Karena Hamil, Aku Dijadikan Istri SIMPANAN

Karena Hamil, Aku Dijadikan Istri SIMPANAN
Gelisah


__ADS_3

Sudah seminggu Nenek Sukarni di rawat di rumah sakit. Karena penyakit nenek Sukarni sangat serius.


Ayya yang sudah kehabisan tabungan, di buat bingung dan duduk seperti orang bodoh di luar rumah sakit. Ia sudah mempunyai banyak utang di sana sini hanya untuk membayar biaya rumah sakit Neneknya. Nisa dan juga Rico sama sekali tak peduli dengan kondisi Nenek Sukarni.


Kali ini tak ada lagi yang ingin memberi pinjaman padanya. Akhirnya timbul pemikiran gila di benak gadis belia itu.


Aku tau apa lagi yang akan aku buat untuk mendapatkan uang. Batin Ayya melangkah keluar dari rumah sakit dan menahan angkot.


Angkot berhenti dan langsung membawanya ke tujuan. Ternyata gadis itu mendatangi rumah pak RT.


"Assalamualaikum" Ayya memberi salam sebaik saja tiba di rumah pak RT.


"Waalaikumsalam... Ayya?" Tanya Buk RT heran melihat kehadiran gadis itu. Karena selama ini gadis itu tak pernah berkunjung ke rumahnya.


"Masuklah, ada apa Ayya?" lanjut Buk RT mengajak gadis itu duduk.


Gadis itu mendudukkan diri. "Maaf kalau saya lancang, saya langsung saja ke intinya, Buk RT. Tujuan kedatangan saya kemari, saya ingin bertanya, apa anda masih tertarik untuk mengambil saya jadi menantu Buk RT? Jika ia, saya tidak meminta mahar, saya hanya ingin Buk RT membayar biaya rumah sakit Nenek, sehingga Nenek bisa sembuh seperti sebelumnya," ujar Ayya benar-benar langsung ke intinya tanpa men-jeda.

__ADS_1


Buk RT tersenyum senang. Ia tak menyangka jika gadis itu benar-benar menerima lamaran putranya. Ia langsung saja mengiyakan tanpa berpikir apapun lagi, karena baginya, yang terpenting putra mereka senang dan bisa bahagia.


Singkat cerita, Ayya akhirnya menikah dengan Aldi. Aldi terlihat begitu bahagia karena bisa menikah dengan Ayya, wanita yang sudah lama incar.


Malam ini adalah malam pertama sepasang pengantin baru itu.


Aldi mendekat dan duduk di dekat Ayya. "Aku sangat bahagia karena akhirnya bisa menikah dengan mu," kata Aldi terlihat tulus pada wanita itu.


Ayya hanya tersenyum tipis. Entah mengapa hatinya mendadak rasa gelisah dan seperti ada yang janggal.


Ada apa dengan perasaanku. Bisik gadis itu dalam hati.


Bukannya merasa malu atau salah tingkah seperti kebanyakan wanita yang berada di posisinya, apa lagi perasaan bahagia karena bisa menikah dengan laki-laki yang juga ia sukai. Tapi hati gadis itu malah sebaliknya, ia tak merasa bahagia, bahkan ia meragukan keputusan yang telah ia ambil.


"Besok? Secepat itu? Kitakan baru saja sudah menikah, masak iya besok kita sudah mau pergi dari desa ini? Terus, bagaimana dengan Nenek?" Tanya Ayya khawatir.


"Ssstt kamu tidak usah cemas sayang, Ibuku yang akan merawat dan menjaga Nenek di sini," kata Aldi menenangkan istrinya.

__ADS_1


Ayya mengangguk meski ia merasa semangkin gelisah dan tak yakin.


"Tidurlah, besok kita akan berangkat lebih awal." Kata Aldi beranjak dari tempat duduknya.


,,,


Di mension.


Dara tiba-tiba merasa tidak enak hati. Wanita paruh baya itu tampak sangat gelisah.


"Sayang? Ada apa?" Tanya Adam saat melihat istrinya seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Aku tidak tau, Mas. Tiba-tiba saja aku merasa tidak enak hati." Jujur Dara memegang dadanya.


"Mungkin karena kau kurang istirahat sayang, maka itu kau mudah sekali merasa cemas,"


"Tapi ini rasanya sangat beda, Mas."

__ADS_1


"Iya sudah, mari kita istirahat." Adam menggandeng istrinya menuju tempat tidur.


__ADS_2