
Adam terduduk lemah saat mendengar tentang kondisi maminya. Ia sangat terpukul, begitupun dengan Angkasa yang terdiam seribu bahasa mengetahui begitu seriusnya kecelakaan yang menimpa istrinya.
Dara berdiri dan memeluk suaminya yang sudah menjatuhkan bulir-bulir dari kedua bola matanya.
Adam memeluk pinggang Dara dan menenggelamkan wajahnya didada istrinya. Karena posisi Dara sedang berdiri.
"Sssttt istighfar Mas," kata Dara iba pada suaminya ikut menjatuhkan air matanya.
Angkasa juga mengusap air mata yang mengalir, prihatin pada musibah yang menimpa istrinya.
Vano dan Anim masih berada disana. Mereka berdua belum beredar lagi dari rumah sakit.
"Tenangkan dirimu Mas..."Kata Dara mengusap rambut suaminya, baju tidur yang Dara pakai basah terkena air mata Adam.
,,,
Adam baru saja keluar dari ruangan Maminya, dia terlihat sudah lebih baik dari sebelumnya. Yunda sudah di pindahkan keruangan yang akan dia tinggali selama ia dirawat dirumah sakit itu, Yunda juga belum sadarkan diri.
"Sayang, kau pulanglah, dan beristirahat. Biar aku yang menjaga Mami disini," kata Adam memegang lembut pipi istrinya.
"Aku disini saja temani kamu Mas," jawab Dara tak ingin pulang, memegang tangan suaminya yang berada di pipinya.
"Bagaimana jika Arkan dan Frey bagun besok sayang? Mereka berdua pasti akan mencari keberadaan kita," lembut Adam.
"Kau tidak apa-apa aku tinggal disini sendiri?"
Menggeleng dan tersenyum. "Tidak sayang. Pulanglah, atau kau mau aku mengantarmu?"
"Tidak usah Mas, aku bisa sendiri."
"Ya sudah, mari Mas antar kamu keluar dari rumah sakit,"
"Tidak Mas, aku pergi sendiri saja,"
"Benar?"
"Iya" Tersenyum.
"Baiklah. Hati-mhati dijalan. Ini kunci mobil," Adam memberikan istrinya kunci mobil dan mencium pucuk kepala istrinya sebelum wanita itu beredar dari hadapannya.
Saat tiba diluar rumah sakit. Dara melihat Anim yang ternyata masih berada di halaman rumah sakit sedang duduk dan merenung.
__ADS_1
Dara menghampiri wanita itu, "Kau tidak ingin pulang?" Tanya Dara berniat mengajak wanita itu pulang. Karena dia juga kasihan melihat Anim yang sedari tadi menangis sehingga memnuat kedua bola matanya membengkak.
"Tidak usah sok akrab! Dan tidak usah sok baik!" Jawab Anim membuang muka.
Dara menggeleng melihat sikap Anim yang tak pernah ada niat untuk berbaik dengan dirinya.
"Sekarang kau puas? Kau pasti puaskan, karena sebentar lagi Adam pasti akan menceraikan aku!" Tambah Anim saat Dara ingin melangkahkan kakinya.
"Kenapa kau sering berburuk sangka padaku, Anim. Kenapa kau begitu membenciku?" ujar Dara.
"Kau bertanya kenapa aku membencimu?? Apa kau tidak sadar, jika kau sudah merebut Mas Adam dariku Dara!! Kau merebutnya dariku!! Kau tau aku sangat mencintainya!! Sebelum kehadiranmu dalam kehidupan Adam, hubungan kami baik-baik saja!! Tapi setelah kau hadir menjadi pelakor dalam rumah tanggaku!! Perlahan kau sudah merampasnya dariku Dara!!" Teriak Anim penuh kebencian pada Dara dengan nafas naik turun.
"Kau salah Anim, aku tidak pernah menjadi orang kedua dalam rumah tanggamu. Tapi apa yang terjadi padamu itu, karena dirimu sendiri yang sudah menduakan cinta Mas Adam. Padahal sebelumnya dia sangat mencintaiumu," Dara membela dirinya. Karena itu adalah kenyataannya. Tapi Anim yang bersikap egois, pasti akan menyalahkan semua pada orang lain.
"Tidak Dara!! Semua ini karena dirimu!!"
Dara tak ingin meladeni wanita egois itu. Dia memilih pegi dari hadapannya dan pulang ke Villa suaminya seperti yang di perintahkan oleh Adam tadi.
,,,
Awal pagi. Dara sudah terbangun dari tidurnya, ia bersiap-siap untuk kerumah sakit. Tapi sebelum itu, ia terlebih dulu mengurusi semua kebutuhan putranya. Ia juga tak lupa menitip Frey pada pelayan yang sering menjaga anak itu. Setelah semuanya beres, Dara mengantar Arkan ke sekolah. Dan melajukan mobilnya kerumah sakit.
Tiba dirumah sakit. Ia melihat seorang laki-laki yang tertidur dikursi tunggu.
Ternyata benar. Yang tertidur disitu adalah Vano, semalam dia terlalu lelah, sampai-sampai dia malah ketiduran di ruang tunggu.
Dara membangunkan Vano. "Kak, kak Vano,'' panggil Dara sedikit mengguncang bahu laki-laki itu.
Merasa ada yang membangunkannya. Perlahan dia membuka kedua bola matanya.
"Dara?" Kata Vano mendudukkan dirinya dengan khas suara baru bangun tidur.
"Kenapa kak Vano tidur disini?" Tanya Dara.
"Kakak juga baru tau jika tertidur di sini," jawab Vano tersenyum. Tampak wajah lelah dari raut pria 32 tahun itu.
"Kalau begitu, kak Vano pulanglah, ini sudah siang loh," Kata Dara.
"Iya, ini juga mau pulang"
"Mana suamimu?" tambah Vano.
__ADS_1
"Mungkin didalam ruangan Mami Yunda,"
"kalau begitu, kakak pulang dulu ya," Vano kembali menepuk lembut kepala Dara.
"Iya kak,"
Vano tersenyum dan melangkah pergi dari rumah sakit.
Laki-laki itu menelpon grab untuk mengantarnya ke lokasi mobilnya yang dia tinggal semalam. Di jalan Vano terjebak macet setelah dari mengambil mobilnya.
Sehingga tanpa sadar sudah setengah 11 ia terjebak.
Drrrttt Drrrrttt Drrrrttt
Ponselnya berdering. Vano melihat ternyata dari tuan Abimanyu. Ia baru teringat, jika hari ini adalah hari pernikahan putri tuannya.
"Bagaimana aku bisa melupakan poin penting itu." gumam Vano mengangkat ponselnya yang berdering.
"Hello tuan,"
"Vano. Kau ke Mension sekarang juga!" Perintah tuan Abimanyu langsung memutuskan sambungan.
"Yang benar saja, aku bahkan belum mandi... Ini juga lagi macet," kata Vano frustasi menjambak rambutnya.
Akhirnya dia mengambil jalan pintas. Meski lumayan jauh, yang penting baginya akan segera tiba di Mension tuan Abimanyu.
Vano sudah tiba di Mension. Dia langsung melangkah masuk kedalam, dimana tamu undangan sudah lumayan ramai, karena acara pernikahan Icha seharusnya sudah di langsungkan 30 menit yang lalu.
Dan acara sandingnya malam nanti disebuah hotel mewah jam delapan malam.
Saat tiba diruang keluarga. Vano menyerjit karena calon suami Icha tak berada disana. Hanya gadis itu yang duduk sendiri sambil tersenyum padanya saat melihat dia datang.
Apa yang terjadi?. Batin Vano.
"Tuan Abimanyu berada diruang makan menunggu anda direktur Vano." Kata sekretaris tuan Abimanyu sambil melihat aneh penampilan Vano yang berantakan. Bagitupun dengan tamu undangan yang lainnya.
Vano mengangguk kemudian melangkah masuk kedalam, mengabaikan pandang orang-orang padanya.
Tiba didalam. Dia melihat tuannya yang duduk gelisah. "Kau sudah datang Vano?" Tuan Abimanyu mendekatinya. Tampak sebuah harapan dari wajah pria paruh baya itu.
"Ada apa tuan? Apa yang terjadi?" Tanya Vano heran.
__ADS_1
Tuan Abimanyu memegang tangannya dengan wajah memohon. "Vano, tolong nikahi putri saya, calon suami Icha tidak datang dari tadi. Keluarga dari pihak laki-laki sudah mencari keberadaan calon suaminya. Tapi semua nihil, tidak ada yang tau dia kemana. Saya mohon, tolong saya Vano," jelas tuan Abimanyu panjang lebar sambil memelas.
Vano membeku mendengar permintaan tuannya. Lidahnya jadi kelu. Menikah dengan Icha? oh, itu adalah mimpi terburuk dalam hidupnya.