
Dara dan Adam juga menyusul setelah bersiap-siap. Tapi saat di jalan, tiba-tiba ponsel Adam berdering.
Adam melihat, ternyata yang menghubunginya adalah Papinya.
"Hello Pi," jawab Adam.
"Kau dimana Dam?" Tanya Angkasa.
"Aku lagi di jalan Pi, ada apa?" Tanya Adam.
"Baru saja sepupumu Mirna menghubungi Papi, katanya dia berada di bandara. Dan meminta kamu untuk menjemputnya," kata Angkasa.
"Mirna? Dia datang ke negara ini Pi?" Tanya Adam.
"Iya, Mami yang menghubunginya beberapa hari yang lalu, menyuruh Mirna datang kemari," jawab Angkasa.
"Baiklah Pi, aku langsung saja ke bandara sekarang,"
"Iya.''
Adam memutuskan sambungannya, "Siapa Mas?" Tanya Dara penasaran.
"Sepupu aku yang dari luar negeri, saat ini dia berada di bandara kata Papi. Papi meminta tolong aku untuk menjemputnya. Tapi kalau kau keberatan, nanti aku hubungi supir saja di Villa untuk menjemput Mirna di bandara," kata Adam tersenyum ingin menghubungi supirnya di Villa, tapi Dara menahannya.
"Tidak usah Mas, kita saja yang menjemputnya. Dari sini ke bandara hanya memakan waktu 23 menit, udah, kita saja yang pergi," kata Dara.
__ADS_1
"Benar? Kamu tidak keberatan sayang? Aku kan sudah berjanji sama kamu, kalau kita mau ke rumah ibu," Adam memastikan, ia tak ingin jika istrinya kecewa dengan sikapnya yang tidak bisa menepati janjinya.
Dara tersenyum manis. "Ya enggak lah, ayo"
Adam mengarahkan mobilnya menuju bandara.
,,,
Vano dan Icha sudah tiba di rumah ibu Ida. Icha menyerjit saat melihat rumah sederhana di depannya.
Vano turun dari mobil. Begitupun dengan kedua bocah itu.
"Mom cantik, ayo turun, kita sudah sampai di rumah Oma," antusias Frey.
Ini bukan pertama kali Frey dan Arkan ke rumah itu. Mereka sudah sering kesana.
"Assalamualaikum ibu," Vano memberi salam pada ibunya yang sedang menjemur kain di samping runah kecil itu.
Ibu Ida tersenyum saat melihat putranya datang berkunjung.
Vano memeluk ibunya. "Ibu apa kabar?" Tanya Vano lembut memeluk bahu sang ibu.
"Ibu baik-baik saja." jawab ibu Ida bahagia melihat anaknya datang berkunjung.
"Oma!!" Teriak Frey dan Arkan berlari langsung memeluk ibu Ida.
__ADS_1
"Hei... Ternyata kalian juga datang kesini?" Ibu Ida mencium kedua cucunya itu.
Icha mendekat dan berdiri di sebelah Vano, ia merasa tak asing dengan wanita paruh baya di depannya.
Ibu Ida mengerut saat melihat Icha, "Loh, kok kamu bisa kesini sama bocah tengil ini?" Tanya ibu Ida pada putranya.
"Ibu kenal dengan Icha?" Tanya Vano heran, dia tak menyangka jika ibunya kenal dengan istrinya.
"Iya, iyalah kenal, dia ini bocah tengil yang sering mengganggu ibu jualan!" Ibu Ida berdecak saat mengingat Icha yang sering menggangunya saat jualan kue.
Vano mengangkat alis bertambah heran, karena berpikir bagaimana bisa Icha berada di tempat jualan kue ibunya.
"Tapi ngomong-ngomong, kok ibunya aku kenal sama kak Vano?" Tanya Icha tanpa memudar semyumannya yang sering membuat ibu Ida kesal pada gadis yang dia kenal pengamen itu. Ibu Ida juga heran saat melihat penampilan Icha sangat jauh berbeda dengan yang dia kenal selama ini.
Icha memang sering memanggil ibu Ida dengan panggilan 'ibunya aku' untuk membuat wanita paruh baya itu kesal padanya. Tapi sebenarnya tidak benar-benar kesal. Ibu Ida juga suka dan sayang pada gadis yang sering membatunya untuk jualan kue itu.
,,,
Bandara.
Adam melangkah masuk ke dalam mencari keberadaan Mirna sepupunya.
"Kak Adam!!" Teriak Mirna tertawa lebar.
Adam tersenyum menghampiri gadis itu. Mirna langsung memeluknya.
__ADS_1
"Kau dari tadi?" Tanya Adam melihat ada seorang gadis cantik di sebelah Mirna yang menatapnya tanpa berkedip.
Ternyata Mirna tidak datang sendiri dari luar negeri, tapi dia membawa temannya juga.