
Mobil yang di kenderai Adam sudah tiba di Mension Papi Angkasa.
Mereka semua turun dari mobil dan mulai melangkah masuk ke dalam.
"Kalian sudah tiba?" Tanya Yunda yang sudah menunggunya.
"Iya Mi." Jawab Adam merasa aneh karena Mami Yunda melempar senyuman pada Dara.
Dara juga tak kalah herannya saat melihat Yunda melempar senyuman padanya. Wanita 25 tahun itu berpikir, mustahil Mami mertuanya berubah hanya dalam sekelip mata saja. Dia semangkin yakin jika ada yang tak beres.
Dara balas tersenyum garing pada mertuanya yang tiba-tiba saja menjadi aneh.
"Nenek!" Frey langsung memeluk Yunda. Yunda juga balas memeluk cucu kesayangannya itu.Wanita angkuh itu sudah terlanjur menyayangi anak yang bukan cucunya.
"Arkan, sini sama Nenek." Yunda mengulur tangannya pada Arkan memanggil anak kecil itu.
Dara dan Adan saling pandang. Karena mereka berdua tau, jika Yunda tak menyukai cucunya itu.
Ada apa dengan Mami?. Batin Adam tertanya-tanya. Bukan tidak bahagia melihat sikap Maminya pada anaknya, tapi Adam merasa seperti ada sesuatu yang menjanggal. Tapi laki-laki 31 tahun itu berusaha untuk berpikiran posetif, meski ia merasa sangat aneh.
__ADS_1
Ada apa dengan nyonya Yunda?. Tak beda jauh, tenyata Dara juga sama seperti Adam. Dia semangkin yakin jika ada sesuatu di balik semua perubahan Yunda yang mendadak.
Arkan tak langsung menghampiri Neneknya itu. Karena Arkan juga tau selama ini Neneknya tak menyukainya. Dia merasa heran jika Neneknya tiba-tiba saja memanggilnya seperti saat ini.
"Sini sama Nenek," panggil Yunda lagi saat tak melihat adanya anak itu ingin menghampirinya.
Arkan melihat ke arah Mama dan Papanya, seolah anak itu bertanya apa dia harus mendekat, atau bagaimana.
Adam mengangguk pelan pada putranya yang di penuhi keraguan.
Arkan mulai melangkah kakinya mendekati Yunda yang duduk di kursi roda.
"Bagaimana kabar cucu-cucu Nenek ini?" Tanya Yunda ramah pada Arkan dan juga Frey.
"Kami sehat, Nek" jawab Frey tersenyum lebar. Sedangkan Arkan hanya tersenyum kaku. Dia merasa asing dengan sikap neneknya padanya.
Adam dan Dara masih berdiri menyaksikan sikap Yunda yang berubah drastis.
"Apa yang kalian lakukan di situ? Duduklah di sofa," kata Yunda tersenyum manis.
__ADS_1
"I-iya Mi. Ayo sayang," Adam menarik lembut tangan istrinya untuk duduk di sofa.
Baru saja mereka merapatkan bokong mereka berdua di sofa empuk itu. Terdengar seseorang dari ambang pintu sedang memberi salam.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Kau sudah sampai Galih, kenapa tidak menghubungi tante, biar tante menyuruh supir untuk menjemputmu," ucap Yunda tersenyum senang melihat kedatangan ponakannya.
Galih adalah kakak laki-laki Mirna. Alasan Yunda menghadirkan Galih ke dalam rumah tangga Adam, dia ingin pelan-pelan Galih menjadi perusak rumah tangga Adam dan Dara. Dan dia juga sudah menyusun rencana untuk membuat Galih bisa dekat dengan Dara.
Yunda bahkan tak peduli dengan perasaan anaknya demi ambisi dendamnya. Dia juga tak mau peduli dengan persahabatan Adam dan Galih yang sudah seperti saudara kandung selama ini. Yunda sangat yakin, jika kedekatan Dara dan Galih nanti, seperti yang sudah ia rencanakan. Akan menimbulkan rasa di hati keduanya.
"Galih??" Adam tersenyum lebar saat melihat sepupunya yang sudah lama tak ia temui.
"Hei! Brow!" Galih memeluk Adam, begitu pun dengan Adam yang balas memeluk Galih.
Yunda tersenyum dalam hati melihat kedekatan Adam dengan Galih. Jika sekarang kau menganggap Galih saudaramu, tapi itu berlaku hanya sekarang, karena Mami akan menciptakan perasaan diantara Galih dan juga istri kamu Adam. Bukankah pepatah mengatakan, cinta tumbuh karena terbiasa. Batin Yunda.
Wanita paruh baya itu sangat licik. Karena dia bermain halus untuk menghancurkan rumah tangga anak dan menantunya.
__ADS_1