Karena Hamil, Aku Dijadikan Istri SIMPANAN

Karena Hamil, Aku Dijadikan Istri SIMPANAN
Bingung


__ADS_3

Icha memegang tangan Frey dan menjauhkan dari Anim yang masih terdiam membeku.


Adam Dara dan Vano juga tak kalah kagetnya saat mendengar Frey lebih memilih Icha di bandingkan dengan ibu kandungnya sendiri.


"Aku akan mengambil hak asuh Frey," ujar Vano pada Anim yang masih terdiam.


Wanita itu tak menjawab Vano atau mengeluarkan sepatah katapun. Dia masih terdiam dan perlahan melangkah pelan naik semula ke lantai dua menuju kamarnya. Dia merasa sangat terluka, karena tak ada satu pun yang ingin membelanya.


"Untuk apa kau kemari?" Tanya Adam pada Vano.


"Aku ingin membawa Frey keluar. Aku mau ke rumah ibuku," jawab Vano. Dia berniat membawa Icha istrinya untuk bertemu dengan ibunya. Tak lupa dia juga ingin memberitahukan pada ibu Ida jika Frey adalah putranya.


Icha yang mendengar perkataan suaminya di buat menyerjit, karena yang dia tau. Laki-laki itu biasa memanggil ibunya dengan sebutan 'Mamah' Icha tak tau jika sebenar wanita yang sering Vano panggil Mamah itu adalah ibu angkatnya, bukan ibu kandungnya.


Dara mengalih pandangannya pada gadis yang sedari tadi membuatnya penasaran.


"Siapa wanita yang kak Vano bawa itu?" Tanya Dara menunjuk Icha.

__ADS_1


Vano melihat ke arah istrinya. Dia sampai lupa memperkenalkan istrinya pada Dara.


"Ini istri kakak, namanya Icha," jawab Vano.


Dara tersenyum pada gadis itu. "Dara, aku adiknya kak Vano," Dara mengulur tangannya untuk berkenalan dengan Icha.


Gadis itu menyambut tangan Dara. "Icha," jawab Icha tersenyum manis.


"Oya, ini suamiku, namanya Adam. Panggil kak Adam saja. Mas Adam juga saudaranya suamimu," kata Dara membuat Icha melongo.


"Hahahaha" Dara malah tertawa melihat wajah kebingungan gadis itu.


"Nanti juga kau akan tau," tambah Dara menghentikan tawanya.


"Mas, kita pergi bersama kak Vano ke rumah ibu. Kita kan sudah lama tidak berkunjung kesana Mas," ajak Dara girang pada suaminya.


Adam melihat sejenak ke arah Vano. Jujur saja, laki-laki itu belum bisa menerima jika Vano itu adalah kakaknya. Karena dia masih menyimpan rasa dendam pada Vano tentang Anim. Meski Adam tak mencintai Anim lagi, tapi dia tetap saja merasa Vano itu sangat keterlaluan telah merusak Anim yang waktu itu masih istrinya.

__ADS_1


"Biarkan saja mereka pergi duluan." Jawab Adam datar.


"Jadi aku bisa membawa Frey?" Tanya Vano lagi pada Adam. Dia tak ingin membuat hubungannya dengan adiknya itu bertambah buruk.


Jika di pikir-pikir. Dia lah yang seharusnya bersikap seperti itu pada Adam, karena Mami Adam lah yang sudah merampas Ayahnya dari ibunya. Dan Adam mendapat kasih sayang sepenuhnya dari kedua orang tuanya.


Tapi karena Vano berpikir jika dia lebih tua. Sudah seharusnya dia lah yang mengalah pada Adam. Apa lagi dia merasa bersalah telah menjalin hubungan dangan Anim secara diam-diam di belakang Adam.


Dan Adam juga sudah menjaga dan menerima putranya yang jelas-jelas bukan anaknya.


"Hm, kalian pergi saja duluan. Nanti kami menyusul," jawab Adam.


"Arkan ikut sama tante cantik ya Ma, pa," Kata Arkan penuh harap. Dia ingin bisa pergi bersama adik Frey dan juga Icha yang dia juluki tante cantik.


Adam ingin mengatakan 'tidak' tapi saat melihat bola mata anak itu yang penuh harap. Dia hanya bisa mengangguk mengiyakan. Karena dia tak ingin membuat putranya berkecil hati.


"Yey!!" Teriak anak itu gembira.

__ADS_1


__ADS_2