
Malam Hari.
"Mas, kau sudah pulang?" Tanya Dara pada Adam yang baru saja pulang.
"Hm," laki-laki itu hanya berdehem membuat Dara bingung dengan sikapnya. Padahal semasa laki-laki itu pergi pagi tadi, ia terlihat baik-baik saja.
Adam masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah itu ia keluar sudah memakai pakaian, karena tadi dia membawa pakaiannya masuk kedalam kamar mandi.
Dara kembali menghampiri Adam yang duduk di sofa, "Mau aku pijat?" Tawar Dara berusaha mengajak laki-laki itu berbicara baik-baik. Karena dia merasa jika Adam sedang ada sesuatu.
"Kau dari mana siang tadi?" Bukannya menjawab. Tapi dia balik bertanya.
"Hanya dari menjemput Arkan di sekolah," jawab Dara tersenyum.
"Setelah itu kau kemana lagi?" Menoleh melihat Istrinya.
__ADS_1
Dara mulai merasa ada yang tidak beres, "Aku.........." Dara menggantung ucapannya. Dia takut jika Adam marah kalau tau dia membawa Arkan dan Frey makan ice cream.
"Aku apa? Kau sedang mencoba untuk menyelingkuhiku dengan selingkuhan madumu itu!!" Sentak Adam pada Dara.
Dara terloncat kaget. Bagaimana bisa suaminya berpikiran seperti itu padanya, padahal selama ini dia tak pernah berpikiran untuk menyelingkuhi laki-laki itu. Meski sebelumnya dia belum tau jika Adam menaruh rasa padanya.
Dara terdiam melihat kemarahan Adam. Laki-laki itu tersadar dengan sikapnya yang begitu kasar. Jujur saja, perselingkuhan Anim membuat dia trauma. Dan sering menimbulkan pikiran-pikiran negatif di benaknya.
Tanpa Adam sadari, traumanya akan memenjarakan Dara nanti dalam rumah mewah itu. Sikap posesifnya mulai berlebihan dan tak bisa ia kendalikan.
"Maaf." Adam memegang tangan Dara.
Dara hanya diam tak menjawab. Adam menarik wanita itu kedalam pelukannya dan memeluknya.
"Aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin kehilanganmu Dara." Ujar Adam.
__ADS_1
Dara seperti biasa hanya diam. Dia juga tak tau ingin menjawab apa. Tapi ia merasa jika suaminya itu mulai berubah aneh dan berlebihan tentang pemikirannya.
,,,
Benar saja. Sudah satu bulan berlalu hubungan mereka membaik, laki-laki itu menjadi sangat posesif. Adam tak membiarkannya kemana-mana.
Dara benar-benar mulai dipenjarakan dalam Villa mewah itu. Jika dulu Adam mengizinkan Dara menjemput putra mereka, sekarang tidak lagi. Jika Dara mau keluar dari rumah juga harus bersama seorang supir yang sudah ia siapkan untuk Dara.
Jujur saja wanita itu sangat tertekan. Tapi dia berusaha untuk berdamai dengan keadaannya.
Saat ini Dara duduk di balkon kamar. Dari tadi wanita itu membolak-balik ponselnya ingin mendail nomor suaminya untuk meminta izin keluar, tapi ia takut jika tidak di izinkan.
Dara menarik nafas berat. Ya Allah... Aku bersyukur karena engkau mengirimkan aku, laki-laki yang mencintai dan menerima aku apa adanya. Tapi kenapa semangkin hari, aku merasa semangkin tidak nyaman dengan semua peraturannya. Aku merasa dia begitu berlebihan. Aku mulai di penjarakan dalam rumah mewah ini Ya Allah. Batin Dara tanpa sadar menjatuhkan air matanya.
Dara mengusap air matanya, "Cintamu mulai memenjarakan aku, dan mengikat erat kedua kakiku Mas..." Gumam Dara.
__ADS_1
Jujur saja ia merindukan aktivitasnya yang dulu. Dimana suaminya tak pernah melarangnya, tak pernah seposesif ini, tak pernah tidak mengizinkannya jika ia ingin keluar. Tapi sekarang? Bahkan dia masih ingat. Selama satu bulan ini, baru tiga kali dia keluar dari rumah mewah yang sudah mulai menjadi sangkar baginya itu.