
Merekapun semua melanjutkan makan malam yang tadinya sempat tertunda.
Yunda melirik ke arah Mirna yang membuat ia geram. Karena ponakannya itu, malah menghentikan drama panjang yang sudah lama ia nantikan.
Selesai makan malam. Seperti biasa, keluarga itu sering berkumpul di ruang keluarga.
Yunda kembali mengingat yang tadinya sempat tertunda di dapur.
"Oya, Dara. Bukannya tadi suamimu bertanya tentang usia kehamilan-mu?" Tanya Yunda membuka pembicaraan. Membuat Dara semangkin meremas jari-jari tangan, yang sedari tadi ia remas untuk menutupi kegelisahannya.
Semua yang mendengar ucapan Yunda, mengalih pandang melihat ke arah Dara. Dara di buat semangkin panas dingin mendapat tatapan mereka semua yang berada di sana.
Tamatlah riwayatmu. Batin Kinanti yang sedari tadi hanya diam, padahal ia sudah sangat menantikan momen saat ini.
Dara menunduk dalam, menarik nafas untuk menenangkan perasaannya. Dengan hati yang pasrah, akhirnya ia mengangkat pandangan dan melihat semua orang satu persatu secara bergantian. Terakhir ia melihat wajah suaminya yang tentunya sedang menunggu jawabannya juga.
"Jalan 4 minggu kata dokter," jawab Dara, singkat, jelas dan padat.
Angkasa menyerjit saat mendengar jawab Dara.
"Apa? Kau tidak salahkan, Dara? Bukannya suami mu sudah berada diluar negeri selama 2 bulan? Bagaimana caranya usia kehamilanmu baru 4 minggu?" Tanya Yunda mulai bersandiwara, untuk menyalahkan api dalam hati putranya.
__ADS_1
Dara gelagapan. Ia juga bingung ingin berkata apa lagi. "Apa dokter itu tidak salah hitung? Coba di periksa ulang?" Tanya Angkasa pada menantunya.
"Masak iya dokter bisa salah Pi! Yang benar saja!" Ketus Yunda tak setuju dengan saran suaminya.
"Iya bisalah, Mi. Namanya juga hanya mesin-kan, wajar kalau melakukan kesalahan," jawab Angkasa masih membela menantunya.
"Kamu itu iya, Mas! Itu tidak mungkin salah! Karena yang memeriksanya itu adalah mesin, jadi enggak mungkin salah Pi, kalau manusia baru wajar salah!" Jawab Yunda kekeh.
Dara terdiam saat mertuanya seperti sedang memojokkannya.
Adam masih diam menatap dalam wajah sang istri. Dara berusaha menghindari tatapan aneh suaminya.
"Papi benar, Mi. Siapa tau saja memang salah. Nanti kita coba periksa lagi ya, sayang." Adam berdiri dan menarik pelan tangan istrinya.
"Kami pamit ke atas dulu." Adam membawa istrinya naik ke dalam kamar.
Yunda jangan di tanya lagi, ia benar-benar tak menyangka, jika drama yang sudah ia nantikan sirna seketika itu juga, saat Adam putra satu-satunya. Malah tak menunjukkan tanda- tanda kemarahan dari raut wajahnya.
Syurkurlah... Aku hanya tidak ingin kak Galih yang jadi sasarannya. Batin Mirna mengusap pelan dadanya.
Dikamar.
__ADS_1
Adam mendudukkan istrinya di atas ranjang. Bola mata wanita itu sudah membendung, ia mengira jika suaminya hanya menyembunyikan amarahnya saja dari depan orang-orang di bawah tadi.
"Mas, aku-----------
Ucapan wanita itu terhenti saat Adam menaruh telunjuk jarinya di bibir merahnya.
"Ssstt. Aku punya sesuatu untukmu, sayang." Ujar Adam tersenyum lembut, mengusap air mata istrinya yang sudah mulai berjatuhan.
"Tapi, M----------
Adam kembali menggeleng. "Aku tidak memerlukan penjelasan apapun darimu, Dara. Aku tau kau mencintaiku, dan aku tau kau tidak akan pernah menduakan aku... Aku lebih percaya dengan tatapan matamu, sayang. Di banding dengan penjelasan, atau kata-kata orang di luar sana," mengusap air mata istrinya sambil berkata dengan tulus.
Laki-laki itu merogoh saku celananya, kemudian mengeluarkan kalung berlian. Dan memakaikan ke leher istrinya.
"Seharunya ini aku berikan padamu saat kau berulang tahun tidak lama lagi, sayang. Tapi karena kau hamil, aku memberikan ini, sebagai tanda terima kasih padamu, karena kamu mau mengandung anak aku lagi," ujar laki-laki itu membuat Dara kembali menjatuhkan air mata haru.
Ia langsung memeluk erat suaminya. Ketakutan yang tadi serasa sirna begitu saja, saat sang suami sama sekali tidak mempermasalahkan itu semua.
"Terima kasih karena sudah mempercayaiku, Mas." Dara menangis sesungguhan dalam pelukan suaminya.
"Tidak perlu berterima kasih, sayang. Justru aku yang seharusnya meminta maaf, karena meninggalkan kamu dalam keadaan hamil sepeti ini. Maafkan aku sayang." bisik Adam mencium pucuk kepala istrinya yang menangis tersedu-sedu.
__ADS_1