bawah, merendahkan mereka seperti sampah" ujar Andre yang terlalu kesal dengan kalangan atas, yang selalu bertindak semena-mena.
"Mas, kamu mengatakan semua itu. Tapi apakah kamu tahu seperti apa kegiatan mereka? Apakah masih ada yang acara seperti ini yang hanya bisa di hadari oleh orang-orang yang memiliki status dari kalangan bangsawan"
"Ini masih formal sayang, dan bersifat umum, jadi kalangan kelas menegah dan bawah masih bisa menghadari, hanya saja akan ada perbedaan dalam perlakukan pelayanannya, dan kastanya mungkin akan di bedakan juga" ujar Andre yang memperlihatkan para bangsawan kelas atas, menengah dan bawah memang di bedakan.
"Wah! Terasa sekali perbedaan perlakuan merasa, mentang-mentang kasta meraka rendah, jadi membedakan pelayanan" ujar Elisa yang tidak tega dengan perlakukan itu.
Tiba-tiba ada seorang pria paru baya yang terjatuh gara-gara memohon untuk di izinkan masuk kedalam, tapi di seret keluar oleh penjaga pintu dengan sangat kasar, Elisa langsung berlari karena tak tega.
Reflek Andre juga ikut mendekat ke sana. "Sayang! jangan berlari sembarangan begitu" ujar andre yang menarik tangan Elisa.
"Tapi mas lihat bapak-bapak itu, mereka tidak sopan sekali. Aku hanya mau membantunya, mas tolong dia"
"Tunggulah disini, biar aku yang kesana" ujar Andre yang langsung mengantikan Elisa.
PENJAGA : Tuan yang terhormat, dia ingin menerobos masuk tanpa undangan, dengan tujuan yang sangat tidak masuk akal
ANDRE : Pak, boleh saya tahu. Kenapa anda melakukan hal tesebut, jika seperti ini, anda dalam bahaya
PRIA TUA : saya hanya ingin minta tanggung jawab Presdir Johannes untuk putri saya dan keluarga kami
ANDRE : Untuk masalah apa? beliau harus tanggung jawab dengan anda.
Setelah lama mereka berbincang-bincang, Elisa yang tidak mau menunggu terlalu lama di sana, akhirnya melenggangkan kakinya, untuk mendatangi suami.
ANDRE : Mari, masuk dengan saya. Aku juga ingin tahu, johannes itu seperti apa orang yah
"Ada apa mas, kok lama. Kalian bicarakan soal apa? bapak ini kenapa?" tanya elisa yang penuh kebinggungan.
"Yuk! kita masuk kedalam" ujar Andre mengandeng tangan Elisa untuk masuk ke dalam, tak di sangka saat pintu itu terbuka.
Semua mata tertuju pada mereka, Andre juga kebingungan dengan reaksi itu, lalu banyak bodyguard juga sudah langsung berjejer di setiap sisi.
Pria tua, yang mengikuti andre di belakang juga kaget. Dalam benaknya terus bertanya-tanya, siapa pria yang telah menyelamatkannya itu.
Prok prok prok!
Seorang pria asing malah tepuk tangan, saat mereka membuka pintu
dan masih berdiri di ambang pintu, Andre tak berani untuk melangkah kan kaki masuk ke dalam.
GERRY : Andre, apa kabarmu?
Ucapnya seraya datang dengan sangat elegan, menghampiri Andre.
ANDRE : Kamu, kamu siapa?
Andre malah kebingungan dengan sikap pria Andre itu, sok akrab sekali.
__ADS_1
GERRY : HAHAHA, kamu masih saja lucu seperti biasanya. DENGAR! SEMUA YAH, KITA KEDATANGAN TAMU ISTIMEWA MALAM INI, PUTRA MAHKOTA ANDRILOS TELAH MUNCUL KEMBALI, DAN AKAN KEMBALI TAHTA-NYA
ANDRE :HAH? apa maksudmu, aku datang kesini hanya-
GERRY : Menghadiri acara pameran ini, hanya sebuah alasan. Tujuan utamanya adalah agar kau keluar dari persembunyian mu ALZAM ANDRIANO CLARLOSEN
Pria itu sudah menebaknya dengan tepat, Andre yang binggung apa lagi Elisa sangat binggung.
PRIATUA : Ja-ja-jadi, tuan ini?
ANDRE :Omong kosong apa yang kau katakan itu, bahkan aku tidak mengenalmu
GERRY : Aku Gerry Mahesa, putra Jerry Mahesa. Kau ingat, aku temanmu waktu kelas bangsawan, saat kita di taman kanak-kanak, sebelum terjadinya kabar jika kamu telah menghilang, dan bukan lagi bagian dari keluarga ANDRILOS
Andre menarik nafasnya dalam-dalam, tambah aneh dan membuat yah kebingungan.
"Semakin aneh, sayang! Ayo, kita pergi dari sini sekarang. Sepertinya, ada yang tidak beres, ternyata kita datang di tempat yang salah. Mereka cukup buat aku kebiggungan, ayok!" ujar Andre menarik tangan Elisa, tapi saat berbalik badan ia melihat pria tua itu, ingat janjinya dan asalan dia masuk untuk membantu si pria tua.
ANDRE : Ah! aku lupa, jika kamu temanku. Bisakah kamu membantuku?
GERRY : Apa pun itu, aku akan siap. Aku seneng bisa membantu keluarga bangsawan seperti mu
ANDRE : Orang ini ingin menemui seseorang, bisakah kamu buat keadilan baginya, aku akan menganggap ini sebagai persahabatan kita
GERRY :Baiklah, sesuai dengan ke inginanmu
ANDRE :Pak! karena aku sudah janji akan memberikan kamu keadilan, dia adalah temanku, dia ini seorang pakar hukum, jadi dia akan melakukan secara hukum. Silakan anda bicarakan apa yang anda rasakan. Aku serahkan masalah ini, padamu Gerry Mahesa.
"Ayok! sayang kita keluar, dari tempat ini. Jujur sebenarnya aku, juga malas untuk datang ke acara seperti ini, semua orang di sini seluruhnya adalah orang-orang yang suka pamer kemewahan, dan memandang rendah kelas bawah, semuanya pandai menjilat. Hingga berpura-pura kenal dan mengaku-ngaku sebagai sahabat sekeluarga" gerutu Andre seraya menarik tangan Elisa.
"Begitu kah, lalu kenapa kamu mau terima tawaran kayak gini. Apa yang mereka katakan? aku sama sekali tidak faham"
"Aku juga tidak faham, tapi sepertinya kita salah lokasi, kita kembali ke acara awal"
"Rencana awal bagaimana? Emang ini bukan tempatnya, kita salah gedung atau bagaimana?" Elisa malah tambah pusing.
"Seharusnya ini kegiatan amal, tapi kenapa jadi begini" Dumal Andre yang masih menahan kesel.
"Jadi begini gimana?" Elisa yang terseret-seret, karena langkah kaki Andre yang lebar sedangkan Elisa yang kecil di tambah gaun yang susa untuk menyeimbangkan langkah Andre.
"Aku juga tidak faham, papah selaku ketua panitia pengalangan dana ini, untuk kaum dhuafa dan panti-panti, dengan besiknya mereka yang ingin lebih unggul, dan selalu ingin tampil lebih, papah memanfaatkan hal itu agar mereka mau menyisihkan sebagian besar kekayaan mereka. Pokok ya mereka pasti akan ingin bersaing, hanya untuk mendapat nama dan ketenaran" ujar Andre, seraya sudah berada di lobi gedung.
"Wah! Papah sangat hebat yah, punya pemikiran seperti itu, aku sangat salut dengan Papah" ujar elisa yang hanya bicara sambil menyeimbangkan langkah Andre yang panjang dan jejang.
PELAYAN : TUAN MUDA- TUAN MUDA!
Sebuah panggilan itu semakin sangat nyaring, saat mereka akan naik mobil tangan Andre di tahan seseorang.
PELAYAN : Akhirnya kekejar juga, tu-tuan. Kenapa anda ingin masuk lagi ke mobil
ANDRE :Sepertinya saya salah tempat, jadi aku akan kembali
PELAYAN :Tuan, ini benar tempatnya. Silakan ikut saya, lewat sini
Mereka di bawa ke sebuah ruangan yang agak berbeda, seperti restoran bintang lima, ada seseorang yang berdiri di depan jendela lebar, dan besar dengan pemandangan gedung-gedung mencakar langit itu.
PELAYAN : Boss, tuan muda ANDRILOS sudah datang
Pria itu langsung berbalik dan menatap, ke arah Andre dan Elisa. Sontrak buat Elisa kaget, karena wajahnya sangat mirip dengan Andre. Tapi tentu saja, dia lebih tua karena dia mengunakan tongkat untuk membantunya berdiri.
BRANDON : Alzam, putraku apa kabarmu nak?
Sapaan itu membuat Andre terdiam sejenak, seakan-akan dirinya mengetahui tentang pria yang ada di depan yah.
ANDRE : Apakah anda adalah Tuan Brandon Luwiss, teman papah?
BRANDON : Iya! ini aku, ternyata kamu masih mengingatku, dan kamu semakin banyak kemiripan denganku setelah kau dewasa yah?
Ucapan itu membuat Andre semakin banyak tanya, siapakah pria tersebut kenapa bisa mengatakan itu.
BERSAMBUNG ...
Terimakasih atas kunjungan Anda ke cerita saya jangan lupa untuk like, share dan masukan komentarnya...
__ADS_1
Jangan lupa follow athour dan masuk ke grup saya ditunggu kedatangannya.
Selasa 1 Februari 2022.