
Dara gelagapan bingung ingin berkata apa saat mendapat pertanyaa dari suaminya tentang betisnya yang melepuh.
"Sayang? Mas tanya sama kamu? Kenapa dengan betismu?" Tanya Adam memegang betis istrinya.
"A-aku tidak sengaja menjatuhkan air panas ke betis aku tadi Mas. Mas juga tidak perlu cemas, ini nggak apa-apa kok," jawab Dara tersenyum berbohong pada suaminya. Karena mana mungkin ia memberitahukan jika betisnya terkena bubur panas yang di tumpahkan oleh mertuanya. Takut jika mertuanya bertambah benci padanya karena dikira mengadu pada suaminya.
"Tidak sayang. Kau pasti sedang berbohong... Jujur sama Mas, ada apa dengan betismu ini?" Tanya Adam tak percaya dengan penjelasan istrinya barusan.
"Ayolah Mas, ini hanya luka kecil, beberapa hari kedepan pasti akan sembuh juga kok Mas. Udah ah, ngomong-ngomong, kok Mas telat pulangnya?" Tanya Dara mengalih pembahasan agar suaminya tak terus mendesaknya.
"Aku dari luar kota. Tapi apa kau sudah dari rumah sakit?" Tanya Adam.
"Sudah kok Mas,"
"Lain kali hati-hati sayang, kalau lagi membuat pekerjaan, lihatlah kau terluka seperti ini..." Kata Adam kasihan melihat betis istrinya yang melepuh.
"Iya kok Mas. Udah ah," Kata Dara membatu membuka jas yang suaminya pakai.
"Beberapa hari kedepan. Kamu jangan kemana-mana dulu ya. Nanti setelah kakimu pulih, baru bisa keluar rumah."
"Iya bawel. Oya Mas, emmmmm..." Dara sedikit ragu ingin mengatakan sesuatu.
"Ada apa?" Tanya Adam jadi penasaran.
__ADS_1
"Tadi, kak Vano membawa Frey jalan-jalan. Dia juga menjemput Arkan di sekolah," Dara baru saja memberitahukan pada suaminya tentang tadi siang Vano yang membawa anak itu berdua jalan-jalan.
"Terus, dia bawa anak-anak juga kembali kerumahkan?"
"Iya kok. Anak-anak juga sudah pada tidur dikamar,"
"Hm."
"Mas tidak marah?" Tanya Dara.
"Tidak. Tapi lain kali jika dia mau bawa anak-anak kasih tau Mas dulu, jangan izin begitu saja tanpa pengetahuan Mas. Mengerti?"
"Siap bos." Jawab Dara bercanda pada suamionya sambil tertawa.
,,,
Tak sengaja ia melihat wajah istrinya. Laki-laki itu menyerjit karena melihat bibir istrinya pucat. Selama beberapa hari menikah, dia baru menyadari wajah wanita itu yang tampak pucat.
Perlahan Vano menjulur tangannya menyentuh dahi Icha, berpikir mungkin istrinya itu lagi demam. Saat punggung tangannya menyentuh dahi gadis itu, tak ada apa-apa. Suhu tubuhnya normal-normal saja.
Vano membaringkan dirinya disebelah istrinya. Ia menatap lekat wajah wanita itu yang tampak lelah.
Apa hanya perasaanku saja, wanita ini seperti kelelahan dan wajahnya tampak sangat berbeda. Batin Vano curiga melihat wajah Icha yang tertidur pulas itu.
__ADS_1
,,,
Keesokan harinya.
Icha duduk diatas ranjang. Karena gadis itu baru terbangun dari tidurnya.
"Aku pikir kau ingin tidur sehingga sore," kata Vano, karena sekarang sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Beruntung hari ini akhir pekan.
Icha tak menjawab. Wanita itu menutup mulutnya karena merasa mual.
Vano mengerut melihat istrinya, "Kau tidak apa-apa?" Tanya Vano.
"Tidak, aku tidak apa-apa" Icha berbaring semula sambil memegang sebahagian dari perutnya.
Vano mendekat. "Icha, kau benar tidak apa-apa?" Ulang Vano khawatir melihat wajah gadis itu bertambah pucat.
Gadis itu tiba-tiba memegang tangannya, dan menarik kemudian membantali tangan laki-laki itu. "Aku tidak apa-apa,'' jawab Icha tersenyum manis.
Vano ingin menarik tangannya yang di bantali Icha. "Biar seperti ini dulu, kenapa sih!!" Kesal gadis itu.
Vano akhirnya mengalah dan membiarkan Icha. Ia mendudukkan dirinya di pinggir ranjang sambil mengikuti arah pandang istrinya yang melihat keluar balkon kamar, yang sudah ia buka semasa ia bangun tadi.
"Jika suatu hari nanti aku pergi, apa kak Vano akan merinduiku?" Tanya Icha. Seperti biasa gadis itu akan melengkung senyuman manis diwajahnya.
__ADS_1
"Kamu kalo ngomong suka ngaco. Ujung-ujungnya juga semua hanya kamu jadikan candaan," jawab Vano mengingat sikap Icha yang suka jahil.
"Apa kak Vano bisa mencintaiku? Seperti mana aku mencintai kak Vano? Aku bahkan sering membayangkan bisa mati dengan tenang didalam pelukan kakak loh," kata Icha di akhirri dengan terbahak-bahak. Gadis itu juga tak menanggapi ucapan suaminya tadi.