Karena Hamil, Aku Dijadikan Istri SIMPANAN

Karena Hamil, Aku Dijadikan Istri SIMPANAN
3


__ADS_3

Jika di Mansion tuan Angkasa Yunda sedang menjalankan sandiwara dan rencana liciknya. Lain halnya di Mension Tuan Abimanyu.


"Cha, apa kau tidak niat, untuk berbicara jujur pada suamimu tentang penyakit dan juga yang terjadi di antara kau dan si Enal brengsek itu?" Tanya Laras pada Icha melalui panggilan telepon.


Terlihat gadis itu menarik nafas dalam. Karena tidak semudah itu untuk menjelaskan pada suaminya apa yang sudah terjadi di antara dia dan mantan calon suaminya.


"Kurasa itu semua sudah tidak penting lagi Ras, awalnya aku berniat untuk menceritakan padanya tentang rekaman itu. Tapi kurasa itu hanya akan membuang-buang waktu saja. Karena dia tidak akan mempercayai ucapan ku," jawabnya. Wajah gadis itu tampak sangat pucat. Tapi dia sering menutupi wajah pucat-nya dengan bedak, agar suaminya tak menyadari jika dia sebenarnya sedang menahan sakit.


"Namanya juga usaha... Bukankah usaha itu tidak akan mengkhianati hasil? Mana sahabat aku yang kuat itu? Kok terdengar putus asa seperti ini sih?" Tanpa sadar Laras menjatuhkan air matanya. Dia juga tau, jika temannya itu diagnosis oleh dokter tinggal beberapa hari saja dia akan bertahan untuk hidup.


"Ayolah... Kita tidak usah berbicara sesuatu yang tidak penting. Oya, aku tutup dulu ya, karena mungkin sebentar lagi kak Vano akan pulang," izinnya pada sahabat baiknya tak ingin membuat sahabat sedih, ia tak tau Laras sudah menangis diam di seberang panggilan.


"Baiklah. Jangan lupa tidur awal ya. Assalamualaikum "


"Waalaikumsalam." Icah memutuskan panggilan teleponnya.


Setelah itu dia melihat ke atas langit yang di penuhi bintang-bintang malam. Karena posisi saat ini dia berada di balkon kamar.

__ADS_1


Tak lama terdengar suara seseorang yang membuka pintu kamar. Dia tau jika itu pasti suaminya. Gadis itu tak beranjak dari tempat ia duduk, karena ia belum memakai bedak, ia tak ingin jika sampai Vano melihat wajahnya tanpa polesan bedak.


Laki-laki itu mengedar pandangan mencari keberadaannya.


Saat tak melihatnya. Vano melangkah masuk ke dalam kamar mandi setelah membuka baju formal yang dia pakai dari kantor.


,,,


Dikamar. Dara sedang menidurkan kedua anak-anaknya.


"Sayang, kenapa mereka berdua tidur disini?" Tanya Adam pada istrinya saat melihat Arkan dan Frey berada dikamar tempat mereka berdua akan tidur malam ini.


Adam tersenyum saat melihat wajah cemberut istrinya. "Ada apa sayang? Kenapa wajahmu seperti ini? Apa kau marah padaku, karena aku lambat ke kamar hm?" Tanya Adam mencolek dagu Dara.


"Mas ternyata mau pergi, tapi kenapa tidak bilang-bilang sih sama aku," wajah wanita itu semangkin di tekuk.


Adam menangkup wajah istrinya. "Aku memang tidak berniat untuk pergi sayang, tapi tadi Papi ada kekantor, kata Papi aku harus pergi juga. Karena aku tidak bisa di wakili..." Adam membujuk istrinya.

__ADS_1


"Tapi aku tidak mau di sini, jika Mas pergi nanti,"


"Siapa yang memaksamu untuk di sini sayang... Itukan terserah kamu,"


"Tapi tadi nyonya Yunda bilang seperti itu di meja makan,"


"Aku belum putuskan sayang. Kamu tenang saja, aku itu akan mengikuti apa saja kemahuan istri aku ini,"


"Benar?"


"Iya sayang." Jawab Adam berbaring di paha istrinya. Dara langsung tersenyum mendengarnya jawaban suaminya.


Di kamar Yunda. Wanita itu menatap dalam wajahnya yang berada di dalam cermin meja rias.


Apa pun caranya. Aku akan berusaha memisahkan Adam dan Dara. Batin Yunda.


Wanita itu mulai mengingat semua masa lalunya, di mana Angkasa tak pernah peduli padanya, dari mereka belum menikah. Dan sampai mereka menikah.

__ADS_1


Flash back.


Bersambung....


__ADS_2