
Beberapa jam perjalanan mereka akhirnya Adam dan Dara sudah tiba di depan Villa Adam.
Adam bergerak ingin turun dari mobil. Beda dengan Dara yang masih diam memangku bayinya tak berniat ingin bergerak sedikitpun dari tempatnya.
"Ayo" ajak Adam pada Dara.
"Apa tidak sebaiknya jika aku pulang saja kerumah ibuku," Dara berbicara tapi tak melihat ke arah suaminya.
Adam tak menanggapinya. Ia memanggil seorang satpam untuk membawa koper Dara naik ke salah satu kamar di lantai atas Villa-nya yang akan di tempati Dara selama ia tinggal disana. Setelah itu ia kembali mendekati Dara dan membuka pintu mobil tempat wanita itu duduk.
"Sini aku bantu," Adam meminta bayi yang berada dalam pelukan Dara untuk ia gendong.
Dara hanya menoleh sekilas pada Adam kemudian mulai menurunkan kakinya dari mobil tanpa memberikan bayinya.
Dara menatap naik ke atas Villa itu. Selamat datang di rumah baru yang akan menjadi drama baru buatmu Dara. Batin Dara mulai melangkahkan kakinya masuk kedalam Villa Adam.
Di dalam ia sudah di sambut dengan Anim yang berdiri sambil bersedekap dada menatapnya penuh kebencian.
__ADS_1
"Kau benar-benar membawa jal*ng ini pulang ke sini Mas!" Anim mulai menunjukkan taringnya.
"Aku lelah Anim, cobalah untuk berdamai dengan madumu," kata Adam melewatinya begitu saja.
"Tidak Mas!! Aku tidak mau!! Kau cari saja rumah gubuk atau apa kek untuk wanita p*lacur ini!! Aku tidak sudi tinggal bersama jal*ng sepertinya!!" Anim menahan lengan Adam.
"Cukup Anim!! Apa kau bisa melihat keadaan sebelum marah-marah! Aku sangat lelah tapi kau menyambutku seperti ini! Kau sama sekali tidak terlihat seperti istri yang baik!" Adam melepas kasar lengannya yang berada dalam pegangan Anim kemudian ingin melangkah naik kekamar sambil menarik satu lengan Dara.
Dara melihat ke wajah Anim yang sedang menatapnya seperti ingin menerkam wanita itu.
,,,
Dara hanya diam mendudukkan dirinya disofa dalam kamar itu dan masih memangku bayinya. Wanita itu tak berniat ingin mengeluarkan sepatah katapun saja.
"Aku mau keluar, kau bisa membaringkan bayimu di ranjang itu," tunjuk Adam kearah ranjangn bayi yang sudah ia sediakan di sebelah ranjang Dara. Lebih tepatnya ia menyuruh pelayan di Villa-nya beberapa hari yang lalu sebelum mereka tiba di Villa.
,,,
__ADS_1
Malam hari.
Tok Tok Tok
Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar Dara. Ia berdiri dan membuka pintu itu.
"Emang enak iya kalau jadi pelakor, awalnya aja hanya bekerja sebagai pelayan. Eh tau-taunya sudah jadi nona dalam rumah ini. Ck ck ck setahuku kau baru saja bekerja di Mension tuan besar selama 11 bulan. Ujung-ujung alasan bunting anak tuan muda Adam, dasar mur*han!" Sinis pelayan yang mengenal Dara. Karena Dara memang sering datang Villa itu untuk membantu membersihkan Villa itu jika ada salah satu pelayan yang libur, saat itu Adam masih berada di luar negeri.
Dara hanya diam tak berniat ingin melawan. Karena sebelum masuk ke dalam Villa itu dia sudah menduga pasti akan ramai pelayan yang sinis dan menatapnya rendah.
"Cih! Munafik! Dasar perebut suami orang! Itu di bawah makan malam sudah siap! Kata tuan Adam aku yang akan menjaga bayi haram-mu itu!" Pelayan itu masuk ke dalam dan menubruk kasar bahu Dara.
Tak di sangka Dara menutup pintu kamar. Kemudian menarik baju wanita itu dari belakang, dan menekan pelayan itu di pintu kamar.
"ARKH!" Teriak pelayan yang biasa disapa Mia.
"Kau sudah gila!" Mia.
__ADS_1
Dara mencekik lehernya, "Jangan berteriak j*lang jika kau juga seorang j*lang! Dan jangan sekali-kali kau menghina anakku, jika kau tidak ingin menghadapiku!!" Kata Dara mengerat cekikkan-nya membuat wajah Mia memerah tak bisa bernafas.