Karena Hamil, Aku Dijadikan Istri SIMPANAN

Karena Hamil, Aku Dijadikan Istri SIMPANAN
Menjenguk


__ADS_3

Seorang nurse mendorong bayi mungil menuju ruangan Dara.


Cklekkk


Nurse membuka pintu ruangan dan membawa bayi mungil itu masuk kedalam.


Tadi Dara yang meminta pada nurse untuk membawa putranya masuk ke ruangannya.


Nurse tersebut sudah tiba di hadapan Dara. Dara melihat bayinya dengan bola mata berkaca-kaca. Tak pernah menduga jika ia akan memiliki bayi secepat ini.


"Kemarikan dia," kata Dara menjatuhkan air mata haru melihat bayi mungilnya.


Nurse tersebut langsung mengambil Dara dan membawakan padanya.


Dara memangku bayinya dengan perasaan yang sangat bahagia.


Ini seperti sebuah mimpi. Aku tidak pernah membayangkan jika aku sudah mempunyai seorang bayi. Batin Dara mencium lama pipi sang bayi yang tertidur pulas.


Tak berapa lama terdengar suara seseorang yang membuka pintu ruangan.


Masuklah ibu Ida. Dara melihat kearah ibunya, "Ibu?" tersenyum senang, karena ia tak menyangka jika ibunya akan datang kesana untuk menjenguknya. Wanita paruh baya itu juga tak memberitahukan padanya jika ia mau menjenguk.


Ibu Ida tersenyum mendekati putrinya dan langsung menciumnya, "Bagaimana keadaanmu sayang?" Tanya ibu Ida menatap lembut putri dan cucunya.


"Dara baik-baik saja seperti yang ibu lihat. Apa ibu datang kemari sendirian?" Tanya Dara.


"Iya, ibu hanya sendiri. Semalam ibu mengajak kakakmu kemari, tapi katanya dia sangat sibuk di tempat kerjanya. Jadi ibu juga tidak memaksanya,"

__ADS_1


Dara hanya mengangguk kemudian melihat ke wajah putranya yang masih pulas.


Ibu Ida mengelus-elus pipi cucunya, "Dia sangat mirip dengan wajah Ayahnya," ibu Ida juga tak memungkiri jika cucunya itu begitu mirip sekali dengan Adam.


Dara tersenyum kecut mendengar ucapan ibunya, "Mana suamimu itu?" Tanya ibu Ida.


"Dia baru saja keluar Bu," jawab Dara.


Karena tadi Adam memang izin pamit padanya untuk keluar sebentar.


Sebelum ibu Ida bersuara lagi, terdengar ruangan itu kembali di ketuk dari luar bersamaan orang itu juga membuka pintu ruangan.


Dara dan ibu Ida sangat kaget melihat siapa yang masuk ke dalam ruangannya.


Angkasa. Batin Ida melihat tak suka pada Angkasa.


"Assalamualaikum." Angkasa memberi salam perlahan melangkah masuk ke dalam.


"W-Waalaikumsalam" hanya Dara yang menjawab.


"A-apa yang anda lakukan di sini tuan?" Tambah Dara gugup. Mengerat pelukannya pada bayinya berpikir jika tuan Angkasa ingin mengambil bayinya.


"Saya kemari untuk menjenguk cucu saya Dara. Untuk apa lagi jika bukan itu alasannya," Angkasa tersenyum hangat pada Dara. Kemudian melirik ibu Ida yang memaling wajahnya.


"Owh, benarkah?" tersenyum di paksakan.


Ia melangkah dan berdiri tepat di sebelah ibu Ida. Wanita itu sedikit mengambil jarak dari tuan Angkasa.

__ADS_1


,,,


Drrrttt Drrrttt Drrrttt


Anim menghubungi mertuanya.


"Hello sayang," jawab Yunda lembut.


Hiks hiks hiks


Yunda menyerjit saat mendengar Anim menangis lewat panggilan, "Anim, kau kenapa menangis sayang? Ada apa? Katakan sama Mami?" Yunda terlihat sangat mengkhawatirkan Anim menantu kesayangannya itu.


"Mi, tolong datang kemari Mi, Anim sekarang berada dekat desa Dara, wanita pelakor itu ingin mengambil suami aku Mi ... Datanglah kemari Mi dan ajak Adam pulang Mi," tangis wanita itu pecah.


"Tenang dulu Anim, apa maksud ucapanmu? Kau sudah tau tentang hubungan Adam dengan pelayan itu?" Tanya Mami Yunda.


"Iya Mi, jadi mami juga sudah tau jika Adam sudah menikah?" Anim.


"Nanti mami ceritakan apa yang terjadi. Kau kirimi Mami dulu lokasimu sayang,"


"Iya Mi, sebentar Anim kirim lokasi sama Mami"


"Buruan."


"Iya Mi." Anim mengirim lokasinya saat ini di kota mana dia sedang berada.


Yunda menyerjit. Karena saat ini ia juga sedang berada di kota kecil itu sedang mengikuti suaminya secara diam-diam tadi. Tapi dia malah kehilangan jejak Angkasa.

__ADS_1


__ADS_2