
Tampak seorang wanita sekitaran 25 tahun bejalan menuju rumah ibunya yang biasa di sapa dengan nama Sukarni.
"Bu!!!" Panggil Nisa pada ibunya dengan suara nyaring saat tiba di depan gubuk bambu yang mereka tinggali.
Nenek Sukarni berlari keluar saat mendengar teriakan dari anak perempuannya yang berstatus janda anak satu.
"Ada apa Nisa? Kenapa kau teriak-teriak?" Tanya Sukarni pada Nisa.
Nisa mendudukkan dirinya di teras rumah dengan wajah cemberut.
"Mana anak itu?" Tanya Nisa mencari gadis kecil yang berusia dua tahun.
__ADS_1
"Untuk apa kau mencari Ayya, Nissa?" Tanya Sukarni melihat curiga ke arah putrinya.
Nisa berdecak. "Ibu kenapa sih! Aku tu mau menjual kalung anak kecil itu, agar kita bisa merubah hidup kita ini yang penuh dengan kesengsaraan! Makan aja susah! Masak juga mesti mau cari kayu bakar dulu, di desa ini kita yang paling miskin! tapi ibu malah lebih rela mempertahankan kalung anak itu, yang enggak tau juga anak siapa!" Ketus Nisa pada ibunya.
"Nenek." Panggil Ayya dengan pelat, karena gadis kecil itu baru berusia 2 tahun dan masih pelat dalam berbicara.
Ya, Ayya adalah anak Dara dan Adam yang hilang selama dua tahun yang silam. Ternyata yang menemukan Ayya adalah Buk Sukarni. Saat itu Buk Sukarni sedang mencuci di pinggir sungai, wanita paruh baya itu malah tak sengaja melihat ada bayi yang sedang di kerumuni oleh semut terdampar di pinggir sungai.
Saat menyadari itu seperti sosok bayi. Buk Sukarni langsung menghampiri, betapa kagetnya dia saat melihat bayi mungil yang tak bergerak sedikitpun di tempat.
Dan Alhamdulliah bayi itu ternyata masih hidup, karena Buk Sukarni membawanya tepat waktu.
__ADS_1
Saat bayi itu di bersihkan. Mereka menemukan sebuah kalung berlian yang berliontin dengan nama 'D' Nisa yang sangat penasaran dengan kalung tersebut. Akhirnya dia diam-diam mengambil kalung bayi itu dan membawa ke tempat jualan emas untuk memeriksa.
Saat karyawan tokoh memberitahukan jika kalung itu asli, dan bahkan bisa membeli sebuah pulau dengan jumlah kalung tersebut. Nisa di buat melongo tak percaya. Karyawan toko juga memberitahukan padanya, jika kalung itu seperti di buat khusus, bukan kalung sembarangan.
Tapi karena ia juga takut pada ibunya. Akhirnya Nissa mengembalikan kalung itu pada bayi yang mereka temukan.
Selama dua tahun ini, Nisa terus berusaha membujuk ibunya, dari bernada lembut, sehingga marah-marah. Semua sudah ia lakukan, tapi tetap saja Buk Sukarni tidak ingin menjual kalung itu. Karena Buk Sukarni yakin, jika hanya dengan kalung itu gadis yang dia beri nama Ayya bisa menemukan ibunya yang entah di mana.
Selama dua tahun itu juga, Nisa tidak pernah tidur lena akibat selalu membayangkan kalung bayi yang di temukan ibunya.
Buk Sukarni menggendong Ayya yang menghampirinya tadi.
__ADS_1
"Jika hanya itu yang berada di otakmu, lebih baik kau buang jauh-jauh saja pikiranmu itu, Nisa. Kalau kau menjual kalung Ayya, bagaimana dia akan menemukan ibunya nanti. Masuklah ke dalam dan masak, sebentar lagi cucuku (anak laki-laki Nisa) akan tiba dari sekolah. Dia pasti lapar." Ujar ibu Sukarni melangkah masuk ke dalam rumah.
"Dasar tua peok! Sudah ada jalan kita bisa mengubah hidup susah ini, tapi dia lebih memilih ingin seperti ini sampai mampus!" Nisa marah-marah sambil berkutat di dapur.