
Tok Tok Tok
Cklekk
Mama Nadin menyerjit saat melihat seorang wanita yang mendatangi rumahnya.
"Cari siapa ya?" Tanya Mama Nadin (Mama angkat Vano)
"Saya sekretaris Tuan Abimanyu. Tuan menyuruh saya datang kemari untuk bertemu dengan direktur Vano," sopan sekretaris Tuan Abimanyu pada Mama Nadin.
"Oh... Tapi Vano-nya tidak ada di rumah, dia baru saja keluar. Katanya mau ke rumah ibunya," jawab Nadin tersenyum.
Ruman ibunya?
'"Oya? Kalau begitu, tolong anda sampaikan dengan direktur Vano, Tuan Abimanyu menyuruhnya untuk menghadap besok ke kantor,"
Mama Nadin mengangguk. "Baiklah, nanti akan aku sampaikan jika Vano sudah datang," Nadin.
"Terima kasih, saya permisi dulu,"
Nadin tersenyum dan mengangguk.
,,,
Dara lagi-lagi hanya melamun di kamar, ia benar-benar bingung bagaimana jika suaminya nanti bertanya tentang kandungannya. Karena mertuanya dan yang lain sudah tahu tentang kehamilannya.
Tiba-tiba sepasang tangan kokoh memeluknya dari arah belakang. Dara kaget, tapi saat mencium aroma parfum orang yang menciumnya. Raut wajahnya langsung berubah takut.
"Mas?" Dara memegang lengan suaminya.
__ADS_1
"Apa kau kaget sayang?" Tanya Adam mencium pipi istrinya.
Dara tersenyum kecut, yang tadinya ia sangat merindukan laki-laki itu, sekarang perasaannya mendadak takut dengan suaminya.
"Kapan Mas Adam Datang? Kenapa tidak bilang?"
Tersenyum, "Aku ingin membuat kejutan untukmu sayang..."
"Tapi aku tidak terkejut, karena Mas janji akan datang awal, buktinya, Mas datangnya setelah dua bulan," jawab Dara berusaha terlihat tenang.
Berjongkok di hadapan istrinya, kemudian menggenggam tangan wanita itu.
"Maafkan aku sayang... Aku benar-benar tidak bisa meninggalkan pekerjaanku yang berada di sana, maaf ya sayang," merasa bersalah dan menatap teduh kedua bola mata wanita itu.
Dara mengulas senyum. "Aku hanya bercanda kok, Mas." kata Dara.
"Kalau begitu, Mas mandi dulu ya, Honey," Adam berdiri dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Jantung Dara semangkin tak karuan dan tak menentu, ia terus berpikir, bagaimana jika suaminya akan berpikiran jika dia selingkuh, kalau sampai Adam tahu usia kehamilannya.
,,,
"Adam? Kau sudah datang?" Tanya Yunda tersenyum manis pada anaknya yang menuruni anak tangga sambil memeluk pinggang istinya.
Adam tersenyum. "Iya, Mi. Papi mana?" Tanya Adam.
"Papi sudah menunggu di meja makan, mari kita makan malam dulu," ajak Yunda tersenyum yang menyirat sesuatu di balik senyumannya itu.
"Ayo, Mi."
__ADS_1
Mereka semua berkumpul di meja makan. Tak lupa di sana juga ada Mirna dan juga Kinanti, Frey dan Arkan.
Saat ingin makan, Dara tiba-tiba saja merasa mual. Adam menyimpan sendoknya, dengan wajah khawatir, ia bertanya pada sang istri.
"Kau kenapa sayang?" Tanya Adam.
Menggeleng, belum sempat Dara menjawab jika di tidak apa-apa, Yunda sudah lebih dulu menyahut.
"Istrimu-kan lagi hamil Dam, masak kamu tidak tau? Ya wajarlah jika dia mual," Ujar Yunda.
Mendengar itu, Adam seperti tak percaya, tergambar wajah bahagia dari kedua bola mata laki-laki 31 tahun itu.
"Benar, sayang? Kau sedang hamil?" Tanya Adam.
Dara melirik sejenak pada Mirna yang menatapnya penuh arti.
Perlahan, ia mulai mengangguk pelan.
"Wah, berarti sebentar lagi kita akan punya adik dong Frey!" Girang Arkan yang melihat Mamanya mengangguk.
Adam tersenyum bahagia, karena ternyata istrinya sedang hamil.
"Kenapa tidak bilang sama aku sih, sayang? Jika kau sedang hamil? Berapa usia kandungan kamu sayang?" entah mengapa pertanyaan itu tiba-tiba saja meluncur dari mulut Adam.
Kedua tapak tangan Dara berkeringat dingin saat mendengar pertanyaan suaminya.
Yunda tersenyum jahat, tapi tak ada yang menyadarinya. Tidak perlu bersusah payah, aku selalu di dukung oleh sekelilingku. Batinnya.
"Kita makan dulu kak! Aku kan sudah lapar ini! Nanti saja kakak bertanya itu pada kakak ipar!" Ketus Mirna menghentikan sesuatu yang sudah ia tahu, seperti apa ending-nya
__ADS_1