Karena Hamil, Aku Dijadikan Istri SIMPANAN

Karena Hamil, Aku Dijadikan Istri SIMPANAN
Xz


__ADS_3

Sudah 2 bulan berlalu.


Tuan Abimanyu menarik nafas berat, saat lagi-lagi ia tak melihat salah satu karyawan kepercayaan dan karyawan yang paling jujur selama bekerja di perusahaannya, belum masuk kantor juga hingga hari ini.


Abimanyu bertanya pada sekretarisnya. "Kenapa direktur Vano belum masuk?" Tanya Tuan Abimanyu.


"M-maaf, Tuan. direktur Vano juga tidak ada memberi kabar pada saya, kenapa sampai hari ini dia belum juga masuk kantor, tuan," jawabnya sedikit gugup.


"Kau ke rumahnya nanti, cari dia di sana. Besok kau suruh dia datang untuk menghadap padaku." Perintah Tuan Abimanyu memijat pelipisnya memikirkan Vano. Karena semenjak putrinya meninggal, menantunya itu tak pernah lagi masuk ke kantor, lebih tepatnya, selama dua bulan. Vano masih terpuruk dengan kesedihan dan penyesalan yang semangkin mendalam.


"Baik, Tuan. Sore nanti setelah saya pulang, saya akan mencoba mencari direktur Vano ke rumahnya.


"Ya, terima kasih."


"Saya permisi dulu, Tuan."


Abimanyu hanya mengangguk.


,,,


Uekk uekk uekk

__ADS_1


Dara muntah-muntah di kamar mandi. Yunda yang mendengar Dara sedang muntah, karena pintu kamar Dara tak tertutup rapat, ia perlahan membawa kursi rodanya untuk melihat apa yang terjadi pada menantunya.


Ada apa dengan wanita itu?. Pikir Yunda.


Tunggu... Apa dia sedang hamil? Jika benar dia hamil, sepertinya aku punya satu cara untuk memisahkan dia dengan Adam. Batin Yunda mengambil ponsel yang sering ia bawa-bawa. Ia menghubungi ke salah satu rumah sakit, entah apa yang sedang dia perbincangkan. Tapi sepertinya, ia sedang mencari cara, agar bisa menyingkirkan Dara dari kehidupan putranya.


Adam sudah dua bulan ini berada di luar negeri. Laki-laki itu awalnya berpikir paling lama ia hanya 1 bulan, tapi dugaannya meleset, karena dia sudah dua bulan berada di luar negeri.


Selesai menghubungi dokter tersebut. Yunda masuk ke dalam kamar menantunya.


"Dara, kamu kenapa?" Tanya Yunda pada Dara yang baru saja keluar kamar mandi.


"Kepalaku pusing dan mual, Mi. Sudah dua bulan ini aku merasa mual," jawab Dara memegang kepalanya karena pusing.


"Kalau begitu, mari kita kerumah sakit," ajak Yunda.


"Tidak usah, Mi. Aku baik-baik saja, aku juga sudah minum obat tadi," tolak Dara halus.


"Kita coba saja dulu periksa, ayo..." Yunda memaksa wanita itu.


Dara yang merasa tidak enak, akhirnya setuju.

__ADS_1


"Mirna!" Panggil Yunda pada Mirna, gadis itu masih berada di rumah tantenya bersama sahabatnya. Hanya Galih saja yang sudah pulang 3 minggu yang lalu.


"Iya, tante. Ada apa?" Tanya gadis itu.


"Kau antar Dara ke rumah sakit dulu," titah Yunda padanya.


"Dara sakit apa, tante?" Sahut Kinanti yang mendekat.


"Baru juga mau di periksa, buruan antar Dara dulu, Mirna"


"Aku ikut," Kinanti.


"Ya sudah, kalian bertiga pergi bersama,"


 Kinanti dan Mirna akhirnya mengantar Dara ke rumah sakit.


Tiba disana. Dara langsung di tangani oleh dokter yang tadi Yunda hubungi.


Tak berapa lama, Dara sudah selesai. "Bagaimana, dokter? Saya sakit apa?" Tanya Dara.


"Anda tidak sakit, Nona. Anda hanya sedang hamil. Selamat iya, usia kandungan anda sudah jalan 4 minggu." Kata dokter itu tersenyum pada Dara.

__ADS_1


Dara mengerut saat mendengar usia kandungannya. "Apa maksud dokter? Saya hamil 4 minggu? Apa dokter tidak salah hitung?" Tanya Dara tak yakin dengan apa yang dia dengar, karena suaminya sudah 2 bulan tidak berada di rumah, Dara juga masih ingat, terakhir kali mereka berdua berhubungan suami istri, itu saat dua bulan yang lalu. Dara sudah menduga jika dia hamil dari dua bulan itu, karena ia sering merasa mual. Tapi ia belum punya waktu untuk memeriksa kandungannya, meski hanya memakai tes kehamilan saja. Ia terlalu cuai, sehingga tanpa sadar. Kandungannya di manfaatkan oleh Yunda.


__ADS_2