
Cklekkk
Adam membuka pintu kamar Anim yang saat ini sedang duduk di depan meja riasnya. Wanita itu baru saja selesai membersihkan tubuhnya, dan masih memakai handuk duduk di depan meja rias.
"Anim!" Panggil Adam melangkah mendekatinya.
Anim melihat ke arah suaminya. "Ada apa?" Tanya Wanita itu.
"Kita harus bicara," kata Adam.
Anim melihat curiga pada laki-laki itu saat Adam membawa beberapa lembaran kertas di tangannya.
Tiba di dekat Anim yang duduk di kursi meja rias. Adam menyimpan beberapa lembaran kertas yang dia bawa tadi.
Wanita itu mengambil dan membaca surat itu.
__ADS_1
DEG!
Ternyata dugaannya benar. Jika itu adalah surat cerai. "Tidak Mas! kau tidak bisa menceraikan aku Mas! Aku masih sangat mencintai mu Mas!!" Teriak Anim dengan bola mata yang mulai basah.
"Rumah tangga ini seharusnya sudah berakhir dari lima tahun yang lalu. Tapi aku masih memilih mempertahankan kamu karena Mami yang sedang sakit, tapi sekarang aku rasa tidak ada gunanya lagi aku mempertahankan rumah tangga ini. Mari kita akhiri," ujar Adam mantap.
Anim menggeleng, "Tidak Adam! Kau tidak bisa melakukan ini padaku! Dulu kau bilang, kalau kau sangat mencintaiku! tapi kenapa sekarang kau malah berubah pikiran! kenapa Adam! Aku salah apa padamu! Kenapa sekarang kau malah beralih, mencintai wanita pelakor itu!!!" Anim sudah di banjiri air mata.
"Setelah berjalan beberapa tahun kau belum bisa melihat kesalahan mu? Kau memang wanita yang sangat egois." Ujar Adam menggeleng kemudian melangkah pergi meninggalkan wanita itu yang terduduk lemah di kursi meja rias. Dia mau apa lagi, Adam sudah menceraikannya dan tidak mungkin bisa memaksa laki-laki itu lagi untuk hidup bersamanya.
Di halaman depan Villa Adam. Vano sedang memarkir mobilnya. Dia datang ke sana bersama Icha, berniat untuk meminta izin pada Adam untuk membawa Vano jalan-jalan, mumpung sekarang akhir pekan.
Vano turun dari mobil di susul Icha. "Cari siapa tuan?" Tanya salah satu pelayan yang sedang menyiram bunga di halaman.
"Tuan bibik ada?" Tanya Vano.
__ADS_1
"Owh, tuan Adam berada di dalam. Silahkan masuk ke dalam tuan, sebentar saya panggilkan tuan Adam."
Vano mengagguk dan tersenyum pada bibik itu. Kemudian melangkah masuk ke dalam Villa.
Di dalam dia berpapasan dengan Anim yang melangkah turun dari kamarnya. "Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Anim menatap tidak suka pada Icha yang terus menempel pada Vano.
Gadis itu perkirakan. Jika wanita di depannya pasti ada hubungannya dengan Vano.
"Kamu nanyak?" Icha yang menjawab Anim dengan nada sedikit mengejek wanita itu.
"Cih! Apa tidak ada wanita lain yang bisa kau pacari? Dan kau malah pacaran sama bocah seperti ini!!" Sinis Anim pada Vano yang hanya diam menatapnya.
"Pacaran? Asal tante tauk ya, aku ini istrinya kak Vano," jawab Icha mengangkat tangan Vano dan mensejajarkan jari-jarinya di udara, memperlihatkan pada Anim cincin pernikahan mereka. Icha juga sengaja memanggil Anim dengan sebutan 'tante' untuk memanas-manasi wanita itu. Karena Anim terus memanggilnya 'bocah'
Anim melihat cincin itu. Dan mendekati Icha, "Apa katamu tadi? Kau memanggilku apa?" Anim langsung menarik rambut panjang ikal gadis itu.
__ADS_1
"Dasar lampir!!" Icha membalas menarik rambut panjang Anim yang di ikat kuda.