Karena Hamil, Aku Dijadikan Istri SIMPANAN

Karena Hamil, Aku Dijadikan Istri SIMPANAN
Bertengkar


__ADS_3

"Arkhh!!" Anim berteriak saat Icha menarik rambutnya dengan sangat kencang.


Anim ingin menarik rambut Icha lagi. Tapi Vano melerai mereka berdua. Vano menarik tubuh Icha ke belakangnya.


"Apa-apaan kalian berdua ini, kalian seperti anak kecil!" Kata Vano pada Anim dan Icha.


"Bukan aku yang anak kecil! Tapi wanita yang kau bawa kesini itu yang seperti anak kecil!" Jawab Anim dengan nafas naik turun. Ia sangat geram pada Icha, wanita yang dari awal bertemu lagi dia sudah tidak suka.


"Tante ibu yang kayak anak kecil. Tante yang lebih dulu menarik rambutku," jawab Icha merapikan rambutnya.


"Apa katamu!!! Yang sopan kau kalau berbicara!!! Jangan seenak jidatmu memanggil ku tante bocah sialan!!" pekik Anim menggebu-gebu.


"Anim! Ada apa lagi denganmu? Kenapa kau suka sekali mencar gara-gara Anim!" Kata Adam yang baru tiba bersama dengan Dara. Laki-laki itu di buat menggeleng-geleng oleh sikap Anim yang terlalu kekanakan menurutnya. Padahal wanita itu sudah berusia 29 tahun.


"Bocah itu yang lebih dulu mencari gara-gara dengan ku!" Jawab Anim pada Adam. Ia mengalih pandangannya menatap benci pada Dara. Dara hanya membuat wajah santai di tatap oleh wanita itu.


"Mama..." Panggil Arkan yang baru dari belakang di taman bermain dengan Frey.

__ADS_1


"Sayang... Kalian berdua sudah mandi?" Tanya Dara mengusap pucuk kepala kedua bocah itu.


"Belum" serentak mereka berdua.


"Mom cantik juga ada di sini?" Tanya Frey ingin menghampiri Icha yang tersenyum manis kepada anak kecil itu.


Anim mencegah tangan Frey. "Kau mau kemana? Naik ke kamarmu!" Sentak Anim Pada Frey.


"Jaga sikapmu pada putraku Anim!" Sentak Vano tak senang karena Anim membentak putranya terang-terangan di hadapannya.


"Kau siapa mau larang-larang aku? Aku yang melahirkan anak ini, terserah aku mau apakan dia, kau tidak punya hak!!" Jawab Anim sinis.


"Kau membela pelakor ini?" Anim menunjuk wajah Dara yang hanya diam tak berniat meladeni sikap Anim yang membuatnya sudah bosan menghadapi madunya itu. Yang sebentar lagi akan menjadi mantan madunya.


"Koreksi dirimu Anim! Kapan kau akan dewasa! Apa kau tidak malu menunjukkan sikap mu ini di depan anak-anak?" Adam kembali menggeleng. Dia heran dengan sikap Anim yang sudah sangat jauh berbeda dari yang dia kenal dulu.


Anim bertambah emosi. Karena ia berpikir mereka semua seperti memojokkannya.

__ADS_1


"Kalian semua sama saja!!" Teriak Anim melihat pada putranya yang dia pegang.


"Kau jawab ibu! Kau pilih ibu atau kau pilih wanita itu?" Anim menunjuk ke arah Icha yang berdiri di sebelah Vano sambil memeluk lengan suaminya.


Frey melihat ke arah Icha. Kemudian kembali melihat ke arah ibunya dan menggeleng tanda dia tak berani memilih.


"Jawab ibu!!" Sentak Anim.


"Anim!!" Sentak Adam dan Vano bersamaan saat Anim menyentak anak kecil itu dan membuat bola mata Frey berkaca-kaca.


"Kalian jangan masuk campur!!"


"Ibu tanya sekali lagi sama kamu! Kamu pilih ibu, atau kau pilih wanita bocah itu!" lanjut Anim tak peduli dengan kedua laki-laki itu.


Dengan bola mata berkaca-kaca Frey malah menunjuk ke arah Icha. "M-Mom cantik..." Kata Frey lirih, mata anak kecil itu sudah mulai basah.


Anim tersentak kaget dengan jawaban putranya sendiri. Bagaimana bisa anak itu lebih memilih Icha yang baru saja dia temui satu kali. Sedangkan bersamanya anak itu sudah hidup selama hampir 5 tahun.

__ADS_1


Icha berjalan mendekat dan berbisik di telinga Anim, "Makanya, jadi ibu itu jangan kejam. Anak sendiri saja lebih memilih ibu sambungnya dari pada kamu," bisik Icha meledek Anim yang terdiam membeku. Bola matanya sudah mulai membendung.


Ia tak pernah menyangka jika anaknya sendiri yang sudah ia kandung selama 9 bulan, lebih memilih orang lain dan bukan dirinya.


__ADS_2