Karena Hamil, Aku Dijadikan Istri SIMPANAN

Karena Hamil, Aku Dijadikan Istri SIMPANAN
Ikatan Batin.


__ADS_3

Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang, akhinya mereka tiba di kota.


Semasa pamit tadi bersama Neneknya, ia sangat merasa sedih. Bahkan sampai tiba di kota, gadis cantik itu masih menjatuhkan air mata, tak snaggup berpisah dengan sang Nenek.


"Sudahlah, Ayya. Dari tadi kau terus menangis," kata Aldi dengan mimik wajah tak seperti di desa.


Gadis itu tersentak kaget melihat perubahan suaminya. Ia mengusap air mata yang masih berada di pipinya.


Tak berapa lama Aldi dan Ayya sudah tiba di sebuah rumah yang terlihat lumayan besar.


"Ini rumah siapa, Mas?" Tanya Ayya pada Aldi.


"Rumah yang aku sewa, ayo masuk ke dalam." Ucap laki-laki itu semangkin terlihat berbeda, apa lagi Aldi tak membantu membawa tasnya.


Kenapa aku merasa Mas Aldi berubah iya? Apa cuma perasaanku saja?. Batin Ayya dengan langkah ragu. Gadis itu meneteng tasnya yang berisikan beberapa helai kain miliknya.


Tiba di dalam, Ayya mengedar pandangan. Isi rumah itu terlihat lumayan mewah.


"Apa kita akan tinggal di sini, Mas?" Tanya Ayya lagi.


"Hm. Itu kamar kita, kau masuk saja di dalam sana, istirahat yang cukup. Karena malam nanti kita mau keluar" kata Aldi menunjuk sebuah kamar.


"Keluar? Kita mau kemana, Mas?" Mendengar ucapan laki-laki yang berstatus suaminya itu mengatakan 'keluar' hatinya semangkin merasa tak tenang.


"Masuklah, dan istirahat." Hanya itu yang keluar dari mulut Aldi. Setelah itu ia pergi lagi mengemudi mobilnya tanpa pamit pada Ayya.


,,,


Setelah pergi beberapa jam, suaminya belum juga kembali. Ayya sudah mondar-mandir menunggu kedatangan Aldi, tapi laki-laki itu tak kunjung datang.


Mas Aldi kemana sih? Aku hubungi nomornya juga nggak aktif. Ya Allah... Aku lapar banget lagi, mana hari sudah malam. Batin Ayya memegang perutnya yang kelaparan.

__ADS_1


Gadis itu sudah mencari apa saja yang bisa ia masak di dapur, tapi nihil. Tak ada apa-apa yang bisa dia masak, karena semua isi dapur dan juga kulkas milik suaminya ternyata kosong.


Karena terlalu lapar, gadis itu akhirnya memberanikan diri untuk keluar mencari makanan, kebetulan ia juga masih mempunyai uang di dompetnya.


"Bismillahirrahmanirrahim." Gumam Ayya, kemudian mulai melangkah keluar dari rumah suaminya.


Setelah berjalan 20 menit, akhirnya gadis itu menemukan sebuah mini market.


Tak menunggu lama. Ia langsung masuk ke dalam dan berbelanja beberapa bahan makanan untuk dirinya.


Saat ingin membayar, ternyata uang gadis itu tak mencukupi untuk membayar bahan belanjaannya.


Ia membuka dompetnya, kemudian tersenyum kecut pada mbak penjaga kasir.


"Apa bisa belanjaannya aku ambil separuh saja, mbak?" Tanya Ayya malu.


"Bisa, dek." Jawab kasir ramah.


Ternyata nasib baik berpihak dan mempertemukan gadis polos itu pada sang kakak, setibanya saja ia di kota.


"Tidak usah, kak. Biar aku simpan saja," kata Ayya mendongak melihat wajah tampan laki-laki di punggungnya.


Bola mata Arkan dan Ayya bertemu.


DEG!


Serasa ada ikatan batin yang sangat kuat dengan kedua adik kakak itu.


Kenapa aku merasa seperti dekat dengan gadis ini?. Batin Arkan menatap bola mata Ayya.


DEG!

__ADS_1


Siapa pria ini? Kenapa aku merasa sejuk melihat tatapannya. Batin Ayya.


"Arkan, buruan sayang, nanti Papa menunggu kita," panggil Dara yang baru masuk ke dalam mini market karena terlalu lama menunggu putranya, akhirnya ia masuk ke dalam untuk melihat Arkan.


Reflex Ayya melihat ke arah Mama Dara. Dara juga melihat ke arah gadis yang berada di depan putranya.


DEG!


Siapa gadis ini? aku merasa tidak asing... Apa aku pernah bertemu dengan gadis ini sebelumnya?. Batin Dara menelisik penampilan putrinya. Tapi karena Ayya memakai masker, Dara dan Arkan hanya bisa melihat bola mata gadis yang sangat mirip dengan bola mata Mama Dara itu.


"Bagaimana, dek? Barangnya mau di kira atau bagaimana?" Tanya mbak kasir membuyar lamunan ketiga manusia yang sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


"Iya, mbak. Kira saja, aku yang bayar." Sahut Arkan mengeluarkan kartu miliknya dengan bola mata yang tak lepas dari wajah sang adik.


Ayya memilih diam dan menunduk saat Arkan kekeh ingin membayar belanjaannya.


Dara semangkin menatap lekat mata Ayya, yang ia rasa sangat tak asing di pandangan.


Apa dia putriku?. Batin Dara mulai berkaca-kaca.


"Terima kasih, kak." Ujar Ayya ingin melangkah pergi dari hadapan Arkan yang hanya mengangguk pelan masih menatapnya.


Dara yang tak bisa menahan diri, ia berjalan ingin menahan Ayya. Tapi keburu Aldi sudah lebih dulu datang dan memegang lengan Ayya sambil mencengkeramnya.


"Kamu dari mana saja sih!! Pake acara jalan keluar rumah, nggak pamit lagi!!" Sentak Aldi menarik kasar lengan gadis itu masuk ke dalam mobilnya.


Dara menjatuhkan air mata saat melihat gadis di depannya seperti di kasari oleh laki-laki yang baru saja tiba itu.


"Mama? Kenapa Mama nangis?" Tanya Arkan cemas. Laki-laki itu baru saja selesai dari kasir.


"Arkan, siapa gadis tadi itu? Apa mungkin itu adikmu, nak? Kenapa Mama merasa dekat dengannya..." Ujar Dara semangkin bercucuran air mata dan masih berusaha melihat mobil Aldi yang ternyata sudah hilang di telan kegelapan malam.

__ADS_1


__ADS_2