Karena Hamil, Aku Dijadikan Istri SIMPANAN

Karena Hamil, Aku Dijadikan Istri SIMPANAN
Penyesalan Tidak Berujung


__ADS_3

Semua yang berada di ruangan itu iba melihat keadaan Vano yang sangat memprihatinkan. Sungguh perasaan laki-laki itu saat ini tak dapat untuk di gambarkan. Jika Vano saja sebagai suami bisa sesakit itu di tinggal oleh sang istri, tentu saja Abimanyu yang sudah membesarkan putri satu-satunya jauh lebih sakit lagi saat kehilangan.


Hanya saja perbedaan dia dan juga menantunya. Vano di tinggalkan sebelum dia sempat mengucapkan kata maaf pada istrinya.


"Icha... Katamu kau mencintaiku, tapi kenapa kau pergi meninggalkan aku.... Ku mohon buka matamu, jangan pergi.... mari kita memulai semuanya dari awal.... Jangan tinggalkan aku dengan penyesalan tidak berujung ini... Ku mohon... Bangun. Katanya kau mencintaiku, tapi kenapa kau tidak ingin berbagi kesakitan-mu padaku? Kenapa? Tolong bangun... Tolong buka matamu..." Vano memegang wajah istrinya, dan mencium wajah kaku itu. Ini untuk pertama kali ia mencium istrinya selama mereka menikah. Adapun dia mencium istrinya di hari pernikahan mereka tempo hari, itu juga ciuman di dahi yang tentunya laki-laki itu tak ikhlas.


Tuan Abimanyu memegang pundak menantunya yang terlihat sangat terpukul, "Biarkan dia pergi dengan tenang... Tidak baik meratapi mayat seperti itu," kata Abimanyu mencoba menenangkan Vano, padahal dia sendiri juga sangat terpukul.


Laki-laki itu bukannya mendengar. Ia malah kembali memeluk erat tubuh istrinya. "Aku tidak ingin berpisah dengannya... Kenapa kau begitu kejam meninggalkan aku seperti ini... Kenapa... Aku tau aku banyak berbuat salah pada mu, tapi kenapa kau tega menghukum aku seperti ini... Bangun..." Vano menarik mayat istrinya dan memeluknya seperti tak ingin melepaskan gadis itu.


"Tenangkan dirimu Vano. Biarkan dia pergi," kata Daddy Abimanyu mencoba menarik tubuh menantunya. Tapi laki-laki itu menggeleng seolah tidak ingin melepas tubuh sang istri.


Abimanyu juga kembali menangis, beberapa nurse dan dokter ikut menjatuhkan air mata melihat pasien mereka kali ini sangat memilukan hati.

__ADS_1


Satu jam berlalu. Vano masih tidak ingin melepaskan tubuh istrinya, dia masih menangis dan terus meminta untuk wanita itu membuka matanya.


"Vano, kasihan Icha, kita harus segera menguburnya, agar dia bisa tenang di alam sana," Daddy Abimanyu mencoba membujuk Vano.


"Tidak! Aku tidak ingin berpisah dengannya, jangan!" kata Vano masih sama seperti tadi.


Tuan Abimanyu mendekati dokter dan membisiknya. Tak berapa lama dokterpun mendekat, dan langsung memberi suntikan penenang pada Vano. Agar laki-laki itu melepaskan istrinya, karena tubuh Icha mau di pindahkan ke ruang mayat. Besok pagi baru jasad itu akan di urus untuk di kebumikan, sekarang sudah tak sempat, karena sudah menunjukkan pukul 1 dini hari.


Mendapat suntikan dari dokter, Vano langsung pingsan seketika itu juga. Akhirnya jasad Icha di pindahkan ke ruang mayat. Setelah Vano juga di pindahkan keruangan yang lebih nyaman.


Keesokkan harinya.


Vano tersadar dari pingsannya. Ia langsung mendudukkan dirinya di brankar.

__ADS_1


"Vano, kau sudah sadar nak?" Tanya Angkasa dan juga ibu Ida yang sedari tadi menunggu putra mereka bangun. Dari tadi Ida dan juga Angkasa tak ada yang mengeluarkan suara saat menunggu Vano.


"Icha mana Bu?" Ia balik bertanya dengan bola mata yang sudah mulai membendung, ia masih ingat dengan jelas apa yang terjadi semalam.


"Ikhlaskan istrimu nak, dia sudah pergi. Ibu baru saja pulang dari mengebumikan istrimu," jawab Ibu Ida masih menjatuhkan air matanya. Karena dia juga sedih kehilangan menantu dan juga gadis yang sering membuatnya kesal.


Laki-laki itu kembali menangis dan menarik jarum yang berada di punggung tangannya.


"Antar aku ke kubur istriku Bu..." Kata Vano memaksakan diri untuk berdiri, meski tubuhnya sangat lemah, akibat ginjalnya yang diambil semalam.


"Vano, tenangkan dirimu, lihat keadaanmu, kamu juga sakit." Sahut Angkasa mengingatkan putranya.


"Tidak! Aku tidak sakit! Aku ingin menjenguk istriku!" Kedua bola mata Vano tampak bengkak akibat terlalu banyak menangis.

__ADS_1


"Baiklah, Ayah akan mengantarmu," kata Angkasa mengambil kursi roda dan membawa kehadapan Vano. Ida memilih diam dan membiarkan Angkasa.


Vano mengusap air matanya. Ia melihat sejenak ke wajah Ayahnya, kemudian naik ke atas kursi roda.


__ADS_2